cover
Contact Name
Gema
Contact Email
gemarullyana@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaledulib@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Edulib
ISSN : 20896549     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Edulib, practitioners in the field of LIS focuses on the main problems in the development of the information science, documentation science, library science, archieve, librarianship, and ICT in Library. It covers the theoretical and general aspects of Institutional management of information, information and libraries, libraries and communities in the 3.0 Era, libraries in all areas of education (formal, informal, informal), entrepreneurship information services, social librarianship, child and youth librarianship, curriculum and learning libraries, information literacy in all aspects of life, information society, and digital archives.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2012)" : 8 Documents clear
SISTEM LAYANAN INFORMASI DI PERPUSTAKAAN PADA ABAD KE-21 -, Damayanty
Edulib Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edulib.v2i1.2262

Abstract

AbstrakPesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad ke-21 yang menimbulkan banjirnya informasi telah menyebabkan perubahan-perubahan dalam segala aspek yang berkaitan dengan informasi, mulai dari jenis dan bentuk sumber informasi, teknik pengelolaan informasi, serta kebutuhan dan kelompok pengguna informasi.Perpustakaan sebagai salah satu lembaga yang bertugas mengelola informasi mengalami perubahan paradigma. Paradigma baru perpustakaan yaitu perpustakaan adalah sesuatu yang hidup, dinamis, segar menawarkan hal-hal yang baru, produk layanannya inovatif, dan dikemas sedemikian rupa, sehingga apa yang ditawarkan oleh perpustakaan akan menjadi atraktif, interaktif, edukatif, dan rekreatif bagi pengunjungnya. Untuk mendukung terciptanya layanan prima yang sesuai dengan tuntutan paradigma baru perpustakaan, kepuasan pengguna harus tetap menjadi target layanan. Agar tujuan tersebut dapat tercapai maka penerapan manajemen modern dalam pengelolaan perpustakaan menjadi suatu kebutuhan. Wujud manajemen modern dalam pengelolaan perpustakaan kini diantaranya adalah konsep ‘information commons’/ informasi umum dan Perpustakaan 2.0 (library 2.0). Kedua konsep tersebut berupa sistem layanan perpustakaan yang melibatkan partisipasi pengguna/ user centered, serta memanfaatkan bantuan teknologi informasi dan komunikasi. Kata Kunci : Perpustakaan, Sistem Layanan informasi, paradigma baru AbstractThe rapid development of science and technology in the 21st century which leads to the rapid flow of information has brought some changes to every aspect related to information, from type and form of information, information process technique, to the needs and groups of users. Library as an institution that is in charge for managing information has undergone change of paradigm. The new paradigm is more lively, dynamic, fresh and offers new things, innovative service product which is packed in such a way that anything offered by the library will be attractive, interactive, educative, and recreational for its users. In order to support the realization of excellent service which conforms to the demand of the new paradigm, users satisfaction should remain become the target of servicing. To achieve the goal, the application of modern management in managing a library is necessary. This is manifested through the concept of information commons and library 2.0. Both concepts are applied in the library service system which involves users participation (user centered) and utilize assistance from information and communication technology. Keywords: library, information service system, new paradigm
SERTIFIKASI DAN LISENSI TENAGA PERPUSTAKAAN SEKOLAH/ MADRASAH Komaruddin, Yooke Tjuparmah S; Susilana, Rudi
Edulib Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edulib.v2i1.2258

