cover
Contact Name
Nadiyah Tunnikmah
Contact Email
nadiyah.tunnikmah@isi.ac.id
Phone
+628157988977
Journal Mail Official
jociart@gmail.com
Editorial Address
Dsn Japanan Margodadi Seyegan
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Contemporary Indonesian Art
ISSN : 24423394     EISSN : 24423637     DOI : DOI: 10.24821/jocia.v9i1.8936
Core Subject : Humanities, Art,
Journal of Contemporary Indonesia Art is a scientific journal that contains the results of research or creation on contemporary art related to Indonesia. Contemporary art is defined as the latest art phenomenon. Art includes a wide variety of fine arts such as painting, sculpture, graphics, ceramics, comics, New media art, as well as other forms of art, including types that have not been categorized. The limitation is that the work is more concerned with aesthetic value than functional value. The term Indonesia refers to works of art that are related to Indonesia.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2021)" : 6 Documents clear
Robot dan Ekosistem Sebagai Ide Penciptaan Seni Lukis Minto Minto
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v7i1.5274

Abstract

Ekosistem memiliki peran yang sangat penting untuk semua makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Dengan perkembangan teknologi, manusia memiliki kesempatan mengatasi kerusakan ekosistem dengan menciptakan mesin khusus berupa robot untuk memperbaiki ekosistem. Pada saat menempuh pendidikan di SMK jurusan teknik otomotif, terdapat mata pelajaran yang berisi menggambar komponen- komponen mesin. Hal tersebut menimbulkan ketertarikan pada bentuk–bentuk mekanik yang sering diamati. Muncul imajinasi untuk memperbaiki kerusakan ekosistem oleh manusia menggunakan robot. Sebagai seorang yang berkecimpung dalam seni lukis, gagasan untuk merespon fenomena kerusakan ekosistem divisualkan dalam bidang dua dimensional berupa lukisan. Dalam perwujudan lukisan dengan tema robot dan ekosistem, menggunakan teknik deformasi, deformasi yang digunakan adalah trasformasi, yaitu mengubah susunannya saja tanpa mengubah bentuk.
Memoar Penyakit Mental dalam Seni Lukis Elisa Faustina
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v7i1.5273

Abstract

Sepanjang sejarah seni, telah banyak seniman yang berkarya seni dari pengalaman penyakit mentalnya. Penyakit mental sendiri berarti ketidakmampuan individu untuk beraktivitas karena gangguan signifikan klinis secara psikologis. Gejala penyakit mental seringkali tidak terdeteksi sebab kerap kali tersamarkan sebagai imajinasi bagi seniman. Di sisi lain, karya seni menjadi perekam akan pengalaman hidup pembuatnya. Memoar penyakit mental divisualisasikan dalam lukisan dengan warna-warna berintensitas tinggi dan bentuk-bentuk ganjil. Bentuk dan objek yang disajikan bersifat nanar dan ambigu, dengan kecenderungan surealistik. Untuk menyuarakan kelimbungan yang dialami dalam penyakit mental. Lukisan akan lebh banyak membawakan suasana dalam karya. Sebab penyakit mental sendiri adalah pengalaman yang tidak jelas batas-batasnya. Penyakit mental masih memiliki stigma dalam masyarakat. Lewat karya lukis, konflik internal dalam kehidupan seseorang dapat didiskusikan. Lukisan menjadi salah satu media pembebasan bagi nilai-nilai konvensional. Pengemasan ide dan gagasan secara kreatif melalui nilai-nilai estetika, memberikan pandangan dan pengalaman baru bagi audiens agar dapat menghargai mereka dengan penyakit mental.
Transformasi Material Kertas dalam Penciptaan Karya Seni Lukis Widi Pangestu Sugiono
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v7i1.5259

Abstract

Seni dapat menjadi sebuah identitas yang mencakup persoalan personal, sosial maupun kultural. Pertanyaan-pertanyaan seputar seni adalah sebuah paham modernisme yang mempertanyakan “apa itu seni’’ yang dikenal juga sebagai filsafat seni atau estetika. Pertanyaan mendasar tersebut mengakibatkan dinamika sejarah  seni  untuk terus membuat manifesto jawaban yang kemudian dipertanyakan kembali. Dengan kata lain definisi seni dalam subjektifitas penulis adalah media antara nilai-nilai dalam kehidupan yang meliputi kode-kode estetika yang dapat berkaitan dengan konteks kultural lalu dikomunikasikan secara simultan yang dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah karya seni. Karya seni memiliki otonomi artistiknya sendiri untuk menegaskan makna penting subjek seniman dalam menciptakan karya seni. Penulis menggunakan material kertas dengan proses mentransformasikan serat menjadi kertas yang memiliki bentuk baru, penggunaan kertas sebagai idiom berkarya bertujuan untuk memahami tentang relasi dan ekspansi medium, terutama pada perkembangan seni lukis. 
Paradoks Bunuh Diri Sebagai Ide dalam Penciptaan Karya Seni Grafis Aminuddin M Abdullah
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v7i1.5276

