cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2017): April 2017" : 6 Documents clear
Bahasa Visual dalam Sinetron Indonesia Lucia Ratnaningdyah Setyowati
Journal of Urban Society's Arts Vol 4, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v4i1.1491

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan dan menganalisis kekurangefektektivan penerapan bahasa visual sinetron Indonesia. Permasalahan utama yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana efektivitas penerapan bahasa visual dalam sinetron Indonesia.  Sampel penelitian ini adalah dua episode dari setiap judul sinetron yang tayang di semua stasiun TV swasta selama dua minggu antara tanggal 26 September 2016 sampai dengan 10 Oktober 2016. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan bahasa visual dalam sinetron masih belum efektif. Bentuk ketidakefektifan ini antara lain masih lebih banyaknya penggunaan bahasa verbal baik dalam penyampaian pikiran tokoh maupun penguatan action yang seharusnya bisa lebih berbahasa visual. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi para penulis scenario untuk meningkatkan kualitas program cerita televisi Indonesia. The Visual Language on Indonesian TV Series. This study aims to give a discourse and analysis on the ineffectiveness of the visual language application of Indonesian TV series. The main problem that becomes the focus of this research is how the effectiveness of the visual language application on Indonesian TV series. The samples of this study are two episodes of each title of the TV series that are broadcasted on all private TV stations for two weeks between September 26, 2016 until October 10, 2016. Based on the research, it can be concluded that the application of visual language on TV series is still not effective. A sample of this ineffectiveness is seen when there is still more verbal language usage both in the delivery of characters’ thoughts and the strengthening of the action figures in which it should be focusing more on the language visually. The result of this study is expected to be the input for the scenario writers to improve the quality of the programs of Indonesian television story.
Male Gaze dan Pengaruhnya Terhadap Representasi Perempuan dalam Lukisan “Realis Surealis” Karya Zaenal Arifin Evan Sapentri
Journal of Urban Society's Arts Vol 4, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v4i1.1692

Abstract

Penelitian ini melihat kecenderungan dan pengaruh male gaze dalam konstruksi citraan dan seksualitas dalam lukisan, dan cara si pelukis melihat atau merepresentasikan perempuan dalam lukisannya. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan di Tahunmas Art Room Yogyakarta, wawancara mendalam dengan pelukis, serta didukung dengan kajian pustaka. Analisis lukisan realis surealis karya Arifin dilakukan melalui empat tahap yaitu: deskripsi, analisis, interpretasi, dan penilaian. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa lukisan menjadi salah satu media ungkap dan ekspresi diri sang seniman dalam menyampaikan dan menyematkan setiap ide dan gagasannya secara artistik. Namun, ketika perempuan dijadikan objek dalam lukisan dan diwujudkan dengan memberikan kesan yang mengarah pada pencitraan gender, tentu ini menarik untuk ditafsirkan. Male Gaze and It’s Influence towards the Female Representation on a Painting of "Realistic Surrealist" by Zaenal Arifin. This study observes the trend and effect of male gaze in the construction of imagery and sexuality in a painting, and the ways the painter sees or represents the woman in his paintings. Data collection was done by doing the field observation in Tahunmas Art Room Yogyakarta, in-depth interview with painters, and supported by literature review. The analysis of Arifin's surrealist realist painting is done through four stages: description, analysis, interpretation, and assessment. Based on the research, it can be concluded that the painting becomes one of the expression media and self-expression of the artist in conveying and embedding every idea and thoughts artistically. However, when a woman becomes the object in the painting and is embodied by giving an impression that leads to gender imaging, this is certainly interesting to interpret.
Imaji Pop Surealisme Figur Gendut Dalam Lukisan Wahyuddin Nafilah Dias Prabu
Journal of Urban Society's Arts Vol 4, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v4i1.1489