Abstract

Abstrak   Sertifikasi dan lisensi tenaga perpustakaan sekolah/ madrasah (TP-SM) merupakan dokumen yang menandakan pengakuan bahwa seseorang memiliki kewenangan untuk melaksanakan tugas sebagai tenaga pengelola perpustakaan di lembaga pendidikan (sekolah dan madrasah) secara profesional. Sertifikasi dan lisensi hanya diberikan kepada seseorang yang telah memenuhi persyaratan kualifikasi dan penguasaan tentang  standar kompetensi tenaga perpustakaan sekolah sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Permendiknas Nomor 25 Tahun 2008. Penguasaan tentang standar kompetensi tersebut merupakan dasar dan pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga perpustakaan dan pendidikan profesi pustakawan untuk menerbitkan sertifikasi kompetensi dan pemberian lisensi tenaga perpustakaan dan pustakawan. Proporsi yang sangat rendah tentang keberadaan pustakawan dan/atau tenaga pengelola perpustakaan tentulah menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak, baik bagi pemerintah (Direktorat terkait di Kemdiknas dan Kemenag),  Perpusnas, perguruan tinggi pengelola program studi perpustakaan, dan asosiasi profesi. Hal ini terkait dengan kepemilikan perpustakaan dan tenaga pengelola perpustakaan di sekolah/ madrasah yang harus dapat terpenuhi selambat-lambatnya pada Juni 2013 atau 5 (lima) tahun setelah peraturan tentang hal tersebut ditetapkan.Permasalahannya adalah (1) Apakah semua tenaga perpustakaan sekolah yang ada saat ini sudah profesional?; (2) Kualifikasi dan kompetensi apa yang dibutuhkan agar mereka dapat menjadi profesional?; (3) Apa bukti yang menunjukkan bahwa mereka memiliki kewenangan sebagai tenaga perpustakaan yang profesional?; (4) Pendidikan atau pelatihan yang bagaimana yang dibutuhkan agar dapat mempersiapkan dan mengembangkan seseorang menjadi tenaga perpustakaan yang profesional? (5) Bagaimana kesiapan Perguruan Tinggi untuk mempersiapkan Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah ini? Jawabannya tentu perlu dikaji secara teoritik dan empirik. Sebagai bahan diskusi pertanyaan (1) dan (2) akan dijawab dengan paparan pada bagian B, pertanyaan (3) dan (4) akan dijawab melalui paparan pada bagian C, sedangkan pertanyaan ke (5) akan dijawab melalui paparan bagian D, dengan ilustrasi memaparkan Program Studi Perpustakaan dan Informasi, Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia. Sertifikasi dan lisensi tenaga perpustakaan akan menghasilkan tenaga yang profesional apabila melibatkan berbagai unsur sebagai berikut, yaitu: perguruan tinggi penyelenggara disiplin ilmu perpustakaan, lembaga yang mengelola perpustakaan (Perpusnas), lembaga yang mengelola tenaga perpustakaan (Kemdiknas) dan asosiasi profesi perpustakaan. Kata Kunci:  Pustakawan,  Tenaga Pengelola Perpustakaan, Sertifikasi, Lisensi, Perpustakaan Sekolah/Madrasah, Pendidikan Pustakawan Abstract           Certification and license of school librarian/ Madrasah librarian (Tenaga Pustakawan-Sekolah/Madrasah - TPSM) refers to a document admitting that an individual has a right to execute a task assuming the responsibility to manage a library at an educational institution (school or Madrasah) professionally. The certification and the license are issued to individuals who have met some qualification as required so as to describe a mastery in a standardized competencies owned by school librarians as enacted by Permendiknas No.25/2008 (an Act of the Ministry of Education and Culture). The mastery of the aforementioned competencies serves as basics and principles in operationally running education and training for librarians and professional librarian education prior to the issuances of competency certification and license for assistant librarians and librarians. Less than adequate proportion of the existence of librarians remains a big task to be done by all parties including the Government  (directorates, Kemendikbud (Ministry of Education and Culture), and Ministry of Religion), Perpusnas (National Library of Indonesia), universities running the programs of library schools, and profession associations. It brings with it some concerns with services libraries and their librarians have to provide. According to the Permendiknas, by June 2013 (five years after the issuance of the Act) schools and Madrasah have to equipped themselves with libraries managed by librarians. Problems arise once concerns on providing library services have to be working: (1) Are all school/Madrasah librarians on duty professional in category?, (2) What qualifications and competencies should the librarians have to be professional?, (3) What could be the proof that the librarians have every right to work as professionals?, (4) What kind of education and training do the librarians need to undergo to have a good command of managing library collections professionally?, (5) How prepared are higher education institutions in training librarians to have adequate competencies in managing libraries? Answers to the queries need to be explored both theoretically and empirically through a study. To initiate a discussion, questions (1) and (2) will be entertained through explanation in Part B; questions (3) and (4) will be entertained through explanation in Part C while questions (5) will be entertained through explanation in Part D with an illustration of Library and Information Studies-Department of Curriculum and Educational Technology-Faculty of Education-UPI (Universitas Pendidikan Indonesia-Indonesia University of Education). Certification and license for school librarians will work the excellent way to produce professionals in librarianship if the  elements involved in the program are promising enough in terms of qualifications. Those to be involved include universities running the programs of library studies, institutions with the power of managing libraries nationwide including Perpusnas, institutions which concern in establishing libraries (Kemendikbud), and profession associations in librarianship.Key words: librarian, library managers, certification, license, school/Madrasah libraries, training for librarians.
Peran Perpustakaan dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Secara Mandiri di Perguruan Tinggi Hanoum, R. Nadia
Edulib Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edulib.v2i1.2264

