Sawwa: Jurnal Studi Gender
Sawwa: Jurnal Studi Gender focuses on topics related to gender and child issues. We aim to disseminate research and current developments on these issues. We invite manuscripts on gender and child topics in any perspectives, such as religion, economics, culture, history, education, law, art, communication, politics, and theology, etc. We look forward to having contributions from scholars and researchers of various disciplines
Articles
30 Documents
Search results for
, issue
"Vol 8, No 2 (2013): April 2013"
:
30 Documents
clear
PENDIDIKAN PRALAHIR: MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK DENGAN BACAAN AL-QUR’AN
Kusrinah Kusrinah
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2013): April 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (264.588 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v8i2.657
Pendidikan anak dimulai sejak masih dalam kandungan sebab masa-masa selanjutnya sangat ditentukan oleh masa anak dalam kandungan. Semenjak dalam kandungan janin sudah melewati proses belajar. Janin sudah mulai bisa mendengar dengan jelas pada usia enam bulan dalam kandungan sehingga ia dapat menggerak-gerakkan tubuhnya sesuai dengan irama nada suara ibunya. Al-Qur’an adalah mukjizat yang telah Allah jamin kemurniannya hingga hari kiamat kelak. Ada banyak kemuliaan dan kebaikan yang ada dalam al-Qur’an, salah satunya adalah al-Qur’an dapat merangsang otak anak dan meningkatkan intelegensinya. Hal ini disebabkan karena bacaan al-Qur’an yang dibaca dengan tartil dan sesuai dengan tajwidnya memiliki frekuensi dan panjang gelombang yang mampu mempengaruhi otak secara positif dan mengembalikan keseimbangan dalam tubuh. Al-Qur’an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi.
KESETARAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM HUKUM PERKAWINAN ISLAM
Rustam Dahar Karnadi Apollo Harahap
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2013): April 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (335.533 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v8i2.662
Perkawinan merupakan sebuah kontrak antara dua orang pasangan yang terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam posisi yang setara. Seorang perempuan sebagai pihak yang sederajat dengan laki-laki dapat menetapkan syarat-syarat yang diinginkan sebagaimana juga laki-laki. Perkawinan secara mendasar berarti melibatkan diri dengan pembicaraan mengenai kasih sayang (mawaddah wa rahmah), dan hal inilah yang merupakan pokok pondasi suatu perkawinan. Dengan demikian hubungan antara suami dan isteri adalah hubungan horizontal bukan hubungan vertikal, sehingga tidak terdapat kondisi yang mendominasi dan didominasi. Semua pihak setara dan sederajat untuk saling bekerja sama dalam sebuah ikatan cinta dan kasih sayang. Permasalahan perkawinan seringkali menjadi pemicu munculnya isu ketidaksetaraan dalam keluarga, padahal sejatinya Islam membawa norma-norma yang mendukung terciptanya suasana damai, sejahtera, adil dan setara dalam keluarga. Untuk menjawab berbagai berbagai pertanyaan seputar kedudukan laki-laki dan perempuan dalam hukum perkawinan Islam, tulisan ini akan mengungkapkan tentang berbagai kesetaraan dalam hukum perkawinan yang selayaknya dipahami agar tidak menimbulkan pandangan yang berat sebelah terhadap kelompok jender tertentu.
PEMBERDAYAAN WANITA BERBASIS POTENSI UNGGULAN LOKAL
Lutfiyah Lutfiyah
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2013): April 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (209.667 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v8i2.653
Perempuan memiliki potensi untuk melakukan berbagai kegiatan produktif yang menghasilkan dan dapat membantu ekonomi keluarga. Lebih luas lagi ekonomi nasional, apalagi potensi tersebut menyebar di berbagai bidang. Suatu kenyataan bahwa dewasa ini keikut-sertaan wanita dalam mencapai tujuan pembangunan sangat diharapkan. Berbagai peran dan tugas ditawarkan bagi wanita, dalam hal ini tentunya kita harus selalu selektif jangan sampai terkecoh sehingga lupa pada kodratnya. Melalui program Desa Vokasi ini diharapkan terbentuk kawasan desa yang menjadi sentra beragam vokasi, dan terbentuknya kelompok-kelompok usaha yang berasal dari sumber daya wanita yang memanfaatkan potensi sumberdaya dan kearifan lokal. Dengan demikian, warga masyarakat dapat belajar dan berlatih menguasai keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja atau menciptakan lapangan kerja sesuai dengan sumberdaya yang ada di wilayahnya, sehingga taraf hidup masyarakat semakin meningkat.
