cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
eksplorium@batan.go.id
Editorial Address
BULETIN PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN GALIAN NUKLIR Jl. Lebak Bulus Raya No. 9, Ps. Jumat, Jakarta 12440, Indonesia, Telp (021) 7691775, 7695394, 75912956 Fax (021)7691977
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir
ISSN : 08541418     EISSN : 2503426x     DOI : https://doi.org/10.17146/eksplorium
Core Subject : Social,
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir, adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN yang telah diakreditasi LIPI No.749/AU2/P2MI-LIPI/08/2016 dan menempati peringkat SINTA 2
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 37, No 2 (2016): November 2016" : 7 Documents clear
Kajian Konsep Teknologi Pengolahan Pasir Zirkon Lokal yang Mengandung Monasit, Senotim dan Ilmenit Herry Poernomo; Dwi Biyantoro; Maria Veronica Purwani
EKSPLORIUM Vol 37, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8510.059 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.2.3054

Abstract

ABSTRAKKeberadaan zirkon (ZrSiO4) di alam kebanyakan berasosiasi dengan beberapa senyawa oksida berharga (SOB) seperti TiO2 dan oksida logam tanah jarang atau rare earth oxides (REO). Keterdapatan mineral alam di Indonesia yang mengandung zirkonium (Zr) dan REO tersebar di 13 wilayah mulai dari Provinsi Aceh sampai Papua Barat. Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan penelitian adalah melakukan kajian integrasi teknologi pengolahan pasir zirkon lokal yang mengandung TiO2 dan REO. Penelitian dilakukan dengan menganalisis kandungan SOB dalam sampel pasir zirkon dari daerah Landak dan Tumbang Titi Kalimantan Barat serta Bangka menggunakan XRF. Berdasarkan kandungan SOB dalam pasir zirkon tersebut dapat diprediksi bahwa pasir zirkon dari daerah Landak dan Tumbang Titi Kalimantan Barat serta Bangka mengandung mineral zirkon (ZrSiO4), ilmenit (FeTiO3), monasit (LREE, Th)PO4, dan senotim (HREE, Y, Th)PO4. Berbasis jenis mineral tersebut diperoleh hasil kajian berupa diagram alir proses konsep teknologi konsentrat zirkon menjadi ZrO2 (zirkonia) dan ZrOCl2.8H2O (zirkonium oksiklorida) derajat industri serta zirkonia dan zirconium chemicals derajat nuklir, ilmenit menjadi TiO2, monasit menjadi Nd2O3 dan konsentrat Th(OH)4, senotim menjadi Y2O3, Gd2O3 dan konsentrat Th(OH)4 dalam satu kawasan pilot plant atau pabrik yang terintegrasi. Hasil kajian disimpulkan bahwa konsep pengolahan pasir zirkon lokal yang mengandung monasit, senotim, dan ilmenit dapat dilakukan secara terintegrasi dalam satu kawasan pabrik dengan hasil multi produk. Jika hal tersebut dapat direalisasikan di Indonesia dengan tambahan sistem pengolahan air limbah terpadu, maka selain aman bagi lingkungan juga dapat menghemat biaya produksi dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi para pemegang izin usaha pertambangan zirkon. ABSTRACTThe existence of zircon (ZrSiO4) in the nature is mostly associated with some of the valuable oxide compounds (VOC), such as TiO2 and rare earth oxides (REO). The existence of natural minerals in Indonesia containing zirconium (Zr) and REO lies in 13 regions, ranging from Aceh to West Papua province. Based on those aforementioned aspects, the goal of this research is to conduct the study of integrated technology of local zircon sand processing containing TiO2 and REO. The study was conducted by analyzing the content of VOC in zircon sand samples from the areas of Landak and Tumbang Titi West Kalimantan and Bangka by using XRF. Based on the content of VOC in this zircon sand, it can be predicted that the zircon sand from the area of Landak and Tumbang Titi West Kalimantan and Bangka contains mineral zircon (ZrSiO4), ilmenite (FeTiO3), monazite (LREE, Th)PO4, and xenotime (HREE, Th)PO4. Based on these types of mineral, the flow chart of beneficiation technology process to increase the concentration of each mineral and the flow chart of zircon concentrate process into ZrO2(zirconia) and ZrOCl2.8H2O (zirconium oxychloride) industrial grade and zirconia and zirconium chemicals nuclear grade, ilmenite into TiO2, monazite into Nd2O3, and Th(OH)4 concentrate, xenotime into Y2O3, Gd2O3, and Th(OH)4 concentrate are obtained in one area of pilot plant or an integrated factory. The results of the study concluded that the concept of local processing of zircon sands containing monazite, xenotime, and ilmenite can be either integrated in the region with the results of multi-product plant. If it can be realized in Indonesia with the addition of an integrated waste water treatment system, then in addition to safe for the environment can also save on production costs and give economic added value for shareholders zircon mining permit
Cover + Daftar Isi + Kata Pengantar + Indeks Isi + Indeks Penyunting Redaksi Eksplorium
EKSPLORIUM Vol 37, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5531.635 KB)