Abstract

AbstrakTujuan akhir dan utama dari pembelajaran bahasa adalah kemampuan pembelajar bahasa untuk menggunakan bahasa yang dipelajari. Namun sayangnya lembaga pendidikan formal selama ini terpaku pada pendekatan-pendekatan tradisional yang lebih banyak memberikan penekanan pada struktur bahasa dan bukan pada bagaimana menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Selain karena faktor ukuran kelas yang besar yang tidak ideal untuk pembelajaran bahasa, hal ini juga dipicu oleh terbatasnya waktu tatap muka di kelas yang tidak memungkinkan terjadinya suatu proses pembelajaran bahasa yang efektif. Di tingkat perguruan tinggi dimana seorang peserta didik dituntut untuk lebih mandiri, permasalahan ini seharusnya dapat diatasi dengan meningkatkan peran dan layanan perpustakaan yang mendukung terlaksananya proses pembelajaran bahasa Inggris secara mandiri. Perpustakaan yang dapat menjalankan fungsinya dengan baik akan mampu menciptakan suasana pembelajaran mandiri yang dapat menunjang pembelajaran tatap muka di kelas. Selain itu, keberadaan sebuah Self Access Center (SAC), yaitu sebuah sarana belajar bahasa mandiri yang menungkinkan pengguna untuk belajar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya akan mampu secara signifikan meningkatkan minat dan motivasi mahasiswa untuk belajar secara mandiri sehingga tujuan pembelajaran bahasa Inggris dapat tercapai. Kata Kunci: perpustakaan, pembelajaran bahasa Inggris, belajar mandiri, Self Access Center AbstractThe ultimate goal of learning English is the ability to use the target language. Unfortunately, formal education tends to use tradisional approach which focuses more on the language form instead of language use. This is triggered not only by the large class size but also by the limited time allocated for learning process in the class. In tertiary level where students are expected to be more independent in their learning, this problem should have been able to be solved by increasing the role and service of university library which supports self-directed independent learning. Library which can fulfill its functions well will be able to create the athmosphere of independent learning that assist learning process in the class. In addition, the establishment of a Self Access Center (SAC) in the library which enable students to learn according to their own needs and abilities will significantly increase students’ interest and motivation to learn independently so that the goal of learning English can be accomplished. Keywords: library, English learning, self-directed independent learning, Self Access Center  
PERAN PUSTAKAWAN MENYUDAHI PLAGIARISME Rusmono, Doddy; Rosinar, Euis
Edulib Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edulib.v2i1.2259

Abstract

AbstrakPlagiarisme secara “tak sengaja” bisa  terjadi hanya karena “lupa” menyitat. Isi sebuah paragraf bisa tampil sama sekali berbeda dalam hal penggunaan kata tetapi masih bermakna sama (stylish plagiarism) untuk mengantarkan seseorang masuk ke kategori plagiaris. Pada peradaban kuno Yunani, banyak master piece dijiplak begitu saja tanpa sanksi berarti. Di daratan Eropa pada tahun 1601 dikenal isitilah plagiarius yang dijulukkan kepada kegiatan melakukan praktik plagiarisme. Sementara sekarang, 412 tahun kemudian, di kalangan Mahasiswa sangat populer istilah “kopas” atau kopi paste (copy and paste) untuk menyiasati menumpuknya tugas dari Dosen untuk mata kuliah tertentu. Terlepas dari ancaman hukuman yang diberlakukan, plagiarism tetap terus berkibar. Sebesar 40% staf pengajar di Jerman terlibat skandal plagiarism. Sebesar 70% Mahasiswa di Amerika Serikat menjiplak karya orang lain untuk penyelesaian tugas-tugas (THA –Take Home Assignment) yang sarat dibebankan Dosen. Karena ada kesamaan antara plagiarisme dengan korupsi, maka harus ada pemberantasannya. Salah satu garda terdepan yang handal untuk menyudahi praktik plagiarism adalah Pustakawan. Sebagai professional, Pustakawan mengagungkan nilai kejujuran (academic honesty). Pustakawan sudah saatnya diberi peran yang lebih dari porsi yang sekarang didapat. Berkeahlian didalam literasi informasi melalui liaison, Pustakawan perlu diberi peran yang strategis agar dapat membantu staf pengajar dalam menyediakan segala bentuk sumber informasi melalui web dan menyediakan software pendeteksi plagiarisme untuk meneliti keaslian karya tulis ilmiah Mahasiswa yang ditengarai sebagai bukan hasil karya sendiri. Peran baru Pustakawan di era keterbukaan informasi dan perkembangan teknologi dimana informasi tersedia dengan bebas di dunia maya dan dengan mudah di”kopas”, sudah selayaknya diberikan oleh pihak universitas. Pustakawan sebagai pemeran yang berdiri di garda terdepan dalam penyediaan dan pelayanan jasa informasi dapat bersumbangsih besar didalam dunia akademik karena Pustakawan adalah kaum profesional yang berdiri netral dan tidak pernah mempunyai kepentingan apapun selain memberikan pengabdian yang terbaik dalam dunia pendidikan, yang salah satunya, dengan turut serta aktif dalam menyudahi plagiarism dalam segala bentuk dan gayanya. Kata Kunci : Plagiarism, Mahasiswa, Pustakawan, Kejujuran. Abstract                    Plagiarism done “unintentionally” might take place because of “being unaware” to cite. Content of a paragraph can be perfectly different in terms of the wording used yet still remains the same in meaning (stylish plagiarism) to lead someone to a category of a plagiarist. In the era of ancient Greece, there were a bunch of Master Piece being plagiarized without any significant sanctions. Throughout Europe in the year of 1601 was spread out a term of plagiarius  labeled to a practice of plagiarism. Today, though, 412 years afterwards, students are familiarized with the term “kopas” or kopi paste (copy and paste) to ameliorate abundant of take-home assignments (THA) to be written by the instruction of lecturers from certain courses. Aside from the penalty imposed, plagiarism  flourishes. As much as 40 percent faculty members in Germany were involved in the scandal of plagiarism.  Even more impressive was some facts that 70% students in the United States of America copy someone else’s work to produce THAs as required by faculty members. For the reason that plagiarism is considered equal to corruption to some extent, an act of elimination must be taken. One of the frontiers in terms of eliminating the plagiarism is librarians. As professionals, librarians hold in high esteem a value of academic honesty. It is high time the librarians were given a chance to play the role more that they have been holding. Being expert in the field of information literacy through a liaison mode, librarians should be awarded strategic roles to empower them to assist faculty in providing various kinds of information sources through the Web and software available. This, will in turn enable a team in working harmoniously to detect plagiarism and examine students’ work giving signals of acclaiming someone else’s work. A new role in the era of openness of information and the advancement of technology where information is freely accessed copied in today’s virtual world is given by schools and departments. Librarians who stand in the frontlines in giving services of information will remain neutral in terms of judging swerves which may take place in work produced by students or any other prospectus writers. Librarians would have no other interest but giving their best concerns in education, which, one of them is getting involved actively in bringing plagiarism to an end in its various styles and forms.          Key words: librarian, honesty, information, work, plagiarism.
SURAT PUSTAKAWAN DARI NEDERLAND A-Kwoei, Tjen
Edulib Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edulib.v2i1.2266

Abstract

-
KOMUNIKASI DIFABEL MELALUI BUKU BACAAN BAGI ANAK-ANAK Hafiar, Hanny
Edulib Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edulib.v2i1.2260

