cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Furnace
ISSN : 25551801     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2016)" : 9 Documents clear
PENGARUH TEMPERATUR DAN JENIS REDUKTOR TERHADAP PEROLEHAN PERSEN METALISASI HASIL REDUKSI BIJIH BESI DARI KALIMANTAN Murti Handayani
Jurnal Furnace Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.651 KB)

Abstract

Salah satu reduktor yang pada umumnya digunakan pada proses iron making adalah reduktor berupa gas alam dan batubara, karena gas alam dan batubara menghasilkan gas hidrogen ataupun gas karbon yang diperlukan untuk mereduksi bijih besi. Namun ketersediaan gas alam dan batubara di bumi setiap tahunnya semakin berkurang, mengingat gas alam dan batubara merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, maka perlu dilakukan penelitian untuk mencari sumber reduktor alternatif pengganti gas alam dan batubara. Salah satu sumber daya alam yang dapat dipergunakan sebagai sumber reduktor alternatif adalah arang kayu dan arang tempurung kelapa yang memiliki kandungan fixed carbon cukup tinggi untuk mereduksi bijih besi. Selain itu plastik/polietilen (PE) juga dapat digunakan sebagai sumber reduktor alternatif tambahan, karena PE memiliki rantai senyawa hidrogen dan karbon yang dapat bereaksi pada suhu tinggi. Selain reduktor, temperatur juga berperan penting pada proses reduksi bijih besi. Diperlukan temperatur yang optimum untuk mereduksi bijih besi, tergantung pada jenis bijih. Perbedaan temperatur reduksi dan penggunaan jenis reduktor yang berbeda akan memberikan pengaruh terhadap perolehan persen metalisasi besi spons hasil reduksi bijih besi. Pengaruh penggunaan PE dalam proses reduksi bijih diteliti dalam variasi temperatur, dan variasi jenis reduktor tambahannya. Campuran bijih besi, polietilen, dengan variasi jenis reduktor berupa batubara ; arang kayu ; dan arang tempurung kelapa ; dibuat briket menggunakan mesin press lalu dipanaskan agar PE meleleh dan dapat menguatkan briket, sehingga tidak diperlukan binder lagi untuk merekatkan briket. Briket kemudian direduksi  menggunakan muffle furnace dengan variasi temperatur 800; 900; dan 1000oC dengan waktu tahan selama 120 menit, lalu dilakukan pengujian untuk mengetahui persen metalisasi dengan menggunakan analisa basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persen metalisasi tertinggi adalah 97,08% diperoleh pada kondisi temperatur 1000oC dengan jenis reduktor berupa arang tempurung kelapa dan tambahan 7,4% PE dan perolehan logam Fe sebesar 62,90%. Data penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa temperatur dan jenis reduktor berpengaruh terhadap persen metalisasi dan banyaknya logam Fe yang terbentuk. Semakin tinggi temperatur, persen metalisasi yang dihasilkan juga semakin tinggi. Penggunaan jenis reduktor dan kandungan fixed carbon  yang berbeda juga akan mempengaruhi persen metalisasi dan banyaknya logam Fe yang terbentuk, selain itu penambahan PE sebagai reduktor tambahan juga dapat mempengaruhi persen metalisasi dan logam Fe yang  terbentuk pada besi spons
Rekayasa permukaan material metal matrix composite Al/Al2O3 melalui friction stir processing (FSP) Bunga Rani Elvira
Jurnal Furnace Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.737 KB)

Abstract

Pada penelitian ini, pengembangan metode friction stir processing (FSP) untuk merekayasa permukaan material MMC Al/Al2O3 telah dilakukan. Material MMC Al/Al2O3 yang berbeda fraksi penguatnya (5;7,5;10 vol.% Al2O3) dilakukan pengerjaan FSP sebanyak satu pass. Mikroskop optik dan SEM-EDX digunakan untuk mengidentifikasi mikrostruktur, sedangkan pengujian kekerasan makro dilakukan untuk mengetahui pengaruh pengerjaan FSP terhadap sifat mekanik material. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan pengerjaan FSP, nilai kekerasan material MMC Al/Al2O3 meningkat karena terjadinya penghalusan butir matriks Al dan homogenisasi distribusi partikel Al2O3. Nilai kekerasan paling maksimum, yaitu 74,27 HBN, dihasilkan pada material MMC Al-10 vol.% Al2O3 setelah dilakukan pengerjaan FSP 1000 rpm. 
STUDI PENGARUH TEMPERATUR DAN WAKTU AGING TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN MIKROSTRUKTUR KOMPOSIT Al/Al2O3 HASIL PROSES CANAI DINGIN Asfari Azka Fadhilah
Jurnal Furnace Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.168 KB)

Abstract

Material alternatif yang telah dikembangkan sejak beberapa dekade yang lalu adalah material komposit. Lebih dari 3,5 juta kg bahan AMCs telah digunakan pada berbagai industri terutama industri transportasi, penerbangan, elektronik, otomotif dan olahraga. Di dalam penelitian ini digunakan komposit Al6061/7,5%Al2O3 yang selanjutnya di proses canai dingin dengan reduksi sebesar 60% dan dilakukan aging pada temperatur 423, 473, 523, dan 573 K dengan lama waktu penahanan 300, 1800, 3600, 5400, dan 7200s. Pengujian kekerasan, keausan, metalografi dan analisa XRD dilakukan untuk mengetahui perubahan sifat mekanik komposit Al6061/7,5%Al2O3 yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan perubahan yang terjadi pada mikrostruktur serta munculnya fasa kedua Mg2Si dan β – AlFeSi setelah dilakukan proses aging. Terjadi peningkatan nilai kekerasan komposit Al/Al2O3 setelah dilakukan proses canai dingin yaitu sebesar 102,6 HB. Nilai kekerasan tertinggi yang dihasikan dari proses aging terdapat pada temperatur 473 K dengan lama waktu penahanan 5400s yaitu sebesar 87,85 HB. Abrasi yang terjadi pada komposit Al/Al2O3 hasil proses rolling yaitu sebesar 1,5596111x10-7 mm3/mm, tetapi abrasi yang terjadi menurun menjadi 1,1998549x10-7mm3/mm setelah proses aging yang dilakukan pada material komposit Al/Al2O3.
PENGARUH INHIBITOR SODIUM NITRIT DAN DMEA TERHADAP KETAHANAN KOROSI PADA BAJA TULANGAN S.13 DI LINGKUNGAN AIR LAUT Faty Alvina
Jurnal Furnace Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.761 KB)

Abstract

Korosi sumuran yang terjadi pada infrastruktur pesisir berbahan beton bertulang baja karena adanya kontak langsung dengan air laut memerlukan strategi mitigasi yang baik. Salah satu cara untuk menghambat terjadinya korosi pada baja tulangan beton adalah dengan penambahan inhibitor. Telah dilakukan penelitian mengenai laju korosi dan potensial korosi (Ecorr) pada baja tulangan S.13 di lingkungan air laut menggunakan larutan SPS beton dengan menambahkan inhibitor anorganik sodium nitrit dan inhibitor organik Dimethylethanol amine (DMEA) dengan masing-masing variasi konsentrasi 0,1; 0,3; dan 0,6 M selama 31 hari. Pengukuran laju korosi dilakukan dengan menggunakan metode polarisasi Tafel yang dilakukan berdasarkan ASTM G-5 menunjukkan adanya kenaikan potensial korosi terbesar dialami oleh baja tulangan S.13 dengan penambahan sodium nitrit 0,1 M, yaitu pada awal pengorosian sebesar -207,7 mV dan pada akhir pengorosian mencapai -133,9 mV. Sedangkan penurunan laju korosi di awal pengorosian terbesar dialami baja tulangan S.13 dengan penambahan DMEA 0,1 M yaitu 0,41 mpy, sedangkan pada baja tulangan S.13 dengan penambahan sodium nitrit 0,6 M laju korosi naik sampai 7,39 mpy. Pada akhir pengorosian laju korosi terendah dialami oleh baja tulangan S.13 dengan penambahan sodium nitrit 0,1 M yaitu sebesar 2,13 mpy dengan laju korosi rata-rata sebesar 2,12 mpy. Sementara laju korosi rata-rata terbesar dialami baja tulangan S.13 dengan penambahan inhibitor DMEA 0,3 M efektif sebesar 8,36 mpy. Sesuai dengan hasil pengukuran menggunakan metode polarisasi siklik (berdasarkan ASTM G-61) setelah pengorosian berakhir bahwa potensial sumuran/pitting breakdown potential (Epit) paling positif dialami baja tulangan S.13 dengan penambahan sodium nitrit 0,1 M sebesar 1100 mV. Dari penelitian ini didapat hasil bahwa penggunaan inhibitor anorganik sodium nitrit efektif sampai dengan hari ke 31 dengan efisiensi tertinggi pada penambahan sodium nitrit 0,1 M sebesar 92,35%. Sedangkan penggunaan inhibitor organik DMEA efektif sampai dengan hari ke 19 dengan efisiensi tertinggi pada penambahan DMEA 0,6 M sebesar 68,71%.
PERILAKU AGING PADUAN IMPLAN Co-Cr-Mo DENGAN PENAMBAHAN NITROGEN DAN PENGARUHNYA TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK noviardi noviardi
Jurnal Furnace Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.363 KB)

Abstract

Logam paduan Co-Cr-Mo (ASTM F75) merupakan logam implan dari hasil casting yang perlu dilakukan proses perlakuan panas lanjutan untuk mendapatkan sifat fisik dan mekanik yang diinginkan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perilaku aging terhadap struktur mikro dan kekerasan  yang terbentuk pada paduan Co-Cr-Mo. Komposisi paduan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Co-28Cr-6Mo-0,25C-0N dan Co-28Cr-6Mo-0,25C-0,2N. Spesimen yang berbentuk ingot dipotong dengan dimensi 10 mm x 10 mm x 5 mm serta dimasukan kedalam silica ampoule, kemudian dilakukan solution treatment pada temperatur 1250 oC selama 12 jam dan didinginkan dengan media air es. Selanjutnya  dilakukan proses aging treatment pada temperatur 800 oC, 900 oC, 1000 oC dan 1100 oC dengan waktu tahan masing-masing sampel 12 jam, 18 jam dan 24 jam serta didinginkan dengan media air es. Karakterisasi yang digunakan meliputi pengamatan morfologi struktur mikro dengan menggunakan OM dan SEM-EDS, pengujian kekerasan serta pengujian XRD untuk setiap perlakuan pada as-cast, solution treatment, dan aging treatment. Hasil pengujian kekerasan menunjukan bahwa kekerasan paduan Co-Cr-Mo meningkat seiring dengan semakin lama waktu tahan pada proses aging, sedangkan semakin tinggi temperatur aging menyebabkan kekerasan paduan akan semakin menurun. Hasil pengujian XRD menunjukkan terdapat dua macam fasa yang terbentuk pada paduan, yaitu fasa presipitat karbida tipe M23X6 dan fasa η (M12X). Dengan penambahan unsur nitrogen akan memperluas wilayah pembentukan fasa η, mempercepat dan menstabilkan pembentukan fasa η pada paduan Co-Cr-Mo. Peningkatan kekerasan seiring dengan distribusi presipitat yang semakin merata mengindikasikan terjadinya mekanisme precipitation hardening.
Studi mikrostruktur dan sifat mekanik Aluminium 6061 melalui proses canai dingin dan aging Mirnawati Dewi
Jurnal Furnace Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1247.382 KB)

