cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan
ISSN : 23390921     EISSN : 25805762     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 1 (2021): HISTORY AND CULTURE" : 5 Documents clear
KEBIJAKAN IMIGRASI ZAMAN HINDIA BELANDA (1913-1942) Chaerul Mundzir; Muhammad Arif; Aksa Aksa
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 9 No 1 (2021): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v9i1.17962

Abstract

AbstractThis paper describes the immigration that took place in the Dutch East Indies under the Dutch colonial rule. The immigration policy had applied in the Dutch East Indies which was called Open deur politiek or open door politics. Open Door Politics namely the policy that opened the Dutch East Indies as wide as possible for foreigners to enter permanently and become resident of the Netherlands Indies. The history of immigration in Indonesia began in 1913, since the Dutch East Indies government began implementing a colonial immigration law system. At that time there was a colonial government body called Immigratie Dienst which was in charge of handling immigration issues for the entire Dutch East Indies region. Keywords: Immigration; Open deur politiek; Dutch-IndiesAbstrakTulisan ini menjelaskan tentang imigrasi yang berlangsung di Hindia Belanda dibawah jajahan pemerintahan Belanda. Politik kebijakan keimigrasian yang diterapkan di Hindia-Belanda disebut opendeurpolitiek atau politik pintu terbuka yaitu kebijakan yang membuka wilayah Hindia-Belanda untuk seluas-luasnya bagi orang asing dapat masuk menetap dan menjadi penduduk Hindia-Belanda. Sejarah keimigrasian di Indonesia dimulai sejak tahun 1913, sejak pemerintah Hinda-Belanda mulai menjalankan ssstem hukum keimigrasian yang bersifat kolonial. Pada saat itu terdapat badan pemerintahan kolonial bernama Immigratie Dienst yang bertugas menangani masalah keimigrasian untuk seluruh kawasan Hindia-Belanda.
Historiografi Islam Klasik Muhammad Kadril
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 9 No 1 (2021): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v9i1.15812

Abstract

In this research was study that focused on Islam historiography in the classical era, that was very important to be discussed and analyzed because historiography was the parent of reconstructing history hence the role of historiography was very useful as a foundation for writing historical history. In this research there were several formulations of the issues raised by the researcher about: What were the topics discussed in the early period of Islamic historiography, as well as how the development of reading Islamic historiography. This type of research was a historical study hence it can analyze Islamic historiography in the classical period in depth hence it can know the various important things in the development of historiography starting from the initial themes of its writing to the process of its development. In the research process, it certainly used several approaches including the historical approach as the main approach in this research, the religious, and social approaches. The results of this study can reveal a variety of historiographies in the classical period besides the development of Islamic historiography writing to enter the figures who had succeeded in proclaiming many writings about Islamic historiography.Penelitian ini merupakan kajian yang berfokus pada historigrafi Islam pada masa klasik, hal ini sangatlah penting untuk dibahas dan dianalisis sebab historiografi merupakan induk dari merekonstruksi sejarah sehingga peranan historiografi sangatlah berguna sebagai peletak dasar penulisan sejarah. Pada tulisan ini terdapat beberapa rumusan masalah yang telah diajukan oleh penulis diantaranya : Apa topik pembahasan pada periode awal historiografi Islam, serta Bagaimana perkembangan penulisan historiografi Islam. Jenis kajian ini merupakan kajian sejarah sehingga dapat menganalisis historiografi Islam pada masa klasik secara mendalam serta dapat mengetahui berbagai hal penting dalam perkembangan historiografi mulai dari tema-tema awal penulisannya sampai pada proses perkembangannya. Pada proses penelitiannya tentu menggunakan beberapa pendekatan diantaranya pendekatan sejarahsebagai pendekatan utama dalam tulisan ini, pendekatan  agama, serta sosial. Adapun hasil penelitian ini dapat mengungkap berbagai macam historiografi pada masa klasik selain itu adapula perkembangan penulisan historiografi Islam hingga masuk pada tokoh-tokoh yang telah berhasil memproklamir banyak tulisan tentang historiografi Islam. 
KAJIAN KRITIS AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL Nasruddin Ibrahim
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 9 No 1 (2021): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v9i1.16744

