cover
Contact Name
Noor Ariefandie.
Contact Email
noor.ariefandie@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
pelita.iccri@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Pelita Perkebunan
Core Subject : Agriculture,
Pelita Perkebunan, Coffee and Cocoa Research Journal (CCRJ): ISSN:0215-0212 Since its establishment in 1911, Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute (ICCRI) formerly Besoekisch Proefstation, had published its research findings through a journal call Mededelingen van het Besoekisch Proefstation. Between 1948-1981 the research institute was under the supervision of Bogor Research Institute for Estate Crops, and published its research findings through De Bergcultures which was later changed to Menara Perkebunan. Since the institute held the national mandate for coffee and cocoa commodities, and due to rapid increase in the research findings, ICCRI published its first issue of Pelita Perkebunanjournal in April 1985. Pelita Perkebunanis an international journal providing rapid publication of peer-reviewed articles concerned with coffee and cocoa commodities based on the aspects of agronomy, plant breeding, soil science, crop protection, postharvest technology and social economy. Papers dealing with result of original research on the above aspects are welcome, with no page charge. Pelita Perkebunan is managed by Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute (ICCRI), which publish the research findings not only for coffee and cocoa but also other commodities relevant with coffee and cocoa, i.e. shade trees, intercrops and wind breakers.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 2 (1990)" : 6 Documents clear
Effect of Polybag size on growth of dwarf and tall type of Arabica Coffee seedling Abdul Mukti Nur
Pelita Perkebunan (a Coffee and Cocoa Research Journal) Vol 6 No 2 (1990)
Publisher : Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iccri.jur.pelitaperkebunan.v6i2.365

Abstract

Penelitian untuk mempelajari pengaruh ukuran polibag terhadap pertumbuhan bibit kopi Arabika tipe Kate (dwarf) dan jagur (tall) baik di pembibitan maupun setelah dipindah ke lapangan telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Kaliwining, Pusat Penelitian Perkebunan Jember. Bibit kepelan kopi Arabika CIFC 520-3 dengan tipe pertumbuhan kate dan BP 429 A yang bertipe jagur dipindah ke dalam 4 macam ukuran polybag yang telah diisi medium campuran tanah, pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 1:1:1. Empat macam ukuran (lay-flat) polibag yang digunakan, yaitu 11 cm x 30 cm, 15 cm x 30 cm, 18 cm x 30 cm, dan 20 cm x 30 cm. Bibit ditanam dengan jarak 25 cm x 25 cm dan diatur menurut rancangan acak lengkap berkelompok dalam 5 ulangan. Tiap ulangan tendiri dari 10 tanaman. Perlakuan disusun secara faktorial. Pengamatan pertumbuhan pada fase pembibitan dilakukan pada umur 3 dan 5 bulan, meliputi tinggi bibit, diameter batang, jumlah daun, jumlah cabang primer, dan bahan kering (bio-mass) tanaman. Pemindahan bibit ke lapangan dilakukan pada umur 5 bulan. Bibit ditanam dibawah naungan lamtoro yang sudah berfungsi baik dengan jarak 1,5 m x 1,5 m. Lubang tanam berukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm. Pertumbuhan diamati pada umur 5 bulan setelah pemindahan, meliputi tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah cabang primer. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sampai dengan umur 5 bulan tidak terdapat pengaruh interaksi antara ukuran polybag dengan tipe pertumbuhan bibit. Pertumbuhan bibit dalam polibag ukuran 15 cm x 30 cm tidak berbeda dengan yang berukuran 20 cm x 30 cm dan secara statistik lebih baik dari pada yang ditumbuhkan pada polybag berukuran 11 cm x 30 cm. Namun, pertumbuhan bibit dalam polibag ukuran 11 cm x 30 cm pada umur 5 bulan di lapangan tidak berbeda dengan ukuran polibag lainnya, menunjukkan bahwa di dataran rendah bibit kopi Arabika yang ditumbuhkan dalam polybag berukuran 11 cm x 30 cm pada umur 5 bulan secara agronomis sudah memenuhi syarat untuk dipindah ke lapangan. Dengan demikian, untuk pembibitan kopi Arabika dapat digunakan polybag ukuran 11 cm x 30 cm atau 15 cm x 30 cm. Pertumbuhan bibit CIFC 520-3 lebih pendek dari pada BP429 A, tetapi memiliki daun dan cabang primer lebih banyak. Sedangkan pertumbuhan diameter batang, akar, dan bahan kering sampai dengan umur 5 bulan tidak berbeda.
A Study on cocoa (Theobroma cacao L.) budding V. The influence of rootstocks on scion-yield quality Adi Prawoto
Pelita Perkebunan (a Coffee and Cocoa Research Journal) Vol 6 No 2 (1990)
Publisher : Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iccri.jur.pelitaperkebunan.v6i2.366

Abstract

Tulisan ini merupakan kelanjutan hasil penelitian yang telah ditulis sebelumnya. Analisis mutu biji dilaksanakan pada panenan umur 7 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa batang bawah kakao tidak berpengaruh nyata pada mutu fisik maupun mutu kimiawi hasil biji batang atas. Akan tetapi ada petunjuk bahwa batang bawah sedikit memodifikasi harkat mutu tersebut lewat perubahan vigor. Ada kemungkinan mutu hasil akan terpengaruh jika dipakai batang bawah yang lebih jauh hubungan kekerabatannya. Berkaitan dengan hal itu maka kakao yang bermutu tinggi dapat dihasilkan dari lingkungan yang bermasalah dengan cara okulasi asalkan tersedia batang bawah yang toleran kondisi tersebut.
Preliminary research of the effect of shading and pruning on cocoa production Sri Winarsih
Pelita Perkebunan (a Coffee and Cocoa Research Journal) Vol 6 No 2 (1990)
Publisher : Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iccri.jur.pelitaperkebunan.v6i2.367

