cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Teknik Industri Untirta
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal ini adalah wadah untuk publikasi yang berkaitan dengan keilmuan dan penerapan Teknik Industri.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 Juli 2015" : 14 Documents clear
Usulan Penentuan Persediaan Komponen Mesin Conveyor Berdasarkan Keandalan (Studi Kasus : PT. PLTU Banten 2 Labuan) Dede Mulyana; Ratna Ekawati; Putro Ferro Ferdinant
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 3 No. 2 Juli 2015
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2403.917 KB)

Abstract

Permintaan dapat berupa permintaan terhadap komponen-komponen mesin. Permintaan terjadi apabila mesin mengalami kerusakan dan komponen mesin harus diganti (replaceable). Oleh sebab itu, perlu adanya pengendalian persediaan yang optimal untuk mengganti komponen yang rusak. PT. PLTU Banten 2 Labuan adalah perusahaan yang bergerak dibidang pembangkit listrik, Perusahaan ini menggunakan banyak jenis mesin produksi salah satunya adalah mesin conveyor yang menjadi objek penelitian, dikarenakan sering mengalami kerusakan. Mesin conveyor memiliki beberapa komponen untuk menjalankan fungsinya. Dari beberapa komponen yang ada pada mesin conveyor terdapat 4 (Empat) komponen yang apabila mengalami kerusakan harus segera diganti dan tidak dapat diperbaiki, yaitu Return Idler, Carrie Idler, Rubber Skirt dan Steering Return Idler. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui keandalan (reliability), persediaan dan titik pemesanan kembali untuk komponen kritis mesin conveyor. Metode yang digunakan adalah metode penentuan distribusi weibull untuk mengetahui nilai keandalan komponen mesin dan untuk menghitung jumlah persediaan komponen mesin menggunakan metode persediaan model Q dengan demand dari laju kerusakan. hasil penelitian yang didapat dari perhitungan distribusi weibull adalah parameter skala (α) dan parameter bentuk (β) yang digunakan untuk menghitung keandalan, hasilnya yaitu, untuk komponen return idler 45.26 %, komponen rubber skirt 38.88 dan komponen steering return idler 38.54 %. Sedangkan persediaan komponen mesin conveyor selama 300 hari yaitu komponen return idler sebanyak 62 unit, komponen carry idler sebanyak 37 unit dan untuk komponen steering return idler sebanyak 24 unit. Titik pemesanan kembali ( reorder point) komponen return idler 19 unit, komponen rubber skirt 20 unit dan komponen steering return idler 5 unit.
Analisa Efisiensi Gardu Tol Pada Saat Peak Hours Di Gerbang Tol Serang Timur Alam Kurnia M.; Faula Arina; Ratna Ekawati
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 3 No. 2 Juli 2015
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3194.772 KB)

Abstract

Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan output (hasil antara keutungan dengan sumber-sumber yang dipergunakan), seperti halnya juga hasil optimal yang dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas SP. Hasibuan (2007). Pengoperasian jumlah gardu yang berlebihan akan terjadi ketidakefisienan dimana waktu menganggur petugas gardu menjadi lebih besar dan pengeluaran perusahaan juga menjadi lebih besar yang mengakibatkan kerugian perusahaan dalam pengeluaran keuangan salah satunya yang terjadi pada gerbang tol Serang Timur. Oleh karena itu diperlukan fasilitas pelayanan yang optimal agar pelayanan tidak tertunda dan tidak menimbulkan pengeluaran biaya yang berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi gardu dilihat dari minimnya tingkat antrian pada saat peak hour, selain itu mengetahui berapa banyak jumlah gardu yang seharusnya digunakan pada tiap jamnya, dan menghitung lama waktu kendaraan berada didalam sistem setelah dilakukan perbaikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan simulasi yang diolah menggunakan software Promodel. Dengan melihat persentase hambatan akan diketahui panjang antrian yang terjadi pada saat itu. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pada pukul 14.00 – 15.00 jumlah pengoperasian gardu yang optimal adalah 3 gardu, pada pukul 15.00 – 19.00 jumlah pengoperasian gardu yang optimal adalah 4 gardu dan pukul 19.00 – 21.00 jumlah pengoperasian gardu yang optimal adalah 2 gardu dan hasil simulasi model pada kondisi eksisting menunjukkan waktu rata-rata kendaraan berada di dalam sistem pelayanan adalah selama 1377,40 detik = 22,96 menit dan usulan perbaikan menunjukkan waktu rata-rata kendaraan berada di dalam sistem pelayanan adalah selama 131,4 detik = 2,19 menit.
Usulan Penataan Ruang Parkir Dengan Pendekatan Simulasi Di Universitas X Mochamad Saefullah; Muhammad Adha Ilhami; Kulsum Kulsum
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 3 No. 2 Juli 2015
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1526.97 KB)

Abstract

Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara (Keputusan Dirjen Hubda No. 272/HK.105/DRJD/96). Atau dengan kata lain Parkir merupakan suatu kondisi kendaraan yang berhenti dalam jangka waktu tertentu. Pengalokasian Ruang Parkir dalam kampus merupakan faktor penting dalam penataan kampus. Hal ini bertujuan supaya kendaraan-kendaraan yang berada di dalam kampus tidak parkir sembarangan, yang akan mengakibatkan kondisi dalam kampus yang tidak beraturan dan akan mengurangi keindahan kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kendaraan motor dan mobil yang tidak mendapatkan tempat parkir (parkir yang tersedia) pada saat ini (2013), selain itu membuat usulan lokasi parkir agar ruang parkir saat ini mencukupi, dan Mengetahui kebutuhan luas parkir tambahan untuk tahun 2014 dengan asumsi kenaikan kendaraan berdasarkan peningkatan kendaraan di Badan Pusat Statistik (BPS). Penelitian ini menggunakan pendekatan simulasi yang diolah menggunakan software Promodel. Dengan melihat rata-rata jumlah kendaraan yang masuk ke lokasi parkir sembarang. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pada simulasi eksisting terdapat 137 kendaraan motor dan 4 kendaraan mobil yang berada di lokasi sembarang, sehingga masih diperlukan lokasi parkir tambahan seluas 205 m2 untuk motor dan 46 m2 untuk mobil. Dengan usulan penambahan ruang parkir maka tidak ada lagi kendaraan yang masuk ke dalam lokasi parkir sembarang. Namun, kebutuhan ruang parkir pada tahun 2014 masih belum mencukupi, dimana masih membutuhkan lokasi parkir tambahan seluas 218 m2 untuk menampung mobil sebanyak 19 unit dan lokasi parkir tambahan seluas 220.5 m2 untuk menampung motor sebanyak 147 unit.
Identifikasi Potensi Bahaya Dengan Menggunakan Metode Job Safety Analysis (JSA) (Studi Kasus di PT XYZ) Ade Saftian Al Bantani; Lely Herlina; Ade Sri Mariawati
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 3 No. 2 Juli 2015
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1202.596 KB)

Abstract

PT. XYZ adalah perusahaan yang bergerak dalam industri maritim yang memproduksi kapal baru (Ship building) dan Perbaikan Kapal (Ship Repair) dan sedang menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3). Dalam pelaksanaannya masih terdapat pekerja yang tidak taat dalam menggunakan alat pelindung diri (APD) dan bekerja dengan cara kerja tidak aman (unsafe act). Menurut Safety supervisor telah terjadi kecelakaan sebanyak 27 kasus sejak bulan januari-september 2013 yang terjadi di lokasi pembuatan kapal baru dan lokasi perbaikan kapal dan kegiatan oprasional yang dilakukan di PT.XYZ memiliki resiko bahaya tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi-potensi bahaya dari aktivitas-aktivitas yang dikerjakan, menganalisa resiko bahaya yang ada di setiap kegiatan operasional dan melakukan pengendalian bahaya dengan nilai resiko bahaya tertinggi dengan menggunakan Job Safety Analysis (JSA). JSA adalah metode identifikasi potensi bahaya berdasarkan analisa terhadap tahapan pekerjaan. Pada penelitian ini didapatkan potensi bahaya yang ada dilokasi kerja seperti bahaya mekanik, bahaya kimia, bahaya radiasi, bahaya suhu ekstrim, bahaya gravitasi dan bahaya bunyi. Berdasarkan potensi bahaya tersebut didapatkan bahwa potensi bahaya tertinggi ada pada aktivitas bekerja ditempat ketinggian dan pengelasan, yang termasuk kedalam ketegori bahaya substancial. Rekomendasi yang bisa dilakukan yaitu, pengawasan terhadap pekerja dalam menggunakan APD, mengkampanyekan budaya K3 setiap akan memulai bekerja bekerja, larangan untuk menaruh barang- barang yang mudah terbakar dilokasi kerja, membuat Management safety data sheets (MSDS), mengatur jarak aman ketika bekerja dan menjaga housekeeping dengan baik.
Perancangan Pencahayaan Buatan Dengan Metode Lumen Di PT. XYZ Akhmad Rafsanjani; Yayan Harry Yadi; Ade Sri Mariawati
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 3 No. 2 Juli 2015
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.246 KB)

