cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "No 54 (1994)" : 8 Documents clear
Eksistensi dan Pranan Sekolah Dalam Pengembangan Kehidupan Sosial-Politik Tasman Hamami
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 54 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.540.25-35

Abstract

Beberapa orang tokoh seperti Ivan Illich dengan karyanya Deschooling Society maupun Paulo Freire sudah meragukan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan dalam mempersiapkan generasi masa depan. Tetapi sebagian besar masyarakat, nampaknya tetap menaruh harapan besar dan mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap sistem persekolahan sebagai pusat pendidikan. Bahkan ada: semacam kecenderungan bahwa sekolah sebagai taruhan, sementara di sisi lain, seperti sistem pondok pesantren relatif kurang diminati masyarakat jika dibandingkan dengan sekolah. Sikap dan pandangan seperti itu muncul sebagai konsekuensi dari tuntutan perubahan masyarakat yang terjadi. Sebagai masyarakat yang sedang bergerak ke arah kehidupan moderen dihadapkan pada peningkatan tuntutan kebutuhan dasar manusia, seperti sandang, pangan, papan, dan juga kesehatan. Dalam kenyataannya, "orang-orang sekolahan" lebih banyak mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan tersebut. Akibatnya, fenomena itu yang juga merupakan fenomena masyarakat moderen telah memusatkan perhatian masyarakat terhadap peranan sekolah. Bahkan kecenderungan seperti itu telah menempatkan harapan masyarakat yang terlalu besar terhadap persekolahan, mereka mengira bahwa sekolah mampu membereskan segala persoalan. Memperhatikan kecenderungan tersebut, tulisan ini dimaksudkan untuk menelaah persoalannya, terutama berkaitan dengan eksistensi dan pranan sekolah dalam prkembangan kehidupan social dan politik. 
Memahami Makna dan Hakikat Dakwah Sukriyanto A. R
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 54 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.540.111-117

Abstract

Untuk mengembangkan ilmu dakwah baran_ekali ada baiknya difahami terlebih dahulu tentang hakikat dakwah. Oleh karena kalua kita akan menJrusun dakwah sebagai sebuah ilmu kiranya perlu diketahui lebih dahulu makna dan hakikat dakwah itu sendiri. Sebab tanpa mengetahui hakikat dakwah kita tidak akan dapat mengerti tujuan menyusun ilmu dakwah. Kalau kita berbicara tentang makna dan hakikat dakwah, atau membicarakan tentang dakwah secara filosofis, timbul pertanyaan. Apa sebenarnya dakwah itu? Mengapa perlu ada dakwah? Perlukah dakwah kepada manusia? Mengapa Allah memerintahkan kepada umrnat Islam untuk berdakwah? Apa sebenarnya maksud dan tujuan Allah memerintahkan manusia untuk berdakwah? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu perlu dijawab terlebih dahulu pertanyaan apa maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia? Karena tentunya perintah dakwah tidak terlepas dari maksud dan tujuan penciptaan manusia. Kalau kita mencoba mengamati Al Qur'an tentang maksud dan tujuan penciptaan manusia, maka dapat kita ketahui bahwa menurut Al-Qur'an, maksud dan tujuan penciptaan manusia adalah: Pertama, manusia dicipta untuk dijadikan sebagai khalifah Allah (Q.2:30). Menata kehidupan di muka bumi. Berbuat baik di muka bumi,sehingga kehidupan yang ada di muka bumi ini menjadi baik, tertib, teratur, damai, tenteram, makmur, teduh, nyaman dsb. Untuk itu manusia perlu memiliki potensi yang kuat yaitu, fisik yang kuat dan sehat, fitrah atau hati nurani yang bersih, hawa nafsu yang terkendali dan akal yang terlatih berfikir. Kedua, manusia dicipta untuk beribadah (Q.51:56). Yaitu tunduk, patuh dan setia menjalankan perintah-penntah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah.
Pendidikan Etika Lingkungan Hidup Orientasi ke arah Pendidikan yang Holistik Radjasa Mu’tasim
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 54 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.540.36-46

