cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "No 57 (1994)" : 14 Documents clear
The Advice Prof. Dr. P.S. Van Koningsveld for the promotion of Dr.Machasin sept. 2, 1994 Pieter Sjoerd van Koningsveld
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.138-140

Abstract

Enough has been said already about all the technical details of your work, during your discussions with your supervisors, during the closed examination and also during this open, official ceremony. I am very grateful that you have also given me the opportunity to study your work and to give you, my remarks. Time will now come for you to prepare your work for its publication. This will give you the opportunity to think over everything that has been said and take it into account in one way or another. The INlS­ programme has already written to you that it is willing, in principle, to include your work in its printed series.  When I try to do justice to the scope of your work, I would say that it contains two major axes or points of orientation. The first of these is the purely philological and historical approach. Your work mainly consists of an analysis of the methods or methodology applied by an important representative of one of the schools of Islamic theological thought, viz. Qādī 'Abd al-Jabbar al-Basrī. For this analysis, you base yourself on a number of ancient Arabic sources and, in doing so, you take into account the studies of other scholars, both from the Muslim world and the West. The publication and sources you have quoted in your thesis are mainly written in Arabic, English, French and German. This proves, I believe, that your main ambition and concern were to present a study. primarily concerned with the general history of Islamic thought taking into account the results of international scholarship.
Revelatio Abdoussalam, Harith
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.40-58

Abstract

Kata revelatio ini berasal dari bahasa Latin, dari kata kerja revelare yang berarti: membuka selubung,  menyingkapkan, memperkenalkan, memperlihatkan. Agama-agama Barat bertujuan untuk membantu orang-orang yang beriman untuk mengikuti kehendak Tuhan. Tetapi bagaimana untuk mengetahui Kehendak Tuhan itu? Maksud dan tujuan dari pada revelatio atau revelasi itu ialah memperkenalkan kepada manusia, bahwasannya Tuhan itu telah berbicara atau berfiman, telah menunjukkan, telah berkomunikasi dengan manusia.
Agama Dan Etos Kerja Musa Asyárie
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.93-99

Abstract

Jika agama dibicarakan dalam kaitannya dengan etos kerja, maka persoalannya adalah agama dalam tahap penghayatan yang mana. Hal ini disebabkan karena etos kerja berkaitan langsung dengan usaha manusia mengatasi dan meningkatkan kehidupan produktivitas yang bersifat social ekonornis. Untuk meningkatkan produktivitas ekonomis yang berdimensi humanitas, diperlukan etos kerja yang bersumber pada penghayatan agama yang lebih antroposentris dengan memberikan peran Iebih besar dan "bebas" kepada manusia untuk mengembangkan kreativitasnya secara optimal. Pendekatan antroposentris dalam agama dimungkinkan, karena agama pada hakikatnya untuk manusia dan untuk memperkokoh kemanusiaan. Manusia membutuhkan agama untuk mengenal dan memasuki dimensi gaib yang telah menjadi bagian bawaan kodratnya, dan hanya agamalah yang dapat mengantarkan manusia berkenalan dan bahkan hidup dalam kegaiban. Agama sama sekali bukan dan tidak untuk Tuhan, karena Tuhan sama sekali tidak memerlukan dan membutuhkan apapun, apalagi agama. Etos suatu bangsa (Clifford Geertz: The Interpretation of Cultures, 1974) adalah sifat, watak, dan kualitas kehidupan mereka, moral dan gaya estetis dan suasana-suasana hati mereka. Etos adalah sikap mendasar terhadap diri mereka sendiri dan terhadap dunia mereka yang direfleksikan dalam kehidupan. Etos kerja adalah refleksi dari sikap hidup yang mendasar dalam kerja. Sebagai sikap hidup yang mendasar, suatu etos pada dasarnya merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai luhur yang transenden. Dalam kaitan ini, maka agama bagi pemeluknya merupakan sistem nilai yang mendasari suatu etos kerjanya. Kerja seyogyanya diletakkan sebagai realisasi dari ajaran agamanya. Telah banyak dilakukan studi-studi mengenai hubungan antara etos. Telah banyak dilakukan studi-studi mengenai hubungan antara etos kerja dengan agama. Hampir semua agama mengajarkan kepada manusia untuk memberikan sedekah dan menyantuni yang membutuhkan, mendorong pemeluknya untuk giat bekerja mendapatkan rezeki dan berkah dari  Tuhannya, bahkan dalam Islam, dikenal anjuran Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa tangan di atas Iebih mulia dari pada tangan di bawah, artinya memberi lebih mulia dari pada meminta, dan untuk dapat memberi tentu seseorang harus mempunyai kelebihan untuk dapat diberikan kepada sesamanya yang kekurangan. Dan untuk dapat memberi, diperlukan tidak saja ia selayaknya berkecukupan secara material, tetapi juga kedalaman spiritual sehingga memberi merupakan panggilan sosial keagamaan. Semangat agama pada dasamya adalah semangat memberi kepada sesamanya, seorang agamawan yang baik adalah orang yang hanya meminta kepada Tuhannya dan mernberi kepada sesamanya. Oleh karena semangat memberi kepada sesamanya yang besar, maka agama pada dasamya mendorong manusia untuk bekerja keras, mencapai kemampuan maksimal, karena dengan itu ia akan dapat memberi kepada sesamanya. Fenomena kemiskinan, kesengsaraan dan penderitaan dalarn kehidupan manusia, pada dasarnya banyak berkaitan dengan problematika ketimpangan dalam realitas hidup manusia sendiri.
The Dialogue Decalogue: Ground Rule Interreligious, Interideological Dialogue Leonard Swidler
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.141-145

