cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19784279     EISSN : 25494082     DOI : 10.20473
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 30 No. 1 (2018): APRIL" : 12 Documents clear
Studi Retrospektif: Karakteristik Dermatofitosis Dyatiara Devy Rahadiyanti; Evy Ervianti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 1 (2018): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.141 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.1.2018.66-72

Abstract

Latar Belakang: Dermatofitosis merupakan salah satu penyakit mikosis superfisialis akibat jamur yang menginvasi jaringan yang mengandung keratin seperti stratum korneum epidermis, rambut, dan kuku. Seringkali disebut tinea dan diklasifikasikan menurut bagian tubuh yang terkena. Tujuan: Mengevaluasi gambaran penyakit dermatofitosis di Divisi Mikologi Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode tahun 2014 sampai 2016. Metode: Penelitian retrospektif dengan mengevaluasi data rekam medis elektronik Divisi Mikologi URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode Januari 2014 – Desember 2016.  Hasil: Jumlah kunjungan pasien baru dermatofitosis mengalami peningkatan, yaitu 71,9% dari seluruh pasien yang datang ke divisi Mikologi dibandingkan penelitian retrospektif sebelumnya. Tinea korporis merupakan diagnosis terbanyak yakni sebesar 56,1%. Sebagian besar pasien adalah wanita. Usia terbanyak yang ditemukan sedikit bervariasi yakni 45-64 tahun pada tahun 2014 dan 25-44 tahun pada tahun 2015 dan 2016.  Keluhan utama terbanyak adalah gatal dan bercak kemerahan. Pemeriksaan mikroskop langsung dengan larutan KOH 10% merupakan pemeriksaan rutin yang dilakukan   pada seluruh pasien dermatofitosis. Sebanyak 51,2% kasus dermatofitosis yang ditemukan disebabkan oleh spesies Trichophyton mentagrophytes. Pengobatan terbanyak dengan griseofulvin. Simpulan: Terdapat peningkatan jumlah pasien dermatofitosis. Usia terbanyak yang terinfeksi adalah kelompok usia produktif, karena pada kelompok usia ini terjadi peningkatan dari aktivitas fisik dan memiliki kecenderungan untuk banyak berkeringat dan lembab.
Mutasi Onkogen dan Tumor Suppressor Gen pada Xeroderma Pigmentosum Shinta Dewi Rahmadhani; Sawitri Sawitri; Willy Sandika
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 1 (2018): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.543 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.1.2018.26-33

Abstract

Latar Belakang: Xeroderma pigmentosum (XP) adalah penyakit yang jarang, diturunkan secara autosomal resesif dengan gangguan pada perbaikan deoxyribonucleic acid (DNA) yang sering mengakibatkan keganasan. Pada XP terdapat lesi DNA yang tidak dapat diperbaiki dan mutasi gen yang mengatur perkembangan kanker kulit.  Tujuan: Menjelaskan patogenesis molekular dan genetik XP, terutama tumor suppressor gen dan mutasi onkogen. Telaah Kepustakaan: Pasien XP dengan radiasi sinar ultraviolet (UV) menghasilkan perkembangan yang tinggi dari squamous cell carcinoma (SCC), basal cell carcinoma (BCC), dan melanoma maligna (MM). Hal itu bisa dikarenakan hipersensitifitas akut perbaikan DNA yang tidak sempurna karena mutasi tumor suppressor gen (gen p53, INK-ARF, dan PTCH) dan gen Ras pada proto-onkogen (Ha-ras, Ki-ras, dan N-ras). Simpulan: Deteksi mutasi gen dapat dilakukan mengggunakan polymerase chain reaction (PCR) dan single strand conformation polymorphism (SSCP-PCR).

Page 2 of 2 | Total Record : 12