cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2021): October 2021" : 6 Documents clear
The Journey of Finding Paths in Javanese Court Dance by Sensory and Somatic Experiences of Taiwanese Ching Ching Mai
Journal of Urban Society's Arts Vol 8, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v8i2.6151

Abstract

Is it possible to discover the spirit of another culture just by feeling without knowing? What happened when Taiwanese met the Javanese court dances with body and senses only? Can we compare Srimpi (one of the court dance forms of Java) and Tai Chi Chuan of China? How to learn and feel the dance culture? In the Javanese court dance workshop, my classmates and I were in our own “webs of senses” instead of “webs of meanings” to embody a little bit of Javanese court in Taiwan. To listen to gamelan music, to touch the sampur (a long strip of cloth used while dancing) and floor, to shape the body in the frame, to feel other dancers’ movements; all that confused us and made us get lost in the contexts of Java for a long time. Finding paths to learn the dances is a personal journey for one’s own and via which one may understand more about different cultures and more about oneself as well. I will share the experiences of some learners, including myself, to discuss the meanings of what we suffered and what we rebuilt. Perjalanan Menemukan Tuntunan dalam Menarikan Tarian Keraton Jawa melalui Pengalaman Sensori dan Somatik Orang Taiwan. Mungkinkah menemukan semangat budaya lain hanya dengan merasakan tanpa mengetahui? Apa yang terjadi ketika orang Taiwan bertemu dengan tarian keraton Jawa hanya dengan tubuh dan indera mereka? Bisakah kita membandingkan Srimpi (salah satu tarian keraton Jawa) dengan Tai Chi Chuan dari Cina? Bagaimana cara mempelajari dan merasakan budaya dari sebuah tarian? Dalam lokakarya tari keraton Jawa, saya dan teman-teman sekelas berada dalam “perangkap indera” kami sendiri, bukannya “perangkap makna” untuk mewujudkan sedikit keraton Jawa di Taiwan. Mendengarkan musik gamelan, menyentuh sampur dan lantai, membentuk tubuh agar sesuai bingkai, merasakan gerakan penari lain; semua membingungkan kami dan membuat kami tersesat dalam konteks Jawa untuk waktu yang lama. Menemukan tuntunan untuk mempelajari tarian adalah perjalanan yang bersifat pribadi, dan melalui perjalanan tersebut seseorang dapat memahami lebih banyak tentang budaya yang berbeda maupun tentang diri sendiri. Saya akan membagikan pengalaman beberapa pelajar Taiwan, termasuk saya sendiri, untuk menjelaskan kesulitan yang telah kami lalui dan apa yang berhasil kami bangun kembali. 
The Framework of Urban Landscape Reading from Walter Benjamin’s View Mojtaba Valibeigi; Elahe Inanloo
Journal of Urban Society's Arts Vol 8, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v8i2.6086

Abstract

This paper analyzes Walter Benjamin’s views to provide a useful framework and methodology for reading urban landscapes located at the interdisciplinary cross of environmental sciences, aesthetics, sociology, and cultural geography. Benjamin views the city as a place that offers a different modern experience, and the city and urban  places are read both as a sign and a small world of their community. The relationship between history, the experience of presence, memory, and built environment is the basis of such a framework of reading urban landscapes, in which the present and the past time in a system together could narrate the urban experience every moment. In such a view, describing the modern experience is not essential, but rather how this experience can be fulfilled. Kerangka Penafsiran Lansekap Perkotaan Berdasarkan Pemikiran Walter Benjamin. Makalah ini menganalisis pemikiran Walter Benjamin untuk memberikan kerangka pemikiran dan metodologi yang berguna untuk menafsirkan lanskap perkotaan yang terletak di lintas disiplin ilmu lingkungan, estetika, sosiologi, dan geografi budaya. Benjamin memandang kota sebagai tempat yang menawarkan pengalaman modern yang berbeda, dan kota serta tempat-tempat di perkotaan diinterpretasikan sebagai tanda dan dunia kecil komunitas mereka. Hubungan antara sejarah, pengalaman kehadiran, ingatan, dan lingkungan yang dibangun merupakan dasar dari kerangka interpretasi lanskap perkotaan, di mana masa kini dan masa lalu berada dalam suatu sistem, yang secara bersama-sama dapat menceritakan pengalaman perkotaan di setiap saat. Dalam pandangan seperti itu, mendeskripsikan pengalaman modern bukanlah hal yang penting, melainkan bagaimana pengalaman tersebut dapat terpenuhi.
Indonesian Dance Education in Taiwan: Methods and Experiences as a Teacher Anastasia Melati
Journal of Urban Society's Arts Vol 8, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v8i2.6152

