cover
Contact Name
Muh. Nurjati Hidayat
Contact Email
jurnalpengairan@ub.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
anggara.wws@ub.ac.id
Editorial Address
Jurnal Teknik Pengairan Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono 167 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 20861761     EISSN : 24776068     DOI : 10.21776
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Pengairan is a scientific journal published regularly twice per year by Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya. The paper submitted in this journal covers the fields of Water Resources Information System, Water Resources Conservation, Water Resources Utilization and Efficiency, Water Structure Engineering Planning and Water Resources Engineering Basic Knowledge. The submitted paper can be a summary of research reports or scientific literature review. The language used in this journal is either English or Indonesian.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2016)" : 16 Documents clear
STUDI TEKANAN ALIRAN AIRTANAH UNTUK KONSERVASI DI KECAMATAN RANOMEETO DAN RANOMEETO BARAT KABUPATEN KONAWE SELATAN PROVINSI SULAWESI TENGGARA Muhammad, Muhammad; Sholichin, Moh.; Asmaranto, Runi
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (844.844 KB)

Abstract

Abstrak:  Airtanah yang merupakan sumberdaya alam terbarukan dewasa ini telah  menjadi barang ekonomis yang  memiliki peran yang cukup strategis. Namun saat ini  muka airtanah di sumur bor  yang tersebar di Kecamatan Ranomeeto dan Ranomeeto Barat, cenderung turun yang berakibat sebagian pompa sumur tidak bisa lagi mengisap air untuk irigasi. Penelitian ini menggunakan basic perhitungan numeric finite element dengan alat bantu sofware Model Groundwater Modelling System (GMS) 4.0. Tujuannya adalah untuk mengetahui tekanan aliran airtanah dan dampak penambahan sumur bor. Hasil hitung terhadap tekanan yang diperoleh dari permodelan GMS 4.0 membuktikan bahwa setiap penambahan 1 unit sumur terjadi penurunan tekanan sebesar 0,027 m sampai dengan 0,3 m. Tekanan airtanah terendah terjadi pada sumur P.40 KDI sebesar 8,863 m dan tertinggi pada sumur P.11 KDI nilai tekanan 45,992 m. Debit optimum pemompaan yang digunakan sebaiknya tidak melebihi 5,7 lt/det - 14,05 lt/det. Untuk mempertahankan keberadaan airtanah perlu dilakukan kegiatan konservasi berupa penghijauan pada daerah imbuhan, pembuatan sistem drainase resapan, pembangunan waduk kecil untuk menampung air hujan yang melimpas dan  pemompaan berdasarkan debit optimum.Kata Kunci : Tekanan, Airtanah, GMS 4.0, Debit Optimum, Konservasi. Abstract:  Groundwater which is a renewable natural resource today has become an economical item that has a strategic role. However, the current well groundwater levelthat was scattered in Ranomeeto and West Ranomeeto districts, tends to decrease so the well pump can no longer pump up the water for irrigation. This research uses basic numerical calculation by finite element software tools Model, it is Groundwater Modelling System (GMS) 4.0. The goal is to know the groundwater pressure and the impact of additional wells. Results from GMS 4.0 modelling shows that each additional 1 unit well was decrease pressure from  0,027 m up to 0.3 m. The lowest pressure occurs in groundwater wells P.40 KDI as 8.863 m and the highest pressure occurs at P.11 KDI as 45.992 m. The recommended optimum discharge pumping should not exceed 5,7 lt/sec - 14,05 lt/sec. To maintain the sustainability of groundwater need to do conservation activities such as reforestation in recharge areas, catchment drainage system installment, construction of small reservoirs to collect the spill rain water run off and do pumping based on optimum discharge.Kata Kunci: Pressure, Groundwater, GMS 4.0, Optimum Discharge,  Conservation
STUDI PENGARUH PERUBAHAN TATAGUNA LAHAN DI DAS MAMASA TERHADAP USIA GUNA WADUK PLTA BAKARU Sulfandi, Sulfandi; Rispiningtati, Rispiningtati; Suhartanto, Ery
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.515 KB)