Abstract

Dalam konferensi Tingkat Tinggi Bumi (KTT-Bumi) di Rio De Jenairo pada bulan Juni 1992 yang lalu, telah menghasilkan beberapa kesepakatan penting yang salah satu diantaranya, yang relevan dengan makalah ini, adalah sebuah kerangka kerja yang diperuntukkan kepada masyarakat internasional yang disebut sebagai AGENDA 21. Rencana kerja ini bertujuan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan (Sustainable Developmen) pada abad mendatang. Salah satu program dari Agenda 2l yang sangat penting untuk diperhatikan adalah program pendidikan Lingkungan Hidup, yang didalamnya tercakup tiga hal penting (Bab 36 Agenda 2l), yakni: (a). Mereorientasi pendidikan ke arah pembangunan berkelanjutan' (b). Meningkatkan kesadaran masyarakat akan perlunya menjaga kelestarian lingkungan, dan (c). Meningkatkan latihan. Program-program ini sesungguhnya merupakan tindak lanjut dari deklarasi dan rekomendasi Konferensi Tbilisi yang diselenggarakan oleh UNESCO dan UNEP pada tahun 1917 yang lalu, yang menegaskan perlunya memperhatikan dunia pendidikan dalam upaya menyelamatkan lingkungan hidup.
Pendekatan Kultural Dalam Dakwah “Walisongo” Afif Rifai
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 54 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.540.118-125

Abstract

Terdapat banyak pendapat mengenai masuknya Islam ke Indonesia, sehingga sulit menentukan dengan pasti tentang kapan waklu pertama kalinya Islam masuk ke Indonesia. Berdasarkan hasil seminar tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1963, disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah atau sekitar abad ke VII-VIII Masehi.) Islam masuk ke Indonesia mula-mula didakwahkan oleh para pedagang Arab yang datang ke pantai Sumatera (pesisir Timur Laut Aceh), selanjutnya membentuk masyarakat Islam, hinga berhasil berdiri kerajaan Islam di Asia Tengara. Kemudian menysul berdiri kerajaan Islam Samudra Pasai pada tahun 433 H (1042 M). Samudra Pasai kemudian ,menjadi pusat kegiatan Dakwah Islamiyah ke seluruh Nusantara."Dakwah Islam masuk ke Pulau Jawa sekitar tahun 797 H (1395 M), dipimpin oleh Maulana Malik lbrahim atas perintah Sultan Zaenal Abidin Bahian Syah dari kerajaan Islam Samudra Pasai. Untuk menguatkan basis dakwah Islam di Pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim mendirikan pusat pendidikan Islam (pesantren) di Loren Jawa Timur.) Kemudian diteruskan oleh Sunan Ampel dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta. Sunan Ampel berhasil mencetak kader-kader da'i yang tangguh, yang kemudian terkenal dengan sebutan Walisongo, sehingga Islam meluas ke seluruh pulau Jawa bahkan ke luar Pulau Jawa. 
Pengembangan Tradisi Intelektual Dalam Pendidikan Islam Abdul Munir Mulkhan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 54 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.540.47-56

Abstract

Perubahan tata kehidupan masyarakat yang semakin cepat searah dengan perkembangan ilmu-pengetahuan dan teknologi serta pertumbuhan jumlah penduduk di satu sisi dan keterbatasan daya dukung sumber daya alam di sisi lain, merupakan salah satu faktor penting yang menuntut pengkajian ulang berbagai doktrin keagamaan dan teori serta metodologi pendidikan Islam. Kecenderungan inilah yang kemudian memunculkan isu Islamisasi pengetahuan dalam perkembangan pemikiran Islam. Ide dari Islamisasi pengetahuan ternyata tidak segera mendorong berkembangnya berbagai cabang pengetahuan dalam tradisi pemikiran Islam. Hal ini antara lain merupakan akibat belum berkembangnya tradisi intelektual dalam komunitas muslim, sehingga berbagai kegiatan pemikiran Islam terjebak dalam perdebatan metodologis yang terus menerus dihadapi para pemikir muslim. Sejak masa awal era pemikiran Islam baik dalam tradisi kalam maupun filsafat, pemikir muslim selalu berhadapan dengan problem metodologis di atas. Akibatnya, kebenaran firman selalu diharapkan kepada hasil temuan dan produk dari aktifitas intelekrual. Lebih khusus, agama kemudian dilawankan dengan kebudayaan sebagai paradigma pemikiran keagamaan dan atau sebaliknya. lebih jauh hal ini mengakibatkan lemahnya gerak dinamis pemikiran Islam di satu sisi dan mandegnya kebudayaan Islam di sisi lain.
Beberapa Sumber Kesalahan Pengukuran Dalam Ujian Bentuk Objektif dan Ujian Bentuk Subjektif Anas Sudijono
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 54 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.540.67-81

