Articles
16 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2, No 4 (2016): Ruang"
:
16 Documents
clear
Kajian Terhadap Jalur Pedestrian di Koridor Jalan Letnan Sutopo, BSD City
Anna Rosaria Firdhiani;
Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (273.821 KB)
|
DOI: 10.14710/ruang.2.4.302-309
Saat ini telah dibangun jalur pedestrian di koridor Jalan Letnan Sutopo, BSD City. Namun jalur pedestrian tersebut tidak digunakan oleh masyarakat. Sehingga tujuan utama penelitian ini ialah mengidentifikasi pendapat masyarakat mengenai penyediaan jalur pedestrian pada koridor tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kuantitatif dengan alat analisis statistik deskriptif, didukung dengan penggunaan skala likert. Variabel penelitian ini ialah variabel kondisi fisik jalur pedestrian, standar jalur pedestrian, karakteristik masyarakat, pendapat masyarakat. Hasil dari penelitian ini ialah kondisi fisik jalur pedestrian telah sesuai dengan pedoman, namun untuk lebar jalur pedestrian belum sesuai, sedangkan jalur pejalan kaki berkebutuhan khusus serta ketersediaan elemen pendukung seperti pagar pembatas, sculpture belum tersedia. Mayoritas masyarakat yang pernah berjalan di jalur pedestrian tersebut ialah masyarakat usia produktif dengan tingkat pendidikan terakhir sarjana, pekerjaan mayoritas merupakan pegawai swasta, memiliki penghasilan kurang dari 3 juta rupiah tiap bulannya. Sedangkan pendapat masyarakat menjelaskan bahwa elemen pada seluruh aspek merupakan elemen yang perlu diperhatikan. Hal ini menjelaskan belum optimalnya aspek safety, security, convinience, continuity, system coherence, attractiveness pada jalur pedestrian Namun aspek yang paling utama harus diperbaiki ialah aspek security dan system coherence dengan dilakukannya penambahan lampu penerangan (92,4%), dan penambahan tempat sampah (90,2%) pada jalur pedestrian. Hal ini menjelaskan bahwa aspek security dan system coherence pada jalur pedestrian masih sangat minim.
Penurunan Kampung Melayu Sebagai Kawasan Cagar Budaya Kota Semarang
Anis Febbiyana;
Djoko Suwandono
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (173.654 KB)
|
DOI: 10.14710/ruang.2.4.341-348
Menurut Soetomo (2013:137), jalinan sejarah pembangunan kota diperlukan dalam proses pengembangan yang mengantar kepada kemajuan (modernisasi) peradaban ke peradapan, yang setiap peradapan tentu mempunyai hasil yang baik untuk masa akan datang atau peradaban baru (l’avenir du passé). Keberadaan bangunan kuno-bersejarah di masa lalu akan ikut memberikan identitas yang berbeda atau khas dari kawasan perkotaan di masa depan. Menurut UU No 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya, pengertian revitalisasi adalah upaya untuk meningkatkan nilai lahan atau kawasan melalui pembangunan kembali dalam suatu kawasan yang dapat meningkatkan fungsi kawasan sebelumnya.Kampung Melayu merupakan perkampungan multi-etnis yang berada dekat dengan Kota Lama. Berbagai budaya membaur dalam kehidupan sosial masyarakat yang beragam. Kampung Melayu mengalami gejala penurunan vitalitas namun belum mendapatkan perhatian dan penanganan yang khusus. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan penurunan vitalitas Kampung Melayu sebagai kawasan cagar budaya di Kota Semarang. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deduktif kualitatif rasionalistik.Berdasarkan analisis penelitian dengan kajian teori tentang penurunan vitalitas Kampung Melayu sebagai kawasan cagar budaya maka penelitian ini menyimpulkan bahwa penurunan vitalitas dibagi menjadi 3 yaitu penurunan vitalitas sosial budaya, penurunan vitalitas ekonomi dan penurunan vitalitas fisik. Hasil penelitian dilapangan, Kampung Melayu masih memiliki karakteristik kampung kota. Selain itu, Kampung Melayu merupakan sebagai kawasan cagar budaya yang memiliki bangunan lebih dari 50 tahun.
Arahan Konsep dan Strategi Pengembangan Kawasan Desa Wisata Nongkosawit Sebagai Destinasi Wisata Kota Semarang
Ernie Yuliati;
Djoko Suwandono
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (224.051 KB)
|
DOI: 10.14710/ruang.2.4.263-272
Sejak diresmikan oleh Walikota Semarang pada tahun 2012, Desa Wisata Nongkosawit belum mengalami perkembangan yang cukup signifikan yaitu masih banyak potensi-potensi alam yang belum tergali, belum terlihat adanya identitas dan kegiatan desa wisata yang menonjol. Selain itu, kurangnya promosi dan pemasaran yang dilakukan, serta minimnya informasi terkait Desa Wisata Nongkosawit berakibat pada tidak banyak orang atau masyarakat luas yang mengetahui bahwa di Kota Semarang ini memiliki beberapa desa wisata. Padahal Desa Wisata Nongkosawit dapat dikategorikan cukup prospektif untuk dikembangkan. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif dan analisis SWOT. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini konsep pengembangan dibagi menjadi dua, yaitu konsep secara spasial dan konsep secara non spasial. Dari hasil penilaian bobot dan scoring yang telah dilakukan pada tabel IFAS dan EFAS sebelumnya, dapat diperoleh hasil bahwa strategi SO (Strength-Opportunity) memiliki nilai skor tertinggi yaitu sebesar 3,686. Strategi ini kemudian dapat diartikan bahwa memanfaatkan kekuatan (S) secara maksimal untuk meraih peluang atau kesempatan (O) yang ada.
Sense of Place Masyarakat Kampung Kulitan dan Kampung Gandekan Kota Semarang
Annisa Amellia Purwanto;
Nurini Nurini
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (264.568 KB)
|
DOI: 10.14710/ruang.2.4.%p
Pembangunan modern di Kota Semarang menjadi salah satu ancaman terhadap eksistensi kampung-kampung bersejarah kota, seperti hilangnya Kampung Sekayu karena pembangunan Paragon Mall dan hilangnya Kampung Basahan karena pembangunan Hotel Gumaya Tower. Sama halnya dengan kampung bersejarah lainnya, Kampung Kulitan dan Kampung Gandekan juga terancam eksistensinya sebagai aset sejarah perkotaan karena mengalami perubahan fisik dan non fisik. Tahap pertama dalam upaya pelestarian adalah dengan mengkaji Kampung Kulitan dan Kampung Gandekan menggunakan teori Sense of Place untuk mengetahui keterikatan masyarakat terhadap Kampung Kulitan dan Kampung Gandekan yang nantinya melalui Sense of Place masyarakat tersebut dapat diketahui apakah kedua kampung bersejarah di Kota Semarang ini masih layak untuk dikonservasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dan pengumpulan data melalui kuesioner. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar masyarakat Kampung Kulitan memiliki kedalaman Sense of Place terikat sedangkan di Kampung Gandekan mayoritas memiliki kedalaman Sense of Place cukup terikat. Tingkat Sense of Place sebagian besar masyarakat di kedua Kampung berada pada level 3.
Pengaruh Kebijakan Pemerintah di Sektor Batik Terhadap Kesejahteraan Pelaku Industri Batik di Kota Pekalongan
Ricko Ardhian Hermanto;
Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (169.985 KB)
|
DOI: 10.14710/ruang.2.4.225-232
Pengembangan sektor industri batik menjadi salah satu fokus kebijakan pemerintah Kota Pekalongan dengan melihat besarnya potensi batik bagi perekonomian Kota Pekalongan. Industri batik di Kota Pekalongan sangat potensial untuk dikembangkan dimana total 70% produksi batik nasional dilakukan di Kota Pekalongan, batik merupakan kekuatan besar bagi perekonomian Kota Pekalongan, batik telah memberikan multiplier efek terhadap aktivitas ekonomi di Kota Pekalongan khususnya perdagangan, perindustrian, jasa, dan pariwisata. Aktivitas ekonomi tersebut merupakan sektor yang menjadi penyokong ekonomi Kota Pekalongan dan memiliki andil besar dalam kondisi kesejahteraan masyarakat Kota Pekalongan terutama para pelaku industri batik. Pengembangan sektor batik juga sangat didukung oleh city branding Kota Pekalongan sebagai World City of Batik dan berbagai event baik yang berskala nasional maupun internasional. Ditambah dengan keberadaan museum batik, pasar grosir batik dan ratusan outlet batik sebagai sarana pemasaran pendukung industri batik di Kota Pekalongan serta banyak industri batik juga tersebar di kampung-kampung batik di penjuru Kota Pekalongan dengan berbagai skala.Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana pengaruh kebijakan pemerintah di sektor batik terhadap kesejahteraan pelaku industri batik di Kota Pekalongan, metode yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis deskriftif berdasarkan hasil skoring dan frekuensi. Dari hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah Kota Pekalongan di sektor batik dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan sektor batik yang semakin meningkat dan juga dapat mempengaruhi kondisi kesejahteraan pelaku industri batik yang sebagian besar berada pada tingkat kesejahteraan sedang hingga tinggi.
Peluang Pertanian Holtikultura dan Tembakau sebagai Penunjang Aktivitas Ekonomi Masyarakat Kopeng, Kabupaten Semarang
Reny Yesiana;
Intan Muning Harjanti
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (200.489 KB)
|
DOI: 10.14710/ruang.2.4.349-357
Kopeng terletak di Kawasan Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Andong. Pada wilayah dataran tinggi, masyarakat cenderung untuk mengembangkan tanaman tembakau dan holtikultura. Berdasarkan data BPS tahun 2013, luas lahan yang digunakan untuk tanaman tembakau mencapai 86 Ha (20%) dengan hasil produksi sebesar 51 Ton/Ha (26%), sedangkan luas lahan holtikultura mencapai 281 Ha (66%) dengan hasil produksinya mencapai 155,7 Ton/Ha (72%). Walaupun terjadi pro dan kontra dalam pembudidayaan tembakau, namun tidak bisa dipungkiri bahwa tembakau juga memberikan kontribusi terhadap ekonomi masyarakat Kopeng. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peluang pengembangan budidaya tembakau dan hortikultura oleh masyarakat Kopeng. Alat analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling yang dilakukan secara acak karena masyarakat yang dijadikan responden memiliki karakteristik homogen yaitu sebagai petani. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 64 jiwa. Setelah dilakukan perhitungan penerimaan dan pengeluaran antara petani holtikultura dan tembakau diperoleh rata-rata pendapatan bersih yang diterima petani hortikultura lebih tinggi daripada tembakau. Kelebihan lain dari pertanian hortikultura adalah perputaran uangnya lebih cepat dan dapat dibudidayakan dengan sistem yang bervariasi (hidroponik maupun aeroponik) serta tidak memerlukan lahan khusus. Oleh karena itu, hasil dari kajian ini merekomendasikan bahwa komoditas holtikultura agar lebih banyak dikembangkan daripada tembakau.
Fasilitas Umum dan Lingkungan di Kelurahan Pakuncen, Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogyakarta
Any Fitrianingrum;
Nurini Nurini
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (154.873 KB)
|
DOI: 10.14710/ruang.2.4.273-282
Fenomena urbanisasi yang terjadi di kota-kota besar mengakibatkan jumlah penduduk perkotaan semakin meningkat. Terbatasnya luas lahan perkotaan berdampak pada penyediaan lahan permukiman bagi kaum urban. Dengan luas lahan perkotaan yang terbatas, sementara jumlah penduduk perkotaan semakin banyak akibat adanya urbanisasi, hal ini mengakibatkan munculnya kantong-kantong permukiman padat di tengah kota. Masyarakat urban yang dating memiliki berbagai latar belakang pengetahuan, persepsi, dan sikap terhadap lingkungan yang berbeda-beda. Dimana persepsi masyarakat yang terbentuk akan berhubungan dan berpengaruh terhadap lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana persepsi masyarakat dalam penggunaan dan pemanfaatan fasilitas umum dan lingkungan di Kelurahan Pakuncen, Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian persepsi masyarakat terhadap penggunaan dan pemanfaatan fasilitas umum dan lingkungan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan penghasilan seseorang. Hal ini dapat dilihat dari perepsi masyarakat RW 8,9,10,11 Kelurahan Pakuncen yang kurang peduli terhadap pemanfaatan dan penggunaan fasilitas umum dan lingkungan. Sikap kurang peduli ini ialah tidak menyediakan sistem sanitasi yang baik, penyediaan daerah resapan air yang kurang, kurangnya ruang terbuka hijau, hingga perilaku membuang sampah sembarangan kebantaran sungai Winongo. Perilaku masyarakat yang cenderung tidak peduli akan menghambat perwujudan lingkungan hunian yang dipilih.
Persepsi Masyarakat Terhadap Faktor-Faktor Penentu Pelestarian Bangunan Kuno Di Kampung Kauman Semarang
Diah Intan Kusumo Dewi;
Landung Esariti
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (134.269 KB)
|
DOI: 10.14710/ruang.2.4.319-323
Kampung Kauman merupakan kawasan yang memiliki perjalanan sejarah yang panjang, dengan tradisi yang kuat dan beragam yang terletak di Kecamatan Semarang Tengah. Kondisi Kampung Kauman memiliki cirri khusus berupa bangunan-bangunan kuno bercorak Melayu, Arab, Cina. Keberadaan bangunan bangunan yang memiliki nilai historis tersebut dapat menampilkan cerita visual dari suatu tempat/kawasan, yang mencerminkan perubahan-perubahan waktu, tatacara kehidupan dan budaya dari penduduknya. Kurangnya perhatian akan potensi nilai budaya, sejarah, ekonomi dan sosial mengakibatkan bangunan dan kawasan Kauman mengalami kerusakan bentuk ruang, pudarnya tradisi sosial budaya setempat, dan tidak produktif. Selain itu akan menjadi kendala bagi perkembangan pariwisata daerah, padahal Kawasan Kauman pernah berperan sebagai pusat komersial atau ekonomi dan pusat social budaya. Adapun hasil dari penelitian ini adalah biaya pemeliharaan bangunan kuno berasal dari dana pribadi pemilik bangunan kuno sendiri, sedangkan pemerintah kenyataannya tidak memberikan bantuan dana sepenuhnya. Tanpa adanya bantuan dan partisipasi dari pemerintah maka upaya revitalisasi akan menghambat partisipasi masyarakat yang akan menjadi penentu keberhasilan dari upaya revitalisasi Kawasan kauman Semarang.
Pengaruh Kegiatan Komersial Terhadap Morfologi Kawasan Pecinan Kota Semarang
Pranadya Galih Utama;
Nurini Nurini
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (221.943 KB)
|
DOI: 10.14710/ruang.2.4.233-242
Kawasan Pecinan Semarang merupakan area permukiman bagi masyarakat etnik Cina yang berada di Kota Semarang. Masyarakat etnik Cina sangat identik dengan penggunaan bangunan rumah-toko sebagai kegiatan komersial sekaligus tempat tinggal. Dari kegiatan komersial yang terdapat pada kawasan Pecinan sendiri akan menimbulkan perubahan morfologi kawasan Pecinan sendiri, yang dapat dilihat dari sistem jalan penggunaan lahan, dan tipe bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kegiatan komersial yang menggunakan bangunan permanen di kawasan Pecinan terhadap morfologi kawasan Pecinan berupa penggunaan lahan, pola jalan, dan tipe bangunan. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan dengan mendeskripsikan kronologi perkembangan aktivitas komersial di kawasan Pecinan, dan bagaimana pengaruh terhadap morfologi kawasan Pecinan dilihat dari fisik kawasan yaitu penggunaan lahan, pola jalan, dan tipe bangunan. Hasil yang diperoleh dari penelitian tentang pengaruh kegiatan komersial yang menggunakan bangunan permanen di kawasan Pecinan terhadap morfologi kawasan Pecinan yaitu perubahan penggunaan lahan berbanding lurus dengan perubahan tipe bangunan yang dipengaruhi oleh kegiatan komersial yang menggunakan bangunan permanen dan peningkatan aktivitas komersial di kawasan Pecinan. Pola jalan hanya dipengaruhi dalam segi fisik jalan dengan masalah kemacetan yang ditimbulkan akibat kegiatan komersial yang menggunakan bangunan permanen di kawasan Pecinan.
Tingkat Pelestarian Kawasan Bersejarah Benteng Willem I Ambarawa
Intan Muning Harjanti
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (308.799 KB)
|
DOI: 10.14710/ruang.2.4.%p
Kecamatan Ambarawa merupakan salah satu daerah di Kabupaten Semarang yang memiliki beberapa situs bersejarah, salah satunya adalah Kawasan Benteng Willem I. Kawasan bersejarah ini memiliki nilai keunikan tersendiri baik dari bentuk bangunan maupun sejarahnya. Dalam perkembangannya hingga saat ini, beberapa bangunan di Kawasan Benteng Willem I difungsikan sebagai Lapas dan asrama yang kepemilikan dan pengelolaannya ada pada TNI Angkatan Darat. Namun, kondisi faktual yang ada, semakin lama nilai sejarah yang ada di Kawasan ini semakin memudar. Hal ini dikarenakan belum adanya peraturan dan kebijakan khusus dari Pemerintah setempat untuk melestarikan kawasan bersejarah Benteng Willem I. Oleh karena itu perlu adanya kajian mengenai tingkat pelestarian kawasan bersejarah di Kawasan Benteng Willem I Ambarawa sebagai upaya pelestarian cagar budaya di Jawa Tengah khususnya di Ambarawa, Kabupaten Semarang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu berdasarkan analisis dari data yang didapat dan berdasarkan teori pelestarian kawasan bersejarah. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan telaah dokumen. Hasil kajian dari penelitian ini menerangkan bahwa Kawasan Benteng Willem I Ambarawa ini layak untuk dilestarikan. Hal ini dapat dilihat dari estetika bangunan yang eksotik dengan arsitekural kolonial yang belum banyak perubahan serta peranan sejarah yang ada didalamnya.