cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pengembangan Kota
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Pengembangan Kota (ISSN: 2337-7062) adalah jurnal ilmiah berisi hasil penelitian dan telaah kritis teoritis mengenai pengembangan perkotaan meliputi: Arsitektur Perkotaan; Perancangan Kota; Ekonomi Pembangunan Wilayah dan Kota; Perumahan dan Permukiman; Perencanaan Transportasi; Perencanaan Pariwisata; Lingkungan; Pengembangan Sosial-Masyarakat Kota; dan Bidang lainnya yang terkait dengan perencanaan, pembangunan dan pengembangan Wilayah dan Kota.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1 (2014): Juli 2014" : 6 Documents clear
TINJAUAN KRITIS PROYEK RENCANA TINDAK PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN TRADISIONAL / BERSEJARAH KABUPATEN MAGELANG Cintiyadewi, Mariana Jayanti
Jurnal Pengembangan Kota Vol 2, No 1 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.2.1.24-30

Abstract

Dusun Mantran Wetan merupakan salah satu dusun yang masuk dalam rangkaian Festival 5 Gunung dan sampai saat ini masih mempertahankan tradisinya baik dari segi kebudayaan maupun lingkungan binaannya (permukiman). Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya penduduk yang mempertahankan keaslian wujud permukimannya berupa bangunan Limasan. Dewasa ini banyak terjadi fenomena pembangunan yang lebih mengedepankan nilai ekonomi dan mengakibatkan pergeseran nilai-nilai sosial dan budaya. Pergeseran nilai tersebut menimbulkan dampak perubahan pada tatanan lingkungan binaan seperti terjadinya perubahan pada wajah lingkungan permukiman. Untuk menangani permasalahan tersebut pemerintah melakukan kegiatan penanganan yaitu revitalisasi lingkungan permukiman tradisional sebagai upaya mencapai keberlanjutan (sustainability). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman yang memiliki khasanah yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai unsur penggerak ekonomi masyarakat, wisata, dan atau tempat tinggal komunitas. Penanganan permukiman tradisional ini juga diharapkan menjadi asset wisata dan pelestarian permukiman tradisional. Jurnal ini akan mengidentifikasi substansi penanganan permukiman dari aspek fisik, dan non fisik (sosial, ekonomi, budaya) dengan menggunakan metode deskriptif dari data primer maupun sekunder yang telah diperoleh.  
TINJAUAN KRITIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM RENCANA TINDAK PENATAAN PERMUKIMAN TRADISIONAL / BERSEJARAH (RTPPT) DUSUN MANTRAN WETAN, DESA GIRIREJ, KECAMATAN NGABLAK, KABUPATEN MAGELANG Ariani, Nofa Martina
Jurnal Pengembangan Kota Vol 2, No 1 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.2.1.31-40

Abstract

Seiring dengan perkembangan pembangunan, fenomena global sering mengakibatkan pergeseran nilai-nilai sosial dan budaya. Hal ini juga dapat menimbulkan perubahan wajah fisik lingkungan yang tentunya memiliki karakter kuat. Untuk menangani hal ini pemerintah melakukan kegiatan penanganan yaitu revitalisasi lingkungan permukiman tradisional sebagai upaya mencapai keberlanjutan (sustainability). Kegiatan ini bertujuan untuk tetap melestarikan nilai kesejarahan serta eksistensi tradisional yang dapat bersinergi dan berkelanjutan dalam pengembangan suatu lingkungan binaan sekitarnya. Di dalam proses ini, maka tidak lepas dari peran masyarakat dalam kegiatan pembangunan. Pendekatan yang digunakan adalah melalui pemberdayaan masyarakat. Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang merupakan salah satu kawasan yang masih memiliki nilai budaya dan arsitektur permukiman tradisional. Kawasan ini yang nantinya akan dilakukan program revitalisasi oleh pemerintah. Jurnal ini akan mengidentifikasi proses pemberdayaan masyarakat dalam penanganan permukiman tradisional tidak hanya aspek fisik saja tetapi juga aspek nonfisik (sosial, ekonomi, budaya) dengan menggunakan metode deskriptif dari data primer maupun sekunder yang telah diperoleh. Pemberdayaan masyarakat merupakan proses dimana masyarakat menjadi berdaya baik secara ekonomi dan sosial serta secara mandiri dapat meyelesaikan permasalahannya dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Hal ini juga yang seharusnya terjadi pada pemberdayaan masyarakat pada program RTPPT Dusun Mantran Wetan. Jika seluruh tahapan proses pemberdayaan dilakukan, maka tujuan dari pemberdayaan itu sendiri akan tercapai. Namun, pada kondisi di lapangan, terdapat beberapa proses yang tidak dilakukan sehingga seperti terdapat ‘mata rantai’ pemberdayaan yang hilang. Hasilnya, masyarakat hanya dilatih untuk ikut dalam kegiatan pembangunan, tanpa dapat berdaya dan mandiri secara berkelanjutan
PERAN PEREMPUAN DALAM PENGEMBANGAN SENTRA INDUSTRI BATIK TULIS DI KABUPATEN PAMEKASAN (STUDI KASUS DI DESA KLAMPAR, KECAMATAN PROPPO) Dwinda P, Esthy; Rahdriawan, Mardwi
Jurnal Pengembangan Kota Vol 2, No 1 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.2.1.1-13

Abstract

ilayah Pulau Madura terutama daerah pedesaan masih didominasi oleh masyarakat agraris yang bekerja di sektor pertanian, dengan nilai religius (Islam) yang sangat kuat, dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang masih relatif rendah dikarenakan tingkat pendidikan yang rendah. Namun, disisi lain bahwa ada sektor lain yang masih dapat dikembangkan salah satunya industri lokal yaitu sentra industri batik tulis melalui peningkatan potensi sektor industri yang dapat menunjang perekonomian di desa. Desa Klampar, Kecamatan Proppo merupakan desa dengan sentra industri batik tulis terbanyak. Selain sebagai bagian dari industrialisasi, perkembangan sentra batik di sana sangat dipengaruhi oleh aspek kebudayaan. Dilihat dari sumber daya manusianya (SDM) dimana pengrajin batik didominasi oleh kaum perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa kaum perempuan menjadi bagian yang sangat penting dalam perkembangan sentra batik di desa tersebut yang dapat menunjang perekonomian desa. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui peranan maupun tingkat kompetensi perempuan dalam pengembangan industri batik tulis di Kabupaten Pamekasan, tepatnya Desa Klampar Kecamatan Proppo. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Studi terhadap teori dan literatur digunakan untuk menghasilkan variabel penelitian yang digunakan dalam tahapan analisis. Hasil penelitian yang didapatkan adalah peran perempuan dalam keluarga dan sebagai pengrajin batik dapat berjalan baik dan berperan di dalam menyokong pengembangan industri batik tulis sekaligus meningkatkan perekonomian keluarga.
PENANGANAN KAWASAN PERMUKIMAN PRIORITAS DI SEKITAR KAWASAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN KOTA PURWOKERTO Reswanti, Novita
Jurnal Pengembangan Kota Vol 2, No 1 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.2.1.41-49

Abstract

Kelurahan Bancarkembar, Karangwangkal, Sumampir, dan Grendeng merupakan kawasan permukiman perkotaan yang berada di sekitar Kawasan Pendidikan Unsoed. Adanya Unsoed memiliki pengaruh besar bagi perkembangan kawasan di sekitarnya. Kondisi ini dapat memberikan peluang besar bagi pertumbuhan fungsi perdagangan dan jasa di sekitar kawasan. Selain itu, Berkembangnya fungsi permukiman seperti meningkatnya tempat tinggal pribadi berubah menjadi kos-kosan. Seiring dengan berkembangnya kawasan maka akan membutuhkan kawasan permukiman untuk mengakomodasi perkembangan masyarakat yang beraktifitas di dalam kawasan. Namun, pembangunan kawasan permukiman yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan serta munculnya berbagai persoalan seperti perumahan liar dan permukiman kumuh berdampak lebih lanjut pada meningkatnya tingkat kesenjangan masyarakat, tingginya angka kriminalitas, dan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, kawasan permukiman merupakan salah satu kawasan yang perlu dilakukan penanganan secara khusus, namun dalam konteks keruangan, penyelesaiannya tidak mungkin dilakukan secara bersamaan sehingga perlu diprioritaskan. Kegiatan ini bertujuan untuk menyiapkan rencana aksi programpenanganan permasalahan permukiman berikut infrastruktu keciptakaryaan yang ada di dalam kawasan prioritas sesuai dengan arahan strategi penanganan kawasan. Dengan pelibatan stakeholders secara intensif diharapkan dapat dihasilkan kesepakatan rencana aksi program penanganan kawasan prioritas dengan rencana penanganan  kawasan pada tahap pertama. Jurnal ini akan mengkritisi penanganan kawasan permukiman prioritas di sekitar kawasan Unsoed. Penataan kawasan permukiman prioritas di Kawasan Pendidikan Unsoed diharapkan dapat mengurangi permasalahan yang ada di kawasan perencanaan.
POTENSI KESWADAYAAN MASYARAKAT DALAM IMPLEMENTASI PROGRAM PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN (PKP) (Studi Kasus: Kelurahan Pringapus, Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang) Dewi, Widyaningtyas Kartika
Jurnal Pengembangan Kota Vol 2, No 1 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.2.1.50-61

Abstract

The house is one of the basic human needs and have significance in the development of social life, economy and identity of its inhabitants. Limitations of the funds or budgets from the government in addressing the housing needs of the community led to the current government can reach out to new formal sector only. It is displaced lack access to Low-Income Communities to get home. Of self-governing society to build a house with many limitations in terms of manpower, materials and costs, so that the housing conditions of low-income communities become unfit for occupancy. For that government to the approach followed by Kemenpera Housing Improvement Program. Sub-standart housing upgrading program is intended as a stimulant or stimulus to the community in order to develop themselves and want to contribute to the development. The purpose of this study to measure and assess the extent of potential self- supporting community in the implementation of sub-standart housing upgrading program is applied in the Village Pringapus. This study uses the method mix method, mixing method used sequential explanatory design using patterns. Collection and analysis of quantitative data is beginning, after the completion followed by qualitative data collection and analysis, and interpretation of the analysis performed. Indicators and variables to be tested or analyzed are forms of non-governmental organizations and the amount of public good issued in the form of money, labor or material that is processed by techniques of quantitative analysis used descriptive statistics and explanations. While the sources of non-governmental organizations to build houses as well as the pattern of development palaksanaan processed using qualitative descriptive analysis, how to capture this data focuses on the nature exploratory interviews and field observations. The results of this study, the average total pure self-help communities make improvements issued a total of Rp 10,224,985 unloading, so self-released the 2-fold greater than with stimulants provided only Rp 5,000,000. As for the people who repair some of the average self-RP issued 2.7266 million, although this value is not too big but when viewed from the type of repair that is lightweight and does not require a large fee, a nominal 2 jt rupiah is relatively high when compared with funds stimulants. This shows that the potential for community-owned self-help program beneficiaries in the Village Pringapus PFM is very high. Apart from the magnitude-governmental organizations, community-owned self-help potential is also evident from the pattern of building a house. Society has a variety of ways as the efforts made to build his house, as done by yourself, using a carpenter, and mutual cooperation. The third way has a different essence, but in ways that use these beneficiaries is high potential in an effort to build a house. The high potential of the community indicate that the approach taken by the government through Housing Improvement program (PKP) is successful. It is evident that the approach taken by the government is able to encourage the willingness and the willingness of society to berswadaya in the implementation of their housing. But all this success can not be separated by BKM Sedya Mulya role that has empowered leading independent predicate. 
PERAN LEMBAGA LOKAL DALAM PENATAAN RUANG DI KELURAHAN NGROTO, KECAMATAN CEPU, KABUPATEN BLORA Hidayat, Andre Cahya; Manaf, Asnawi
Jurnal Pengembangan Kota Vol 2, No 1 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.2.1.14-23

Abstract

A development that implements the concept of participation, involves the people in planning process, implementation, and also control the development program. In relation with implementation of participatory on development process, the Indonesian Government actualized it on PLP-BK program. PLP-BK is a spatial management program that implemented in rural or village. This program develops social capital in community level, particularly the established local institutions. Local institutions have an important role in the planning, implementation, control of this program, and also as a community representatives. The importance of local institutions on PLP-BK becomes the background of this research.The goal of research is to examine the role of local institutions in the implementation of PLP-BK at Ngroto Village, Cepu Sub-Regency, Blora Regency, Central Java. The goal is achieved by use a qualitative approach that called case study research. The analysis method are using qualitative description and domain analysis. The result of this research can explain the institutionalization process of spatial management in Ngroto. This process is mixing new values from the outside (i.e.spatial management) with local values in Ngroto through the roles of local institutions. The sustainability roles of local institutions is needed to achieve the result of this process, is called “pranata penataan ruang”. Therefore, the  researcher give a strategy and some actions to achieve the sustainability roles of local institutions in Ngroto, are: capacity building of local empowerment agent, partnership development, and preserve some local institutions. These actions to keep ongoing the institutionalization process in community level, although PLP-BK has ended at October 2012. Thus, community self-reliance can be achieved to realize the goal of spatial management in Ngroto

Page 1 of 1 | Total Record : 6