cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "No 49 (1992)" : 7 Documents clear
IAIN dan Pengembangan Ilmu Muhammad Mastury
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.45-67

Abstract

IAIN adalah suatu Lembaga Pendidikan Tinggi yang berbentuk Institut yang bergerak dalam bidang Pendidikan dan Pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (tridarma perguruan Tinggi). Pendidikan dan pengajaran adalah kegiatan mempersiapkan termasuk bagaimana Menyusun konsep-konsep dasar dan perencanaan yang terpadu tentang informasi Ilmiah, menyampaikan dan mengevaluasi termasuk penyusunan dan pengembangan metodologi yang tepat dan terarah, konsep-konsep dasar penelitian dan pengembangan ilmu yang merupakan upaya kesinambungan pengembangan yang dinamis dan evaluasi yang tepat terhadap informasi ilmiah. Informasi ilmiah adalah keseluruhan usaha yang berkenaan dengan pengembangan ilmu pengetahuaan. Ilmu pengetahuan adalah kumpulan berbagai hasil penelitiaan dan karya ilmiah dengan menggunakan metodologi (metode) yang tepat, obyektif atau intersubyektif atau communicable tentang nilai-nilai ilmu yang bersifat ilmiah. Penelitian adalah suatu kegiatan penyelidikan yang dilakukan menurut metode keilmuan yang sintematis untuk menemukan informasi ilmiah, membuktikan kebenaran atau ketidak benaran hipotesa sehingga dapat dirumuskan teori dan atau proses gejala-gejala yang dihadapinya.
The Problem of Foreign Influences On Early Islamic Law Akh. Minhaji
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.1-16

Abstract

The Origin of Islamic doctrine is the subject of one of the most serious debates among Islamic scholars. Wellhausen, Andrae, and Ahrens were of the opinion that Christianity “played the Decisive role in the birth of Islam. Richard Bell went even further by saying that popular influence, theology, and the transmission of Greek Philosophy were the important areas in which Christianity affected the development of Islamic teaching. Torry, on the other hand, contends that the doctrine that the basis of Islam was mainly Christianity is completely refuted by the evidence which the Qur’an furnishes and by the materials gathered from pre-Mohammedan Arabia. Moreover, according to him, “…in the Koran itself there is no clear evidence that Mohammed had ever received instruction from a Christian teacher…”. Islamic law, as the central core of Islamic doctrine, is also affected by such controversy. During the last few years there has been a serious discussion among Islamic scholar on the origin and the early development of Islamic law. In 1950, at the third International Congress of Comparative Law, Joseph Schacht addressed the problem in this paper entitled “foreign Elements in Ancient Islamic Law, which investigated the influence of Roma law on Islamic law. Shortly afterwards, S. Vesey Fitzgerald published an article entitled “The Alleged debt of Islamic to Roma Law.” Contrary to Schacht, Fitzgerald contended that Islamic law was not influenced by Roma law. The present essay Corroborates Schacht’s conclusion, and I shall argue that the influence on Islamic law came not only from Roma law but also from other source such as pre-Islamic Arab tradition and Judaic law.
Fithrah Manusia dalam Persepektif Al-Qur’an Tasman Hamami
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.68-80

Abstract

Kalau kita selidiki brbagai kata yang digunakan dalam Al-Qur’an ternyata sangat bervariasi, baik jenis maupun bentuknya. Dalam Al-Qur’an sering ditampilkan suatu kata yang memiliki arti Bahasa sama dalam bentuk yang bermacam-macam. Demikian pula sering digunakan kata muradif diberbagai surat dan ayat tentang suatu hal yang secara lafdiyah dapat diartikan “sama”. Misalnya, kata yang menunjukkan penciptaan manusia dalam Al-Qur’an dapat dijumpai dalam berbagai jenis dan bentuk, yaitu; “khala”(Q.s 95:4, 76: 2, 64: 2, 21:37, dan lain-lainnya), “ja’ala” (Q.S 16: 78, 2: 30, 43: 28), “ansya’a”(Q.S 23: 14, 11:61,6:98,67:23),”shawwara” (Q.S 64:3, 40:64, 7: 20, 3: 6), dan “fathara” (Q.S 30:30,11:51,17:51,36:22, 20:72). Berbagai kata tentang penciptaan itu dalam Al-Qur’an diungkapakan dalam bermacam-macam bentuk. Dari segi bilangannya, adakalanya dalam bentuk mufrad dan kadang-kadang dalam bentuk jamak. Sedang dari segi shighatnya, kadang-kadang diungkapkan dengan fi’il, dan kadang-kadang dengan mashdar maupun isim fa’il.perbedan penggunaan kata dalam Al-Qur’an itu pasti mengandung makna tertentu yang berbeda-beda pula, sekalipun dalam arti secara Bahasa sama, sebagai sinonim (muradif). Diantara berbagai kata yang menunjukkan penciptaan manusia adalah “fathara” yang bentuk masdarnya adalah “fithrah”. Dalam Al-Qur’an terdapat 20 bentuk kata yang berakar dari “fathara” yang diungkapkan dalam berbagai bentuk. Sedang kata firthrah itu sendiri hanya diungkap sekali, yaitu surat al-Rum : 30. Istilah fithrah tersebut pasti mempunyai makna tertentu.
Dimensi Etis-Teologis dan Etis-Antropologis dalam Pembangunan Berwawasan Lingkungan M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.17-26