Abstract

Masalah pengukuran dan penilaian dalam pendidikan adalah masalah yang selalu terkandung dalam pekerjaan dan Pendidikan keguruan, sehingga karenanya sudah seharusnya menjadi salah satu bagian yang penting dalam kelengkapan keahlian seorang guru. Bahkan tidak hanya sekedar menjadi salah satu bagian saja, akan tetapi sebaliknya ia merupakan bagian integral, yang tak terpisahkan dari proses mengajar dan belajar. Tanpa titik tolak dasar pikiran yang serupa ini maka pengukuran dan penilaian pendidikan tidak akan dapat menunaikan fungsinya sebagaimana mestinya. Berbicara tentang pengukuran dan penilaian dalam dunia pendidikan, maka istilah "pengukuran" (measurement) sering kali diberi arti yang sama dengan "penilaian" (evaluation). Dalam hal ini acapkali orang beranggapan bahwa apabila ia mengukur sesuatu hal–misalnya "mengukur" kecerdasan seseorang atau sekelompok orang dengan  menggunakan alat, misalnya menggunakan tes intelligensi --, maka ia merasa telah melakukan "penilaian" Memang, sekalipun dua pengertian itu mempunyai pertalian yang sangat erat, namun sebenarnya kedua istilah tersebut mempunyai arti yang berbeda.
Anak Dalam Persepektif Al-Qur’an (Kajian Dari Segi Pendidikan) M. Anies
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 54 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.540.1-24

Abstract

Di mata iman umat lslam, al-Qur'an adalah sebagai hudan (Q.2:2, Q.l6:89, Q.27:2,77, Q.3l:3) dan menempati posisi sentral dalam Pendidikan Islam. Ia sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk berfikir kreatif dan bertindak arif. Selama umat Islam belum mampu menempatkan al-Qur'an sebagai hudan (petunjuk) dalam mengembangkan intelektual, hati dan ketrampilan, berarti mereka belum mampu memahami elan dasar al-Qur'an. AI-Qur'an sebagai hudan memberi acuan konseptual yang sangat komperehensip kepada umat manusia guna menyikapi kehidupannya. AI-Qur'an memberi perhatian yang serius terhadap masalah pendidikan. AI-Qur'an sangat banyak menggelar informasi tentang manusia. Mereka yang akan menggumuli Pendidikan Islam harus memahami konsep tentang manusia menurut al-Qur'an, sebab manusialah yang mempunyai dominasi dalam proses pendidikan. Sifat yang sesungguhnya dari system Pendidikan Islam dan perbedaannya dengan sistem Pendidikan yang lain hanya dapat difatrami dengan semestinya jika konsep tentang manusia difahami dengan inrik. Al-Qur'an telah memberi sinyal yang jelas kepada umat bahwa manusia itu ciptaan Allah (Q.96:2, Q.86:5,6,7, Q.2Z:5, Q.55:14, Q.25:5, Q.32;7,8,9, Q.l5:26, Q.l5:28, Q.4O:67, Q.3O:54,Q.53:45, Q.23: 12, 13, 14).
John G. Finch Symposium ‘’Obat-obat Bius dan Pengalaman Keagamaan” (suatu Refleksi Qur’ani) Syamsuddin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 54 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.540.82-110

Abstract

Penelitian tentang gejala-gejala keagamaan merupakan salah satu kepentingan psikologi Amerika sejak G. Stanley Hall. Penelitian tentang itu menarik perhatian banyak sarjana terkemuka, namun tidak banyak kemajuan yang dicapai. Di antara sebab-sebabnya ialah keraguan sarjana psikologi untuk memasuki daerah yang dianggap "keramat" itu dan juga karena kurangnya upaya-upaya eksperimental untuk meneliti agama. Keberanian Walter Houston Clark yang istimewa dalam bidang ini disamping gembira. Keterlibatannya yang lama dalam bidang ini membuahkan hasil dengan terbitnya The Psychology of Religion dalam tahun 1958. Terbitannya setelah itu ialah Chemical ecstacy: psychedelic Drugs arul Religion (l%9). Kemudian,pada tahun 60-an John G. Finch merasakan perlunya pembekalan bagi tenaga-tenaga psikoterapis yang berwawasan Kristiani.Tetapi Finch melihat tidak ada kurikulum yang mengarah ke wawasan itu di Amerika Serikat. Akhirnya, dalam suatu rangkain ceramah di Fuller Theological Seminary, dia mengusulkan pendirian suatu School of Psychology yang akan menghubungkan agama dan psikologi bagi pembekalan tenaga-tenaga psikologi klinis. Atas peranannya, 2 tahunkemudian dibukalah Graduate School of Psychology pada tahun 1965. 

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

1994 1994


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue