cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2014)" : 6 Documents clear
Rekayasa Pupuk Organik dan Pengaruhnya terhadap Potensi Hasil Tanaman Jagung Hibrida (Zea mays L.) Rohana Abdullah
Jurnal Agro Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/80

Abstract

Penelitian rekayasa pupuk organik dan pengaruhnya terhadap potensi hasil tanaman jagung hibrida (Zea mays L.) telah dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Univesitas Padjadjaran sejak Desember 2013 sampai akhir Februari 2014, bertujuan untuk mengetahui pengaruh formula pupuk organik dan dosis terhadap potensi hasil tanaman jagung hibrida. Rancangan percobaan adalah Rancangan Acak kelompok dengan satu faktor perlakuan, yaitu formula pupuk organik A 4 t ha-1(kompos: jerami 30%, kasmur 10%, limbah buah nenas 20%, kohe sapi 20%, kohe kelinci 20%; 21 kg SP-36+ 4,5 kg KCl 60% t kompos-1). B 5 t ha- 1(kompos: jerami 40%, kasmur 10%, limbah buah nenas 10%, kohe sapi 30%, kohe kelinci 10%; 26 kg SP-36+ 5,5 kg KCl 60% t-1kompos)., C 5 t ha-1 (kompos: jerami 20%, kasmur 10%, limbah buah nenas 0%, kohe sapi 50%, kohe kelinci 20%; 30 kg SP-36+ KCl 60% 6,0 kg.). , D 4 t ha-1(kompos: jerami 20%, kasmur 10%, limbah buah nenas 10%, kohe sapi 60%, kohe kelinci  0%; 30 kg  SP-36 + 8,5 kg t-1 KCl 60%).E 5 t ha-1(kompos: jerami 50%, kasmur 0%, limbah buah nenas 0%, kohe sapi 50%, kohe kelinci 0%; 32 kg SP-36+ 7 kg KCl 60% t kompos-1), dan kontrol [K (tanpa formula pupuk organik)]. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua formula pupuk organik berpotensi meningkatkan bobot biomassa kering oven, bobot pipilan kering plot dan potensi hasil tanaman jagung per hektar. Formula E 5 t ha-1 berpotensi memberi hasil maksimum  10 t ha-1. Research about organic fertilizers formulation and its effect on maize yield potency was conducted at experimental field located in Universitas Padjadjaran, Jatinangor Sumedang, West Java, since December 2013 until Februari 2014. The experiment was aimed to determine the effect of organic fertilizers formulas to maize yield potency, which was arranged using a randomized block design and repeated six times with six treatment factors A 4 t ha-1(compost of: straw  30%, spent muschroom substrate  10%, pineapple waste 20%, cow dung 20%, rabbit droppings 20%; 21 kg SP-36+ 4,5 kg KCl 60% t compost-1). B 5 t ha- 1(compost of: straw 40%, spent muschroom substrate  10%, pineapple waste10%, cow dung 30%, rabbit droppings 10%; 26 kg SP-36+ 5,5 kg KCl 60% t-1compost-1)., C 5 t ha-1 (compost of: straw 20%, spent muschroom substrate  10%, pineapple waste%, cow dung 50%, rabbit droppings 20%; 30 kg SP-36+ KCl 60% 6,0 kgt compost-1), D 4 t ha-1(compost of: straw 20%, kasmur 10%, pineapple waste 10%, cow dung 60%, rabbit droppings 0%; 30 kg  SP-36 + 8,5 kg t-1 KCl 60%t compost-1).E 5 t ha-1(compost of: straw 50%, spent muschroom substrate  0%, pineapple waste 0%, cow dung 50%, rabbit droppings 0%; 32 kg SP-36+ 7 kg KCl 60% t compost-1), dan control [K (withouthorganic fertilizer formula)]. The result indicated that organic fertilizer formulas increased dry matter weight, seed dry weight per plot and potential yield per hectare. Organic fertilizer formulas E5 t ha-1 potentiallygave the maximum yield of 10 t ha-1.
Uji Kualitas Ubi Beberapa Klon Kentang Hasil Persilangan untuk Bahan Baku Keripik Helmi Kurniawan; Tarkus Suganda
Jurnal Agro Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/79