Abstract

Cover dan halaman pengantar Eksplorium.
Arah dan Kecepatan Aliran Air Tanah Calon Tapak Disposal Demo di Kawasan Nuklir Serpong Sucipta Sucipta; Risdiyana Setiawan
EKSPLORIUM Vol 37, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.829 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.2.3073

Abstract

ABSTRAKRencana pembangunan dan pengoperasian fasilitas disposal demo di Kawasan Nuklir Serpong memerlukan pengkajian keselamatan untuk memberikan bukti ilmiah bahwa fasilitas tersebut aman bagi keselamatan manusia dan lingkungan. Hasil dari pengkajian keselamatan tersebut digunakan sebagai dasar pemberian izin lingkungan untuk pembangunan dan pengoperasian fasilitas tersebut. Salah satu data tapak yang diperlukan dalam pengkajian keselamatan adalah arah dan kecepatan aliran air tanah. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengetahui arah dan kecepatan aliran air tanah pada zona akuifer bawah calon tapak disposal demo di Kawasan Nuklir Serpong. Penelitian dilakukan dengan menggunakan perunut (tracer) Rhodamin WT. Perunut dilepas pada sumur bor  utama (SBU) dan dipantau pada lubang bor (sumur bor pantau) SBP-1 (A), SBP-2 (B), dan SBP-3 (C). Dari hasil analisis contoh air dan analisis keruangan diperoleh data arah aliran air tanah pada kedalaman 16 m ke arah N 240º E (barat-barat daya) dengan kecepatan antara 0,35 m/hari sampai dengan 0,48 m/hari. ABSTRACTPlan for construction and operation of demo disposal facility in Serpong Nuclear Area requires safety assessments to provide scientific evidence that the facility is safe for human and the environment. The result of the safety assessment is used also as a basis for granting environmental permits for the construction and operation of the facility. One of the site data requirements on the safety assessment is the direction and velocity of groundwater flow. Therefore, a study to determine the direction and velocity of groundwater flow at lower zone aquifer of demo disposal site candidate in Serpong Nuclear Area conducted. The research was carried out by using Rhodamin WT tracer. The tracer released in the main well (SBU) and monitored in SBP-1 (A), SBP-2 (B), and SBP-3 (C) boreholes. Based on the water samples and spatial analysis, groundwater data flow direction at a depth of 16 m towards N 240º E (west-southwest) with a velocity of 0.35 m/day up to 0.48 m/day obtained.
Identifikasi Keterdapatan Mineral Radioaktif pada Granit Muncung Sebagai Tahap Awal untuk Penilaian Prospek Uranium dan Thorium di Pulau Singkep Ngadenin Ngadenin; Adhika Junara Karunianto
EKSPLORIUM Vol 37, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.437 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.2.3101

