cover
Contact Name
Y. Andi Trisyono
Contact Email
anditrisyono@ugm.ac.id
Phone
+62274-523926
Journal Mail Official
jpti.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
Jalan Flora No. 1, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia
ISSN : 14101637     EISSN : 25484788     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2014)" : 7 Documents clear
Deteksi dan Sebaran Soybean Mosaic Virus (SMV) dan Soybean Stunt Virus (SSV) di Berbagai Sentra Produksi Kedelai di Indonesia Sri Sulandari; Sedyo Hartono; Y.M.S. Maryudani; Yashanti B. Paradisa
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 18, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2553.104 KB) | DOI: 10.22146/jpti.15606

Abstract

There were some commonly found mosaic diseases on soybean in Indonesia that were suspected to be caused by viruses. The main virus diseases of soybean plant are Soybean mosaic virus (SMV) and Soybean stunt virus (SSV). The occurrence of mosaic diseases are very harmful because they might reduce soybean grain yield. The aim of this research is to determine the disease incidence and distribution of mosaic disease in the field that caused by SMV and SSV. The surveys were conducted in some regions of the area of soybean production center in Indonesia including: Special Region of Yogyakarta (DIY), Central Java, East Java, West Nusatenggara (NTB), and South Sulawesi. Detection of the viruses were done by serological test using I-ELISA and by molecular analysis using PCR. The field surveys showed that the mosaic symptoms always found in all the field location. The disease incidence and the disease severity varied in any locations. The disease symptoms showed as mild mosaic, yellow mosaic, mosaic with blister, and mosaic with leaves malformation by curling and stunting. The I-ELISA showed that all the samples collected were double infected by SMV and SSV. Both of the viruses were widespread all over the soybean production center in Indonesia. By PCR using CI-SMV primer, the DNA of virus could be amplified to about 638 bp which indicated SMV infection, but using cp-SSV primer, the DNA could be amplified to about 657 bp that indicated of SSV infection.  Pada pertanaman kedelai di Indonesia banyak ditemukan gejala mosaik yang diduga disebabkan virus. Virus penyebab penyakit mosaik pada tanaman kedelai antara lain Soyben mosaic virus (SMV) dan Soybean stunt virus (SSV). Keberadaan penyakit mosaik pada pertanaman kedelai sangat merugikan karena berpotensi dapat menurunkan angka hasil kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kejadian dan sebaran penyakit mosaik yang disebabkan SMV dan SSV di berbagai sentra produksi kedelai di Indonesia. Survei dilakukan di DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan Sulawesi Selatan. Deteksi keberadaan virus dilakukan secara serologi dengan teknik I-ELISA (Indirect-Enzyme-linked Immunosorbent Assay) dan secara molekuler dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction ). Berdasarkan pengamatan di lapangan gejala mosaik selalu ditemukan pada setiap lokasi pengamatan. Kejadian dan tingkat keparahan penyakit yang ditemukan bervariasi. Gejala yang ditemukan adalah mosaik ringan, mosaik kuning, mosaik dengan tonjolan warna hijau tua (blister), dan mosaik dengan malformasi berupa daun keriting dan tanaman kerdil. Berdasarkan uji I-ELISA semua sampel daun bergejala mosaik terinfeksi ganda oleh SMV dan SSV. Kedua jenis virus tersebut sudah tersebar luas di semua sentra pertanaman kedelai di Indonesia. Deteksi PCR menggunakan primer spesifik CI-SMV dari beberapa lokasi dapat mengamplifikasi pita DNA berukuran sekitar 638 bp yang mengindikasikan terinfeksi SMV, sedangkan menggunakan primer universal cp-CMV dapat mengamplikasi pita DNA berukuran sekitar 657 bp yang mengindikasikan terinfeksi SSV.
Keragaman Semut pada Ekosistem Tanaman Kakao di Desa Banjaroya Kecamatan Kalibawang Yogyakarta Moh. Ikbal; Nugroho Susetya Putra; Edhi Martono
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 18, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.15607