Abstract

Abstrak                   Kaum difabel merupakan subkultur yang masih mengalami marginalisasi. Terdapat banyak hak dari kaum difabel yang belum terpenuhi. Marginalisasi terhadap kaum difabel dapat disebabkan adanya stigmatisasi terhadap kemampuan mereka. Stigmatisasi terhadap difabel, dipicu oleh adanya sebagian besar masyarakat yang masih menganut model tradisional. Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai realitas kaum difabel disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai dunia kaum difabel yang sebenarnya. Kurangnya pengetahuan masyarakat ini, salah satunya disebabkan minimnya literasi mengenai kaum difabel yang dapat diakses masyarakat. Oleh karena itu, penting kiranya, untuk menyediakan literasi mengenai kaum difabel bagi masyarakat, misalnya melalui penerbitan buku bacaan. Setiap stereotip yang ada dan berkembang di masyarakat, bukan lah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, namun berproses dan dapat disebarkan secara turun temurun. Untuk itu, dalam upaya meningkatkan pemahaman mengenai realitas kaum difabel dalam masyarakat, perlu dilakukan pengenalan dunia kaum difabel terhadap anak usia dini melalui berbagai jenis bacaan anak-anak. Apabila sejak dini anak-anak Indonesia sudah mengenal dan mulai memahami dunia kaum difabel, maka diharapkan anak-anak tersebut kelak menjadi individu-individu yang mampu mengapresiasi eksistensi dan kompetensi yang dimiliki oleh kaum difabel. Dengan demikian, lambat laun, stigmatisasi terhadap kaum difabel yang ada dalam masyarakat sekarang ini dapat terkoreksi secara bertahap. sehingga masyarakat Indonesia, mampu menjadi masyarakat yang inklusif bagi kaum difabel. Kata Kunci: Difabel, Komunikasi, Buku, Anak-Anak. Abstract                    Disabled people are a subculture that is still experiencing marginalization. There are many human rights belonging to the disabled people who have not yet been met. Marginalization of the disabled people is due to the stigmatization of their disabilities. Stigmatization of the disabled people is triggered by the condition of most people whom still believe traditional model. Lack of public awareness about the reality of the disabled people is caused by the lack of knowledge regarding the actual world of the disabled people. Lack of knowledge from the societies, is due to the lack of literacy reference related to the disabled people which can be accessed by the public. Therefore, it is important to provide literacy to the general society about disabled people, for example through the publication of books. Stereotypes that exist and also flourish in society, is not a phenomenon that appears instantly, but rather a process, and can be propagated from generation to generation. Therefore, as an effort to increase comprehension and knowledge related to the actual life of the disabled people within the society, an acknowledgement towards the reality of the disabled people. Such activity should be employed during early childhood age of children through various types of children's literature. If Indonesian children in their early age’s children are aware of and begun to understand the world of the disabled, it is expected that these children would become individuals whom have the ability to appreciate the existence and the limited competence of the disabled people. Thus, gradually, stigmatization of the disabled people in the society today can be gradually corrected. So that Indonesian people, would become an inclusive society for the disabled. Keywords: Disabled, Communication, Children, Books. 
PENTINGNYA PERPUSTAKAAN MAYA GUNA MENDUKUNG KEBERHASILAN PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Sembiring, Darwis
Edulib Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edulib.v2i1.2267

Abstract

AbstrakProses pembelajaran di sekolah kini mengalami perubahan yang signifikan. Murid-murid selama ini diposisikan sebagai objek kini berubah menjadi subjek. Paradigma mengajar (teaching) yang pada masa lalu hendaknya diubah menjadi paradigma belajar (learning). Dengan adanya perubahan paradigma itu maka seyogianya peserta didik tidak lagi disebut siswa (pupil) tetapi pembelajar (learner). Konsekuensinya adalah pembelajar harus aktif belajar sendiri dengan menggunakan berbagai sumber. Perpustakaan  merupakan salah satu sumber belajar yang seharusnya bisa menjadi andalan dalam proses belajar tersebut. Oleh karena itu fungsi perpustakaan pun seharusnya  mengalami perubahan yang signifikan ; awalnya didudukkan sebagai penunjang (supportive services), kini seyogianya berubah menjadi mitra (partner). Adanya perubahan peran perpustakaan tersebut, keberadaan  perpustakaan maya tentunya sangat vital, karena mempunyai kelebihan dalam hal kebaruan, fasilitas sharing, efisiensi, dan dapat diakses setiap saat. Keberadaan perpustakaan maya diperkirakan sangat efektif karena murid-murid SMK rata-rata akrab dengan teknologi informasi. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran adalah : diskusi online terhadap suatu kasus yang melibatkan beberapa SMK, pembahasan kasus atau topik menarik oleh guru di forum, pengerjaan tugas-tugas yang materinya didapat melalui perpustakaan virtual berbasis web, kegiatan ekstrakurikuler yang berhubungan dengan pembelajaran, dan mengadakan event-event pendidikan tertentu yang berhubungan dengan perpustakaan virtual berbasis web. Dalam pengoperasian   perpustakaan maya diharapkan dapat kerja sama dengan SMK-SMK, ICT Centre, PPPPTK/LPMP, Badan Sertifikasi, perpustakaan konvensional, industri/dunia usaha. Kata kunci : Pembelajaran, Perpustakaan Maya, Sekolah Menengah Kejuruan. Abstract                Learning process at schools today experiences a significant change. Students bearing the role as a n object have changed into a subject of learning. A teaching paradigm as previously practiced should now be changed into a learning paradigm. This phenomenon brings with it a change in paradigm and thus leads to the shifting of role from pupils to learners. Consequently, learners should make every effort to actively adopt a learning style of independence in that making use of various kinds of information mostly by themselves takes place. In this sense, library serves to be a learning facility giving support to the learning process. Therefore, library functions should also be changed significantly: from providing supportive services to a partner. The change in a role played by library makes it possible for the services given through a virtual library to develop its importance. Part of the reason is that there works newness in sharing facilities, efficiency, and accessible any time. The existence of a virtual library proves to be effective because vocational school students in average are familiar with information technology. Activities worth doing in the process of learning include online discussion on a case involving several vocational schools, discussion on a case or an interesting topic with a teacher in a forum, doing tasks from which materials are generated from a Web-based virtual library, any extra-curricular activities having to do with learning, and holding events on education relating to web-based virtual library. In running the services of the virtual library, collaboration with SMK (Sekolah Menengah Kejuruan -Vocational Schools), ICT Centers, PPPTK/LPMP, Certification Institution, conventional libraries, and  industries/business world is expected.             Key words: learning, virtual lilbrary, Sekolah Menengah Kejuruan                                 (SMK – Vocational    Schools)        
IMPLEMENTASI PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU ISO 9001 : 2008 DI PERPUSTAKAAN UPI BANDUNG IMPLEMENTASI PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU ISO 9001 : 2008 DI PERPUSTAKAAN UPI BANDUNG Bahtiar, Herli
Edulib Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edulib.v2i1.2261

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana penerapan  dari Implementasi SMM ISO 9001:2008 di Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. inti permasalahan dari penelitian ini adalah bagaimana proses dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan Implementasi ISO 9001 : 2008 yang diterapkan di perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia, Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan analisis kualitatif, teknik pengumpulan data menggunakan metode pengamatan lapangan (Observasi), wawancara dan studi kepustakaan /literatur-literatur.berdasarkan dari hasil penelitian ini diperoleh gambaran mengenai bagaimana proses Imoplementasi ISO 9001 :2008 diterapkan pada perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia dari mulai perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasannya. Kata Kunci: Penerapan ISO 9001:2008; Manajemen Mutu; PerpustakaanAbstract   This research aimed to study how far the implementation of SMM ISO 9001:2008 has gone in the library of Indonesia State University (UPI) Bandung. The problem of this research is how the process of planning, organizing, implementing and controlling of ISO 9001:2008 Implementation is conducted in the library of Indonesia State University. This research used descriptive method with qualitative analysis and the data collected by using field observation method, interview and library study.  The result of this research gives description on how the process of ISO 9001:2008 Implementation was conducted in the library of Indonesia State University, starting from planning to organizing, implementing and controlling. Keywords: ISO 9001:2008 implementation, quality management, library 

Page 1 of 1 | Total Record : 8