Abstract

Pencahayaan yang baik dan cukup di tempat kerja akan memudahkan pekerja melakukan seluruh aktivitas tanpa terganggu serta mengurangi adanya keluhan kesehatan yang diakibatkan oleh kurangnya pencahayaan dalam tempat kerja. Ruangan direktur PT. XYZ memiliki kuat penerangan sebesar 105 lux yang mengakibatkan timbulnya beberapa keluhan kelelahan pada beberapa karyawan seperti tulisan yang tidak terlalu jelas terlihat, dan keluhan kelelahan mata seperti mata selalu terasa mengantuk, mata yang sering dikucek, mata terasa tegang dan kaku. nilai tersebut belum sesuai dengan ambang batas ketentuan yang berlaku pada KEPMENKES NOMOR 1405/MENKES/SK/XI/2002 yang memberikan batas minimum sebesar 300 lux. Penelitian ini bertujuan untuk merancang perbaikan pencahayaan pada ruangan direktur agar distribusi cahaya dapat merata keseluruh ruangan. Metode lumen digunakan untuk menghitung jumlah lampu yang dibutuhkan serta memperhitungkan jarak lampu yang baik dengan cara memperhitungkan distribusi intesitas cahaya luminer, efisiensi, bentuk dan ukuran ruangan, pantulan permukaan, ketinggian lampu dari bidang kerja, faktor-faktor kehilangan cahaya yang diakibatkan oleh timbunan debu pada luminer, penyusutan lumen yang dikeluarkan oleh lampu. Hasil penelitian didapatkan bahwa jumlah lampu yang dibutuhkan pada ruang direktur PT. CPR adalah 5 buah dengan tipe fluorescent jenis TL electronic 45 watt menghasilkan rata-rata intensitas cahaya sebesar 315 lux, dengan jarak maksimal antara lampu adalah 2,55 meter. Setelah dilakukan perancangan perbaikan pencahayaan keluhan kelelahan mata sudah berkurang sebanyak 70 % dari sebelumnya
Hubungan antara Corporate Social Responsibility dan Kredit Usaha Rakyat terhadap Kinerja Industri Kecil Menengah Menggunakan Metode Structural Equation Modelling Di Kota Cilegon Syaiful Amin; Hadi Setiawan; Nurul Ummi
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 3 No. 2 Juli 2015
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.966 KB)

Abstract

Pertumbuhan industri skala kecil dan menengah berkembang mewarnai perekonomian di daerah. Mulai dari industri makanan, kerajinan, mebel, hingga konveksi atau tekstil, dimana keberadaannya menjadi salah satu solusi dalam mengatasi angka pengangguran sekaligus menggerakkan roda perekonomian daerah. Salah satu program pemerintah yang diberikan bagi industri kecil menengah adalah program kredit usaha rakyat (KUR). Selain program KUR, para pelaku IKM juga mendapat bantuan permodalan dan pembinaan oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi disekitarnya. Istilah yang biasa dikenal adalah Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan bantuan CSR, KUR terhadap kinerja IKM. Metode yang digunakan pada penelitian kali ini adalah Metode Structural Equation Modelling (SEM). Dalam penelitian dilakukan pengujian dan analisis hubungan kausal antara variabel independen dan dependen, sekaligus memeriksa validitas dan reliabilitas instrumen penelitian secara keseluruhan. Penggunaan SEM memungkinkan untuk menguji hubungan antar variabel yang komplek, untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai keseluruhan model. Menurut Yamin dan Kurniawan (2009), secara umum ada lima tahap dalam prosedur SEM, yaitu spesifikasi model, identifikasi model, estimasi model, uji kecocokan model, dan respesifikasi model. Sampel dalam penelitian ini adalah 120 IKM yang berada di Kota Cilegon dari 777 IKM dan tersebar di 8 kecamatan. Setelah dilakukan pengumpulan dan pengolahan data, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan kausal antara variabel CSR terhadap variabel kinerja IKM dengan nilai standarized loading factor sebesar 0,28. Adanya hubungan kausal antara variabel KUR terhadap kinerja IKM dengan nilai standarized loading factor sebesar 0,08.
Analisis Resiko Cidera Kerja pada Kegiatan Proses Produksi dengan Metode Quick Exposure Checklist (QEC) di PT. XYZ Fauzzi Amrulloh; Lovely Lady; Ade Sri Mariawati
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 3 No. 2 Juli 2015
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2867.816 KB)

