cover
Contact Name
Asy-Syariáh
Contact Email
Jurnalasy-syariah@uinsgd.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
ine.fauzia@uinsgd.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Asy-Syari'ah
ISSN : 20869029     EISSN : 26545675     DOI : -
Memfokuskan diri pada publikasi berbagai hasil penelitian, telaah literatur, dan karya ilmiah lainnya yang cakupannya meliputi bidang ilmu syariah, hukum dan kemasyarakatan secara monodisipliner, interdisipliner, dan multidisipliner.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 19 No. 2 (2017): Asy-Syariah" : 7 Documents clear
PANDANGAN HUKUM ISLAM TENTANG ADAT HITUNGAN DALAM PERKAWINAN DI KECAMATAN CIBADAK KABUPATEN SUKABUMI: Islamic Legal Perspective on the Dowry Calculation Custom in Marriage in Cibadak District, Sukabumi Regency Malik, Ikbar Maulana
Asy-Syari'ah Vol. 19 No. 2 (2017): Asy-Syariah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v19i2.4283

Abstract

AbstractThere is a custom in Cibadak Sub-District, Sukabumi Regency, that a prospective spouse candidate and the wedding date are determined through a particular date calculation. The community members believe this calculation will give them a good day to carry out the ceremony and the newly wed will have harmonious marriage. This study aimed to describe the custom practice through the perpective of Islamic law. The applied method of this study is descriptive analysis upon with qualitative data, collected through desk study, interviews, and observation. This study shows that most of marriage conducted in the district applied the calculation, since they believe this custom will bring happiness to the couple. This intention is correspond to the aims of marriage based on the the Republic of Indonesia Compilation of Islamic Law 1991 which are to realize a sakinah, mawaddah and warahmah domestic life.This custom is permissible since it is merely part of effort to achieve the marriage goals.Keywords: Marriage, customary law, Islamic lawAbstrakMasyarakat Kelurahan Cibadak Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi, memiliki kebiasaan untuk melakukan hitungan tanggal dalam menentukan pasangan dan hari baik untuk menikah. Hal itu dipercaya akan mencapai tujuan dalam perkawinan yakni keharmonisan dalam keluarga. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan kebiasaan tersebut dihubungkan dengan perspektif hukum Islam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan jenis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perkawinan yang dilakukan di kelurahan ini menggunakan adat hitungan sebelum akad perkawinan. Hal tersebut dilakukan karena masyarakat setempat percaya bahwa ia akan mendatangkan kebaikan dalam kehidupan rumah tangga yang akan mereka lalui. Kepercayaan tersebut searah dengan tujuan perkawinan yang diangkat antara lain dalam Kompilasi Hukum Islam yaitu untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah”. Kebiasaan tersebut dapat diterima mengingat ia hanya sekedar wasilah atau ikhtiar semata.  Kata Kunci:Perkawinan, hukum adat, Hukum Islam
RASIONALISME DALAM TAFSIR AHKAM: Rationalism in Legal Exegesis (Tafsīr Aḥkām) Jaenudin, Jaenudin
Asy-Syari'ah Vol. 19 No. 2 (2017): Asy-Syariah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v19i2.4290

Abstract

Abstract Interpretation of al-Quran is a human effort to understand the meaning and purpose of God’s words based on their ability level. Various methods of interpretation have been born along with the development of religion and science. The method used in this study is Descriptive-Analysis by describing the method of interpretation. The verses of al-Quran in the field of Law have become a particular study, called as Tafsir Ahkam. In Islamic law, this study broadly branched out into rationalist schools of fiqh (ahl al-Ra'y) and textual Hijaz schools (ahl al-hadis). But these divisions are getting thinner as law development (instibath) requires reasoning gained from qiyas and istihsan or maslahat.  Therefore, the tafsir ahkam method developed with the growth of the school of fiqh, and the emergence of a rational approach in tafsir ahkam is a logical consequence of a dynamic of ijtihad fiqh method development. Keywords: Tafsir, Ahl ra’yi, Fiqh.   Abstrak Tafsir Al-Quran merupakan upaya manusia untuk memahami makna dan maksud firman Allah sesuai dengan kadar kemampuannya. Berbagai metode Tafsir telah lahir seiring dengan perkembangan ilmu agama dan sains. Ayat-ayat al-Quran di bidang Hukum telah menjadi bidang kajian tafsir tersendiri dan melahirkan tafsir ahkam. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif-Analisis dengan menguraikan tentang metode penafsiran. Di bidang hukum Islam telah berkembang pula mazhab fiqh yang secara garis besar terbagi atas mazhab fiqh irak yang rasionalis (ahl al-Ra’y) dan mazhab Hijaz yang tekstual (ahl al-hadis). Namun ciri tersebut semakin tipis seiring berkembang istinbath hukum yang memerlukan penalaran baik dengan qiyas, istihsan atau maslahat. Karena itu, corak tafsir ahkam berkembang dengan tumbuhnya mazhab fiqh, dan lahirnya pendekatan rasional dalam tafsir ahkam sebagai konsekuensi logis dari pertumuhan metode ijtihad fiqh yang dinamis. Kata Kunci: Tafsir, Ahl ra’yi, Fiqh.
SANKSI HUKUM BAGI FASILITATOR TINDAK PIDANA ASUSILA DALAM PERSFEKTIF FIQH JINAYAH: Legal Sanctions for Facilitators of Immoral Crimes from the Perspective of Islamic Criminal Law (Fiqh Jināyah) Badruzaman, Dudi
Asy-Syari'ah Vol. 19 No. 2 (2017): Asy-Syariah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v19i2.4319

Abstract

AbstractNowadays, adultery is no longer an individual act, but becomes an industry with its localization both legal and illegal. In this case, many actors are involved in it, such as the presence of pimps, sex brokers, place providers, delivery agents, and so on. They can be referred to as facilitators of adultery, in addition to the adulterer itself. The purpose of this study was to determine the view of fiqh jinayah towards facilitators of adultery acts and its sanctions. By using the content analysis method as well as the juridical-normative approach to various qualitative data in form of rules and theories related to the object of research, this study shows that facilitators of the acts are categorized as jarimah and jarimah ta'zir to be specific. Judging from the concept of participation, the facilitator of obscene acts are participating directly or indirectly depending on his case, Sanctions for facilitators of this obscene act are ta'zir sanctions. The severity of the punishment becomes the state rights in order to achieve public benefits.Keywords: fiqh jinayah, facilitator, immoral act AbstrakSeks bebas sekarang bukan sekedar perbuatan perseorangan lagi, tapi sudah menjadi “industri” dengan adanya lokalisasi baik legal maupun ilegal. Dalam hal ini banyak pelaku terlibat didalamnya seperti adanya germo, calo seks, penyedia tempat, tukang antar, dan lain sebagainya. Mereka dapat disebut sebagai fasilitator perbuatan zina/cabul, di samping pelaku zina itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan fiqh jinayah terhadap fasilitator perbuatan asusila serta sanksi bagi mereka. Dengan menggunakan metode content analisys serta pendekatan yuridis-normatif terhadap berbagai data kualitatif berupa peraturan dan teori yang terkait dengan objek penelitian, penelitian ini menunjukkan bahwa para fasilitator perbuatan asusila merupakan perbuatan jarimah dan termasuk pada bagian jarimah ta’zir. Dilihat dari konsep turut serta, fasilitator perbuatan cabul ini termasuk pada turut serta secara tidak langsung dan bergantung pada kasusnya, bisa dengan jalan persepakatan, menghasut (menyuruh), atau memberi bantuan. Sanksi bagi fasilitator perbuatan cabul ini adalah sanksi ta’zir, berat ringannya menjadi hak negara sesuai dengan tuntutan kemaslahatan.Kata kunci: fiqih jinayah, fasilitator, asusila.
PENGGUNAAN METODE IJTIHAD INTIQA’I DALAM PENGELOLAAN ZAKAT PRODUKTIF DI KOPERASI KPRI SABILULUNGAN BANDUNG: The Use of Intiqā’ī Ijtihād Method in Managing Productive Zakat at KPRI Sabilulungan Cooperative, Bandung Risnandar, Cheppy
Asy-Syari'ah Vol. 19 No. 2 (2017): Asy-Syariah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v19i2.4348

Abstract

AbstractYusuf al-Qaradawi with his various opinions has placed him as a contemporary fiqh expert, among others in the field of zakat. His opinions include the analogy of various business activities such as bonds and stocks into trade zakat. This paper aims to explain the implementation of the trade zakat at KPRI Sabilulungan, particularly regarding the legal basis used in determining mustahiq, the istinbath method, and how to channel it. The method used in this study is descriptive analytical, which qualitatively examines the opinions of Yusuf al-Qaradawi and observations at KPRI Sabilulungan obtained by observation and interviews. The results of the study indicate that KPRI Sabilulungan uses the same legal basis as that used by Yusuf al-Qaradawi with the istinbath intiqa'i / tarjih method, especially in applying the goal of distribution of mustahik. The implementation of zakat distribution is given to amil zakat and then distributed to mustahik.Keywords:Yusuf al-Qaradhawi, zakat trade, mustahik, cooperative AbstrakYusuf al-Qaradhawi dengan berbagai pendapatnya telah menempatkannya sebagai ahli fiqh kontemporer, antara lain di bidang zakat. Pendapatnya antara lain hasil analogi berbagai kegiatan usaha seperti obligasi dan saham ke dalam zakat perdagangan. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan pelaksanaan zakat perdagangan tersebut di KPRI Sabilulungan, khususnya mengenai landasan hukum yang digunakan dalam penentuan mustahiq, metrode istinbath, serta cara penyalurannya. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif analistis, yang secara kualitatif mengkaji pendapat Yusuf al-Qaradhawi dan hasil pengamatan di KPRI Sabilulungan yang didapat dengan cara observasi dan wawancara. Hasil kajian menunjukkan bahwa KPRI Sabilulungan menggunakan dasar hukum yang sama dengan yang digunakan oleh Yusuf al-Qaradhawi dengan metode istinbath intiqa’i/tarjih, khususnya dalam penerapan sasaran pendistribusian mustahik. Adapun pelaksanaan penyaluran zakat diberikan kepada amil zakat untuk kemudian dibagikan kepada para mustahik.Kata Kunci: Yusuf al-Qaradhawi, zakat perdagangan, mustahik, koperasi
PEMULIHAN (REPARATIONS) KORBAN PELANGGARAN BERAT HAK ASASI MANUSIA DI ARGENTINA DAN CILE: Reparations for Victims of Gross Human Rights Violations in Argentina and Chile Sujatmoko, Andrey
Asy-Syari'ah Vol. 19 No. 2 (2017): Asy-Syariah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v19i2.4368

Abstract

AbstractReparation is an integral part of state responsibility for the past of gross human rights violations committed in any country and it is also legal obligation under international law. Those violations have ever committed in Argentina (1976-1983) and Chile (1973-1990) during the military dictatorship regime. The applied method in this study is descriptive-analytic with historical approach to the reparation efforts for the victims of the past gross human rights violations in those countries. The author concludes that the characteristic of the gross human rights violations committed in Argentina and Chile can be categorized as crime against humanity based on the Rome Statute 1998. Reparations programs by fullfiling economic and social rights of the victims of gross human rights violations have been done by both countries as well.  Keywords: Reparation, Victim, Violation AbstrakPemulihan adalah bagian integral dari tanggung jawab negara atas pelanggaran berat HAM masa lalu yang terjadi di dalam suatu negara dan hal itu juga merupakan kewajiban hukum menurut hukum internasional. Pelanggaran-pelanggaran tersebut pernah terjadi di Argentina (1976-1983) dan Chile (1973-1990) selama rezim diktator militer berkuasa. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif analitis dengan pendekatan historis terhadap upaya upaya-upaya pemulihan terhadap para korban pelanggaran berat HAM masa lalu di kedua negara tersebut. Penulis menyimpulkan bahwa karakteristik pelanggaran berat HAM yang terjadi di Argentina dan Cile dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan berdasarkan Statuta Roma 1998. Program-program pemulihan dengan memenuhi hak-hak ekonomi dan sosial dari para korban pelanggaran juga telah dilakukan oleh kedua negara itu. Kata Kunci: Pemulihan, Korban, Pelanggaran
INDONESIA DALAM DOKTRIN HUKUM DAN PEMBANGUNAN: Indonesia in the Doctrine of Law and Development Fauzia, Ine
Asy-Syari'ah Vol. 19 No. 2 (2017): Asy-Syariah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v19i2.4358