Abstract

Traditional dances are a type of performing arts passed down from previous generations. Some of these dances become the cultural heritage of a nation, and therefore, they require strategies and projects to preserve their traditional forms while promoting its contemporary articulations. This study examines the process of teaching Indonesian traditional dance to Taiwanese students and analyzes how this intangible cultural heritage is perceived by the students, not only as knowledge but also as cultural connectivity that links to the cultural and socio-political positioning of Taiwan.  The study aims at investigating (a) the methods and results of dance pedagogy of Indonesian traditional dances under new socio-cultural contexts in Taiwan, (b) the cross-cultural issues of education in dance, i.e., transnational aesthetic values and ethnological concerns experienced in directing dance training. It intends to reveal how to teach the dances both as knowledge and as cultural connectivity between the two nations, the pedagogical challenges in the process, and the best methodology to teach foreign dances. The study hypothesizes that dance teaching requires the mastery of the techniques, theories, and cultural knowledge, and those who study dances need to learn about the cultural background and values of the dances. In practice, sessions on theoretical knowledge and cultural values take up different portions of classroom instructions depending on the backgrounds of the students. Observations are conducted through teaching academically to students at National Taiwan University and practically to Taiwanese professional artists and dancers. Teaching these two groups poses different challenges and requires two different methods. Pendidikan Tari Indonesia di Taiwan: Metode dan Pengalaman sebagai Guru. Tarian tradisional merupakan salah satu jenis seni pertunjukan yang diturunkan dari generasi sebelumnya. Beberapa dari tarian ini menjadi warisan budaya suatu bangsa, dan oleh karena itu, mereka membutuhkan strategi dan proyek untuk melestarikan bentuk tradisionalnya sambil mempromosikan artikulasi kontemporernya. Studi ini mengkaji pengajaran tari tradisional Indonesia kepada siswa Taiwan dan menganalisa bagaimana warisan budaya takbenda ini dirasakan oleh siswa, tidak hanya sebagai pengetahuan tetapi juga sebagai konektivitas budaya yang terkait dengan posisi budaya dan sosial-politik Taiwan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah (a) metode dan hasil pedagogi tari tradisional Indonesia dalam konteks sosial budaya baru di Taiwan, (b) isu lintas budaya pendidikan dalam tarian, yaitu nilai-nilai estetika transnasional dan masalah etnologis yang dialami dalam menjalankan pelatihan tari. Penelitian diharapkan dapat menjawab pertanyaan tentang bagaimana mengajarkan tarian bukan saja sebagai pengetahuan melainkan juga sebagai konektivitas budaya antara kedua negara, tantangan dalam proses mengajar, dan metodologi terbaik untuk mengajarkan tarian asing. Hipotesa penelitian ini adalah pengajaran tari membutuhkan penguasaan teknik, teori, dan pengetahuan budaya, dan mereka yang belajar tari perlu belajar tentang latar belakang budaya dan nilai-nilai tarian. Dalam praktiknya, sesi tentang pengetahuan teoretis dan nilai-nilai budaya mengambil porsi yang berbeda dari instruksi kelas tergantung pada latar belakang siswa. Observasi dilakukan melalui pengajaran akademis kepada mahasiswa di National Taiwan University dan secara praktis kepada seniman dan penari profesional Taiwan. Mengajar kedua kelompok ini mempunyai tantangan yang berbeda dan membutuhkan dua metode yang berbeda.
Narrative and Cinematic Aspects in Commercial and Art Films as Directors’ Artistic Treatments: a Comparative Study Lucia Ratnaningdyah Setyowati; GR Lono Lastoro Simatupang; Budi Irawanto
Journal of Urban Society's Arts Vol 8, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v8i2.5745