Abstract

slam needs culture in order to spread its missions, both in the form of customs, traditions, art and so on. However, it is nfecessary to distinguish which Islam is a religion of monotheism which is universal, absolute and eternal and which is relative and temporal as part of human creation and at the same time as an expression of Islam. Cultural da'wah is nothing but an effort to carry out dynamism and purification. Dynamics means cultural creations that have a tendency to always develop and change for a better and more Islamic direction. Meanwhile, purification is defined as an effort to purify values in culture by reflecting the values of monotheism. The scholars and proponents of Islam in the early era of the existence of Islam in the archipelago realized that the successful delivery of Islam to society had to be peaceful, and to avoid conflict between culture and religion, religious advocates used a culture that society understood and possessed, so that religious and cultural confrontations were avoided. and even complement each other so that acculturation occurs. In Islam there is culture, and in culture there are religious values, and all of them are practiced by humans.Islam membutuhkan kebudayaan dalam rangka penyebaran misi-misinya, baik yang berupa adat, tradisi, seni dan sebagainya. Namun perlu dibedakan mana Islam  sebagai agama tauhid yang bersifat universal, absolut dan abadi dan mana yang bersifat relatif, dan temporal sebagai bagian dari kreasi manusia dan sekaligus sebagai ekspresi keislaman.Dakwah kultural tidak lain adalah upaya melakukan dinamisasi dan purifikasi. Dinamisasi bermakna sebagai kreasi budaya yang memiliki kecendrungan untuk selalu berkembang dan berubah ke arah yang lebih baik dan islami. Sedangkan purifikasi diartikan  sebagai usaha pemurnian nilai-nilai dalam budaya dengan mencerminkan nilai-nilai tauhid. Para ulama dan penganjur Islam di awal-awal era keberadaan Islam di nusantara menyadari bahwa, kesuksesan penyampaian Islam ke masyarakat haruslah damai, dan untuk menghindari pertentangan budaya dengan agama, para penganjur agama  menggunakan budaya yang masyarakat pahami dan miliki, sehingga komprontasi agama dan budaya terhindari dan malah saling melengkapi sehingga terjadi akulturasi. Dalam Islam ada budaya, dan dalam budaya ada nilai-nilai agama, dan semuanya dilakoni oleh manusia. 
PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI-DINASTI KECIL DI TIMUR BAGHDAD AR MIFTAH Al Farouqy
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 9 No 1 (2021): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v9i1.18664

Abstract

Abstact:This article discusses the development of Islamic civilization in the east of Baghdad. The Abbasid empire once reached the peak era of Islamic civilization. This qualitative work was written by library method, the data collected by the writter of the history books. The study yileded results tht the Abbasid victory was short-lived, the dynamic polliticall situation, coupled with the power struggle between nations the Persian-Turkish and the Sunni-Shia conflict in the east region of Baghdad. The situation gave rise to a pollitical movement that resulted in new power from the Persians who founded power in the Thahirid Dynasty (820-897 c. e.), followed by The Shaffarid Dynasty (867-908 c. e), The Samanid Dynasty (819-999 c.e.), and The Buyid Dynasty (933-1055 c.e.). From Turk came the Ghaznavid Dynasty (977-1186 c.e.), The Seljuk Dynasty (1037-1157 c.e.) and The Khwarazmian Dynasty (1077-1231 c.e.). The Caliph is only symbol of the state of the Buyid-Seljuk era, and The Abbasid Empire are divided into small states led by governors known as amir or sulthan. It also gave rise the rival cities of Baghdad as the center of world civilization, such as Isfahan, Ghaznah, Shiraz and BukharaKeywords: Abbasid, Centra Asia, Islamic Civilization, East of Baghdad Abstrak:Artikel ini membahas perkembangan peradaban Islam di Timur Baghdad. Dinasti Abbaisyah pernah mencapai era puncak peradaban Islam. Artikel yang merupakan penelitan kualitatif ini ditulis dengan  metode pustaka, data dikumpulkan oleh penulis dari buku-buku sejarah. Dari penelitian ini didapatkan hasil, bahwa kejayaan Abbasiyah tidak berlangsung lama, situasi politik yang berlangsung secara dinamis, diwarnai dengan perebutan pengaruh kekuasaan antara bangsa Persia-Turki dan konflik Sunni-Syiah di wilayah timur Baghdad. Situasi ini melahirkan gerakan politik yang membuat kekuasaan baru di mulai dari bangsa Persia yang mendirikan kekuatan di Dinasti Thahiriyah (820-897 M), kemudian dilanjutkan oleh Dinasti Shaffariyah (867-908 M), Dinasti Samaniyah (819-999 M),  dan Dinasti Buwaihi (933-1055). Dari bangsa Turki, berdiri Dinasti Ghaznawiyah (977-1186 M), Dinasti Seljuk (1037-1157 M) dan Dinasti Khwarizm (1077-1231 M). Khalifah hanya sebagai simbol negara di era kekuasaan Buwaihi-Seljuk, dan negara Abbasiyah terpecah belah menjadi negara-negara kecil yang dipimpin oleh para gubernur yang dikenal dengan amir atau sulthan. Selain itu, keadaan ini juga melahirkan kota-kota pesaing Baghdad sebagai pusat peradaban dunia, seperti Isfahan, Ghaznah, Syiraz dan Bukhara.Kata Kunci: Abbasiyah, Asia Tengah, Peradaban Islam, Timur Baghdad
Politik Jihad Turki Utsmani Pada Perang Dunia Pertama Luqman Al Hakim
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 9 No 1 (2021): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v9i1.19113

Abstract

AbstractThis article will explore political jihad produced by Turkey Utsmani in world war one, echo jihad concepts is nothing only to circle muslim Turkey Utsmani but involved muslim arround the world and several west countries from blok poros. So that described muslim strength from enemy Turkey Utsmani in world war one, then in jihad Utsmani journey eventually insult of failed and loosed that caused crack Turky Utsmani and emerged Republik Sekular Turkey mastermind Freemasonry movement and Musthafa Kemal Attaturk. in other that explore concept, impact, and politica Utsmani dynamics to umat Islam and collaborations in military, economic aspect from blok poros country so that stil made Turkey Utsmani exist until 1924. It should be stated that for period jihad political from 1914-1918, Turkey Utsmani has lossed many regions in Asia, Afrika, and Europ continent so that emerged the jihad political can be expected win world war one and back to regions especially Muslim regions but they are effort becoming disunity and destruction self intern Turkey Utsmani.    Key Words: Jihad, World War One, Turkey Utsmani. AbstrakArtikel ini membahas politik jihad yang dilakukan oleh Turki Utsmani dalam perang dunia pertama, konsep jihad yang digaungkan tidak terbatas untuk kalangan Muslim Turki Utsmani tetapi juga melibatkan seluruh Muslim yang ada di dunia dan beberapa negara Barat yang tergabung dalam blok poros. Sehingga menggambarkan kekuatan Islam pada musuh Turki Utsmani di perang dunia pertama, kemudian dalam perjalanan jihad Utsmani pada akhirnya menuai kegagalan dan kekalahan yang menyebabkan runtuhnya Turki Utsmani dan berdirinya Republik Sekular Turki yang di dalangi gerakan Freemasonry dan Musthafa Kemal Ataturk. Selain itu akan dibahas pula konsep, dampak, dan dinamika politik Utsmani terhadap umat Islam dan kerjasamanya dalam aspek militer dan ekonomi kepada negara blok poros sehingga masih menjadikan Utsmani eksis hingga pada tahun 1924. Perlu ditegaskan kembali di masa politik jihad yang berlangsung pada tahun 1914-1918, Turki Utsmani telah kehilangan banyak kekuasaanya di benua Asia, Afrika, dan Eropa sehingga dengan munculnya politik Jihad diharapkan dapat memenangkan Perang Dunia Pertama dan mengembalikan wilayah khususnya wilayah yang mayoritasnya beragama Islam akan tetapi usaha yang mereka lakukan berujung pada perpecahan dan kehancuran diinternal Turki Utsmani sendiri.Kata Kunci: Jihad, Perang Dunia Pertama, dan Turki Utsmani.

Page 1 of 1 | Total Record : 5