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji kualitas ubi beberapa klon kentang hasil persilangan sebagai bahan baku keripik. Penelitian dilakukan mulai Bulan Mei sampai Bulan Juli 2013 di Laboratorium Pasca Panen Balai Penelitian Tanaman Sayuran.Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji terdiri dari 6 klon hasil persilangan dan 3 varietas pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan klon kentang memberikan pengaruh terhadap warna, rasa, kerenyahan, dan penampilan keripik yang dihasilkan dan klon kentang terbaik yang memenuhi persyaratan kualitas sebagai bahan baku keripik kentang adalah klon AR 08.The objective of the research was to determine the quality of potato clones derived fromcrossing for potato chips. The research was conducted from May to July 2013 in Postharvest Laboratory of Research Institute for Vegetables, and arranged in a completely randomized design with tree replications. Quality test of 6 clones derived from crossing and 3 varieties control. The results showed that the difference in potato clones give effect to the color, taste, crispyness, and the appearance of the resulting chips and potato clones that best meet the quality requirements for potato chips was cloned AR 08.UJI KUALITAS UBI BEBERAPA KLON KENTANG HASIL PERSILANGAN UNTUK BAHAN BAKU KERIPIK
Analisis Potensi Kerusakan Tanah untuk Produksi Ubi Kayu (Manihot utilisima) pada Lahan Kering di Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang Budy Frasetya Taufik Qurrohman; Abraham Suriadikusuma; Rachmat Haryanto
Jurnal Agro Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/78

Abstract

Penggunaan lahan kering untuk produksi ubi kayu secara intensif tanpa menerapkan teknik budidaya ubi kayu secara lestari dan berkelanjutan di Kecamatan Tanjungsiang berpotensi menyebabkan kerusakan tanah. Penetapan Potensi Kerusakan Tanah dan Status Kerusakan Tanah telah diatur oleh pemerintah pusat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 150 Tahun 2000, Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tahun 2006 Tentang Tata Cara Pengukuran Kriteria Baku Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa. Metode penelitian yang digunakan adalah survei deskriptif dengan tahapan penetapan peta potensi kerusakan tanah hasil overlay peta tematik dan penetapan status kerusakan tanah menggunakan metode matching dan skor frekuensi relatif. Hasil penelitian diperoleh luas lahan kering di Kecamatan Tanjungsiang yang berpotensi rusak sedang 846,07 hektar dan potensi kerusakan tinggi 431,86 hektar setelah dilakukan survei dan analisis laboratorium contoh tanah pada lokasi tersebut diperoleh hasil bahwa Status Kerusakan Tanah pada lokasi dengan potensi kerusakan sedang dan tinggi termasuk kategori Rusak Ringan (R.I) dengan nilai skor frekuensi relatif masing-masing 8. Luas wilayah yang termasuk rusak ringan 1.277,93 hektar (19,02%) parameter yang termasuk Rusak Berat yaitu Kecepatan Infiltrasi dan Potensial Redoks, sedangkan parameter lainnya termasuk kategori Tidak Rusak (N). Intensively land use of dry land for cassava productions without applying sustainable and sustained cassava farming technique in District Tanjungsiang potentially causes soil degradation. Determination of soil potential degradation and soil degradation status has been set by the central government through Government Regulation No. 150 year 2000, Regulation of the Minister of Environment in year 2006 on the Procedures for Measuring Soil degradation Standard Criteria for Biomass Production. The research method used was a descriptive survey with a stage-setting soil potential degradation by overlay thematic maps and the determination of the status of soil degradation using matching methods and relative frequency score. Results obtained in the dry land area of the District Tanjungsiang potentially medium degradation 846,07 hectares and 431,86 hectares of high potential degradation after survey and laboratory analysis of soil samples at the site that results obtained degradation status of land on the location of the degradation potential  to medium and high soil degradation categorized light (R.I) with a score relative frequency of each 8. Total area that included minor damage 1277,93 hectares (19,02%), parameters included Heavy Damage namely Infiltration Rate and Redox Potential, while the other parameters included on Not Damaged (N) category.
Komposisi Gulma pada Berbagai Jarak Tanam Padi Secara IPAT–BO dan Konvensional Merry Antralina; Yuyun Yuwariah; Tualar Simarmata
Jurnal Agro Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/77