Abstract

AbstractBased on Law and development doctrine, according to David Trubek and Alvaro Santos in The New Law and Economic Development book, there are at least three phases of legal roles in development, namely 1) Law and Developmental State, 2) Law and the Neoliberal Market, and 3) The emerging paradigm. Using descriptive analysis methods, this paper attempts to examine Indonesia’s position in these three phases through legislation, government policies and secondary data related to this paper. The search results show that Indonesia has experienced the first and second moments of legal and development relations. To enter the third moment, Indonesia should not experience difficulties if Pancasila as national ideology is fully understood and re-enforced in Indonesia.Keywords:development phase, role of law, human rights AbstrakBerdasarkan Doktrin Hukum dan Pembangunan menurut David Trubek dan Alvaro Santos melalui buku The New Law and Economic Development, setidaknya terdapat tiga fase perkembangan peran hukum dalam pembangunan, yaitu 1) Law and the Developmental State, 2) Law and the Neoliberal Market, dan 3) The emerging paradigm. Dengan menggunakan metode deskriptif analisis, tulisan ini mencoba untuk mengkaji posisi Indonesia dalam ketiga fase tersebut melalui peraturan perundang-undangan, kebijakan-kebijakan pemerintah serta data-data sekunder yang terkait dengan tulisan ini. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa Indonesia telah mengalami momen pertama dan momen kedua dari hubungan hukum dan pembangunan. Untuk masuk kepada momen ketiga, Indonesia hendaknya tidak akan mengalami kesulitan jika falsafah Pancasila yang digadang sebagai sumber dari segala sumber hukum dipahami secara utuh untuk kemudian ditegakkan di bumi Indonesia.Kata Kunci:fase pembangunan, peran hukum, hak asasi manusia
SISTEM NENGAH SAWAH DI DESA CIKITU KABUPATEN BANDUNG DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM: The Nengah Sawah Land-Sharing System in Cikitu Village, Bandung Regency: An Islamic Legal Perspective Rohmana, Asep
Asy-Syari'ah Vol. 19 No. 2 (2017): Asy-Syariah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v19i2.4390

Abstract

AbstractThe practice of muzara'ah, or joint management of agricultural land, can be found in various regions in Indonesia. One of them is in the Cikitu Village, Pacet District, Bandung Regency, using the term nengah. One of the main principles in this muzara'ah is the determination of profit sharing at the beginning of agreement (akad), in addition to other requirements. The pillars are the parties, seeds and the types of plants to be planted, land to be cultivated, and the processing period. This study raises issues regarding the suitability of nengah with the conditions required by muzara'ah. The approach method used in this study is case study with data obtained from interviews, fiqh muamalah documentation and references. The results of the study show that the nengah system in Cikitu Village has fulfilled the pillars of muzara'ah. However, from the conditions, the profit sharing between land owner and farmer is not determined at the beginning of agreement (akad), but at harvest time. If the results are good, the distribution is 50:50, but if the yield is considered unsatisfactory, then the profit sharing is 2/3 for the land owner and 1/3 for the sharecropper. The determination has an element of uncertainty (gharar) in the distribution of crops.Keywords:Muzara’ah, land cultivation, sharecropAbstrakPraktik muzara’ah, atau pengelolaan bersama lahan pertanian, dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satunya adalah di Desa Cikitu Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung dengan menggunakan istilah nengah. Salah satu prinsip utama dalam muzara’ah ini adalah penetapan pembagian hasil di awal akad, di samping persyaratan lainnya. Adapun rukunnya adalah orang yang berakad, benih dan jenis tanaman yang akan ditanam, lahan yang dikerjakan, dan jangka waktu pengolahan. Kajian ini mengangkat permasalahan mengenai kesesuaian pelaksanaan nengah dengan ketentuan yang disyaratkan dalam muzara’ah tersebut. Metode pendekatan yang digunakan dalam kajian ini yaitu studi kasus dengan data-data yang diperoleh dari hasil wawancara, dokumentasi dan referensi fiqh muamalah. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggarapan lahan dengan cara nengah sawah di Desa Cikitu telah memenuhi rukun muzara’ah. Namun dari syarat, pembagian hasil untuk petani pemilik lahan dan petani penggarap tidak ditentukan pada waktu akad, melainkan ditentukan pada waktu panen.  Ketentuan tersebut antara lain jika hasilnya bagus maka pembagiannya 50:50, akan tetapi jika hasil panennya dirasa kurang memuaskan, maka bagi hasilnya 2/3 untuk pemilik lahan dan 1/3 untuk petani penggarap. Penetapan tersebut memiliki unsur ketidakpastian (gharar) dalam pembagian hasil panen.Kata Kunci :Muzara’ah, Nengah, penggarapan lahan

Page 1 of 1 | Total Record : 7