cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
eksplorium@batan.go.id
Editorial Address
BULETIN PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN GALIAN NUKLIR Jl. Lebak Bulus Raya No. 9, Ps. Jumat, Jakarta 12440, Indonesia, Telp (021) 7691775, 7695394, 75912956 Fax (021)7691977
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir
ISSN : 08541418     EISSN : 2503426x     DOI : https://doi.org/10.17146/eksplorium
Core Subject : Social,
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir, adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN yang telah diakreditasi LIPI No.749/AU2/P2MI-LIPI/08/2016 dan menempati peringkat SINTA 2
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 37, No 1 (2016): Mei 2016" : 6 Documents clear
Kajian Geologi, Radiometri dan Geokimia Granit Banggai dan Formasi Bobong Untuk Menentukan Daerah Potensial Uranium di Pulau Taliabu, Maluku Utara Ngadenin Ngadenin
EKSPLORIUM Vol 37, No 1 (2016): Mei 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4658.739 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.1.2669

Abstract

Kajian geologi, radiometri dan geokimia granit Banggai dan Formasi Bobong telah dilakukan untuk mendapatkan daerah potensial uranium. Pulau Taliabu dipilih sebagai lokasi kajian karena secara tektonik pulau Taliabu adalah benua mikro pecahan dari benua Gondwana yang terpisah pada akhir Mesozoikum hingga Paleogen. Beberapa tipe mineralisasi uranium terbentuk pada periode Gondwana antara lain adalah mineralisasi tipe batupasir, mineralisasi tipe batu bara lignit dan mineralisasi tipe urat. Pulau Taliabu merupakan serpihan dari benua Gondwana sehingga diharapkan di Pulau Taliabu akan ditemukan mineralisasi uranium atau paling tidak ditemukan indikasi keterdapatan mineralisasi uranium. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mendapatkan lokasi potensial uranium untuk pengembangan eksplorasi uranium di masa mendatang. Metode yang digunakan adalah mengkaji data geologi, radiometri, dan geokimia yang berasal dari berbagai sumber. Hasil kajian menunjukkan bahwa data geologi, radiometri, dan geokimia memberikan indikasi positif terhadap pembentukan cebakan uranium tipe batupasir. Granit Banggai berpotensi sebagai sumber uranium. Batupasir pada Formasi Bobong berpotensi sebagai batuan induk. Lapisan batubara dan pirit berpotensi sebagai presipitan. Daerah potensial uranium terletak di wilayah Formasi Bobong dan sekitarnya. Geological, radiometrical, and geochemichal studies of Banggai granites and Bobong Formation have been conducted in order to obtain  potential uranium area. Taliabu island is selected for the study because Taliabu island is a micro continent fraction of the Gondwana super continent that separated at the end of the Mesozoic to Paleogene period. Some types of uranium mineralization formed in the period of Gondwana include sandstone-type, lignite coal types and vein-type. Taliabu island is a small part from the Gondwana super continent so it is expected will be found uranium mineralization or at least indications of uranium mineralization occurences. The aim of this study is to obtain uranium potential areas for the development of uranium exploration in the future. The methods used are reviewing geological, radiometric, and geochemical data from various sources. The results of review showed that geological setting, radiometric, and geochemical data gives positive indication to the formation of uranium mineralization for sandstone type. Banggai Granite is a potential uranium source. Sandstone of Bobong Formation as a potential host rock. Coal and pyrite as a potential precipitant. Potential areas for uranium is located around Bobong Formation.
Identifikasi Akuifer Dangkal di Pulau Terdepan NKRI dengan Menggunakan Metode Geolistrik 2D: Studi Kasus Pulau Laut, Kab. Natuna Dino Gunawan Pryambodo; Joko Pihantono; Reiner Arief Troa; Eko Triarso
EKSPLORIUM Vol 37, No 1 (2016): Mei 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.752 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.1.2667