Abstract

Abstrak : Di DAS Mamasa terdapat Waduk PLTA Bakaru yang beroperasi sejak Desember 1990. Dari hasil analisa Interpretasi Citra Satelit pengurangan luas hutan sebesar 7003.44 ha, padang rumput/tanah kosong 1185.61 ha, kebun 32.95 ha serta penambahan luas lahan semak belukar 5391.20 ha, tanah ladang/tegalan 1378.35 ha, pemukiman 832.92 ha serta sawah 617.77 ha. Dari Analisis AVSWAT 2000, Tingkat Bahaya Erosi tertinggi pada Subbasin 29, 33 dengan luas 981.75 ha. Dari pendekatan efisiensi jerat metode Brunne diperoleh sisa usiaguna waduk kurang dari 1 tahun, metode Churchill diperoleh kurang dari 3 tahun. Alternatif penanganan dengan bangunan check dam mampu mereduksi sedimen per tahunnya sebesar 62.72%, sedangkan Dredger 9.37 % per tahunnya. Berdasarkan prosentase reduksi sedimen alternatif Konservasi secara mekanik sebagai skala prioritas penanganan waduk.Kata Kunci:  AVSWAT 2000, Erosi, Usiaguna Waduk, KonservasiABSTRACT : There is Bakaru hydropower reservoirs in Mamasa watershed that operating since December 1990. From the analysis of satellite imagery interpretation reduction in forest area of 7003.44 ha, grassland / emptyland 1185.61 ha, 32.95 ha of gardens and additional shrubs area of 5391.20 ha, farm land / moor 1378.35 ha, residential area 832.92 ha and rice fileds 617.77 ha. Analysis of AVSWAT 2000, the highest rate Erosion Hazard subbasin 29, 33 with an area of 981.75 ha. Approach meshes efficiency Brunne method obtained remaining life of reservoirs less than 1 year, Churchill method obtained less than 3 years. Alternative treatment with check dam is able to reduce sediment per year, amounting to 62.72%, while Dredger 9:37% per year. Based on the percentage reduction of sediment mechanically conservation alternative as the priority handling of reservoirs.Keywords:  AVSWAT 2000, erosion, life time of reservoirs, conservation
KAJIAN PENANGANAN GENANGAN PADA SUB-SISTEM DRAINANSE JANGKOK KOTA MATARAM Hendrasari, evanur; Suhardjono, Suhardjono; Andawayanti, Ussy
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.895 KB)

Abstract

Abstrak: Pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan untuk daerah perkotaan yang semula persawahan menjadi permukiman tidak diiringi dengan evaluasi drainase, seringkali menyebabkan terjadinya genangan pada beberapa daerah di Kota Mataram. Adapun daerah yang sering tergenang yaitu pada Kecamatan Ampenan dan Kecamatan Selaparang. Hal tersebut dikarenakan penumpukan sampah/sedimentasi pada saluran drainase yang disebabkan oleh masyarakat yang suka membuang sampah sembarangan terutama pada saluran-saluran drainase dan pengaruh pasang surut air laut. Efek backwater di Sungai Jangkok pada jarak ± 1287 m dari hilir (STA 0+230 – STA 0+469) adalah setinggi 2.08 m .Permasalahan tersebut ditangani dengan metode eco-drainage dimana dibutuhkan 1-22 buah sumur resapan per hektar dengan ∆Q (sisa Q5th) yang tidak tertampung, normalisasi saluran, dan memasang pintu klep otomatis tipe Pusair Pa-Fg1.Kata kunci: eco-drainage, sumur resapan, backwater, pasang surut Abstract: Population growth and land conversion for urban area which originally is a paddy field before became a housing area and not followed by drainage evaluation are often cause ponding in some areas of Mataram City. The aforementioned area are including Ampenan and and Selaparang subdistrict. This is caused by littering habit, especially in the drainage channel and ocean backwater effect. The backwater effect height in Jangkok River at ± 1287 m away from downstream (STA 0+230 – STA 0+469) is 2,08 m. This problem is solved by using eco-drainage method which needs 1 - 22 infiltration wells per hectar with ∆Q, channel normalization, and also by installing Pusair Pa-Fg1 type automatic valve door.Keyword: eco-drainage, infiltration well, backwater, tidal
ANALISIS PARAMETER ALFA HIDROGRAF SATUAN SINTETIK NAKAYASU DI SUB DAS LESTI Dewi, Rosmala; Limantara, Lilly Montarcih; Soetopo, Widandi
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.198 KB)