Abstract

PT. XYZ adalah perusahaan yang memproduksi kapur cair. Besarnya produksi di perusahaan ini ditentukan oleh jumlah pesanan dari konsumen. Dengan semakin meningkatnya kapasitas produksi, menyebabkan aktivitas MMH dalam warehouse di PT. XYZ semakin tinggi. Oleh karena itu Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kategori dari postur dan beban kerja pada pekerja MMH di bagian warehouse PT. XYZ dan mengusulkan solusi untuk mengurangi resiko cidera kerja. Quick Exposure Check (QEC) merupakan salah satu metode yang menggunakan kuesioner yang ditujukan untuk operator dan juga pengamat. Kuesioner ini digunakan untuk menganalisis beban postur tubuh yang dirasakan oleh operator di PT. XYZ. Dari hasil perhitungan, nilai yang didapat dari keseluruhan karyawan yang bekerja di PT. XYZ berada pada range 88,64%-95,45% sehingga perlu diberikan usulan perbaikan. Perbaikan metode kerja didasari oleh usaha untuk mengurangi nilai indeks resiko dengan melakukan perubahan postur kerja. Adapun perbaikan yang dilakukan adalah perubahan postur operator dengan mengurangi gerakan janggal seperti memutar, membungkuk, atau miring, dan mengusulkan alat bantu yang berupa gerobak sehingga didapatkan penurunan indeks resiko kerja menjadi 55,68%-67,05% atau dapat dikatakan butuh penelitian lebih lanjut dan lebih aman digunakan olejh pekerja.
Perbaikan Postur Kerja Dengan Menggunakan Metode RULA (Rapid Upper Limb Assesment) Di CV.XYZ Tri Yanuar; Yayan Harry Yadi; Ade Sri Mariawati
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 3 No. 2 Juli 2015
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.089 KB)

Abstract

Semakin berkembangnya dunia teknologi, perusahaan akan semakin dituntut untuk selalu menambah produktivitas kerja para karyawan. Akan tetapi, terdapat beberapa kasus dimana peningkatan produktivitas tersebut tidak diiringi dengan perubahan cara kerja yang lebih baik sehingga mengakibatkan ketidaknyamanan untuk operator yang bekerja pada perusahaan tersebut. contohnya kasus yang terjadi pada CV XYZ. Berdasarkan hasil tabulasi Standart Nodric Questionaire dan wawancara dengan seluruh operator di seluruh station kerja banyak keluhan yang dirasakan oleh operator diantaranya mengalami keluhan pada bagian leher atas, bahu, punggung, pinggang, siku, pantat, pergelangan tangan, sakit tangan, sakit paha, lutut, betis, pergelangan kaki dan sakit telapak kaki. Penelitian ini bertujuan untuk membuat usulan rancangan perbaikan stasiun kerja dengan menggunakan metode RULA (Rapid Upper Limb Assesment). Hasil skor postur kerja penilaian RULA untuk stasiun adonan didapatkan skor akhir RULA 7, stasiun pemotongan 5, stasiun pemilahan 6, stasiun packing 6, sehingga diperlukan adanya perbaikan sistem kerja dalam waktu dekat. Hal ini peneliti melakukan perbaikan dengan membuat meja kerja dan kursi kerja, dengan dilakukan perbaikan sistem kerja membuat kerja berubah dan menjadi lebih baik. Berdasarkan penilaian skor RULA setelah adanya perbaikan menunjukan nilai skor 3 dan 4, yang berarti mempunyai level resiko kecil dan diperlukan tindakan beberapa waktu kedepan. 
Penerapan Good Manufacturing Practices untuk Pemenuhan Manajemen Mutu pada Produksi Air Minum Dalam Kemasan (Studi Kasus di PT.XYZ) Feni Akbar Rini; Putiri Bhuana Katili; Nurul Ummi
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 3 No. 2 Juli 2015
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.294 KB)

Abstract

Seiring dengan banyaknya perusahaan yang memproduksi air minum dalam kemasan, belum diikuti dengan kualitas air minum yang aman dan bermutu baik, sedangkan masyarakat atau konsumen air minum dalam kemasan memiliki hak untuk memperoleh air dengan kualitas dan mutu baik serta aman. Good  Manufacturing  Practice merupakan  suatu  pedoman  bagi industri terutama  industri  yang  terkait  dengan  pangan untuk  meningkatkan  mutu  hasil produksinya  terutama keamanan  dan  keselamatan konsumen  yang  mengkonsumsi  atau  menggunakan  produk-produknya. PT.XYZ merupakan perusahaan yang memproduksi air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek OPQ dan memiliki jaringan pemasaran di area Banten. PT.XYZ berkewajiban memenuhi hak konsumen untuk menghasilkan produk yang aman, berkualitas, dan bermutu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai penerapan GMP pada mutu produksi AMDK di PT.XYZ, sehingga hasil AMDK bermutu, berkualitas, dan aman. Penelitian ini dilakukan dengan penilaian kesesuaian penerapan GMP antara kondisi nyata perusahaan dengan persyaratan pedoman GMP sesuai dengan peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor: 75/M-IND/PER/7/2010. Persyaratan GMP terdiri dari 18 ruang lingkup mencakup 207 item persyaratan. Hasil penilaian kesesuaian menunjukkan 144 item atau 69.57% sesuai, dan 63 item atau 30.43% tidak sesuai
Analisa Produktivitas dengan Model Fungsi Produksi Cobb Douglas dan Grey System Theory Triani Wulandari; Ratna Ekawati; Putro Ferro Ferdinant
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 3 No. 2 Juli 2015
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4112.07 KB)

Abstract

PT. KHI merupakan salah satu perusahaan penghasil pipa baja las terbesar di Indonesia. Dalam proses produksi pipa gas API 5L X 60M pada mesin SPM 2000 masih terjadi hambatan-hambatan yang mengakibatkan kurang efektifnya proses produksi seperti keterlambatan proses produksi yang mengakibatkan penurunan hasil produksi yang disebabkan oleh kerusakan mesin, faktor kesalahan operator, masih terdapat reject, dan lain sebagainya. Hal tersebut menunjukkan terdapatnya produktivitas yang menurun sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengukur produktivitas perusahaan dalam proses produksi pipa gas API 5L X 60M pada mesin SPM 2000 dengan memodelkan fungsi produksi menggunakan model cobb douglas (regresi linier berganda) untuk mengetahui nilai elastisitas masing-masing faktor produksi (mesin, operator, bahan baku) serta pengaruhnya terhadap hasil produksi berupa pipa gas API 5L X 60M. Nilai elastisitas yang dimaksud adalah nilai yang mengukur respon dari sebuah variabel karena variabel lainnya. Elastisitas produksi menggambarkan persentase perubahan output sebagai akibat persentase perubahan input. Selain itu dapat jg diketahui return to scale atau kondisi skala hasil perusahaan dan evaluasi nilai kontribusi masing-masing faktor tiap periode. Return to scale yang dimaksud yaitu proporsi perubahan seluruh total input terhadap total output. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah fungsi produksi cobb douglas (regresi linier berganda) yang digunakan untuk memodelkan fungsi produksi serta dapat diketahui nilai elastisitas masing-masing faktor dan pengaruhnya terhadap hasil produksi. Selain itu dilakukan pula perhitungan nilai kontribusi masing-masing faktor produksi dengan penggabungan model fungsi produksi cobb douglass dan grey system theory. Tahap awal yang dilakukan yaitu uji kesesuaian model, uji asumsi klasik pada data berupa uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi agar hasil regresi tidak bias. Kemudian melakukan uji F dan uji t sehingga didapat model fungsi produksi cobb douglas. Dan terakhir menghitung nilai kontribusi masing-masing faktor dengan grey system theory. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai elastisitas mesin sebesar 0,296, operator sebesar 0,0271, dan bahan baku (coil) sebesar 0,717. Faktor mesin dan bahan baku secara parsial berpengaruh signifikan terhdap pipa, dan dari hasil uji F faktor secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pipa. Dari penjumlahan koefisien elastis didapat bahwa perusahaan mengalami increasing return to scale karena 1,040>1. Nilai kontribusi mesin terbesar pada bulan Maret 24,583%, kontribusi operator terbesar pada bulan Februari 4,326% , dan kontribusi bahan baku terbesar pada bulan April 87,985%.

Page 1 of 2 | Total Record : 14