Abstract

Kebutuhan akan air bersih untuk menunjang aktivitas masyarakat di bidang perikanan di pulau terluar sangat diperlukan karena di lokasi tersebut kondisinya minim sumber air tawar. Penelitian geofisika dengan metode Geolistrik 2D telah dilakukan untuk mengidentifikasikan keberadaan akuifer di Pulau Laut, Kabupaten Natuna sebagai pulau terluar dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pengukuran di lapangan dengan enam lintasan geolistrik 2D menggunakan konfigurasi Wenner, bentangan kabel 160 meter, untuk mendapatkan kedalaman penetrasi 26,9 meter di bawah permukaan. Data tahanan jenis di Pulau Laut digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan akuifer di daerah penelitian. Akuifer berada pada kedalaman yang bervariasi di dekat permukaan dengan kedalaman 2,5 – 13 m di jalur utara, jalur PDAM, dan jalur Air Paying; 12 – 26,9 m di jalur Kadur, jalur Air Bunga, dan jalur Air Paying. Nilai tahanan jenis untuk setiap akuifer bervariasi di setiap jalur. Nilainya berkisar antara 0,651 – 14 Ωm. Litologi penyusun akuifer adalah satuan batupasir di jalur Kadur, Air Bunga, Talaga Tasik dan Air Paying; batulanau di jalur PDAM; dan batugamping di jalur utara. The need for fresh water to support community activities in the field of fisheries on the frontier island is necessary because this location has minimal condition to the source of fresh water. Geophysical research with 2D geoelectrical methods conducted to identify the aquifers in the area of Pulau Laut, Natuna Regency as the frontier island of United Country of Republic Indonesia (NKRI). In field, measurement is using six 2D geoelectric lines with Wenner configuration and 160 m cable stretching to obtain 26.9 m sub-surface depth penetration. Resistivity data in Pulau Laut used to identify the aquifer presence in research area. Aquifers are located on varies depth near the surface with a depth of 2.5 – 13 m in north line, PDAM line, and Air Paying line; 12 – 26.9 m in Kadur line, Air Bunga line, and Air Paying line. Resistivity value for each aquifer varies for each line. They are ranging from 0.651 – 14 Ωm. Lithologies, composing the aquifer, are sandstone unit in Kadur, Air Bunga, Talaga Tasik, and Air Paying lines; silstone in PDAM line; and limestone in the north line.  
Pelindian Logam Tanah Jarang dari Terak Timah dengan Asam Klorida setelah Proses Fusi Alkali Kurnia Trinopiawan; Mohammad Zaki Mubarok; June Mellawati; Budi Yuli Ani
EKSPLORIUM Vol 37, No 1 (2016): Mei 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1246.436 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.1.2719

Abstract

Terak timah yang merupakan limbah peleburan timah memiliki potensi untuk dapat dimanfaaatkan lebih lanjut dengan mengekstrak logam-logam berharga di dalamnya, seperti logam tanah jarang (LTJ). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kondisi optimal pelindian LTJ dari terak timah setelah proses fusi alkali. Struktur silika pada terak menyebabkan pelindian secara langsung menjadi tidak efektif. Oleh karena itu langkah pre-treatment dengan fusi alkali dibutuhkan untuk membuka struktur silika serta meningkatkan porositas terak. Fusi dilakukan selama 2 jam pada temperatur 700oC dengan perbandingan natrium hidroksida (NaOH) : terak = 2 : 1. Kemudian frit yang telah dilindi dengan air dilanjutkan dengan pelindian dengan asam klorida untuk melarutkan LTJ. Persen ekstraksi LTJ sebesar 87,5% diperoleh pada konsentrasi asam klorida (HCl) 2 M, temperatur 40oC, ukuran butiran -325 mesh, S/L = 15 g/100 ml, kecepatan pengadukan 150 rpm, dan waktu pelindian selama 5 menit. Tin slag, a waste product from tin smelting process, has a potency to be utilized further by extracting the valuable metals inside, such as rare earth elements(REE). The objective of this study is to determine the optimum leaching condition of REE from tin slag after alkali fusion. Silica structure in slag is causing the direct leaching uneffective. Therefore, pre-treatment step using alkali fusion is required to break the structure of silica and to increase the porosity of slag. Fusion is conducted in 2 hours at 700 oC, with ratio of natrium hidroxide (NaOH) : slag = 2 : 1. Later, frit which is leached by water then leached by chloride acid to dissolve REE. As much as 87,5% of REE is dissolved at 2 M on chloride acid (HCl) concentration, in 40o C temperature, -325 mesh  particle size, 15g/100ml of S/L, 150 rpm of agitation speed, and 5 minutes of leaching time.
Alterasi Akibat Proses Hidrothermal di Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara Agus Harjanto; Sutanto Sutanto; Sutarto Sutarto; Achmad Subandrio; I Made Suasta; Giri Hartono; Putu Suputra; I Gde Basten; Muhammad Fauzi; Rosdiana Rosdiana
EKSPLORIUM Vol 37, No 1 (2016): Mei 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5035.062 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.1.2666