Abstract

This study aims to determine the diversity of ants in cocoa (Theobroma cacao L.) ecosystems in six hamlets in the village of Banjaroya, District Kalibawang Yogyakarta. The sampling was carried out by the method of feeding ants using tuna and sugar solution, which is placed on the cacao tree and the ground surface; pit-fall traps; and direct picking by hand. Six sub-family of ants, namely Cerapachynae, Dolichoderinae, Myrmicinae, Ponerinae, and Pseudomyrmicinae were found. Six of the most abundant genera found in each catchment were Dolichoderus sp., Anoplolepis sp., Paratrechina sp., Crematogaster sp., Pheidole sp., and Pheidologeton sp., which is known to be aggressive and invasive. The analysis showed that the diversity of ant communities in the Village Banjaroya categorized as medium (H ‘> 1-3), meaning that the overall state of the ecosystem of the cocoa crop was classified as stable or steady. Meanwhile, the results of the analysis of the dominance index (C) shows that the community of ants in each village tends was tended to be dominated by a single species (C close to 0). The relationship between habitat condition and the diversity of ant was discussed in this article.  Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaman semut pada ekosistem kakao (Theobroma cacao L.) di 6 dusun di Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang Yogyakarta. Pengambilan sampel semut dilakukan dengan metode pengumpanan menggunakan ikan tuna dan larutan gula yang diletakkan pada pohon kakao dan permukaan tanah; lubang perangkap; dan pemungutan dengan tangan. Enam subfamili semut, yaitu Cerapachynae, Dolichoderinae, Myrmicinae, Ponerinae, dan Pseudomyrmicinae telah ditemukan di lokasi pengambilan sampel. Enam genus yaitu Dolichoderus sp., Anoplolepis sp., Paratrechina sp., Crematogaster sp., Pheidole sp. dan Pheidologeton sp. yang dikenal agresif dan invasif, ditemukan paling melimpah di setiap dusun. Hasil analisis keragaman komunitas semut di Desa Banjaroya menunjukkan bahwa secara keseluruhan keadaan ekosistem pada tanaman kakao masih tergolong stabil atau mantap dikategorikan sebagai medium (H’>1-3). Sementara itu, hasil analisis indeks dominasi (C) menunjukkan bahwa komunias semut pada setiap dusun cenderung didominasi oleh satu spesies (C mendekati 0). Hubungan antara kondisi habitat dengan keragaman semut didiskusikan dalam tulisan ini.
Eksplorasi Bakteri yang Berpotensi sebagai Agens Pengendali Hayati Fusarium solani dan Meloidogyne incognita pada Lada Citra Mayang Wardhika; Suryanti Suryanti; Tri Joko
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 18, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.15608

Abstract

Indonesia is major producer of black pepper (Piper nigrum L.), however the pepper production has been decreasing in the last decades. Black pepper yellowings caused by Fusarium solani and Meloidogyne incognita is one of the most important disease on pepper causing the decrease of pepper production. This research was aimed at the selection of potential bacteria as a biological control agents of F. solani and M. incognita on black pepper. The bacteria were isolated from rhizospheric soil of healthy plant. To determine the ability of biological agents, they were tested against F. solani and M. incognita. Seven isolates fluorescent pseudomonads, 19 isolates of Bacillus spp. and 21 bacterial isolates which were yet to be identified were isolated from soil rhizosphere. The results show that there are 5 antagonist bacterial isolates which were able to inhibit the growth of F. solani but so far no bacteria that caused cell lysis to M. incognita larvae was found.  Indonesia merupakan negara produsen lada yang pada beberapa waktu terakhir ini telah mengalami penurunan produksi. Penyakit kuning yang disebabkan oleh Fusarium solani dan Meloidogyne incognita merupakan salah satu penyebab terjadinya penurunan tersebut. Penelitian bertujuan untuk menyeleksi bakteri yang berpotensi sebagai pengendali hayati Fusarium solani dan Meloidogyne incognita pada lada. Isolasi bakteri dilakukan dari tanah rizosfer pertanaman lada sehat dan selanjutnya untuk mengetahui kemampuan agens hayati dilakukan uji antagonis terhadap F. solani dan M. incognita. Hasil isolasi dari rizosfer pertanaman didapatkan 7 isolat bakteri kelompok Pseudomonad fluoresen, 19 isolat bakteri Bacillus spp. dan 21 isolat bakteri yang belum diidentifikasi lebih lanjut. Hasil uji antagonis menunjukkan bahwa ada 5 isolat bakteri yang mampu menghambat pertumbuhan F. solani namun belum ditemukan adanya bakteri yang mampu menghambat pertumbuhan M. incognita.
Biological Control of Bacterial Wilt in South East Asia Triwidodo Arwiyanto
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 18, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.15603

Abstract

Bacterial wilt disease caused by Ralstonia solanacearum destroys many crops of different plant families in South East Asia despite many researches about the disease, and the availability of developed control method in other parts of the world. There is no chemical available for the bacterial wilt pathogen and biological control is then chosen as an alternative to save the crops. Most of the biological control studies were based on antagonism between biological control agent and the pathogen. The biological control agents were intended to reduce the initial inoculum of the pathogen. The effort to minimize the initial inoculum of the pathogen by baiting with the use of hypersensitive host-plant was only reliable when conducted in the greenhouse experiments. Various microorganisms have been searched as possible biological control agents, for instance avirulent form of the pathogen, soil or rhizosphere bacteria (Bacillus spp. and fluorescent pseudomonads), actinomycetes (Streptomyces spp.), yeast (Pichia uillermondii, Candida ethanolica), and a consortium of microorganisms known as effective microorganisms (EM). None of these biological control agents has been used in field application and they need further investigation in order to effectively control bacterial wilt. Opportunities and challenges in developing biological control to combat bacterial wilt are discussed in the paper.Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum menghancurkan banyak tanaman dalam famili yang berbeda di Asia Tenggara meskipun telah banyak penelitian tentang metode pengendaliannya. Penyakit ini sulit dikendalikan karena banyaknya variabilitas patogen dan belum tersedianya sumber ketahanan yang mapan. Di samping itu, sampai saat ini belum ada bahan kimia yang tersedia untuk patogen layu bakteri ini sehingga pengendalian biologi kemudian dipilih sebagai cara alternatif untuk menyelamatkan tanaman. Sebagian besar penelitian pengendalian biologi didasarkan pada antagonisme antara agen pengendalian biologi dan patogen. Agen pengendalian biologi tersebut dimaksudkan untuk mengurangi inokulum awal patogen. Upaya untuk meminimalkan inokulum awal patogen dengan umpan dengan menggunakan tanaman inang sangat rentan hanya dapat diandalkan ketika dilakukan dalam percobaan rumah kaca. Berbagai mikroorganisme telah diteliti kemungkinannya sebagai agensia pengendalian biologi seperti bentuk avirulen dari patogen, bakteri tanah atau bakteri rizosfer (Bacillus spp. dan pseudomonad fluorescen), actinomycetes (Streptomyces spp.), khamir (Pichia guillermondii, Candida ethanolica), dan konsorsium mikroorganisme yang dikenal sebagai EM (Effective Microorganisms). Meskipun demikian tidak satupun agensia pengendalian biologi ini sampai pada taraf aplikasi lapangan sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. Peluang dan tantangan dalam mengembangkan pengendalian biologi untuk memerangi penyakit layu bakteri dibahas pada tulisan ini.
Etiologi Penyebab Malformasi Tunas Ranting Kakao di Kulonprogo, DIY dan Segayung, Jawa Tengah Susamto Somowiyarjo; Sri Sulandari; Sedyo Hartono; Yashanti B. Paradisa; Tri Maruto Aji
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 18, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.15609

Abstract

The cocoa plants that showed severe swollen twig malformation was observed at cocoa cultivation of PT Pagilaran at Samigaluh, Kulon Progo and Segayung Central, Java. The symptoms could be observed easily at the nurseries, young plants, productive plants, and old plants. The basal part of the twig appears swollen and and there was also leaf curling symptoms. On late symptom the leaves form rossette and the plant growth would slow down. The old plant showed twigbroom-like symptom with many small leaves. In the field the symptoms always associated with mealybug Planococcus spp. Because the disease has spread all over the field with severe symptom, the causal agent need to be identified accurately. An experiment was carried out in which the causal agent was transmitted using mealybug as a vector, top cleft graftingand insecticide application after cutting all symptoms of the diseased plant. Transmission experiments by top cleft grafting did not show any symptoms. The negative results were also obtained in the artificial inoculation using the mealybug, when the diseased shoots were cut and protected by insecticide. The young shoots grew normally, without showing any symptom of malformation. It was suspected that the malformation was caused by toxin produced by the insect. Molecular studies to further characterize the causal agent of the malformation, is presently being conducted.Pada pertanaman kakao PT Pagilaran di Samigaluh, Kulon Progo, DIY dan Segayung, Jawa Tengah ditemukan gejala malformasi tunas ranting yang sangat parah. Gejala penyakit ditemukan pada tanaman di pembibitan, tanaman muda,tanaman yang sudah produktif maupun tanaman tua. Pada bagian ranting yang sedang tumbuh pada bagian pangkal tunas dan tangkai daun membengkak, pertumbuhan daun tidak simetris dan keriting. Pada gejala lanjut daun tumbuhmeroset dan tanaman mengalami penghambatan pertumbuhan. Ranting tanaman tua yang terserang membentuk percabangan yang banyak dan ditumbuhi daun-daun kecil. Di lapangan gejala yang timbul selalu berasosiasi dengan koloni kutu dompolan (Planococcus spp.). Oleh kerena penyakit tersebar luas di perkebunan dengan gejala yang sangat parah maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui penyebabnya dengan tepat serta pengelolaannya. Penelitian meliputi kajian penularan menggunakan Planococcus sp., penyambungan tanaman sehat dengan ranting yang bergejala serta aplikasi insektisida. Penularan dengan penyambungan dan penularan menggunakan serangga tidak menghasilkan tanaman yang bergejala. Pada percobaan di lapangan dengan memotong tunas-tunas sakit kemudian disemprot denganinsektisida hasilnya tunas muda yang tumbuh berikutnya tidak menunjukan adanya gejala malformasi. Diduga bahwa malformasi pada tunas dan ranting tersebut disebabkan oleh racun yang ditularkan oleh serangga. Penelitian lebih lanjut untuk karakterisasi penyebab penyakit secara molekuler saat ini sedang dilakukan.
Potensi Jamur Parasit Telur Sebagai Agens Hayati Pengendali Nematoda Puru Akar Meloidogyne incognita pada Tanaman Tomat Siwi Indarti; Bambang Rahayu T.P.
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 18, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.15604