Abstract

Abstrak : Hidrograf satuan sintetik merupakan hidrograf yang didasarkan atas sintetis dari parameter-parameter daerah aliran sungai.  Salah satu hidrograf satuan sintetik yang dapat digunakan adalah hidrograf Nakayasu. Terdapat paramete α (alfa) pada hidograf satuan sintetik Nakayasu. Nilai α (alfa) menunjukkan karakteristik DAS. Nilai α terpilih yang sesuai dengan hasil kalibrasi antara Nakayasu dan Hidrograf Collins adalah 2,777. Kesalahan relatif antara HSS Nakayasu dan Hidrograf Pengamatan Metode Collins untuk nilai QP adalah 0,33%. Rerata nilai Mean abolute Error (MAE) antara Nakayasu dan Metode Collins adalah sebesar 0,782 . Hasil kalibrasi antara debit banjir rancangan pengamatan (Qpengamatan) dengan debit banjir rancangan model (Qmodel) memiliki tingkat korelasi yang sangat baik yaitu R = 0,99 dan nilai kesalahan relatif sebesar 4%.Kata Kunci : Hidrograf satuan, parameter alfa, kesalahan relatif, korelasi. Abstract :  Synthetic unit hydrograph based on synthetic parameters of the watershed. One of the synthetic unit hydrograph that can be used is Nakayasu. There is α (alpha) parameters on Nakayasu. The value of α (alpha) indicates the characteristics of the watershed. The chosen of α value for Nakayasu and Collins method is 2,777. The relative error of discharge between Nakayasu and Collins for QP is  0,33%. The avverage of mean absolute error between Nakayasu and is 0,782. Calibration results between observational design flood discharge  with the design flood discharge model  has  very good level of correlation, R = 0.99 and the relative error is 4%..Keyword : Unit hydrograph, alpha parameters, relative error, correlation.
Pengaruh Panjang Dan Lebar Data Debit Historis Pada Kinerja Model Pembangkitan Data Debit Sungai Brantas Dengan Metode ARIMA Efendi, Maskur; Soetopo, Widandi; Juwono, Pitojo Tri
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.682 KB)

Abstract

Abstrak :  Model ARIMA adalah metode analisis deret waktu yang memiliki tingkat akurasi peramalan yang cukup tinggi, cocok digunakan untuk meramal sejumlah variabel dengan cepat, sederhana dan akurat. Banyak model stokastik tidak memberikan acuan berapa panjang data historis minimal yang dibutuhkan. Panjang data historis minimal perlu ditetapkan sebagai masukan untuk menggambarkan fenomena hidrologi yang terjadi. Penelitian menggunakan data debit dari 3 (tiga) stasiun AWLR yang mewakili masing-masing sub DAS di DAS Brantas. Panjang data historis representatif dengan nilai kesalahan relatif 5% untuk pembangkitan data debit menggunakan model ARIMA untuk stasiun AWLR Gadang adalah 15 tahun untuk lebar data 10 harian, 17 tahun untuk lebar data 15 harian dan 11 tahun untuk lebar data 1 bulanan. Untuk stasiun AWLR Kertosono, panjang data historis representatif adalah 8 tahun untuk lebar data 10 harian, 5 tahun untuk lebar data 15 harian dan 14 tahun untuk lebar data 1 bulanan. Untuk stasiun AWLR Lengkong Baru, panjang data historis representatif adalah 6 tahun untuk lebar data 10 harian, 6 tahun untuk lebar data 15 harian dan 14 tahun untuk lebar data 1 bulanan.Kata kunci: Model ARIMA, panjang data historis, lebar data, debit sungai, DAS Brantas Abstract : ARIMA model is a method of time series analysis which has quite high level forecasting accuracy, suitable to predict the number of variables in quickly, simply and accurately. Many stochastic models do not provide a reference of minimum length of historical data that need to be set as an input to describe the hydrology phenomenon. The study used discharge data from three (3) AWLR stations representing each sub-watershed in Brantas watershed. Representative historical data length with 5% relative error for the generation of discharge data using ARIMA models are: (a) at Gadang AWLR station is 15 years with 10 daily width of data, 17 years with 15 daily width of data and 11 years with monthly width of data. (b) At Kertosono AWLR station is 8 years with 10 daily width of data, 5 years with the 15 daily width of data and 14 years with the monthly width of data. (c) At Lengkong Baru AWLR stations is 6 years with 10 daily width of data, 6 years with the 15 daily width of data and 14 years with monthly width of dataKeywords: ARIMA models, historical data length, width of data, river discharge, Brantas watershed.
ANALISIS PROBABILITAS RISIKO KEGAGALAN BENDUNGAN GEROKGAK BERDASARKAN METODE POHON KEJADIAN (EVENT TREE) Dwi, cristina; Juwono, Pitojo Tri; Yuliani, Emma
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.178 KB)

Abstract

Abstrak: Bendungan menyimpan bahaya apabila mengalami keruntuhan. Selain pemeriksaan keamanan bendungan, penilaian risiko juga diperlukan guna pengelolaan keamanannya. Pada penelitian ini penilaian risiko menggunakan metode pohon kejadian, metode tradisional serta metode ICOLD. Metode pohon kejadian mempunyai kelebihan secara sistematik memetakan potensi kegagalan bendungan mulai awal dibandingkan metode tradisional yang mengacu nilai kriteria yang berlaku. Sedangkan metode ICOLD bermanfaat mengetahui kelas risiko bendungan. Probabilitas risiko kegagalan metode pohon kejadian tubuh bendungan sebesar 1x10-5 dan  1x10-6, pelimpah sebesar 1x10-10, pengambilan sebesar 1x10-7, dan fondasi sebesar 1x10-8. Annual Probability of Failure sebesar 1,11101x10-5. Probabilitas risiko metode tradisional tubuh bendungan adalah 0,1 dan 0,1, 0,001 pada pelimpah, 0,01 pada pengambilan, dan 0,001 pada fondasi. Kelas risiko kegagalan metode ICOLD adalah tinggi dengan nilai 48.Kata kunci: Penilaian Risiko, Bendungan Gerokgak, Metode Pohon Kejadian (Event Tree), Metode Tradisional, Annual Probability of Failure (APF)  Abstract: Dams can be danger if failure. Beside dam safety inspection, risk assessment is also needed for safety management. In this study, risk assessment use event tree, traditional engineering standard and ICOLD methods. Event tree method has advantage systematically can show dam failure potencies from the beginning event than engineering traditional standard that absolutly based on approach standard. While ICOLD method has adventage to know the dam risk classification. The risk failure probabilities by event tree method are 1x10-5 and 1x10-6 for dam body, 1x10-10 of spillway, 1x10-7 of intake and 1x10-8 of foundation. Annual Probability of Failure is 1,11101x10-5. The risk failure probabilities by traditional engineering standard are 0,1 and 0,1 of dam body, 0,001 of s pillway, 0,01 of intake, and 0,001 of foundation. Dam risk classification by ICOLD method is high risk with value of 48.Keywords: Risk Assessment, Gerokgak Dam, Event Tree Method, Traditional Engineering Standard, Annual Probability of Failure (APF).
ANALISIS STABILITAS LERENG BENDUNGAN WONOREJO BERDASARKAN PETA GEMPA 2004 DAN PETA GEMPA 2010 Restuti, Nisa Andan; Juwono, Pitojo Tri; Hendrawan, Andre Primantyo
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.907 KB)

Abstract

Abstrak : Analisis dilakukan pada kestabilan lereng Bendungan Wonorejo dengan parameter gempa termodifikasi berdasarkan Peta Gempa 2004 dan Peta Gempa 2010. Angka keamanan pada Peta Gempa 2004 cenderung lebih besar daripada Peta Gempa 2010 untuk gempa OBE, sedangkan untuk Gempa MDE angka keamanan pada Peta Gempa 2004 lebih kecil daripada Peta Gempa 2010. Batas aman kala ulang yang dapat ditoleransi oleh Bendungan Wonorejo yaitu pada kala ulang gempa 200 tahun setara dengan gempa kekuatan 6,1 SR.Kata Kunci: stabilitas, NWL, HWL, RDD, Peta Gempa Abstract : Analysis on Wonorejo Dam slope stability the earthquake parameters modified by Earthquake Maps 2004 and 2010. Safety factor on the Earthquake Map in 2004 tend to be larger than Earthquake Map 2010 in OBE, while for safety factor on the Earthquake Map  2004 is smaller than the Earthquake Map 2010 in MDE. Safety Limits for safe return period that can be tolerated by the dam which is return periode 200 year equivalent to 6,1 SR.Key words :  stability, NWL, HWL, RDD, earthquake map
ANALISA KERUNTUHAN BENDUNGAN MAMAK DAN BENDUNGAN BATU BULAN SECARA SIMULTAN PADA SISTEM PENGALIRAN SUNGAI DENDITRIK Adhi, mikail; Juwono, Pitojo Tri; Sholichin, Moch.
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1982.243 KB)

Abstract

Abstrak : Bendungan Mamak dan Batu Bulan yang termasuk dalam sistem pengaliran sungai denditrik dan berlokasi di Kabupaten Sumbawa, Propinsi Nusa Tenggara Barat telah disimulasikan runtuh secara simultan. Keruntuhan tersebut berdampak bagi tergenangnya 15 Desa, di 4 Kecamatan dengan jumlah penduduk yang terkena resiko diperkirakan mencapai 12.803 jiwa. Berdasarkan SK Dirjen SDA PU, tahun 2011 Bendungan Mamak dan Batu Bulan diklasifikasikan Bahaya Sangat Tinggi.Peneitian ini membuktikan bahwa keruntuhan bendungan secara simultan pada sistem aliran sungai denditrik ataupun series saat ini dapat dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Zhong Xing HY21 (User Manual Zhong Xing-HY21, Sinotech Engineering Group, 2011). Hal ini sekaligus menepis pendapat sementara para ahli sebelumnya yang beranggapan bahwa hal tersebut sulit dilakukan.Kerapatan jaring-jaring kerja juga memiliki pengaruh besar terhadap tingkat ketelitian hasil penelusuran banjir di hilir. Pada penelitian kali ini kerapatan jaring-jaring di alur sungai dibuat lebih rapat daripada bagian di luar alur sungai utama. Dengan asumsi sebelum banjir menggenangi wilayah bantaran sungai, banjir terlebih dahulu akan memenuhi alur sungai utama. Namun hal tersebut membawa konsekuensi bahwa makin rapat jaring-jaring kerja, proses simulasi membutuhkan waktu lebih lama.Kata kunci: Keruntuhan, Denditrik, Simultan, Zhong Xing HY21, Jaring-Jaring Kerja Abstract : Mamak and Batu Bulan Dams included dendritic river system, located in Sumbawa District and West Nusa Tenggara Province, have been simulated simultaneous failure. This failure impact on flood inundation in 15 Villages and 4 Subdistrics with estimated population at risk 12.803 persons. Based on National Regulation (SK Dirjen SDA PU, year 2011), the dams were classified into High Risk Dam.This research proves that nowadays the simultaneous dams failure in dendritic river system and also series system could be simulated by using Zhong Xing HY21 (User Manual Zhong Xing-HY21, Sinotech Engineering Group, 2011). This study also reject previously temporary experts opinion that assumed it is difficult to do.Density of the finite element mesh also has a big influence in the unsteady flow accuration result. In the present study the density of the mesh in the river flow is made more dense than the outside of the main river channel. Assuming before floods inundated the area along the river, the floods will first meet the main river channel. However, this setting has consequences that the more tightly the mesh, the simulation process takes longer.Key words: Failure, Dendritic, Simultaneous, Zhong Xing HY21, Mesh 
ANALISIS HUJAN DAN TATA GUNA LAHAN TERHADAP LIMPASAN PERMUKAAN DI SUB DAS PEKALEN KABUPATEN PROBOLINGGO Nurdiyanto, Nurdiyanto; Limantara, Lily Montarcih; Suhartanto, Ery
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1154.274 KB)

Abstract

Abstrak : Tata guna lahan daerah aliran sungai yang mengalami perubahan dan mengarah pada penggundulan hutan dapat meningkatkan debit banjir serta mempengaruhi debit rerata harian  sungai di daerah hilir. Debit sungai yang mengalir merupakan  respon daerah aliran sungai, dengan masukan hujan dan digambarkan melalui karakteristik hidrograf aliran sungai.Sub DAS Pekalen mempunyai luas 165,49 km2, berada di Kabupaten Probolinggo. Rata rata debit  harian  yang mengalir tahun 1997 sebesar 8,843 m3/dt dan tahun 2006 sebesar 10,42 m3/dt. Hasil analisa peta tata guna lahan tahun 1997 dan tahun 2006 menunjukkan adanya perubahan tata guna lahan. Berdasarkan analisa limpasan permukaan metode Curve Number dengan software HEC HMS menunjukkan bahwa perubahan tata guna lahan yang mengakibatkan nilai Curve Number meningkat 0,59% maka, debit banjir yang akan terjadi juga mengalami peningkatan sebesar 1,99%.Kata Kunci :  Tata Guna Lahan, Curve Number, HEC HMS, Sungai Pekalen Abstract : The change of land-use in watersheds and deforestation may increase flood discharge and affect the average daily flow of the downstream. The river discharge is a response to the watershed, with the input of rain and illustrated by the characteristics of hydrograph.Pekalen sub watershed has an area of 165,49 km2, located in Probolinggo. The average daily discharge in 1997 is 8,843 m3 / sec and 2006 is 10,42 m3 / sec. The results of the analysis of land use maps of 1997 and 2006 showed changes in land use. Based on the analysis of surface runoff Curve Number method with use HEC HMS software showed that the land use change by increasing the value of Curve Number 0,59%, the flood discharge will be also increased 1,99%.Keywords : Land use, Curve Number, HEC HMS, Pekalen river
KAJIAN PERUBAHAN IKLIM TERHADAP LIMPASAN PERMUKAAN DI DAS NOELBAKI Ahab, Semuel J. Ch.; Limantara, Lily Montarcih; Prayogo, Tri Budi
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.374 KB)

Abstract

Abstrak : Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu daerah Indonesia bagian timur yang mengalami kenaikan curah hujan (RAN Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional /Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Pengujian statistik dengan uji t terhadap data hujan dapat disimpulkan terjadinya perubahan hujan pada periode tahun 1998 s/d 2014 dimana  nilai t tabel < dari t hitung.  Hasil pemodelan AVSWAT 2000 diperoleh rata-rata perubahan tata guna lahan untuk setiap jenis tanah dari tahun 1993 sampai tahun 2012 pada DAS Noelbaki sebesar 42,71 %. Perubahan tata guna lahan mengakibatkan terjadinya peningkatan debit puncak 5,12 % sebesar 0,02 m3/dt, sisanya 94,88 % sebesar 0,29 m3/dt diakibatkan adanya perubahan pola hujan pada DAS Noelbaki. Debit puncak limpasan pada Bendungan Tilong  berdasarkan hasil kajian diperoleh Skenario perubahan pola hujan > Skenario perubahan tata guna lahan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perubahan pola hujan pada DAS Noelbaki mengakibatkan terjadinya peningkatan debit puncak limpasan pada Bendungan Tilong saat musim penghujan.Kata kunci: Pola Hujan, Tata Guna Lahan, Limpasan, Debit, AVSWAT 2000 Abstract : East Nusa Tenggara Province is one of the eastern Indonesia region that experienced an increase in rainfall (RAN Adaptation to Climate Change of the Ministry of National Development Planning / National Development Planning Agency). Statistical testing by t test against rain data can be summed rainfall changes in the period of 1998 until 2014 where the value of t tables < t count. AVSWAT modeling results obtained in 2000 the average change in land use for each type of land from 1993 until 2012 at the Noelbaki watershed amounted to 42,71%. Changes in land use resulted 5,12% increase in peak discharge of 0,02 m3/s, the remaining 94,88% of 0,29 m3/s due to changes in rainfall patterns in the Noelbaki watershed. Peak discharge runoff at Tilong Dam based on the results of the study obtained Scenario changing rainfall patterns > Scenarios of land use change. It can be concluded that changes in rainfall patterns in the Noelbaki watershed lead to an increase in peak runoff discharge at the dam Tilong during the rainy season.Keywords :  Rain patterns, Land Use, runoff, discharge

Page 1 of 2 | Total Record : 16