Abstract

Bolaang Mongondow terletak di bagian tengah lengan utara Sulawesi yang disusun oleh busur magmatik berumur Neogen dan berpotensi mengandung mineral-mineral ekonomis. Hal tersebut yang melatarbelakangi dilakukan penelitian terhadap potensi sumber daya mineral. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari alterasi akibat proses hidrotermal serta hubungannya dengan cebakan emas (Au) berdasarkan kajian di lapangan maupun analisis laboratorium. Metode yang digunakan dalam penelitian, yaitu kajian literatur, survei geologi, pengambilan conto batuan, analisis laboratorium, dan pengolahan data. Daerah penelitian merupakan kompleks intrusi diorit yang terjadi berulang kali. Andesit, batuan klastika gunung api, dan dasit yang berumur lebih tua diintrusi oleh kompleks ini. Selanjutnya, tufa dasitik, batupasir gunung api, dan endapan alluvium diendapkan di atasnya. Terdapat tiga sesar utama yang telah diukur dan dipetakan, berarah timur laut-barat daya yang terpotong oleh sesar barat-timur dan terakhir sesar barat laut-tenggara yang memotong sesar-sesar terdahulu. Alterasi hidrotermal tahap awal berhubungan dengan keberadaan diorit kuarsa muda yang menunjukkan tahapan alterasi dari pusatnya potasik sampai propilitik distal. Alterasi hidrotermal tahap akhir terdiri atas alterasi argilik, argilik lanjut, dan silika-mineral lempung±magnetit±klorit yang menumpang tindih alterasi tahap awal. Mineralisasi Cu-Au±Ag di bagian tengah daerah penelitian atau di daerah Tayap–Kinomaligan sebagian besar berasosiasi dengan diorit kuarsa muda yang teralterasi potasik dan dipotong oleh urat-urat kuarsa-magnetit-kalkopirit±bornite yang sejajar dan stockwork. Bolaang Mongondow is located in central north Sulawesi arm, which is composed of Neogen magmatic arc and potentially contain economic minerals. This condition is behind the research purpose to study the mineral resources potencies. Research aim is to study alteration caused by hydrothermal process and its relation with gold (Au) deposit based on field study and laboratory analysis. Methodologies used for the research are literature study, geological survey, rocks sampling, laboratory analysis, and data processing. Research area is a multiply diorite intrusion complex. Andesite, volcaniclastic rocks, and dacite, the older rocks, were intruded by this complex. Later, dacitic tuff, volcanic sandstone, and alluvium deposited above them. There are three measured and mapped major faults heading NE-SW crossed by E-W fault and NW-SE fault lately crossed all the older faults. Early stage hydrothermal alteration related to the existence of young quartz diorite, showing alteration stage from the potassic center to distal prophyllitic. Final stage hydrothermal alteration consist of argilic, advanced argilic, and silica-clay mineral±magnetite±chlorite alteration overlapping the earlier alteration. Mineralization of Cu-Au±Ag in central part of research area or Tayap-Kinomaligan area is mostly asociated with potassic altered young quartz diorite and crossed by paralel and stockworked quartz-magnetite-chalcopyrite±bornite vein.
Cover + Daftar Isi + Kata Pengantar + Indeks Isi + Indeks Mitra Bestari Editor Eksplorium
EKSPLORIUM Vol 37, No 1 (2016): Mei 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1296.059 KB)

