cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " Vol 4, No 1 (2017)" : 5 Documents clear
PERKEMBANGAN PERMUKIMAN DI PULAU DOOM KOTA SORONG Johansz, Devid Abraham; Sela, Rieneke L; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Doom terletah di Kota Sorong Provinsi Papua Barat. Pulau Doom sudah ditinggali oleh masyarakat sejak masa pendudukan Belanda. Belanda sudah melirik keberadaan Pulau Doom sejak tahun 1800-an dan kemudian sekitar tahun 1935 Pulau Doom dijadikan sebagai ibu kota pusat pemerintahan Kota Sorong. Pulau Doom kini menjadi kawasan permukiman bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Seiring berkembang waktu, perkembangan permukiman di Pulau tersebut kini mulai berkembang dari tahun ke tahun dan menjadi padat akibat pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat. Perkembangan permukiman di Pulau Doom dari tahun 2007 hingga 2015 mengalami perkembangan yang pesat. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menganalisis arah perkembangan permukiman dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan permukiman di Pulau Doom Kota Sorong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan analisis spasial (overlay) dengan menggunakan software ArcGIS 10.1. Berdasarkan hasil penelitian bahwa, 1arah perkembangan permukiman di Pulau Doom lebih dominan berkembang ke arah  kelurahan Doom Barat pada kontur 0-10% (topografi dataran rendah) dengan perkembangan permukiman sebesar 60%. 2Faktor-faktor yang paling mempengaruhi perkembangan permukiman di Pulau Doom adalah faktor geografis, faktor kependudukan, faktor swadaya dan peran serta masyarakat dan faktor sosial budaya. Kata Kunci     : Permukiman, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Permukiman
HUBUNGAN AKSESIBILITAS TERHADAP TINGKAT PERKEMBANGAN WILAYAH KECAMATAN DI KOTA TOMOHON Sumadi, Stevanus Hariona Tricahyo; Papia, F. J.; Makainas, Indrajaja
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan wilayah perkotaan merupakan upaya pembangunan yang dilakukan secara terus menerus agar tercapai kualitas kesejahteraan masyarakat dan lingkungan hidup di dalamnya. Ketersediaan infrastruktur dan sistem jaringan dalam suatu wilayah akan mempengaruhi perkembangan wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aksesibilitas yang didalamnya dipengaruhi oleh sistem jaringan jalan dan perkembangan wilayah per kecamatan di Kota Tomohon. Untuk menjawab tujuan penelitian digunakan analisis indeks alfa untuk mengetahui tingkat aksesibilitas wilayah, analisis Location Quotient (LQ) untuk mengetahui tingkat perkembangan wilayah dan analisis korelasi dengan spss for windows untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel tersebut. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, kecamatan yang memiliki tingkat aksesibilitas yang paling tinggi adalah kecamatan Tomohon Timur dan yang paling rendah adalah kecamatan Tomohon Barat. Sedangkan untuk tingkat perkembangan wilayah, Kecamatan Tomohon Tengah merupakan kecamatan dengani nilai perkembangan paling tinggi dan Kecamatan Tomohon Barat memiliki nilai perkembangan paling rendah. Hasil perhitungan korelasi menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara aksesibilitas wilayah dan perkembangan wilayah kecamatan di Kota Tomohon. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ada beberapa saran yang dihasilkan yaitu pertama, pemerataan jaringan jalan di kecamatan yang memiliki nilai aksesibilitas rendah. Kedua adalah pemerataan pembangunan yang memiliki peran fital dalam perkembangan wilayah seperti fasilitas pendidikan, fasilitas perdagangan, dan fasilitas perindustrian di kecamatan yang memiliki nilai perkembangan rendah. Kata Kunci : Aksesibilitas, Perkembangan Wilayah.
KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN KUMUH PESISIR STUDI KASUS : DESA LIKUPANG DUA DAN DESA LIKUPANG KAMPUNG AMBONG, KECAMATAN LIKUPANG TIMUR, KABUPATEN MINAHASA UTARA, PROVINSI SULAWESI UTARA Pollo, Joel Yermia; Tondobala, Linda; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Empat puluh tujuh Kota Otonom dari sembilan puluh empat Kota Otonom di Indonesia  memiliki karakteristik geografis kawasan pesisir. Dominasi jumlah kota pesisir di Indonesia merupakan suatu hal yang sangat wajar mengingat morfologi NKRI berupa kepulauan yang berjumlah sekitar 17.480 pulau dengan 95.181 Km bentang garis pantai dari seluruh pulau tersebut. Gambaran tentang kondisi wilayah seperti itu mencerminkan bahwa diperlukan suatu pendekatan berwawasan kepesisiran yang komprehensif mencakup dinamika interaksi berbagai aspek/sektor di kawasan pesisir tersebut. Desa Likupang Dua dan Desa Kampung Ambong merupakan desa di wilayah pesisir Kabupaten Minahasa Utara yang memiliki fungsi yang penting dalam RTRW Kabupaten Minahasa Utara 2011-2031. Letaknya yang strategis sebagai gerbang menuju pulau-pulau dibagian Utara, serta potensi kekayaan bahari dan pesona wisata alam yang memukau menjadi alasalan kenapa wilayah ini perlu mendapatkan perhatian khususdari pihak-pihak terkaitguna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi yang dimiliki memberikan daya tarik yang kuat dan menimbulkan konsentrasi penduduk dan permukiman yang tinggi. Penduduk membangun tanpa memperhatikan legalitas lahan dan aturan-aturan terkait pembangunan permukiman yang benar, sehingga kondisi ini menciptakan kekumuhan bagi lingkungan permukiman di lokasi penelitan.Dilatarbelakangi  persoalanpermukiman kumuh, mendorong penelitian ini dilakukan. Tujuan penelitian,menganalisis tingkat capaian pelayanan infrastruktur permukiman pesisir berdasarkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) di lokasi penenlitian, serta mengindentifikasi tingkat kekumuhan permukiman pesisir pada kedua desa penelitian berdasarkan ketersediaan Infrastruktur.Penelitian ini menggunakan Metode Analisis Kuantitatif Deskriptif.Hasil analisis menujukan kondisi faktual di lapangan yaitu belum tersedianya infrastruktur yang memadai di kedua desa tersebut dengan nilai SPMsecara keseluruhan belum tercapai sehingga terjadi kekumuhan.Analisa dan perhitungan SPM dan analisa tingkatan kategori kumuh di wilayah Desa Likupang Dua dan Desa Likupang Kampung Ambong menempatkan kedua desa tersebut masuk dalam kategori kumuh sedang.   Kata Kunci :Wilayah Pesisir, Permukiman, Infrastruktur, Kekumuhan
ANALISIS PEMANFAATAN RUANG TERBANGUN DI KAWASAN PESISIR LOKASI STUDI KASUS: SEPANJANG PESISIR KOTA MANADO Tilaar, Sonny; Tarore, Raymond Ch
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Manado memiliki potensi yang besar dalam bidang pesisir dan kelautan. Pemanfaatan ruang terbangun yang terjadi saat ini di kawasan pesisir Kota Manado membawa pengaruh besar bukan hanya pada bertumbuhnya perekonomian Kota Manado, peningkatan aktivitas masyarakat di kawasan pesisir, tapi juga membawa pengaruh terhadap lingkungan alam dan kelangsungan ekosistem kawasan pesisir. Penelitian ini dilakukan di sepanjang kawasan pesisir Kota Manado, dengan meliputi 5 (lima) kecamatan dan 21 (dua puluh satu) kelurahan yang termasuk dalam kawasan pesisir Kota Manado. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik dan kondisi fisik (alami dan buatan), dan sosial ekonomi pemanfaatan ruang terbangun kawasan pesisir Kota Manado, serta menganalisis kesesuaian antara kondisi eksisting pemanfaatan ruang terbangun kawasan pesisir Kota Manado dengan arahan perencanaan yang ada dalam RTRW Kota Manado 2010-2030. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui survey lapangan (wawancara dan dokumentasi), dan survey ke instansi terkait (permintaan data). Analisis dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa adanya ketidaksesuaian pemanfaatan ruang terbangun di kawasan pesisir Kota Manado antara arahan dalam RTRW Kota Manado 2010-2030 dengan kondisi eksisting di wilayah penelitian, antara lain: Permukiman di kawasan sempadan Pantai Malalayang, permukiman di kawasan sempadan Sungai Malalayang, Sario, dan Bailang, alih fungsi lahan perkebunan/pertanian menjadi lahan permukiman dan perdagangan/jasa, pertokoan dan Hotel yang dibangun membelakangi pantai di area reklamasi B on B (Boulevard on Bussiness), tumbuhnya permukiman kumuh di kawasan pesisir Kelurahan Bahu, Sindulang I, dan Sindulang II. Kata Kunci : Pemanfaatan ruang terbangun, Kawasan pesisir, RTRW
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIDAK TERKELOLANYA OBJEK WISATA PANTAI BATU PINAGUT BOLAANG MONGONDOW UTARA Datukramat, Hermawan Pratama; Kumurur, Veronika -; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Batu Pinagut terletak di Boroko Utara kecamatan Kaidipang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Pantai pasir putih yang indah terletak pada posisi yang strategis dalam kota, sudah termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata (KSP), beberapa fasilitas telah dibangun namun belum dilakukan pengelolaan lebih lanjut dari Pemerintah. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab dan menentukan faktor dominan yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara. Penelitian ini menggunakan metode  kuantitatif deskriptif yaitu dengan melakukan pengamatan dan pengambilan data dilapangan  dengan teknik survey atau observasi lapangan dan ditunjang wawancara dengan yang memiliki kepentingan. Setelah penyusunan data dilakukan analisis data menggunakan teknik analisis SWOT untuk menstrukturkan masalah dan mengetahui besarnya nilai dan bobot dari faktor-faktor penyebab yang diperoleh sehingga dapat diketahui pula faktor dominan yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diketahui empat faktor yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara yaitu belum disahkannya RIPPDA, pungutan masuk (retribusi) tidak diberlakukan, status kepemilikan lahan masih dimiliki warga, kurangnnya budaya sadar wisata masyarakat/pengunjung dan lemahnya promosi. Dengan menggunakan metode skoring  maka diketahui faktor dominan yang dominan adalah belum disahkannya RIPPDA.   Kata Kunci : Faktor Penyebab Tidak Terkelola, Objek Wisata Pantai, Batu Pinagut Bolmut

Page 1 of 1 | Total Record : 5