Abstract

Penelitian untuk mengetahui pengaruh tingkat naungan dan frekuensi pemangkasan pada kakao telah dilakukan di Perkebunan Jatirono PTP XXVI. Penelitian dilakukan pada tanaman kakao umur 9 tahun. Jarak tanam 3 x 3 m. Perlakuan merupakan kombinasi antara jumlah populasi penaung dengan frekuensi pemangkasan. Empat tingkat kerapatan penaung masing-masing 0 pohon/ha (tanpa naungan), 69 pohon/ha (Jarak tanam 12 X 12 m), 138 pohon/ha (jarak tanam 6 X 12 m), 277 pohon/ha (jarak tanam 6 X 6m). Frekuensi pemangkasan ada 3, yaitu : setiap bulan, setiap dua bulan dan setiap 3 bulan, sehingga keseluruhan terdapat 12 kombinasi perlakuan. Hasil penelitian sampai dengan tahun ketiga setelah perlakuan menunjukkan bahwa naungan berpengaruh nyata terhadap daya hasil pada pengamatan tahun pertama, akan tetapi tidak berpengaruh nyata pada pengamatan tahun kedua dan ketiga. Terdapat kecenderungan bahwa jarak tanam penaung 6 X 6 m memberikan pengaruh paling baik dibandingkan perlakuan lainnya. Dibandingkan dengan jarak tanam 12 X 12 m, kenaikan daya hasil mencapai 14,36 dan 38% untuk tiga tahun pengamatan. Untuk perlakuan pemangkasan, sampai dengan tahun ketiga pengamatan belum menunjukkan pengaruh yang nyata. Tanaman kakao yang tidak dinaungi pada awal pengamatan mempunyai Indeks Luas Daun (ILD) paling tinggi. Nilai tersebut menurun pada pengamatan tahun berikutnya karena adanya serangan Colletotrichum.
An Inventory of bryophte dsitribution on cocoa estates in Indoensia Zaenudin Zaenudin
Pelita Perkebunan (a Coffee and Cocoa Research Journal) Vol 6 No 2 (1990)
Publisher : Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iccri.jur.pelitaperkebunan.v6i2.368

Abstract

Untuk mengetahui sejauh mana permasalahan lumut pada perkebunan kakao di Indonesia, telah dilakukan surval melalui daftar isian yang dikirim ke perusahaan-perusahaan milik negara. Survai dimaksudkan untuk menghimpun masukan tentang intensitas pertumbuhan dan sebaran lumut pada kakao di berbagai wilayah serta menghimpun pendapat para pekebun terhadap permasalahan lumut tersebut. Dari jawaban yang masuk, ternyata 81,11% diantaranya menyatakan ada masalah lumut, baik pada kebun yang telah berumur lebih dari 10 tahun maupun yang kurang dari 10 tahun. Kebun-kebun yang menghadapi masalah lumut berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Utara. Sebagian besar jawaban masuk (83.3%) menyatakan bahwa lumut merugikan terhadap tanaman kakao, antara lain karena menutup bantalan bunga dan membantu perkembangan penyakit. Meskipun demikian hanya 60% jawaban yang menyatakan pernah melakukan pengendalian lumut dan 90% diantaranya menyatakan masih mengalami kesulitan.
Turning design optimation for bulk cocoa fermentation process Yusianto Yusianto
Pelita Perkebunan (a Coffee and Cocoa Research Journal) Vol 6 No 2 (1990)
Publisher : Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iccri.jur.pelitaperkebunan.v6i2.369

Abstract

Pengadukan selama fermentasi diperlukan untuk sarana aerasi, mencegah pertumbuhan jamur dan meratakan proses fermentasi. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa 1, 2, 3, atau 4 kali pengadukan menghasilkan mutu biji kakao yang tidak berbeda nyata. Namun demikian, setelah dipertimbangkan dari beberapa aspek maka disimpulkan bahwa sekali pengadukan setelah 2 hari atau 3 hari fermentasi adalah yang terbaik dan efisien.
Variability of nutrient absorption in several cocoa planting materials A. Adi Prawoto; Soetanto Abdoellah
Pelita Perkebunan (a Coffee and Cocoa Research Journal) Vol 6 No 2 (1990)
Publisher : Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iccri.jur.pelitaperkebunan.v6i2.373

Abstract

A study on nutrient absorption of Trinitario and Forastero cocoa types had been conducted in Kaliwining Experimental Garden and the laboratory of plant analysis of the Jember Research Institute for Estate Crops (JRIEC) since June 1987 until March 1988. Trinitario type was represented by four groups of cultivars i.e.Djati Roenggo (three DR series) Djati Roenggo Clone (13 DRC series), Kaliwining Clone (six KWC series), and Imperial College Selection (three ICS series). Forastero type was represented by two groups of cultivar, i.e. Getas Clone ( seven GC series),and Scavina (three Sea series). The seedlings of propelegitimate seeds were used. The results showed that under the same environmental condition there were significant differences between the two cocoa types in the absorption of K, Mg, Cu, and Mn. Trinitario type showed high absorption for K and Mn, but lower in the absorption of Mg and Cu compared to Forastero type. Among cultivar's group within Trinitario type there were differences in the absorption of N, P, K, Mg, Cu, and Mn. ICS group showed high absorptionfor N, KWC for P and K, DRC for Cu, ICS for Mn, and DR, DRC and ICS for Mg. In the Forastero type, GC group showed high absorption for P, but Sea group had the highest absorption capacity for K, Mg, and Mn. No significant difference was observed between the series within each cultivar group.

Page 1 of 1 | Total Record : 6