Abstract

Dialogue is a conversation on a common subject between two or more persons with differing views, the primary purpose of which is for each participant to learn from the other so that he or she can change and grow. This very definition of dialogue embodies the first commandment of dialogue. In the religious-ideological sphere in the past, we came together to discuss with those differing with us, for example, Catholics with Protestants, either to defeat an opponent, or to learn about an opponent so as to deal more effectively with him or her, or at best to negotiate with him or her. If we faced each other at all, it was in confrontation-sometimes more openly polemically, sometimes more subtly so, but always with the ultimate goal of defeating the other, because we were convinced that we alone had the absolute truth. But dialogue is not debate. In dialogue each partner must listen to the other as openly and sympathetically as he or she can in an attempt to understand the other's position as precisely and, as it were, as much from within, as possible. Such an attitude automatically includes the assumption that at any point we might find the partner's position so persuasive that, if we would act with integrity, we would have to change, and change can be disturbing. 
Jalaluddin Rumi (604-672H/1207-1273M) S Subagyo
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.59-69

Abstract

Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair sufi terbesar dari Persia. Ia dilahirkan di kola Balkh pada tahun 604 H/l207 M. Menurut pengakuan keluarganya, nenek moyangnya berasal dari keturunan Arab; nasabnya bersambung hingga Abu Bakar al-Shiddiq Khalifah Islam yang pertama. Berkat tali perkawinan, keluarganya mempunya ikatan hubungan yang kuat dengan keluarga kerajaan Kwarizm. Faktor-faktor inilah yang menjadikan keluarganya mendapatkan kehormatan yang tinggi dari masyarakat pada waktu itu. Pada usianya yang ketiga tahun (607 H/1210 M), ayahnya Bahauddin Walad membawanya meninggalkan Balkh karena konfliknya dengan raja Muhammad Qutb al-Din Kwarizm shah menuju ke Nishabur. Di kota inilah keluarganya bertemu dengan Fariduddin Atthar dan ia diserahkan kepadanya. Konon, berdasarkan legenda, Atthar pada pertemuannya dengan. Jalaluddin yang petama kali itu meramalkannya, bahwa ia kelak akan menjadi scoring yang masyhur yang akan menyalakan api gairah ketuhanan di seluruh dunia, karena ia terpesona melihat sorot matanya dan benih kejeniusannya dan pada akhimya Atthar memberinya sebuah kitab tasawwuf Asrar Nama.  Di balik kisah legenda ilu, dapatlah diambil benang sarinya; yakni bahwa Jalaluddin secara faktual pernah menjadi anak angkatnya Faridduddin Atthar, berada dalam lingkungan kehidupannya. Pengalaman yang demikian, tentunya ikut membekali persepsi hidupnya dan membekali khazanah pengalaman kesufiannya di masa mendatang kehidupannya. Sebab bagaimanapun, pengalaman di masa kanak-kanak akan mermpunyai titik persambungannya di masa remaja dan orang tua.
Refleksi Teologis terhadap Etos Kerja M Muzairi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.100-109