Abstract

Penelitian yang bertujuan mempelajari komposisi gulma tanaman padi sawah pada sistem bertanam secara IPAT-BO dan konvensional  telah dilaksanakan pada bulan April 2013 sampai bulan Juli 2013 di Kelompok Tani Sadang Mukti, Kampung Sadang Sari, Kabupaten Bandung Jawa Barat yang terletak pada ketinggian 668 m di atas permukaan laut. Penelitian menggunakan metode eksperimen, dengan Rancangan Petak Terpisah, 3 kali ulangan, sebagai petak utama  yaitu faktor metode pengairan (M), yang terdiri dari pengairan secara IPAT-BO dan konvensional, sedangkan anak petak adalah jarak tanam (J), yang terdiri dari : 30 x 35 cm, 30 x 25 cm, 35 x 35 cm,dan 30 x 30 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara metode pengairan dan jarak tanam terhadap nilai jumlah dominasi gulma, dan bobot kering gulma.Gulma yang dominan pada perlakuan IPAT-BO lebih banyak dibanding perlakuan konvensional, sedangkan bobot kering gulma terberat terjadi pada metode IPAT-BO dengan jarak tanam 35 cm x 35 cm. The research was aimed to assess the effect of different plant spacing to weed composition and lowland rice yield in SOBARI and conventional irrigation methods. The experiment had been conducted in Farmers Groups Sadang Mukti, Sadang Sari Village, Bandung District, West Java at 668 m above sea level, from April 2013 to July 2013. It was arranged in split plot design, consisted of two factor, irrigation methods factor (M) as main plot, namely: irrigation methods in SOBARI (m1) and conventional (m2),subplot was plant spacing factor (J), which consisted of four levels of factors, namely: 30 x 35 cm, 30 x 25 cm, 35 x 35 cm, and 30 x 30 cm. The results showed that there was interaction between irrigation method and plant spacing on the value of domination number of weeds, and weed dry weight. Dominantweeds in SOBARI method were more than conventional treatment, weed dry weight in SOBARI method with spacing of 35 cm x 35 cm had greater than the other treatments.
Penjaringan Cendawan Mikoriza Arbuskula Indigenous dari Lahan Penanaman Jagung dan Kacang Kedelai pada Gambut Kalimantan Barat Nurmala Pangaribuan
Jurnal Agro Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/81