Abstract

Al 6061 memiliki sifat mekanik yang unggul antara lain bobot ringan, mampu las baik, ketahanan korosi baik serta harga yang murah, tetapi memiliki kelemahan dalam hal kekuatannya. Untuk dapat memenuhi kriteria sebagai komponen pesawat terbang, Al 6061 harus ditingkatkan kekuatannya. Salah satu metode efektif untuk meningkatkan kekuatan adalah dengan canai dingin dan aging, sehingga memenuhi kriteria sebagai komponen pesawat, dalam hal ini bagian yang cocok adalah skin sayap pesawat terbang. Al 6061 dilakukan proses canai dingin dengan reduksi 50%, 60%, dan 70% kemudian dilanjutkan dengan aging pada temperatur 2000C selama 1800, 3600, 5400, 7200 dan 10.800 detik. Sifat mekanik dan mikrostruktur setelah proses canai dingin dan aging dipelajari. Perubahan morfologi mikrostruktur terjadi pada Al 6061, dari mulai as-received, setelah proses canai dingin dan setelah aging. Aluminium 6061 setelah proses canai dingin menghasilkan elongated grains, semakin pipih pada reduksi tertinggi 70%, dan mikrostruktur berubah menjadi equaxial setelah proses aging. Pengujian X-Ray Diffraction (XRD) menunjukkan peak fasa Mg2Si dan Al2FeSi pada Al 6061 hasil canai dingin dan aging. Fasa Mg2Si dan Al2FeSi merupakan fasa kedua (presipitat) pada Al 6061. Sifat mekanik diukur dengan uji kekerasan Brinell dan ketahanan aus. Kekerasan dan ketahanan ausnya meningkat. Nilai kekerasan tertinggi dicapai pada sampel dengan reduksi 70% dengan waktu aging 5400 detik yaitu sebesar 121 HBN dari nilai kekerasan as-received sebesar 65 HBN. Ketahanan aus meningkat dari semula 6,209951 x 10-6mm3/mm pada kondisi as-received menjadi 4,775436 x 10-6mm3/mm setelah aging. Peningkatan sifat mekanik ini disebabkan oleh strain hardening akibat proses canai dingin dan fasa kedua (presipitat) yang dihasilkan setelah aging. Di sisi lain, fasa kedua (presipitat)  berperan sebagai penghalang pergerakan dislokasi, sehingga menyebabkan meningkatnya sifat mekanik.
ANALISIS STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK PADUAN AL 2014 HASIL PROSES AGING DENGAN VARIASI TEMPERATUR DAN WAKTU TAHAN Muhammad Didi Endah Pranata
Jurnal Furnace Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.501 KB)

Abstract

Paduan Aluminium banyak digunakan pada industri manufaktur dirgantara sebagai bahan struktur karena sifatnya yang ringan dan kuat. Banyak penelitian yang sudah dilakukan terkait dengan aluminium seri 2xxx,namun masih sedikit yang meneliti tentang Al 2014. Al 2014 merupakan salah satu bahan baku yang digunakan sebagai skin wing. Sebelum diaplikasikan, Al 2014 harus mengalami proses heat Treatment yaitu natural aging yang membutuhkan waktu selama 96 jam untuk mendapatkan sifat mekanik yang optimum. Penelitian dilakukanuntuk menganalisis perubahan struktur mikro, mendapatkan kombinasi waktu tahan dan temperatur  aging paduan Al 2014. Paduan Al 2014 hasil fabrikasi dilakukan proses Solution Heat Treatment pada temperatur500oC dengan waktu tahan 25 menit. Proses dilanjutkan dengan Quenching dengan media air kemudian dilakukan pemanasan aging pada berbagai temperatur dan waktu tahan.  Hasil penelitian menunjukan bahwa peningkatan temperatur aging dapat mempercepat laju pengintian dan pertumbuhan persipitat. Hal ini ditunjukan dengan singkatnya waktu yang dibutuhkan paduan untuk mencapai kekerasan optimum sebesar152.62 VHN pada temperatur 180oC dengan waktu tahan 8 jam. Hal ini sesuia dengan uji metalografi dan SEM-EDS yang menunjukan terbentuknya persipitat yang halus, rapat dan seragam. Adapun nilai kuat tarik paduan Al 2014 pada kondisi optimum yaitu sebesar 45.485 Kgf/mm2.
PENGARUH LAJU ALIRAN GAS NITROGEN PADA TEMPERATUR 1200oC TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN BAJA TAHAN KARAT AISI 430 SEBAGAI MATERIAL BIOMEDIS Ukfan Dwi Cahya Harefa
Jurnal Furnace Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1353.74 KB)

Abstract

Permintaan material implan terus meningkat sejalan dengan tingginya angka kecelakaan di Indonesia. Oleh karena itu penelitian dan pengembangan biomaterial yang kompatibel untuk aplikasi biomedis menjadi penting. Pada penelitian ini akan dicoba substrat baja tahan karat feritik AISI 430 yang diberi heat treatment dalam suasana aliran gas nitrogen agar terdifusi pada substrat dan membentuk fasa austenit. Variabel yang diamati adalah laju aliran gas nitrogen pada temperatur 1200oC, kemudian dilihat pengaruhnya terhadap struktur mikro dan kekerasannya. Struktur mikro diamati dengan menggunakan mikroskop optik, scanning electron microscope-energy dispersive spectroscope (SEM-EDS) dan x-ray diffraction (XRD), sedangkan kekerasannya diukur dengan menggunakan micro vickers hardness. Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa munculnya pola anil twin menandakan terbentuknya fasa austenitik, distribusi nitrogen cukup merata pada substrat sebesar 13,92-29,68 % berat dan terbentuk 8,65-9,69% fasa austenit. Tingkat kekerasan substrat baja tahan karat feritik AISI 430 semula sekitar 161,79 HV meningkat menjadi 547,15 HV setelah dilakukan proses heat treatment pada temperatur 1200oC, dengan laju aliran gas nitrogen 0,94 liter/detik, selama 7 jam dan tekanan 500 Psi. Berdasarkan hasil tersebut memungkinkan untuk dapat dipertimbangkan sebagai material biomedis.
PENGARUH TEMPERATUR DAN MASSA FLUXING TERHADAP PENURUNAN KADAR PENGOTOR PADA PROSES PEMURNIAN ALUMINIUM DENGAN BAHAN BAKU LIMBAH KALENG MINUMAN nova dwi prihadi
Jurnal Furnace Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.35 KB)

Abstract

Kebutuhan aluminium di Indonesia pada tahun 2015 mencapai sekitar 800 ribu ton/tahun. Jumlah ini tidak diiringi dengan produksi aluminium primer yang hanya sekitar 300 ribu ton/tahun di Indonesia. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah dengan mendaur ulang limbah berbahan dasar aluminium. Limbah yang digunakan sebagai bahan baku dalam penelitian ini adalah kaleng minuman yang dihancurkan terlebih dahulu. Proses peleburan dilakukan menggunakan induction furnace dengan penambahan flux untuk meningkatkan kadar aluminium dan mengurangi kadar pengotor di dalam limbah tersebut. Flux yang digunakan dalam perleburan adalah 1:1 (NaCl:KCl) dengan variasi penambahan flux 5, 10 dan 15%. Temperatur peleburan pada percobaan adalah 750, 800 dan 850oC. Analisis XRF dilakukan untuk mengetahui kadar dari sampel hasil peleburan. Analisis SEM-EDS dilakukan untuk melihat struktur mikro dan kadar pada base sampel hasil peleburan. Kenaikan temperatur peeburan  pada proses fluxing dapat mebuat proses menjadi lebih efektif, temperatur peleburan paling optimum didapatkan pada 8000C. Penambahan massa flux pada proses fluxing dapat mebuat proses menjadi lebih efektif, penambahan massa flux paling optimum didapatkan pada penambahan 10% flux. Sampel dengan temperatur peleburan 8000C dengan penambahan 10% flux dapat meningkatkan kadar Al mencapai 97,1899% dan mereduksi Mg sampai 1,0335% hasil ini didukung oleh analisis SEM-EDS pada bagian base sampel 800-10 yang menunjukkan kadar Al pada sampel tersebut merupakan unsur paling dominan. Sampel 800-10 merupakan sampel paling efektif pada penelitian ini.

Page 1 of 1 | Total Record : 9