Abstract

Data shows that award-winning films are not always the best-selling films and vice versa. Therefore, it is interesting to investigate whether the director employs different art techniques for commercial and art films. This qualitative textual study examines the artistic treatments of both films and compares the narrative aspects of the story and the cinematic elements related to the film presentation techniques. The narrative aspects include (a) plot, (b) premise, (c) characters, and (d) conflict. The cinematic elements include (a) cinematography, (b) editing, (c) sound, and (d) setting. The results show that the director applies different art techniques for different films. For films orientated to commercial movie theaters, the narrative is more complex but presented in a cinematic that is easier for the audience to understand. For films in festivals, the narrative is more simple, but the cinematic aspect are more complex. These findings support the results of the data control, a combination of the best- selling and award-winning films, which shows that the film has a rather complex  narrative and visualizations but is relatively easy to understand. Aspek Naratif dan Sinematik dalam Film Komersial dan Film Seni Sebagai Olah Artistik Sutradara Film. Data menunjukkan bahwa film yang meraih banyak penghargaan di festival bukanlah film yang laris di bioskop serta sebaliknya. Fenomena ini menarik untuk diteliti dengan mengkaji apakah sutradara menerapkan perlakuan artistik yang berbeda antara film yang ditujukan untuk ditayangkan di bioskop dan film yang dikirim ke festival. Penelitian tekstual ini mengkaji pengolahan artistik yang dilihat dari dua aspek yaitu aspek naratif yang berkaitan dengan cerita serta aspek sinematik yang berkaitan dengan teknik penyajian film. Hasil yang didapatkan memperlihatkan bahwa sutradara mengolah artistiknya secara berbeda pada kedua ranah tersebut. Di ranah bioskop naratifnya lebih kompleks namun disajikan dalam sinematik yang lebih mudah dipahami penonton, sementara di ranah festival, naratifnya lebih sederhana tetapi olahan sinematiknya lebih kompleks. Hasil ini dipertegas dengan hasil kontrol data di ranah gabungan yang memberikan naratif yang agak kompleks melalui sajian yang agak kompleks namun juga relatif mudah dipahami.
Symbolic Interactionism in Ceremonies of Ritual Medicine in Malay Society in Riau Province Nurmalinda Nurmalinda
Journal of Urban Society's Arts Vol 8, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v8i2.5719