Abstract

Tulisan ini mengangkat figur gendut sebagai ide dasar penciptaan seni lukis dengan menggunakan gaya pop surealisme. Penggabungan antara daya imajinasi tentang figur gendut dengan berbagai permasalahan yang bisa diangkat dari figur merupakan sebuah jalan dalam menciptakan karya-karya yang unik, terkadang satir, serta jenaka. Bentuk-bentuk kartunal yang digunakan dalam membuat figur gendut dan figur-figur lainnya merupakan satu tujuan khusus agar karya yang disampaikan memiliki unsur yang informatif terhadap para apresian. Menjadi gendut bagi setiap manusia yang mengalaminya sebenarnya bukan sebuah keinginan. Melalui berbagai perjalanan masa atau era yang bergulir hingga saat ini, persoalan tentang tubuh telah menuju pada bentuk yang indah dan ideal. Kecantikan dan ketampanan pada saat ini juga diukur pada orang-orang yang memiliki bentuk tubuh yang “normal” dan ramping. Bagi orang-orang yang memiliki kelebihan berat badan, tentunya jika diukur pada hal tersebut sangatlah tidak cocok. Figur gendut saat ini seperti diposisikan pada ruang yang sulit untuk mengeluarkan rasa percaya dirinya dalam menampik tentang apa yang diungkapkan di atas. Faktor kaum kapitalis dalam mendorong hadirnya pemikiran baru untuk hidup sehat tanpa menjadi gendut, juga semakin mengecilkan semangat orang-orang yang bertubuh gendut. Jika dilihat dari segi kesehatan, mungkin gendut terkesan seperti orang yang suka tidur, malas bekerja, dan sebagainya. Gendut berbeda dengan obesitas, karena obesitas merupakan penyakit kelebihan lemak di atas rata-rata yang membuat tubuh tak mampu mencerna makanan dalam berskala besar serta asupan makanan yang dikonsumsinya memiliki kalori yang sangat besar, sedangkan gendut merupakan kelebihan berat badan. Di sisi lain gendut memiliki banyak kelebihan yang berguna dalam memajukan hidupnya dan mewujudkan cita-citanya. The Images of Pop Surealism: Fat Figures on Painting. This paper elevates the fat figures as the basic idea of painting creation by using pop surrealism style. The merging of the imagination of the fat figure with the various problems that can be lifted from the figure is a way to create unique works, sometimes satire, and funny. The cartoonous forms used in making fat figures and other figures are a special purpose for the work being delivered to have an informative element on the apresians. Being overweight for every human being is absolutely not anyone’s desires. Through a variety of era of the rolling period to the present time, a matter of the body shape has led to a beautiful and ideal shape. Nowdays, beauty and good looks are a standard measured for people with "normal" and slim body. For people who are overweight, of course, this standard is not suitable. The current fat figure is positioned in a space where it is difficult to expend his confidence in dismissing what is described above. The capitalist factor encourages the emergence of new ideas for healthy living without becoming fat, also further discourages the people of the fat body. Being viewed in terms of health, the obese people seem like those who like to sleep, lazy to work, and so forth. Fat is different from obesity, because obesity is a disease of excess fat above the average that makes the body is unable to digest food in a large scale and intake of food has a very large calories, while the fat is overweight. On the other hand, fat has many useful advantages in advancing his life and realize his ideals.
Membaca Pasar Film Indie Lewat Film “SITI” Karya Edi Cahyono Arinta Agustina
Journal of Urban Society's Arts Vol 4, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v4i1.1486

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami strategi pemasaran film independen. Sebagai studi kasus dipilih pemasaran film produksi Fourcolors Yogyakarta. Perkembangan  film independen  di  Indonesia, khususnya di Yogyakarta tidak terlepas dari pergerakan dan perkembangan komunitas-komunitas film dan sekolah-sekolah film. Fourcolors yang kali pertama berangkat sebagai sebuah komunitas film independen, lewat film “Siti” karya sutradara Edi Cahyono mencoba memberikan warna baru dalam peta perfilman independen di tanah air. Sebagai sebuah film yang tumbuh dari berbagai festival, baik nasional maupun internasional, film “Siti” akhirnya mampu menembus pasar film mainstream lewat prestasinya sebagai pemenang Festival Film Indonesia. Hal ini menjadi sebuah kejutan dan mematahkan sekian banyak mitos bahwa film independen sulit untuk menembus pasar mainstream. Ketepatan memilih jalur distribusi melalui festival memiliki peran yang cukup penting dalam menentukan target penonton dan kualitas yang akan dicapai. Reviewing the Market of Indie Film through the Film of “SITI” by Edi Cahyono. This study aims to understand the strategy of  independent film marketing. The marketing of film production of Fourcolors Yogyakarta is chosen as a case study of this study. The development of independent films in Indonesia, especially in Yogyakarta is inseparable from the movement and development of film communities and film schools. Fourcolors that firstly sets out as an independent film community, through the film of "Siti" by director Edi Cahyono tries to give new colors in the map of independent film in this country. As a film that grows from various festivals, both nationally and internationally, the film of "Siti" is finally able to break through the mainstream film market through its achievements as the winner of the Indonesian Film Festival. It comes to a surprise and breaks the myths that the independent films are difficult to penetrate the mainstream market. The accuracy of choosing the distribution channels through the festival has a significant role in determining the target audiences and the quality to be achieved.
Fotografi adalah Seni: Sanggahan terhadap Analisis Roger Scruton mengenai Keabsahan Nilai Seni dari Sebuah Foto Andreas Arie Susanto
Journal of Urban Society's Arts Vol 4, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v4i1.1484