Abstract

ABSTRAKPulau Singkep adalah bagian dari jalur timah Asia Tenggara, yang salah satu litologinya tersusun oleh granit Muncung. Keberadaan granit tersebut memungkinkan adanya cebakan mineral radioaktif yang prospek terhadap uranium dan thorium. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keterdapatan mineral radioaktif  pada granit Muncung sebagai tahap awal untuk penilaian prospek uranium dan thorium di Pulau Singkep. Metoda yang digunakan adalah pengambilan sampel batuan granit, analisis petrografi sampel granit Muncung, analisis kadar uranium dan thorium serta analisis butir sampel konsentrat dulang yang diambil di wilayah granit Muncung. Mineral radioaktif pada granit Muncung adalah monasit dan zirkon sedangkan pada konsentrat dulang adalah monasit, zirkon, dan senotim. Persentase monasit dalam konsentrat dulang adalah 1,1 – 59,53 %, zirkon 0,68 –55,07 % dan senotim 0,39 – 3,54 %. Kadar uranium dalam konsentrat dulang adalah 30 – 1.346 ppm dan kadar thorium 557 – 13.200 ppm. Disimpulkan bahwa daerah di sekitar granit Muncung dianggap cukup prospek uranium dan thorium dan dapat dikembangkan ke tahapan eksplorasi lebih detail. ABSTRACTSingkep Island is part of Southeast Asia tin belt, which is one of the lithologies, composed of granite Muncung. Existence of granite allows formed deposits of radioactive minerals that prospect of the uranium and thorium. This research goal is to identify radioactive minerals occurrences on granit Muncung in the initial stage for prospect assessment of uranium and thorium in Singkep Island. The Methodologies are granite sampling, petrography analysis of Muncung granite samples, uranium and thorium content analysis and grain size analysis of pan concentrate samples. Radioactive minerals in Muncung granite are monazite and zircon, while in pan concentrate they are monazite, zircon, and xenotime.  The percentage of monazite, zircon, and xenotime in the pan concentrate are 1.1–59.53 %, 0.68–55.07 %, and 0.3–3.54 % respectively. The uranium and thorium content in the pan concentrate are 30–1,346 ppm and 557–13,200 ppm respectively. It concluded that the area around the Muncung granite considered prospect for uranium and thorium, and possibly developed into more detailed exploration stage.
Evaluasi Massa Batuan Terowongan Eksplorasi Uranium Eko-Remaja, Kalan, Kalimantan Barat Dhatu Kamajati; Heri Syaeful; Mirna Berliana Garwan
EKSPLORIUM Vol 37, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (955.032 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.2.3110

Abstract

ABSTRAKTerowongan eksplorasi uranium Eko Remaja, Kalan, Kalimantan Barat merupakan salah satu sarana penelitian cebakan uranium yang sangat penting. Terowongan ini dibangun tahun 1980 dengan panjang 618 meter dan menembus Bukit Eko di kedua sisinya. Batuan di terowongan ini relatif kompak, tetapi memiliki zona lemah di beberapa bagiannya. Penyanggaan merupakan metode yang digunakan untuk menanggulangi keruntuhan tanah dan batuan yang terjadi pada zona lemah di terowongan. Pemasangan penyangga yang selama ini dilakukan berdasarkan pola keruntuhan yang terjadi pada saat pembukaan terowongan tanpa melalui studi khusus menyangkut karakterisasi massa batuan dan kebutuhan sistem penyangga. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi tingkat keselamatan terowongan Eko-Remaja dan kesesuaian lokasi penyangga. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan karakteristik massa batuan menggunakan metode Rock Mass Rating (RMR) antara lokasi penyangga batuan terpasang dan lokasi penyangga batuan tidak terpasang. Berdasarkan hasil analisis, nilai RMR pada lokasi terpasang penyangga diklasifikasikan ke dalam kelas IV atau batuan buruk. Sementara itu, di lokasi tidak terpasang penyangga batuan diklasifikasikan ke dalam kelas II atau batuan baik. Berdasarkan korelasi antara hasil perhitungan RMR dengan roof span terowongan Eko-Remaja disimpulkan bahwa posisi penyanggaan terowongan yang diwakili oleh lokasi pengamatan pada kedalaman 38 m, 73 m, dan 165 m sudah sesuai dengan sistem karakterisasi massa batuan menggunakan metode RMR. ABSTRACTEko-Remaja uranium exploration tunnel, Kalan, West Kalimantan is one of the important facilities for uranium deposit research. The tunnel was built in 1980 with a length of 618 meters penetrating Eko Hill on both sides. The rock inside the tunnel is relatively compact, but it has weak zones in some area. Ground supporting is a method used to overcome the soil and rock collapses which occurred in the tunnel weak zones. Installation of ground supporting system throughout the recent time based on the soil collapse pattern, which occurred when the tunnel opened without any specific study related to rock mass characterization and the requirement of ground support system. This research conducted to evaluate the safety level of Eko-Remaja tunnel and the suitability of ground support location. The evaluation performed by comparing the rock mass characteristics using Rock Mass Rating (RMR) method between the installed rock support and uninstalled rock support locations. Based on the analysis result, RMR value on the installed ground support is classified as class IV or poor rock. Meanwhile, on uninstalled location, the rock is classified as class II or fair rock. Based on the correlation between RMR calculation result and Eko-Remaja tunnel roof span, it is concluded that tunnel ground supports position which are represented by observation location on 38 m, 73 m, and 165 m depth are suitable with rock mass characterization system using RMR method.
Geochemistry of Ophiolite Complex in North Konawe, Southeast Sulawesi Ronaldo Irzon; Baharuddin Abdullah
EKSPLORIUM Vol 37, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1122.731 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.2.2868