Abstract

The purpose of this study is to describe the symbolic interactions in the ritual ceremonies of medical treatment in Riau Province and the symbolic meanings of ritual ceremonies in the Malay community in Riau Province. This study uses descriptive qualitative methods. The medical rituals in Riau province studied include Kuantan, Bedikie, Menyemah, Pole, Cabut Kelo, Talam Muka Dua, Bokuan, and Buang Badi. These rituals are procedures for a medical ceremony carried out by a group of people in Riau Province, marked by the presence of several elements and components, namely the existence of time, the place of the ceremony, the ceremonial instruments, and the people who performed the ceremony. The study of symbolic interactionism in ritual ceremonies of the Malay community focuses on interactions that give rise to special meanings that create interpretation. The symbols used in the ceremonies result from mutual agreements. How things become a shared perspective and how an action gives special meanings can only be understood by those who perform the ceremonies. Mulyana’s symbolic interaction theory points out that self, social self, including control from other people’s perspectives, interpretations, and other meanings that appear in the interaction form three premises (1) humans act based on meanings; (2) meanings derive from interaction with others, (3) meaning develops and refines when interactions take place. Interaksionisme Simbolik Upacara Ritual Pengobatan dalam Masyarakat Melayu di Provinsi Riau. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan  interaksi simbolik dalam upacara-upacara ritual pengobatan di Provinsi Riau dan makna simbol upacara-upacara ritual pengobatan kepada masyarakat Melayu di Provinsi Riau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif jenis deskriptif. Ritual pengobatan yang terdapat di Provinsi Riau yang diteliti di antaranya Kumantan, Bedikie, Menyemah, Pole, Cabut Kelo, Talam Muka Dua, Bokuan, dan Buang Badi. Ritual-ritual ini merupakan tata cara dalam upacara pengobatan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat di Provinsi Riau, ditandai dengan adanya beberapa unsur dan komponen, yaitu adanya waktu, tempat upacara dilakukan, alat-alat upacara, serta orang-orang yang melakukan upacara. Kajian interaksionisme simbolik dalam upacara ritual masyarakat Melayu menitikberatkan pada interaksi yang memunculkan makna-makna khusus yang melahirkan interpretasi. Simbol-simbol yang digunakan dalam upacara-upacara tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama. Bagaimana suatu hal menjadi perspektif bersama dan bagaimana suatu tindakan memberikan makna khusus hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang melakukannya. Teori interaksi simbolik Mulyana menyatakan bahwa diri, diri sosial, termasuk kontrol dari sudut pandang orang lain, interpretasi, dan makna lain yang muncul dalam interaksi membentuk tiga premis (1) manusia bertindak berdasarkan makna; (2) makna berasal dari interaksi dengan orang lain, (3) makna berkembang dan disempurnakan ketika interaksi berlangsung.
Potensials Interior Design to Meet Cultural Needs Transformed by Covid-19 Pandemic by Interior Designer in Yogyakarta M. Sholahuddin
Journal of Urban Society's Arts Vol 8, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v8i2.4614

Abstract

This research aims to explore the perceptions of interior designers in Yogyakarta about the potential interior designs that would meet the cultural needs of “new normality” following the Covid-19 pandemic. The method used in this research was descriptive qualitative. The study found that interior designers in Yogyakarta believed that 1) the changes in design would involve the spatial, human, and technical aspects. Since pace is a fixed variable and humans are independent variables, interior designers would cre- ate new spaces and utilize present-day technology to maximize the technical aspects of their design. They would also give more consideration to the element of health. The interior designers also believed that 2) all projects in the future would apply the principles of the next normal and take health into serious consideration. The prin- ciples of the next normal interior design, namely human-centered design, historicity culture tradition, and interdisciplinary sustainability technology would be relevant to the cultural context following the Covid-19 pandemic. However, the pattern of hu- man behavior during the Covid-19 pandemic may be temporary, so further research is needed to examine whether this habit becomes everyone’s culture and whether it needs more detailed study to prepare for the establishment of new design standards. Potensi Desain Interior dalam Memenuhi Kebutuhan Budaya yang Ditransformasikan oleh Pandemi Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi para desainer interior di Yogyakarta tentang potensi desain interior yang akan memenuhi kebutuhan budaya “kenormalan baru” pasca pandemi Covid-19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Studi ini menemukan bahwa desainer interior di Yogyakarta percaya bahwa 1) perubahan desain akan melibatkan aspek spasial, manusia, dan teknis. Karena kecepatan adalah variabel tetap dan manusia adalah variabel independen, desainer interior akan menciptakan ruang baru dan memanfaatkan teknologi masa kini untuk memaksimalkan aspek teknis desain mereka. Mereka juga akan lebih mempertimbangkan unsur kesehatan. Desainer interior juga percaya bahwa 2) semua proyek di masa depan akan menerapkan prinsip-prinsip next normal dan mempertimbangkan aspek kesehatan dengan serius. Prinsip-prinsip desain interior next normal, yaitu human-centered design, historicity culture tradition, dan interdisciplinary sustainability technology akan relevan dengan konteks budaya pasca pandemi Covid-19. Namun, karena pola perilaku manusia selama pandemi Covid-19 mungkin bersifat sementara, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkaji apakah kebiasaan ini menjadi budaya setiap orang dan apakah perlu kajian lebih detail untuk mempersiapkan penyusunan standar desain baru.

Page 1 of 1 | Total Record : 6