PERAN TERAPI KELUARGA EKSPERIENSIAL DALAM KONSELING ANAK UNTUK MENGELOLA EMOSI
Widayat Mintarsih
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2013): April 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (250.909 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v8i2.658
Keberhasilan proses konseling anak sangat membutuhkan peran dari anggota keluarga. Keluarga merupakan tempat yang pertama bagi anak untuk mendapatkan pendidikan bagaimana mengelola emosi dengan baik.Tujuannya adalah agar anak dapat melaksanakan tugas perkembangan secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh keluarga untuk mengatasi jika terjadi masalah pada anak adalah dengan melakukan konseling anak berbasis terapi keluarga eksperiensial dengan melibatkan seluruh anggota keluarga. Terapi keluarga eksperiensial menekankan pada proses per tumbuhan alamiah dalam keluarga untuk meningkatkan rasa memiliki keluarga dan memberikan kebebasan sebagai individu dalam keluarga agar memiliki pengalaman dalam mengekspresikan emosi. Terapi eksperiensial bersifat eksistensial, humanistik, dan fenomenologis. Tujuan terapi ini adalah membantu memperjelas komunikasi dalam keluarga, menghindarkan adanya keluhan-keluhan, sehingga ada usaha untuk menemukan solusi. Untuk itu seluruh anggota keluarga ikut aktif terlibat dalam proses konseling dan tetap mempertahankan harga diri yang positif. Konseling anak dengan terapi keluarga eksperiensial diharapkan mampu melahirkan efek fungsi terapis dan dinamika psikologis bagi anak dalam berperilaku yang positif, sesuai dengan peran dalam memenuhi kebutuhan emosionalnya. Cara yang dilakukan anak untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya berdasarkan cara pandang yang terbaik menurut yang mereka ketahui. Hal itu merupakan tantangan bagi orang tua dan anggota keluarga bagaimana menghadapi dan mengelola perkembangan emosional secara positif yang terjadi pada anak.
MEREKA YANG TERCERABUT DARI MASA DEPANNYA: ANALISIS SOSIOLOGIS PROBLEM SOSIAL ANAK DI INDONESIA
Thohir Yuli Kusmanto
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2013): April 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (285.282 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v8i2.654
Anak merupakan aset yang berharga bagi sebuah keluarga dan masyarakat dalam merengkuh kehidupan kolektifnya untuk menyongsong masa depan. Keluarga dan masyarakat yang peduli pada anak dalam rangka tumbuh dan berkembang secara manusiawi, sedang berinvestasi yang akan sangat menguntungkan bagi keberlangsungan hidupnya. Untuk itu mereka rela mencurahkan tenaga, biaya dan pikirannya demi tumbuh dan berkembangnya anak secara lebih baik. Lingkungan dan dukungan sosial kemasyarakatan yang baik, akan menjadikan anak sebagai satu generasi yang baik. Indikasinya dapat dilihat pada kemampuannya untuk berperan sosial sesuai harapan dan keinginan masyarakatnya. Namun demikian tidak semua anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara lebih baik dalam kehidupannya. Banyak dari mereka yang menghadapi masalah sosial yang serius, baik psiokologis, fisiologis, ekonomis dan lain-lainnya. Berbagai persoalan yang ada tersebut, merupakan sesuatu yang tidak dikehendakinya. Kondisi eksternal di luar dirinyalah yang paling banyak menjadi penyebabnya. Baik dari lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga, maupun lingkungan yang luas yaitu masyarakatnya, bahkan negara. Berdasar realitas tersebut penulis tertarik untuk menelaah secara sosiologis problem sosial anak di Indonesia, dalam makalah ini.
SEKSISME DALAM SAINS
Nadiatus Salama
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2013): April 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (241.541 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v8i2.659
Seksisme telah terjadi sejak lama yang dilakukan oleh kelompok yang tidak mengakui kesetaraan jender. Meskipun diskriminasi ini merupakan hal yang buruk dan berlawanan dengan hukum, namun perilaku ini masih eksis, dan mendarah daging dalam pemikiran, sikap dan tindakan sebagian masyarakat yang sudah modern ini. Sejumlah sains dan riset turut digunakan untuk membenarkan sejumlah keyakinan yang seksisme, padahal, telah terjadi bias dan mis-interpretasi dalam riset tersebut. Perempuan dilihat sebagai suatu sosok yang menjadi masalah oleh sains. Itulah sebabnya, saat ini, perempuan bersuara lebih keras dalam memperjuangkan hak-haknya daripada pada masa sebelumnya, berharap agar segera dihentikan dan tidak berlarut-larut. Melawan seksisme bisa dilakukan secara individu maupun kolektif, dengan cara melaporkan diskriminasi yang terjadi, atau juga memberikan penyuluhan atau pendidikan tentang seksisme agar diskriminasi ini tidak menjadi lebih parah lagi. Di sisi lain, negara, sebagai institusi resmi pelindung warganya, juga wajib menjadi pengayom dan pembela korban seksisme.
MENYOROTI PASAL-PASAL RUU KUHP YANG MENGANDUNG RELASI GENDER DAN ANAK DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM
Rohmadi Rohmadi
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2013): April 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (294.603 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v8i2.655
Diskursus tentang relasi gender dan anak kembali mengemuka seiring dengan pembahasan RUU KUHP tentang persoalan seputar perkawinan. Nikah siri, perzinaan, kumpul kebo dan pelacuran menjadi isu hangat yang termuat dalam RUU tersebut. Permasalahan ini menjadi menarik dan sangat penting untuk dikaji mengingat bukan hanya menyangkut norma agama dan budaya namun juga terkait dengan isu gender dan anak. Bagaimanapun, berbagai praktik perzinaan, kumpul kebo dan sejenisnya berdampak pada pola relasi antara laki-laki dan perempuan, dan juga anak. Tulisan ini akan memaparkan tentang pasal-pasal dalam RUU KUHP yang secara spesifik membahas tentang relasi tersebut dengan menggunakan perspektif hukum pidana Islam.
GERAKAN DAKWAH AKTIVIS PEREMPUAN ‘AISYIYAH JAWA TENGAH
Dedy Susanto
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2013): April 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (277.025 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v8i2.660
Gerakan dakwah diartikan setiap aktivitas dalam rangka melaksanakan dakwah Islam untuk mengajak manusia kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, adapun secara khusus, gerakan dakwah sering disebut sebagai gerakan Islam (al-harakah al-Islamiyah) atau juga disebut jamaah dakwah atau juga disebut kutlah da’wah (kelompok dakwah), yaitu sebuah kelompok yang terdiri dari orang-orang yang bersama-sama melaksanakan dakwah dalam satu kesatuan kerja dan koordinasi. Gerakan dakwah para aktivis perempuan ‘Aisyiyah Jawa Tengah sudah dilakukan dengan penggerakan organisasi yang ideal, hal ini dapat dilihat dari berbagai koordinasi dan kerja sama antar lembaga dalam organisasi. Solidnya kerjasama yang dilakukan menjadikan ‘Aisyiyah dapat mengaplikasikan kegiatan dakwahnya di masyarakat. Kegiatan dakwah yang dilakukannya secara langsung dapat berdampak positif bagi anggota dan masyarakat luas dari berbagai bidang kehidupan.
PENGENALAN LITERASI MEDIA PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR
Amelia Rahmi
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2013): April 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (255.694 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v8i2.656
Kehadiran media massa telah memberi banyak perubahan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan cara kita beragama atau mengamalkan ajaran agama yang kita anut. Seluruh lapisan masyarakat juga terkena perubahan, termasuk anak usia sekolah dasar. Hal ini disebabkan oleh daya tarik media yang begitu kuat, program yang terencana dengan kombinasi audio dan visual yang menarik. Kompetisi yang sangat ketat membuat media massa saling berebut pemirsa, sehingga sering kali terjadi pertimbangan profit menjadi nomor satu bila dibandingkan dengan faktor edukasi isi siaran.Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media massa—termasuk anak-anak—menjadi sadar bagaimana cara media dikonstruksi/dibuat dan diakses. Literasi media harus dikembangkan dalam masyarakat kita karena tidak seorang pun manusia dilahirkan ke dunia ini dalam kondisi telah melek media, “No one is born media literate”.Mengajarkan pada anak-anak usia Sekolah Dasar dan sederajat (MI) menjadi sangat strategis, karena mereka adalah anak yang tengah tumbuh dengan pesat secara biologis maupun psikis. Mereka suka meniru, tanpa berupaya mengkritisinya terlebih dahulu. Orang tua dan guru merupakan pihak yang paling dekat dengan anak. Anak seumuran SD bahkan lebih sering patuh kepada gurunya bila dinasihati. Oleh karena itu guru SD dapat menyisipkan materi literasi media saat mengajar di kelas dengan model penayangan audio visual film kartun yang banyak digemari anak-anak, dan dialog kepada murid setelah menyaksikan tayangan tersebut. Jadi tidak perlu kita menyalahkan media begitu saja karena itu tidak adil. Media bisa bermanfaat (bahkan sangat banyak manfaatnya, seperti untuk pendidikan, sumber informasi dan inspirasi, kontrol sosial), namun sekaligus bisa sangat merugikan penontonnya karena.
MELINDUNGI ANAK DARI KONTEN NEGATIF INTERNET: STUDI TERHADAP PERAMBAN WEB KHUSUS ANAK
Masyari Ulinnuha
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2013): April 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (277.077 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v8i2.661
Dunia teknologi dan internet berkembang sangat pesat di dunia, tak terkecuali Indonesia. Imbasnya, jumlah pengguna internet saat ini semakin besar dan bertambah terus setiap harinya. Sebagian dari pengguna internet tersebut adalah anak-anak. Sementara banyak sekali situs web yang tidak layak menjadi konsumsi anak-anak. Untuk itu diperlukan pembatasan bagi anak-anak dalam mengakses situs web.Tulisan ini membahas beberapa peramban web khusus anak. Ada 4 peramban yang dibahas yaitu KidZui, Hoopah Kidview Computer Explorer, Peanut Butter PC dan NoodleNet. Keempat peramban tersebut dengan segala kelebihannya bisa menjadi alternatif untuk membatasi anak dari dunia internet yang sangat luas. Namun keempat peramban tersebut tetap mempunyai kelemahan sehingga peran orang tua tetap diperlukan agar anak tidak terjebak ke dalam situs yang tidak layak.