Abstract

Rasa empati terhadap peristiwa kemanusiaan menjadi latar belakang ide penciptaan karya seni grafis. Kemudian ketakutan-ketakutan penulis terhadap kematian yang seolah-olah segera menjumpai setiap harinya. Banyak pihak yang mendapat keuntungan dari peristiwa tersebut tetapi mereka tidak merasa jika mereka sedang diuntungkan. Jika di suatu tempat terjadi peristiwa bunuh diri, maka bisa dipastikan akan banyak orang atau masyarakat yang menyaksikan. Terlebih lagi media, pastilah media tersebut akan memberitakan dengan sangat intens. Media akan memberitakan tragedi tersebut dengan gestur yang sepertinya sedih dan seakan berempati. Padahal jika diteliti lebih dalam, para awak media tersebut justru mendapatkan pundi-pundi uang dari hasil pemberitaan tragedi tersebut. Bentuk yang naturalistik dan figuratif serta simbol-simbol yang menggambarkan paradoks di setiap tragedi yang terjadi. Serta pegunungan, pepohonan yang menjadi setting pemandangan pada setiap karya menggambarkan suasana pedesaan yang masih asri.
Kolong Jembatan Siluk Sebagai Ruang Pendidikan Seni dan Lingkungan Bagi Anak-Anak Karen Hardini
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v7i1.5260

Abstract

Sekolah Sungai Jembatan Edukasi Siluk (JES) merupakan komunitas non-profit yang berlokasi di kolong jembatan sungai siluk, imogiri, Bantul, Yogyakarta. JES mengadaptasi konsep sekolah alam yang berbasis alam semesta. Secara fisik, bentuk sekolah bukan gedung atau bangunan, melainkan kolong jembatan yang dikelilingi alam sebagai ruang kreatif berkesenian. Tulisan ini membahas tentang transformasi pada praktik pendidikan seni anak-anak JES dalam kerja kolaborasi, mengelaborasi praktik ekologis dan pendidikan kesenian. Penelitan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan dibantu dengan metode multi-site etnografi etnografi dan netnografi). Data kemudian dianalisis menggunakan teori transit-transisi Maruška Svašek untuk mengetahui bagaimana proses transit-transisi kehadiran JES dari kondisi lingkungan alam yang kumuh menjadi ruang kreatif untuk praktik pendidikan seni anak-anak. Hasil penelitian menunjukan bahwa perubahan ruang kreatif JES tidak sekedar mentransformasi tapi juga mentransubstansi dari kolong jembatan yang dianggapan kumuh menjadi available. JES hadir dalam konsep sekolah alam menitikberatkan pada penanaman menghargai dan memandang alam sebagai sesuatu yang perlu dipelihara. Anak dikenalkan kepada lingkungan sekitar lewat eksplorasi langsung seperti penggunaan media seni alam dari pertanian, peternakan, dan barang bekas untuk berkesenian. Pameran seni lukis juga diadakan JES untuk menajamkan kepekaan rasa, kesadaran inklusif, kesadaran berpikir out of the box, kebebasan berekspresi dan apresiasi anak terhadap karya seni.  
Figur Monster Sebagai Metafora Kejahatan Seksual Terstruktur dalam Visualisasi Seni Grafis Prasojo Yulistianto
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v7i1.5271

Abstract

Kejahatan seksual terhadap wanita sering terjadi di dunia kerja, dalam bentuk pelecehan seksual. Tindakan ini dapat terjadi di perusahaan kecil maupun besar, dan ironisnya dapat pula terjadi di lembaga pendidikan yaitu sekolah. Pada dunia kerja pelecehan sering terjadi antara atasan dan bawahan, sedangkan pada lembaga pendidikan antara pengajar dan murid, antara yang memiliki kuasa/kebijakan dan penerimanya. Hal ini adalah kenyataan pahit yang memang terjadi dan masih berulang. Tingkat pendidikan dan status sosial seseorang terkadang tidak menjamin dirinya memiliki nilai-nilai moral yang baik dan stabil, karena nilai moral manusia bersifat fluktuatif, terkadang naik dan turun. Penyebabnya adalah anggapan bahwa wanita dipandang hanya sebagai objek seks saja, hal ini menghilangkan sisi kemanusiaan pelakunya dan kurangnya pelatihan  pada  pegawai, atau edukasi pada murid bagaimana cara untuk mencegah tindakan ini menimpa mereka serta penyelesaiannya. Pelecehan seksual mengakibatkan kerugian baik secara fisik maupun mental pada korbannya. Penulis ingin mengungkapkan gagasan kritisnya mengenai fenomena ini lewat karya seni grafis, menghadirkan figur monster sebagai wujud metaforik.

Page 1 of 1 | Total Record : 6