Abstract

Ekosistem gambut memiliki jenis dan kepadatan CMA yang beragam. Tanaman yang dibudidayakan di lahan gambut memiliki sistem perakaran (rhizosfir) yang mengandung  berbagai jenis mikroorganisme CMA, dan dalam jumlah besar. Untuk mengetahui jenis dan  jumlahnya, perlu dilakukan studi potensi CMA indigenous pada ekosistem gambut. Penelitian ini bertujuan untuk dapat memberikan informasi yang tepat tentang potensi sumberdaya cendawan mikoriza arbuskular dari lokasi penanaman jagung dan kacang-kacangan pada lahan gambut desa Sidomulyo Rasau Jaya, kabupaten Kubu Raya dan dari Jawai di Kabupaten Sambas, Propinsi Kalimantan Barat. Kegiatan penelitian ini diawali dengan pengambilan sampel tanah dari Rasau dan Jawai, yang kemudian diamati dengan mikroskop. Selanjutnya dilakukan (1) trapping spora mengunakan tanaman Jagung (Zea mays L.), (2) identifikasi jenis spora, identifikasi CMA menggunakan Manual for The Identification of Mychorhiza Fungi, (3) penghitungan jumlah spora dengan menggunakan Metode Saring Basah Pacioni dan teknik sentrifugasi dari Brunndret. Hasil percobaan menghasilkan jumlah spora Glomus sp. asal Rasau 227 spora per 50 g tanah, dan gambut asal Jawai 181,9 spora per 50 g tanah gambut Rasau dan Sambas dominan mengandung Glomus sp. Peats ecosystem has different species and densities of Arbuscular Mycoriza Fungi (AMF). Plant Rhizosphere at peatland has various kinds of microorganisms, including AMF. For further use, study the potency of indigenous AMF is necessary. This research was conducted to study on the potency of indigenous AMF, from the where physic corn and nuts, grow on peatland of Rasau dan Jawai, Pontianak West Kalimantan. Soils samples were collected and then observed under microscope. The steps to study the potency of AMF were (1) spora trapping, (2) identifying the types of spore, and (3) counting of spora with Seive and Wet Techniques by Pacioni and Brunndret. The result showed that the number of spores AMF of Glomus sp from cultivated Rasau was 227 spores 50 g-1 soil and from of Jawai was 181,9 spores 50 g-1 soil  Indigenous AMF from the soil where physic corn and nut  grown at Rasau and Jawai  were dominated by Glomus sp.
Peningkatan Produktivitas Lahan Gambut melalui Teknik Ameliorasi dan Inokulasi Mikroba Pelarut Fosfat Ida Nur Istina; Benny Joy; Aisyah D Suyono
Jurnal Agro Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/76

Abstract

Keterbatasan lahan potensial menyebabkan perluasan areal pertanian mengarah pada lahan gambut. Kendala pengembangan lahan gambut adalah rendahnya kandungan hara tersedia bagi tanaman. Fosfat (P) merupakan salah satu unsur hara makro yang penting untuk pertumbuhan dan produksi tanaman, disisi lain ketersediaan hara ini pada lahan gambut terbatas karena ikatan asam organik dan sifat yang mudah tercuci. Penelitian untuk menguji pengaruh ameliorasi dan inokulasi mikroba pelarut fosfat terhadap ketersediaan hara P di lahan gambut dilakukan di kebun pembibitan kelapa sawit petani di Riau dari Oktober 2013 - Maret 2014, menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial dengan 30 kombinasi perlakuan dan 3 kali ulangan. Variabel yang diamati meliputi : tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah daun, lebar daun, panjang daun, kandungan hara tanaman, dan bobot biomasa bibit setelah 5 bulan di pembibitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ameliorasi menggunakan kompos tandan kosong kelapa sawit mampu meningkatkan P tersedia, serapan P oleh batang dan akar, berat brangkasan dan berat kering batang. Sedangkan mikroba pelarut fosfat berpengaruh secara tidak nyata.The limitation of potential land leads agricultural development expansion to the peat soil area. Constrain of the peatland development is the low nutrient content that is required by plant. Phosphate is one of major growth and production limiting nutrient because of the solublelize of the organic acids and immobility The research was conducted from October 2013 – March 2014 at the farmer main nursery in Riau province to test the effect of amelioration and phosphate solubilizing microbe inoculation on P availability on palm oil seedling growth and production at peatland, used Randomized Block Design with 30 treatments and 3 replications. The parameters observed were plant height, leaf number, leaf width, leaf length, stem diameters, nutrient contents, also fresh and dry weight after 5 months at the main nursery. The result showed that palm oil empty fruit bunch compost as ameliorant increased P nutrient avaibility, P uptake, fresh and dry weight, whereas phosphate solubilizing microbe was unsignificant.

Page 1 of 1 | Total Record : 6