Abstract

ABSTRACTSoutheast Sulawesi is crosscutted by Lasolo Fault into two geological provinces: Tinondo and Hialu. Tinondo Geological Province is occupied largely by Ophiolite Complex in the northern part of Southeast Arm of Sulawesi. No study was conducted in relation to the geochemistry composition of Ophiolite Complex in North Konawe Regency. The aim of this study is to describe the ultramafic rock of the Ophiolite Complex in North Konawe Regency using field, geochemical, and petrographical analysis. Megascopically, the selected nine samples are described as greyish to blackish and fine to medium grains ultramafic rocks, which consist of pyroxene and olivine. Microscope, X-Ray Fluorescence (XRF), and Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) devices were used to obtain both petrography and geochemistry data. Major oxides data confirm that the selected samples are classified into ultramafic rocks as SiO2, MgO, and Fe2O3T are the most abundant oxides. The studied samples presumably came from arc tholeiitic environment tectonic setting. Ultramafic rocks often contain promising economic metals whereas the average numbers of Ni, Mn, Cr, and Co of this study are 2,675; 1,074; 2,386; and 117 ppm respectively. The rocks are generally enriched in high field strength elements whilst rare earth elements value are low, ranging from 2.11 to 7.10 ppm. Microscopically, samples can be classified into three groups: olivine-hornblende pyroxenite, lherzolite, and olivine websterite. Geochemical data describes more about the discriminant analysis of the groups. ABSTRAKWilayah Sulawesi Tenggara dipotong oleh Sesar Lasolo yang membagi daerah ini menjadi dua lajur: Tinondo dan Hialu. Lajur Tinondo diisi sebagian besar oleh Komplek Ophiolit, yang berada di bagian utara dari Lengan Tenggara Sulawesi. Belum ada studi yang terfokus kepada kandungan geokimia Komplek Ophiolit tersebut di wilayah Kabupaten Konawe Utara.Studi ini bertujuan untuk mempelajari karakter batuan ultramafik dari Komplek Ophiolit di Kabupaten Konawe Utara melalui kegiatan lapangan, analisis geokimia, dan analisis petrografi. Secara megaskopis, sembilan contoh batuan terpilih teridentifikasi sebagai batuan ultramafik berwarna kelabu hingga hitam, berukuran butir sedang hingga halus, dan mengandung piroksen maupun olivine. Perangkat mikroskop, X-Ray Fluorescence (XRF), dan Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) dimanfaatkan untuk memperoleh data geokimia maupun mikroskopis. Data oksida utama mengklasifikasikan contoh terpilih ke dalam batuan utramafik dengan SiO2, MgO, dan Fe2O3T sebagai oksida dengan kelimpahan tertinggi. Contoh terpilih mungkin terbentuk pada lingkungan busur tektonik tholeitik. Batuan ultramafik sering mengandung logam ekonomis dengan kadar rata-rata Ni, Mn, Cr, dan Co pada studi ini adalah: 2.675, 1.074, 2.386, dan 117 ppm secara berurutan. Batuan telah mengalami pengayaan unsur high field strength elements meskipun dengan kadar unsur tanah jarang yang rendah, berkisar dari 2,11 hingga 7,10 ppm. Secara petrografi, batuan terpilih dapat dibagi menjadi tiga kelompok: olivine-hornblende pyroxenite, lherzolite, and olivine websterite. Data geokimia menjelaskan lebih lanjut mengenai perbedaan dari kelompok-kelompok tersebut.
Evaluasi Sistem Pengendapan Uranium Pada Batuan Sedimen Formasi Sibolga, Tapanuli Tengah I Gde Sukadana; Heri Syaeful
EKSPLORIUM Vol 37, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.438 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.2.3112