Abstract

Cover dan halaman pengantar Eksplorium.
Pemodelan dan Estimasi Sumberdaya Uranium di Sektor Lembah Hitam, Kalan, Kalimantan Barat Adi Gunawan Muhammad; Bambang Soetopo
EKSPLORIUM Vol 37, No 1 (2016): Mei 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1440.124 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.1.2668

Abstract

Sektor Lembah Hitam merupakan bagian dari Pegunungan Schwaner dan stratigrafi bagian atas Cekungan Kalan. Lapisan pembawa uranium (U) berasosiasi dengan metabatulanau dan metapelit sekistosan berarah N 265° E/60° S. Pemboran evaluasi telah dilakukan dengan jarak 50 m dari titik yang sudah ada (FKL 14 dan FKL 13) untuk mengetahui model dan jumlah sumber daya U berkategori terukur. Untuk mencapai tujuan tersebut beberapa kegiatan perlu dilakukan, yaitu mengkaji hasil penelitian terdahulu, pendataan geologi dan pemineralan U, estimasi kadar secara kuantitatif menggunakan log gross-count gamma ray, pembuatan basis data, pemodelan dan estimasi sumber daya U. Berdasarkan pemodelan sepuluh titik pemboran dan didukung dengan data pengamatan inti pemboran, rata-rata kadar mineralisasi U di sektor Lembah Hitam dapat diketahui. Kadar rata-rata berkisar antara 0,0076 – 0,95 % eU3O8, dengan tebal mineralisasi berkisar antara 0,1 – 4,5 m. Mineralisasi U hadir sebagai isian fraktur (urat) atau kelompok urat dan sebagai isian matrik breksi tektonik, berasosiasi dengan mineral pirit, pirhotit, magnetit, molibdenit, turmalin, dan kuarsa dalam metabatulanau dan metapelit sekistosan. Penghitungan sumber daya U terhadap 26 tubuh bijih dengan radius pencarian 25 m didapatkan tonase bijih sebesar 655,65 ton. Menggunakan cut-off grade 0,01 % eU3O8 dihasilkan bijih sebanyak 546,72 ton dengan rata-rata kadar 0,101 % eU3O8. Sumber daya U dikategorikan sebagai sumber daya terukur berkadar rendah.Lembah Hitam Sector is part of Schwaner Mountains and Kalan Basin upper part stratigraphy. Uranium (U) mineralization layer is associated with metasiltstone and metapelites schistose heading to N 265° E/60° S. Evaluation drilling carried out with a distance of 50 m from an existing point (FKL 14 and FKL 13) to determine the model and the amount of U resources in measured category. To achieve these objectives some activities including reviewing the previous studies, geological and U mineralization data collecting, grades quantitative estimation using log gross-count gamma ray, database and modeling creation and resource estimation of U carried out. Based on modeling on ten drilling data and completed with drilled core observation, the average grade of U mineralization in Lembah Hitam Sector obtained. The average grade is ranging from 0.0076 - 0.95 % eU3O8, with a thickness of mineralization ranging from 0.1 - 4.5 m. Uranium mineralization present as fracture filling (veins) or groups of veins and as matrix filling in tectonic breccia, associated with pyrite, pyrrhotite, magnetite, molybdenite, tourmaline and quartz in metasiltstone and metapelites schistose. Calculation of U resources to 26 ores body using 25 m searching radius resulted in 655.65 tons ores. By using 0.01 % cut-off grade resulted in 546.72 tons ores with an average grade 0.101 % eU3O8. Uranium resource categorized as low-grade measured resources.

Page 1 of 1 | Total Record : 6