Abstract

Apa yang dikaji oleh pemikir-pemikir dan Ilmuwan sosial sangat menarik karena pilihan ini menunjukkan prioritas dari suatu masyarakat. Peranan yang dimainkan oleh teologi dalam suatu peningkatan etos kerja sebetulnya merupakan kajian interdisipliner yang sangat menarik. Apakah masyarakat melayani cita-cita suatu teologi atau teologi yang melayani cita-cita masyarakat. Ada berbagai macam sudut pandang suatu kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama, lembaga-lembaga sosial, filsafat, Pendidikan religius, refleksi teologis, dan kehidupan komoditas. Hal-hal tersebut pasti mempengaruhi suatu etos kerja. Analisis akan lebih menarik lagi kalau suatu masyarakat meliputi penganut dari agama yang berbeda-beda seperti di Indonesia. Untuk itu akan dicoba suatu tulisan yang berkenaan dengan Refleksi teologis terhadap etos kerja.
Sunni Dalam Perspektif Sejarah Nourouzzaman Shiddiqi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.1-12

Abstract

Sunni berasal dari kala sunnah. Arti Sunnah secara harfiah ialah tradisi, adat kebiasaan yang telah melembaga dalam masyarakat. Dalam al-Quran, tema sunnah biasanya muncul dalam dua konteks: (I) sunnat al-awwalin = kebiasaan orang-orang terdahulu (viii: 38; xv: l3; viii: 55; xxv: 43) dan (2) sunnat Allah (xvii: 77; xxxiii: 62; xxxv: 43 xlviii: 23). Tema sunnah dalam pengertian syara' ialah: tradisi yang dikerjakan oleh Rasulullah Saw dan diteruskan oleh para Salaf yang saleh. Sunnah yang semakna dengan hadits, setelah menjadi terma karakteristik untuk teori dan praktek kaum Muslimin orthodoks, maknanya dalam batasan yang sempit ialah semua perbuatan (fi 'il),  ucapan (qaul) dan persetujuan diam Nabi (taqrir). Dalam batasan yang sedikit  lebih luas, dimasukkan juga perbuatan, fatwa, dan tradisi yang diintroduksikan oleh para Shahabi (atsar Shahabi). Sunnah dalam batasan pengertian ahli kalam ialah, keyakinan (i'tiqad) yang didasarkan pada dalil naqli (al-Quran, hadits dan qaul (ucapan) Shahabi) bukan semata bersandar pada pemahaman akal (rasio). Dalam pengertian ahli politik, sunnah ialah jejak yang ditinggalkan oleh Rasulullah Saw dan para Khulafa ar-Rasyidin. Jadi, yang dimaksud dengan sunni ialah nama bagi kelompok muslim pendukung sunnah menurut terminologi syara' ahli hadits, ahli kalam dan ahli politik. Mereka dinamakan juga Muslim orthodoks yang menjadi oposan bagi pendukung aliran Syiah dan Khawarij --yang discbut hetcrodoks--. Kalau begitu, Sunni ialah seorang Muslim yang tidak mengatakan secara jelas bahwa ia adalah pendukung Syi'ah atau Khawarij, tanpa harus mengatakan bahwa ia pengikut atau mengikuti sesuatu mazhab fiqh. Satu prinsip dasar yang dipegang Sunni, --yang ini menjadi ciri baginya--, ialah dalam memahami agama mereka mengambil jalan tengah (wasathan). Mereka berpegang pada asas keseimbangan (cqualibrium) yang mengacu pada al-Qur’an dan as-Sunnah dan berusaha mencari perdamaian antara dua sisi ekstrim yang bertentangan. Sunni menyeimbangkan dan mendamaikan antara akal dan naqal, menyeimbangkan antara dunia dan akhirat, mendamaikan antara fiqh dan tasawwuf.
Pemikiran Dalam Bidang Tasawwuf S Simuh
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.70-72