Abstract

Root-knot nematodes Meloidogyne spp. are sedentary endoparasitic that attacks various economically important plants. Utilization of nematode’s fungal egg parasite as biocontrol agents of sedentary endoparasitic nematodes have a good possibility of potential success to be applied in the field level, because this fungi is able to colonize in and causes damage to eggs as well as female nematodes inside the root. The purpose of this research are to know the parasitism ability of this parasitic fungi to Meloidogyne incognita eggs, and its effects on second stage larvae hatching rate and the development of galls number in the host. The result shows that the parasitic fungi, those of Trichoderma, Penicillium, Talaromyces, Fusarium genera were able to parasitize root-knot nematode eggs (25.09 to 89.79%), caused root-knot nematode egg hatching to decrease, suppressed the formation of galls, and reduced the population of second stage nematode larvae in the greenhouse.Nematoda puru-akar Meloidogyne spp. adalah nematoda endoparasitik sedentari, bersifat polifag, dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Pemanfaatan jamur parasit telur sebagai agens hayati pengendali nematoda endoparasitik sedentari mempunyai potensi tingkat keberhasilan tinggi untuk diterapkan pada aras lapangan karena mampu mengoloni dan merusak telur maupun stadium nematoda betina yang terlindungi jaringan tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan parasitasi isolat-isolat jamur parasit telur terhadap telur nematoda Meloidogyne incognita, dan pengaruhnya terhadap tingkat penetasan telur menjadi L-2, serta pembentukan jumlah puru pada tanaman terserang. Hasil penelitian didapatkan bahwa jamur parasit telur yang termasuk genera Tricoderma, Penicillium, Talaromyces, dan Fusarium mampu memarasit telur M. incognita berkisar antara 25,09–89,79%, mengakibatkan penurunan persentase jumlah L-2 nematoda yang bersangkutan, serta menekan pembentukan puru akar pada aplikasi aras rumah kaca.
Uji Pengendalian Penyakit Layu Fusarium Pisang (Fusarium oxysporum f. sp. cubense) dengan Asam Fosfit dan Aluminium-Fosetil Yuli Kristiawati; Christanti Sumardiyono; Arif Wibowo
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 18, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.15610

Abstract

The aims of the research is to know the effect of phosphite acid and fosetyl-aluminium fungicides on Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) in vitro and the effect of these fungicides to fusarium wilt of banana. The experiments consist of in vitro and in planta tests. Fungicides concentrations used were 0; 500; 1,000; 2,000; and 4,000 ppm. Isolate tested was A13 isolate Foc on 4 months old Cavendish cultivar banana seedlings. The result showed that phosphite acid was better than fosetyl aluminium in reducing mycelium growth in vitro. Its also inhibited disease development in banana seedling. The phosphite acid and fosetyl-aluminium increased the resistance of banana Cavendish cultivar to fusarium wilt. Its because the two fungicides are working systemic fungicides.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fungisida asam fosfit dan aluminium-fosetil terhadap pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) in vitro dan pengaruh fungisida tersebut terhadap penyakit layu fusarium pada tanaman pisang. Penelitian ini terdiri dari 5 perlakuan kepekatan fungisida, yaitu 0 ppm (kontrol), 500 ppm, 1000 ppm, 2000 ppm, dan 4000 ppm. Isolat jamur yang digunakan yaitu Foc A13. Bahan tanaman adalah bibit pisang kultivar Cavendish asal kultur jaringan 4 bulan setelah aklimatisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungisida asam fosfit (Agrifos) lebih efektif untuk menghambat pertumbuhan jamur Foc daripada fungisida aluminium-fosetil (Aliette) secara in vitro. Fungisida asam fosfit dan aluminium-fosetil menghambat perkembangan penyakit layu pada bibit pisang. Kedua fungisida tersebut juga meningkatkan ketahanan tanaman pisang terhadap penyakit layu fusarium. Hal ini disebabkan kedua jenis fungisida tersebut bekerja secara sistemik. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7