Abstract

Isu pembangunan berwawasan lingkungan sebenarnya belum lama. Jika kita ambil patokan konferensi Stockholm yang diadakan oleh PBB pada tahun 1072, maka isu tersebut baru berumur dua puluh tahun. Isu lingkungan hidup mulai gencar dibicarakan oleh Ilmuan, politikus dan para cendikiawan Ketika dunia maju sudah lama menikmati kue pembangunan hasil teknologi Industri dan dunia berkembang sedang merayab menuju era industrialisasi. Para pemimpin politik dunia berkembang meragukan kemauaan baik dunia maju Ketika baru-baru ini dunia maju mengajukan persyaratan perlunya pengkaitan dana bantuan luar negeri dengan isu lingkungan hidup dan pelestarian lingkungan. Ironisnya, pada saat duni amju telah menikmati hasil revolusi industry dan sudah pula merasakan pahit getirnya dampak negative era industrialisasi terhadap lingkungan hidup (hujan asam, pemunahan jenis, lubang ozon, pemanasan global dan sebagainya ), maka mereka buru-buru menghimbau perlunya pembangunan berwawasan lingkungan. Sebaliknya, Ketika dunia berkembang baru hendak memasuki era industrialisasi dengan dampak negative seperti yang telah dialami oleh negara-nera industry maju, maka dunia berkembang pun perlu mempertimbangkan rencana-rencana pembangunannya, terlepas adanya himbauan darinegara maju atau tidak. Dalam sisuasai yang dilematis seperti ini, lagi-lagi dunia berkembang yang sarat dengan berbagai persoalan social-ekonomi banyak mendapat tekanan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Keadan social-ekonomi duania berkembang membutuhkan akselerasi pembangunan, sedang isu globalisasi lingkungan hidup menambah beban tambahan yang perlu dipertimbangkan secara serious oleh dunia berkembang, termasuk Indonesia, jika mereka ingin terlepas dari nasib serupa yang dialami oleh dunia maju.
Usūl Al-Takhrīj (Tehnik-tehnik Pelacakan Hadis) Syamsul Anwar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.81-102

Abstract

Hadis adalah sumber kedua ajaran Isalam setelah Al-Qur’an. Berkat usaha para ulama mutaqaddimin, hadis-hadis itu telah dihimpun dalam kitab-kitab hadis dengan berbagai bentuk dan system. Ada yang berupa musnad; ada pula yang berbentuk musannaf. Disamping itu hadis-hadis juga terdapat dalam kitab-kitab non-hadis, seperti kitab-kitab tafsir, kitab-kitab fiqih, kitab-kitab biografi dan lain-lain.suatu hal yang harus dicatat disini adalah kenyataan bahwa kitab-kiab hadis tersebut sangatlah luas dan sangat beragam system penyusunannya, sehingga percobaan untuk mencari sebuah hadis tertentu didalamnya tidaklah mudah, terutama bagi orang yangtidak akrab dan belum bisa bergaul dengan kitab-kitab hadis. Kalua boleh dikatakan, kitab-kitab tersebut dapat diibaratkan dengan Samudra luas yang tidak bertepi dan orang yang mencoba menemukan sebuah Mutiara hadis didalamnya tak ubah laksana mencari sebatang jarum didasar laut. Perumpamaan ini tidaklah berlebihan. Kata-kata Allamah Ahmad Muhammad Syakir berikut ini bisa menjadi illustrasi yang tepat. Ia mengatakan, saya sudah bergaual dengan ilmu dan kitab-kitab hadis sejak masa selama dua puluh lima tahun. Saya sudah mempelajari banyak kitab-kitab hadis secara sama dan qiraat kepada tokoh-tokoh dan guru-guru besar hadis terutama ayah saya sendiri Muhammad syakir, mantan wakil Universitas al-Azhar, dan al-Hafiz Abdullah Ibn Idris al-Sanusi, seorang Ulama dan Syaikh terkemuka Maroko. Namun demikian saya masih mengalami kesukaran untuk menemukan beberapa hadis pada tempatnya. Bahkan yang lebih aneh lagi, pernah saya mencari sebuah hadis dalam sunan Tirmizi baru lima tahun kemudian saya temukan, padahal kitab tersebut telah saya pelajari secarasama kepada ayah saya dan merupakan spesialisasi saya serta mendapat perhatian besar dari saya. Kalua Ahmad Syakir saja, yang tidak seorangpun meragukan keahliannya dalam hadis, masih mengalami kesukaran untuk mencari suatu hadis tertentu dalam sumber-sumber aslinya, maka patah lagi orang-orang yang tidak memiliki spesialisasi dalam hadis serta belum akrab dengan kitab-kitab hadis; kesulitan-kesulitan itu tentu akan jauh lebih besar.
India Abad 16 dan 17 (Tinjauan Tentang Ke-beragam-an dalam Beragama) Alef Theria Wasim Theria Wasim
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.27-35

Abstract

Sebagaimana diketahui bahwa di India pada abad 16 dan 17 terdapat budaya dan agama yang sangat beragam. Walaupun terdapat penganut agama Yahudi di selatan, Zoroaster dari Persia di barat Laut, sekte Jain di Gujarat, Sikh di Amritsar, keberadaan dua agama yaitu Hindu dan Islam hamper meliputi seluruh Kawasan india. Khusus agama hindu sangat banyak ragam dan varian-nya dan hampir setiap kasta terdapat bentuk peribadatan dengan dewa-dewanya masing-masing. Begitu pula dikalangan Islam  di India terdapat penganut agama Islam yang bervarian dan beragam corak dan penghayatan agama mereka.Keadaan sangat beragam ini mendapat perhatian pengasa pada waktu itu yang berusaha untuk mempersatukan budaya dan agama di India. Salah seorang tokoh yang sangatterkenal adalah akbar (1556-1605) yang berusaha mengampuh dan  mengembangkan pemaduan budaya dan agama di India terutama Hindu dan Islam. Langkah dan usaha akbar ini kemudian dilanjutkan oleh para penggantinya yaitu Jahangir (Salim, 1605-1627), shah Jahān (1628-1658) saatmana policy Akbar mencapai puncaknya. Sudah wajar kalua gaya dan cara masing-masing penerus ini juga mempunyai persamaan dan perbedaan. Langkah dan usaha Akbar dan para penerusnya tersebut ada yang dapat terbaca dalam beberapa karya Dārā Shikōh yang akan dikemukakan dalam bagian tulisan ini. Tentang India dapatlah dikatakan bahwa di India abad 16 dan 17 telah berakar kuat ke-beragam-an agama yang dari sisi budaya-agama barangkali dapat diungkapkan dengan “sinkretisme” dan “sintetisme”. Dalam kesempatan ini akan dicoba untuk mengemukakan apa yang terjadi secara budaya-agama di Inia abad dimaksud dengan berangkat sambil memperhatikan karya Dārā Shikōh.
Pasang Surut Peradaban Islam Masykur Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.36-44

Abstract

Percakapan tentang pasang surut peradaban Islam telah banyak diperbincangkan oleh para ilmuan maupun negarawan yang mempunyai komitmen yang tinggi dan tangungjawab moral yang dalam terhadap pasang surutnya peradaban Islam dan maju mundurnya umat Islam. Percakapan itu dapat dilihat dalam beberapa pertemuan ilmiah yang diadakan oleh mereka dan dapat dibaca dalam beberapa buku yang ditulisnya. Diantarabuku yang membicarakan soal ini adalah; pertama, karya tulis Amir Syakib Arsalan yang berjudul “Li maadzaa ta-akhkha ral Muslimun wa li maadzaa taqaddama gayruhum” kedua, “maadzaa khasiral alam binkhithathil Muslimin. Buku pertama, sesuai dengan bunyi judulnya membicarakan tentang faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran umat Islam ditengah-tengah kemajuan yang diperoleh oleh dunia Barat, sementara buku kedua menjelaskan kerugian  yang menimpa duania atas kemunduran dunia Islam. Mengikuti khiththah yang ditulis oleh penulis pendahulu terbaik itu, maka makalah ini tidak membicarakan secara negarif perjalanan peradaban Islam. Penulis dalam kesempatan ini akan membicarakan tentangtiga hal. Pertama, factor-faktor yang menyebabkan kemajuan peradaban Islam. Kedua, Faktor-faktor yang mengantarkan umat Islam mundur dan surut dalam peradabannya. Ketiga, terapi yang harus dijalani, bilamana umat Islam ingin memperoleh momentum untuk bangit Kembali.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

1992 1992


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue