cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ternak Tropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 25031007     EISSN : 25031007     DOI : -
Core Subject :
TERNAK TROPIKA, Journal of Tropical Animal Production (JTAP) provides for rapid publication of full-length papers, short communication and review articles describing of new finding or theory in Animal Production area. TERNAK TROPIKA has 1 volume with 2 issues per year. TERNAK TROPIKA is published by Department of Animal Priduction, Faculty of Animal Husbandry, Brawijaya University Indonesia in collaboration with Indonesian Society of Animal Science (ISPI
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika" : 8 Documents clear
KUALITAS TELUR AYAM PETELUR YANG MENDAPAT RANSUM PERLAKUAN SUBSTITUSI JAGUNG DENGAN TEPUNG SINGKONG Alberth Mampioper; Sientje D. Rumetor; Freddy Pattiselanno
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.746 KB)

Abstract

RingkasanSuatu kajian melalui variasi persentase substitusi jagung dengan tepungsingkong dalam ransum ayam petelur terhadap kualitas telur telah dilakukan.Percobaan dirancang menurut Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empatperlakuan dan empat ulangan. Enam belas ekor ayam petelur coklat strain 009produksi PT. Charoen Pokhpand digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa sampai tingkat penggantian jagung dengan tepung singkong45%, bobot telur menurun menjadi rata-rata 53.9 dengan variasi rongga udaraantara 4.69 dan 5.75. Fluktuasi Indeks Albumen dan Index Yolk dan Haugh Unitmeskipun tidak signifikan tetapi cenderung memberikan hasil yang baik sampaipada tingkat penggantian tepung singkong 45% dalam ransum. Sedangkan warnatekur yang dihasilkkan adalah kuning muda.Kata kunci: telur, kualitas, jagung, tepung singkongEGG QUALITY OF LAYER CHICKS OBTAINED SUBSTITUTED CORNWITH CASSAVA MEAL IN FEEDINGAbstractResearch to study the utilization of cassava meal as substitute feed to eggsquality has been done in the Animal Production Laboratory of Universitas NegeriPapua in Manokwari. Results indicate that up to 45% of cassava meal substitutionon layer ration influenced the exterior and interior quality, produce grade Aquality of eggs with light yellow of egg’s color.Key words: eggs, quality, corn, cassava meal
IDENTIFIKASI PROFIL PROTEIN OOSIT KAMBING PADA LAMA MATURASI IN VITRO YANG BERBEDA DENGAN SDS-PAGE Nurul Isnaini
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.369 KB)

Abstract

Penelitian tentang identifikasi profil protein oosit kambing pada lamamaturasi in vitro yang berbeda dengan SDS-PAGE telah dilakukan. Daripenelitian ini, diharapkan informasi mengenai ekspresi profil protein oositkambing pada lama maturasi in vitro yang berbeda. Metode penelitian yangdigunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental labolatoris. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa profil protein oosit pada lama maturasi in vitro 0,6,12, 18dan 24 jam adalah : 158 kDa; 116 kDa; 97,2 kDa; 27 kDa dan 6,5 kDa sedangkanpada lama maturasi in vitro 30 jam adalah 116 kDa; 97,2 kDa; 27 kDa dan 6,5kDa . Disarankan untuk melakukan imunoblotting sebagai konfirmasi untukmengetahui apakah protein-protein tersebut merupakan protein yang berperandalam maturasi oosit (yang berperan sebagai Maturation Promoting Factor).Kata kunci : profil protein, oosit kambing, maturasi in vitro, SDS-PAGEIDENTIFICATION OF GOAT OOCYTES PROTEIN PROFIL INDIFFERENT TIME IN VITRO MATURATION (IVM) BY SDS-PAGEAbstractA study on the identification of goat oocytes protein profile in differenttime in vitro maturation by SDS-PAGE was conducted. This study was designedas an experimental laboratory study. The results showed that the oocyte proteinprofile in 0,6,12,18 and 24 hours of IVM were: 158 kDa; 116 kDa; 97,2 kDa; 27kDa dan 6,5 kDa; while the oocyte protein profile in 30 hours were 116 kDa; 97,2kDa; 27 kDa and 6,5 kDa. It was suggested to do immunoblotting as confirmationto know that these protein are important in maturation in vitro for goat oocytesKey words : protein profile, goat oocyte, IVM, SDS-PAGE
PENGARUH TINGKAT PENGENCERAN TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA KAMBING PE SETELAH PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR A. Winarto; N. Isnaini
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.76 KB)

Abstract

Penelitian tentang pengaruh tingkat pengenceran terhadap kualitasspermatozoa kambing PE setelah penyimpanan pada suhu kamar telah dilakukan.Materi penelitian yang digunakan adalah semen dari 5 ekor kambing PeranakanEtawah (PE), umur 3-4 tahun dengan bobot badan sekitar 30 kg. Metodepenelitian yang digunakan adalah metode percobaan laboratorium. Percobaandilakukan dengan 3 perlakuan tingkat pengenceran yaitu 1:5, 1:10, 1:15. Setiapperlakuan diamati pada 0, 2, 4 dan 6 jam setelah penyimpanan pada suhu kamar,dan setiap perlakuan dilakukan 10 kali ulangan. Data hasil pengamatan dianalisisdengan analisis ragam. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan AcakKelompok (RAK), apabila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan Uji JarakBerganda Duncan (UJBD).Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tingkat pengenceran memberikanperbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadap persentase motilitas individuspermatozoa. Pada jam ke 0 dan 2. Tingkat pengenceran 1:5 memiliki persentasemotititas tertinggi masing-masing sebesar (65±5,27)% dan (58±6,32), sedangkanpada jam ke 4 dan 6 tingkat pengenceran 1:10 memiliki persetase motilitastertinggi masing-masing sebesar (36±12,65)% dan (25±10,80)%.Tingkatpengenceran juga memberikan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadappersentase viabilitas spermatozoa. Pada jam ke 0 dan 2 tingkat pengenceran 1:5memiliki persentase viabilitas tertinggi masing-masing sebesar (89,4±5,62)% dan(86,7±6,13)%, sedangkan pada jam ke 4 dan 6 tingkat pengenceran 1:15 memilikipersentase viabilitas tertinggi masing-masing sebesar (87,7±6,82)%, dan(80±11,13)%.Disimpulkan bahwa tingkat pengenceran dan lama simpan pada suhukamar memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kualitas spermatozoakambing PE. Tingkat pengenceran 1:5 mampu menghasilkan kualitas semen yangoptimal pada lama simpan 0 dan 2 jam di suhu kamar, sedangkan tingkatpengenceran 1:10 dan 1:15 mampu menghasilkan kualitas semen yang optimalpada lama simpan 4 dan 6 jam. Untuk IB dengan menggunakan semen kambingPE cair yang disimpan pada suhu kamar sebaiknya dilakukan tingkat pengenceran1:5 dengan lama simpan tidak lebih dari 2 jam.Kata kunci : Tingkat Pengenceran, Kualitas Spermatozoa, Suhu KamarTHE EFFECT OF DILUENT LEVELS TO SPERMATOZOA QUALITYOF ETTAWAH GOAT CROSSBREED AFTER STORAGE IN ROOMTEMPERATUREAbstractThe study about the effects of diluent levels to spermatozoa quality ofEttawah Goat crossbreed after storage in room temperature was conducted. Thematerial were fresh semen obtained from five male Ettawah goat crossbreedwith 3-4 years old and 30 kgs of weight. The method be used is experimentalmethod by three replications, such as diluent level 1:5, 1:10 and 1:15. The designused is Randomized Block Design (RBD) and if there are differences, it would becontinued by Multiple Duncan Range Test (MDRT).The result showed that diluent levels have significant different (P<0,01)for percentage of motility and percentage of life spermatozoa (viability). Ontreatment 0 and 2 hours, diluent level 1:5, motility percentage of spermatozoawere (65±5,27)% and (58±6,32)% respectively. On treatment 4 and 6 hour,diluent level 1:10, motility percentage of spermatozoa were (36±12,65)% and(25±10,80)% respectively. Diluents level have significant different (P<0,01) forpercentage of life spermatozoa. On treatment 0 and 2 hour,diluent level 1:5,percentage of life spermatozoa were (89,4±5,62)% and (86,7±6,13)%respectively. On treatment 4 and 6 hour, diluent level 1:15, percentage of lifespermatozoa were (87,7±6,82)% and (80±11,13)% respectively. Diluent levelshave significant different (P<0,01) for life spermatozoa percentage.It can be concluded that diluent level and time of storage in roomtemperature have significant different for quality spermatozoa. Diluent level 1:5would be able to produce optimum quality of spermatozoa after storage 0 and 2hours in room temperature, and then diluent levels 1:10 and 1:15 would be able toproduce optimum quality of spermatozoa after storage 4 and 6 hours. Insuggestion, for artificial insemination with fresh semen of Ettawah goat crssbreedthat storage in room temperature used not more than 2 hours with diluent level1:5.Key words : Diluent Level, Quality of Spermatozoa, Room Temperature
PENGARUH LEVEL PEMBERIAN KIO3 [GARAM BERJODIUM] TERHADAP AVERAGE DAILY OF GAIN PADA SAPI AUSTRALIAN BRAHMAN CROSS Bambang Soejosopoetro
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.302 KB)

Abstract

Materi penelitian menggunakan 12 ekor Australian Brahman Cross jantanumur 1-1,5 tahun [PI0 – PI1] berat badan rata-rata 340,60±14,04 kg, kemudiandiacak kemedia percobaan. Rancangan percobaan menggunakan RandomizedBlock Design 4x3 dengan treatment A= 80% Elephant grass+20% rice straw; B=80% Elephant grass+20% rice straw+50 gram garam berjodium [KIO3]; C=80%Elephant grass + 20% rice straw+100 gram garam berjodium dan D=80%Elephant grass+20% rice straw+150 gram garam berjodium. Dari hasil penelitiandeketahui bahwa tingkat level pemberian garam berjodium tidak berpengaruhnyata [P0,05] terhadap average daily of gain dan konsumsi BK/hari pada semuatreatment.Average daily of gain kelompok A= 0,71±0,11 kg; B= 0,82±0,03 kg;C= 0,70±0,20 dan D= 0,72±0,08 kg. Sedangkan rata-rata konsumsi BK/hr padaperlakuan A=10,34±0,08 kg; B=10,34±0,20 kg; C= 10,31±0,12 kg dan D =10,45±0,30 kg. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penambahan tingkat levelgaram Jodium sampai pada tingkat 150 gr dalam ransum belum berpengaruhterhadap peningkatan Average daily of gain maupun konsumsi BK.Kata kunci : KIO3, Australian Brahman CrossThe influence of KIO3 [Iodinated Salt] intake level to average daily Gain ofAustralian Brahman CrossAbstractThe research employed 12 males Australian Brahman Cross age 2 [PI0 –PI1] with average daily gain of 340,60±14.04 kg and randomly placed into themedia, Randomized Block Design 4x3 is used with treatment A= 80% Elephantgrass+20% Elephant grass+20% rice straw+100 gram Iodinated Salt [KIO3] andD=80% Elephant grass+20% rice straw+150 gram Iodinated Salt. The resultshows the level of iodinated salt intake gives no significance influence [P0.05] toaverage daily gain and BK/day consumption on all treatments. Average daily gainof group A= 0.71±0.11 kg; B = 0.82±0.03 kg; C= 0.70±0.20 and D= 0.72±0.08kg. Whilst the average consumption of dry matter per day on treatmentA=10.34±0.08 kg; B= 10.34±0.20 kg; C=10.31±0.12 kg and D= 10.45±0.30 kg.The result indicates the increase on iodinated salt intake level up to 150 gram infeed has no significance influence to the increase of average daily gain and drymatter consumption.Key words : KIO3, Australian Brahman Cross
EKSPRESI PRODUKSI SUSU PADA SAPI PERAH MASTITIS Puguh Surjowardojo; Suyadi Suyadi; Lukman Hakim; Aulani&#039;am Aulani&#039;am
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.533 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja KUTT Suka Makmur diKecamatan Grati Kabupaten Pasuruan bulan Oktober 2007, dengan tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh mastitis terhadap produksi sususapi perah.Materi penelitian yang digunakan adalah 35 ekor sapi perah FriesienHolstein (FH) pada bulan laktasi 2 – 3 dan tingkat laktasi 2 – 3. Metode penelitianmenggunakan metode survey pada sapi perah yang ada di KUTT Suka Makmur,dengan penentuan sampel sapi perah secara purposive random sampling, yaitusapi perah dengan tingkat laktasi 2 – 3, dan bulan laktasi 2 – 3. Variable yangdiukur adalah produksi susu dan tingkat mastitis. Data dianalisis dengan metodedeskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 14 ekor sapi yang tidakterinfeksi dan 21 ekor yang terinfeksi mastitis. Jumlah puting yang terinfeksimastitis sebanyak 40 puting atau 47,6% yang berada pada tingkat mastitis satu,dua, tiga dan empat masing-masing adalah sebesar 37,5%, 32,5%, 7,5% dan22,5%. Ditinjau dari jumlah puting yang terinfeksi mastitis pada satu, dua, tigadan empat puting masing-masing 42,9%, 33,3%, 14,3% dan 9,5%. Rata – rataproduksi susu pada sapi yang tidak terinfeksi mastitis 15,5 lt sedangkan produksisusu rata-rata pada sapi yang terinfeksi mastitis satu sampai empat putingmengalami penurunan, masing-masing sebesar 28,4%, 39,4%, 53,5% dan 51,6%.Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa mastitis dapatmenurunkan produksi susu sebesar 4,4 - 8,3 lt/hr/ekor atau 28,4% - 53,5% danberdampak pada kerugian peternak Rp.6.160 - Rp.11.620 / hr/ ekor. Semakintinggi tingkat mastitis semakin besar penurunan produksi susu, sehingga kerugianpeternak semakin besar. Disarankan untuk melakukan perbaikan tatalaksanapemeliharaan, sanitasi dan hygiene agar tingkat kejadian mastitis maupun tingkatmastitis dapat diturunkan.EXPRESSION OF MILK PRODUCTION ON MASTITIS DAIRYCATTLEABSTRACTThis research was experimental study to find out the effect of mastitis tomilk yield in KUTT Suka Makmur Grati, Pasuruan during October 2007.The research showed that 14 cow uninfected and 21 cow infected mastitis.The amount of teat infected mastitis are 40 or 47.6% from 21 cow. Thisobservation showed that the infected teat of mastitis on level mastitis one, two,three and four are 37.5%, 32.5%, 7.5% and 22.5%. The average of milkproduction that uninfected mastitis are 15.5 lt per day and for infected mastitishave decreased milk production on one until four teat which are 28.4%, 39.4%,53.5% and 51.6%.Masttitis decreased milk yield as much as 4.4 – 8.3 lt/day/cow or 28.4% -53.5% and affected on earning loss until Rp.6,160 - Rp.11,620 / day/ cow. It canbe conclusion that level of mastitis more high affected on decreased milk yieldand earning loss farmer. Increasing sanitation and milking hygiene to beconducted to depress incident and mastitis level.Keyword : mastitis, milk yield, CMT.
PENGGUNAAN TEPUNG IKAN DALAM PAKAN KONSENTRAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN KAMBING BETINA Marjuki Marjuki
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.835 KB)