Abstract

ABSTRAKUranium di alam dapat terbentuk dalam berbagai tipe cebakan, sesuai dengan sumber, proses, dan lingkungan pengendapannya. Keterdapatan uranium di Sibolga pada batuan sedimen Formasi Sibolga merupakan suatu potensi yang layak untuk dikembangkan tetapi hingga saat ini belum diketahui pola pengendapan dan proses mineralisasi uranium tersebut. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pola sebaran batuan dan keterdapatan anomali kadar uranium berdasarkan data geologi, radiometri permukaan, dan data log bor untuk mengetahui proses pengendapan batuan dan mineralisasi uranium. Keterdapatan mineralisasi berdasarkan data log bor tersebar dari satuan konglomerat alas (Kgl 1), satuan batupasir 1 (Bp 1), satuan konglomerat 2 (Kgl 2), dan satuan batupasir 2 (Bp 2) dengan ketebalan dan sebaran semakin ke atas semakin menipis. Sebaran mineralisasi pada bagian timur pada satuan batuan konglomerat 1 lebih didominasi oleh mineral detrital hasil pengendapan epigenetik berupa monasit yang terbentuk pada saat pembentukan granit sebagai batuan sumber. Pada satuan batuan di atasnya mineralisasi berbentuk pola alur (channel) yang berarah timur laut-barat daya, yang terbentuk secara syn-genetic dengan mineral berupa uraninite, carnotite, dan coffinite. Pengendapan batuan Formasi Sibolga berasal dari timur ke arah barat dan pengendapan uranium terjadi akibat perbedaan kondisi lingkungan pengendapan dari oksidasi di bagian timur menjadi lebih reduktif di bagian barat daya. Peningkatan kandungan material organik yang cukup tinggi pada lingkungan pengendapan bagian barat daya menyebabkan lingkungan pengendapan dalam kondisi reduksi.ABSTRACTUranium in nature formed in various deposit type, depends on its sources, process, and depositional environments. Uranium occurrence in Sibolga, hosted in sedimentary rocks of Sibolga Formation, is properly potential to develop; nevertheless, the depositional pattern and uranium mineralization process so far had not been recognized. The research aim is to determine the rock distribution patterns and the existence of uranium grade anomalies based on surface geology and borehole log data. Mineralization occurrences from borehole log data distributed from basalt conglomerate unit (Kgl 1), sandstone 1 unit (Bp 1), conglomerate 2 unit (Kgl 2), and sandstone 2 unit (Bp 2) with their distribution and thickness are thinning to the top. Mineralization distribution in the eastern area, mainly on Kgl 1 unit, dominated by detritus materials from epi-genetic depositional in the form of monazite which is formed along with the formation of granite as its source rock. Meanwhile, mineralization on the upper rocks units formed a channel pattern trending northeast-southwest, which formed in syn-genetic process consist of uraninite, carnotite, and coffinite. Sibolga Formation deposition originated from east to west and uranium deposit formed because of the differences of depositional environment from oxidation in the east to the more reductive in the southwest. The increasing of organic materials in southwest basin caused the reduction condition of depositional environment.

Page 1 of 1 | Total Record : 7