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menyanggah argumentasi Roger Scruton mengenai keabsahan nilai seni dari sebuah foto. Scruton berpendapat bahwa fotografi bukanlah karya seni. Fotografi hanyalah sebuah tindakan mekanis dalam menghasilkan suatu gambar, bukan representasi melainkan hanyalah peristiwa kausal, bukan gambaran imajinasi, tetapi hanya kopian. Fotografi mengandaikan adanya kemudahan dalam penciptaan seni. Pernyataan Scruton semakin dikuatkan dengan fenomena perkembangan teknologi yang sudah melupakan sisi estetis dan hanya berpasrah sepenuhnya pada tindakan mesin. Penekanan berlebihan terhadap keunggulan reduplikasi, proses instan, dan otomatisasi fotografi membuat fotografi kehilangan tempatnya di dunia seni. Akan tetapi, persoalan seni adalah persoalan rasa. Fotografi tetaplah sebuah seni dengan melihat adanya relasi intensional yang tercipta antara objek dan seorang fotografer dalam sebuah foto. Relasi intensional ini tercermin dalam proses, imajinasi, dan kreativitas fotografer di dalam menghasilkan sebuah foto. Lukisan dan fotografi adalah seni menurut rasanya masing-masing. Photography is an Art: A Disaproval towards Roger Scruton's Analysis on the Legitimacy of Art Value of a Photograph. This paper aims to disprove Roger Scruton's argument about the validity of the artistic value of a photograph. Scruton argues that photography is not a work of art. Photography is simply a mechanical action in producing a picture, not a representation but merely a causal event, not an imaginary image, but only a copy. Photography presupposes the ease of art creation. Scruton's statement is further reinforced by the phenomenon of technological development that has forgotten the aesthetic side and only entirely devoted to the action of the machine. The excessive emphasis on the benefits of reduplication, instant processing, and photographic automation makes photography lose its place in the art world. However, the issue of art is a matter of taste. Photography remains an art by seeing the intense relationships created between an object and a photographer in a photograph. This intense relationship is reflected in the process, imagination, and creativity of the photographer in producing a photograph. Painting and photography are arts according to their own taste.
Kapital dan Strategi Garin Nugroho dalam Proses Produksi Film Vedy Santoso
Journal of Urban Society's Arts Vol 4, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v4i1.1492

Abstract

Penelitian ini menganalisis struktur sosial Garin Nugroho sebagai sineas yang dilakukan berdasarkan paradigma sosial-kultural Pierre Bourdieu dengan pendekatan strukturalisme genetik. Teori strukturalisme genetik bertumpu pada empat konsep utama, yakni habitus, arena, kapital, dan strategi. Kajian ini diharapkan dapat melihat realitas sosial seorang sineas ketika memproduksi sebuah film. Data penelitian diperoleh dari dokumentasi media massa, katalog film, hasil wawancara narasumber, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dialektika internalisasi pada habitus Garin Nugroho yang menuntunnya untuk berani menutup luka lama kemudian membuka luka baru pada masa transisi budaya global. Dengan demikian, hubungan antara seni dan teknologi menjadi arena yang dipilih Garin Nugroho dalam memperjuangkan kreativitasnya. Dari arena perjuangan itu, ia memiliki beberapa jenis modal yang dipertukarkan dalam struktur sosialnya. Strategi yang diterapkan Garin Nugroho dalam menghadapi era digital adalah konsisten dalam menggunakan kecanggihan teknologi sebagai alat bantu untuk mewujudkan kreativitas melalui media film. Capital and Garin Nugroho’s Strategy on the Process of Film Production. This study analyzes the social structure of Garin Nugroho as a filmmaker that has been conducted based on the socio-cultural paradigm of Pierre Bourdieu with the genetic structuralism approach. The genetic structuralism theory rests on four main concepts, namely habitus, arena, capital, and strategy. This study is expected to be able to see the social reality of a filmmaker when a film is produced. Data were obtained from the documentation of mass media, film catalogues, informant interviews, and literature. The results of this research show that there is a dialectic of internalization in Garin Nugroho’s habitus which leads him to dare to close the old wounds then opens the new ones in the transition period of global culture. Therefore, the relationship between art and technology has been a chosen field by Garin Nugroho in struggling for the creativity. From the field of the struggle, Garin Nugroho has some kind of capitals that are exchanged in the social stucture. The strategy that is applied by Garin Nugroho in facing the digital era is consitent in using the power of technology as a tool to realize any creativity throgh the media of film.

Page 1 of 1 | Total Record : 6