Abstract

Enam belas ekor kambing betina tidak bunting digunakan untukmengevaluasi pengaruh penggunaan tepung ikan dalam pakan konsentrat danpengaruhnya terhadap konsumsi pakan dan efisiensinya. Kambing tersebutdikelompokkan menjadi empat kelompok berdasarkan bobot badan awal dandiberi pakan konsentrat sebagai perlakuan, yaitu konsentrat A yang mengandung4,5% bungkil kedele dan 1,5% urea, dan konsentrat B, C, and D mengandung 5,10, dan 15% tepung ikan. Masing-masing kambing diberi konsentrat sesuaidengan perlakuan sebanyak 1,5% dari bobot badan dan rumput gajah secara adlibitum hingga total pemberian pakan dalam bentuk bahan kering mencapai 3%dari bobot badan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung ikan dalamkonsentrat dapat meningkatkan palatabilitas konsentrat, konsumsi pakan,kecernaan pakan, N-retensi, and berat badan. Kambing yang diberi konsentrat B,C, dan D menunjukkan konsumsi pakan lebih tinggi dibanding pemberiankonsentrat A (P>0,05). Pemberian konsentrat C menunjukkan konsumsi pakan,efisiensi pakan, dan pertambahan bobot badan lebih tinggi dibanding pemberiankonsentrat B dan C (P>0,05).Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa tepungikan dapat digunakan sebagai salah satu bahan penyusun konsentrat pada ternakruminansia untuk meningkatkan efisiensi pakan dan pertambahan bobot badan,dengan tingkat penggunaan optimal sebanyak 10%.Kata kunci: tepung ikan, konsumsi pakan, efisiensi pakan, kambingUTILIZATION OF FISHMEAL IN THE CONCENTRATE AND ITSEFFECT ON DAILY WEIGHT GAIN OF FEMALE GOATSAbstractSixteen adult unpregnant does were divided into four groups to evaluate theeffect of feeding fishmeal in concentrate on feed intake and its efficiency. Thedoes were given different concentrate as treatment, i.e. concentrate A containing4.5% soy bean meal and 1.5% urea, and concentrate B, C, and D containing 5, 10,and 15% fishmeal, respectively, at level of 1.5% of body weight. In addition,adlibitum elephant grass to reach a total of feed dry matter offered at minimum of3.0% of body weight and drinking water were given to each doe. The resultsshowed that the use of fishmeal in concentrate improve palatability of theconcentrate, feed intake and its efficiency including digestibility, N-retention, anddaily weight gain for does. Does fed on concentrate B,C, and D showed betterfeed intake and efficiency than does fed on concentrate A (P>0.05). While doesfed on concentrate C showed the lowest feed intake with moderate concentrateand forage DM ratio, higher feed efficiency and body weight gain than does fedon concentrate B and D (P>0.05). It was concluded that fish meal can be used asone of feed component in concentrate feed for ruminant (goat) to improve feedefficiency and body weight gain, with the most optimal of use of 10 % in theconcentrate feed.Key words: fish meal, feed intake, feed efficiency, does
PERANAN POLEN TRAP DARI BAHAN PLASTIK DAN LOGAM TERHADAP PRODUKSI TEPUNG SARI LEBAH Mochammad Junus
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.168 KB)

Abstract

Peranan polen trap dari bahan bahan plastik dan logam terhadappeningkatan produksi tepung sari lebah adalah salah satu teknologi yang belumterungkap secara rinci dan perlu diamati agar produksi perlebahan dapatditingkatkan secara pasti. Tujuan penelitian adalah pertama untuk mengetahuijumlah tepung sari yang dipanen oleh lebah pekerja, kedua untuk mengetahuijumlah lebah pekerja yang memanen polen per menit dan ketiga untukmenentukan bahan polen trap yang terbaik. Metode yang dipergunakan adalahmetode percobaan. Variable yang diukur adalah 1). berat polen, 2). jumlah lebahpekerja yang membawa polen perhari permenit.Hasil percobaan menunjukkan bahwa polen trap yang terbuat dari plastikdan logam masing-masing menghasilkan polen sebanyak 5,13 + 1,942 g/menitdan 13,56 + 2,128 g/menit. Adapun jumlah lebah yang memanen polen adalah7,85 + 2,063 ekor.dan 12,933 + 2.504 ekor. Polen trap yang dapat digunakanuntuk memanen tepung dapat dibuat dari plastik maupun logam.Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan polentrap plastik maupun logam adalah sama. Saran pertama adalah pembuatan polentrap sebaiknya dicari plastik warna gelap atau diberi warna terlebih dahulusebelum digunakan, sedangkan yang dari logam disarankan lubang masukan lebahharus halus.Kata kunci: lebah, polen trap, plastik, logamTHE ROLE OF POLLEN TRAP OF PLASTICAL SYNTHETIC ANDMETAL TO INCREASE BEE POLLEN PRODUCTAbstractThe role of pollen trap of plastical synthetic and metal materials toincrease bee pollen product is one of technology which not yet been expressed indetail and require to perceive to bee production can be improved surely. Target ofresearch are first to know the amount of pollen harvested by worker bee, Secondlyare to know the amount of worker bee which harvesting polen per minute andthird to determine materials of best pollen trap. Method the utilized is experiment.Variable of the measured are 1). weight of bee pollen, 2). amount of worker beebringing pollen perday of permenitThe result of experiment indicate that made pollen trap plastical and metaleach yield pollen grain counted 5,13 + 1,942 g/minute and 13,56 + 2,128g/minute. As for amount of bee which harvesting polen are 7,85 + 2,063 ekor and12,933 + 2.504 tail. Pollen Trap able to be used to harvest flour can be made of bymetal and also plastic.To breakdown of above can be concluded that ability of plastic pollen trapand also metal is same. First suggestion are making of pollen trap better look forby dark colour plastic or given by colour beforehand before used, while whichfrom metal suggested by bee input hole have to refineKey word: bee, pollen trap, plastic, metal
RESPON PENGGANTIAN PAKAN STARTER KE FINISHER TERHADAP KINERJA PRODUKSI DAN PERSENTASE KARKAS PADA TIKTOK Muharlien Muharlien
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.418 KB)

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui umur yang tepat dalam pengggantianpakan starter ke finisher, dengan menghasilkan kinerja produksi dan persentasekarkas tiktok yang optimal. Hasil penelitian diharapkan dapat dipakai sebagaibahan pertimbangan dalam menentukan waktu yang tepat penggantian pakanstarter ke finisher.Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu penggantian pakan starter kefinisher berpengaruh terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan,tetapi tidak berpengaruh terhadap konversi pakan dan persentase karkas. Rataankonsumsi pakan tertinggi pada P7 yaitu : 5559,20 g  68,69 g dan terendah P3yaitu : 5245,58 g  87,84 g, rataan pertambahan bobot badan tertinggi pada P7yaitu : 2010,43 g  40,64 g dan terendah P3 yaitu: 1800,03 g ± 40,56 g, denganangka konversi pakan: berkisar 2,92-2,75 dan persentase karkas berkisar: 49,760% -50,640 %.Kesimpulan penelitian adalah bahwa semakin lama pakan starterdiberikan, maka konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan titok semakintinggi, tetapi tidak memberikan berubahan yang berarti terhadap konversi pakandan persentase karkas. Waktu penggantian pakan starter ke finisher palingefisien dilakukan pada titok umur 6 minggu.Kata Kunci : Tiktok Jantan, Konsumsi Pakan, Pertambahan Bobot Badan,Konversi Pakan, Persentase Karkas dan Pengggantian Pakan.THE EFFECT OF REPLECEMENT OF STARTER TO FINISHER DIETON PERFORMANCE AND CARCAS PERCENTAGE IN TIKTOKAbstractThe research was to study the effect of replecement starter to finisherdiet on performance and carcass percentage in tiktok. The result of the researchwere expected to be used as information of replecement diet in tiktok.The result showed replecement starter to finisher diet has effect on feedconsumption and daily body weigh. But has no effect on feed conversion andcarcass percentage. The highest feed consumption was P7 ( 5559,20  68,69 g )and the lowest was P3 ( 5245,58  87,84 g ), the highest daily body weightwas P7 ( 2010,43  40,64 g ) and the lowest was P3 ( 1800,03  40,56 g ). Feedconversion was 2,93 to 2,75 carcass percentage was 49, 760 % to 50, 640 %.The conclusion of this research was more long time used starter diet to increasefeeds consumption and daily body weight but there is no effect on feedconversion and carcass percentage. The change starter diet to finisher moreefficient on 6 weeks old on tiktok.Key Words: Male Tiktok, Feed Consumption, Daily Body Weight, FeedConversion, and carcass percentage.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Vol. 26 No. 2 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 26 No. 1 (2025): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 25 No. 2 (2024): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 25 No. 1 (2024): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 24 No. 2 (2023): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 24 No. 1 (2023): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 23 No. 2 (2022): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 23 No. 1 (2022): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 22, No 2 (2021): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 22, No 1 (2021): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 21, No 2 (2020): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 21, No 1 (2020): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 2 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 20, No 1 (2019): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 2 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 1 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 18, No 2 (2017): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 18, No 1 (2017): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 17, No 2 (2016): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 17, No 1 (2016): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production (JTAPRO) Vol 16, No 2 (2015): TERNAK TROPIKA Vol 16, No 1 (2015): TERNAK TROPIKA Vol 15, No 2 (2014): TERNAK TROPIKA Vol 15, No 1 (2014): TERNAK TROPIKA Vol 14, No 2 (2013): Ternak Tropika Vol 14, No 1 (2013): Ternak Tropika Vol 13, No 1 (2012): Ternak Tropika Vol 12, No 2 (2011): Ternak Tropika Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika Vol 11, No 2 (2010): Ternak Tropika Vol 11, No 1 (2010): Ternak Tropika Vol 9, No 2 (2008): Ternak Tropika Vol 7, No 2 (2007): Ternak Tropika Vol 6, No 2 (2007): Ternak Tropika More Issue