Abstract

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tasawwuf mengandung pemikiran filsafat pula. Lalu apa bedanya pemikiran filsafat dalam tasawwuf dengan dalam ilmu filsafat? Filsafat adalah pemikiran secara murni. Tujuannya berusaha memahami segala sesuatu secara ilmiah. Jadi akal yang nomor wahid. Hal ini berbeda dengan tasawwuf. Karena tasawwuf bukan pemikiran murni seperti halnya filsafat. Akan tetapi setengah filsafat dan setengah agama atau kepercayaan. Atau dengan kata lain, tasawwuf adalah kepercayaan yang difilsafati. Jadi persis seperti tercermin dalam judul buku Ibrahim Hilal yang berbunyi AI-Tashawwuf al-Islami Bain al-Din wa al-Falsafah. Jadi merupakan filsafat keagamaan, bukan filsafat murni. Tujuannya bukan pemahaman secara ilmiah, akan tetapi rindu untuk mencari pengalaman bertemu muka dengan Tuhan secara langsung dan ber'asyiq-masyuq dengan Dia (an yatamatta'a bi 't-wushuli ila 'llah).
Makna Penting Hukum Kausalitas Dalam Peradaban Islam (Studi Tentang Pemikiran Al-Ghazali dan Ibn Rusyd) Yudian W. Asmin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.110-123

Abstract

Kausalitas merupakan salah satu masalah fundamental dalam filsafat, sehingga wajar saja jika selalu ·dibicarakan. Filsafat Islam Abad Tengah membuktikan, melalui Tahafut al-Falasifah karya al-Ghazali dan Tahafut al-Tahafut karya lbn Rusyd, puncak ledakan perdebatan tentang kausalitas dilihat semata-mata dari sudut pandang filsafat dan teologi Islam, di mana al-Ghazali menghukumi bahwa para filosof (falasifah) terutama lbn Sina dan al-Farabi adalah kafir karena pendapat mereka tentang tiga persoalan metafisika. Kelemahan dalam memahami kausalitas akan menimbulkan banyak aspek negatif semisal keterbelakangan saintifik yang kini tengah melanda dunia lslam dan, sebaliknya, ketergantungan pada 'kekuatan spiritual'. 'Penuhanan sain-sain eksperimental dan penafian total terhadap kemungkinan adanya kekuatan spiritual --yang di zaman modem ini tercermin dalam kecenderungan sekelompok umat Islam yang dimotori oleh Ahmad Khan yang menafsirkan mukjizat dengan menggunakan terminologi naturalistik, yaitu "Islam is Nature and Nature is lslam"-- merupakan akibat ekstrim lainnya. Sekarang memang ada anggapan baru, yang dikemukakan oleh Ilai Alon dan Lenn Evan Goodman, bahwa al-Ghazali tidak menolak kausalitas. Namun demikian, anggapan sebaliknya sudah berakibat sangat jauh sehingga lebih pantas untuk dibicarakan disini, dengan enam fokus: latar belakang saintifik dan politik al-Ghazali dan Ibn Rusyd; kausalitas dalam tradisi pemikiran Islam; pandangan al-Ghazali tentang kausalitas; tanggapan Ibn Rusyd terhadap al-Ghazali; dan pengaruh perdebatan tentang kausalitas terhadap modernisme Islam. Tidak lupa diberikan pula catatan penyimpul.
Kenabiaan (Sebuah Agenda Filsaft Islam) Abdul Basir Solissa
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.13-30

Abstract

Fazlur Rahman menyebut kenabian sebagai suatu fenomena universal, sebab tidak ada satu bagian bumi pun yang tidak pernah menyaksikan kehadiran seorang Nabi. Pendapat ini didasarkan pada al-Qur'an, 40 : 78 dan  4: 164: "Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mu'jizat, melainkan dengan seizin Allah: maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil"  "Dan (Kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu dan Rasul-rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." Rasul atau Nabi-nabi itu diutus kepada kaum mereka, tetapi ajaran yang mereka bawa bersifat universal dan harus diyakini oleh semua manusia. Oleh sebab itu maka kenabian adalah satu mata rantai panjang yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Di dunia filsafat Islam, kajian tentang kenabian adalah esensial, karena selain berkaitan dengan prinsip pokok ajaran Islam, juga merupakan suatu perkembangan pemikiran kefilsafatan yang bersumber dari ajaran Islam, dan oleh karena itu ia merupakan suatu bidang kajian tersendiri khas Islam. Ini tidak berarti mengesampingkan pikiran-pikiran yang mungkin ada di luar Islam tentang kenabian, namun pokok kajian ini agaknya memiliki karateristik dan kecenderungan yang khas Islam. Kajian tentang kenabian sebagai obyek pemikiran kefilsafatan tidak dimaksud untuk menggugat otoritas para Nabi (kecuali barangkali al-Razi) dan meragukan kenabiannya, tetapi pembahasan itu justru merupakan panggilan religiusitas dan upaya peneguhan terhadap kenabian itu sendiri.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

1994 1994


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue