cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Agro Ekonomi
ISSN : 02158787     EISSN : 25411616     DOI : -
AE is a media for dissemination information of thinking and research from lecturers, researchers, students, and practitioners who are interest to produce the scientific work in the agricultural and natural resource policies, agribusiness and agricultural extension & communication sciences. The focus and scopes of the articles in this journal are : (1) The macro approach of agricultural socio economic as a system which comprehensive and integrated from subsystems up-stream, subsystems on-farm, subsystems down-stream, subsystems support and the impact of their interrelationships with government policy, international economics, agricultural marketing, environmental resources, agricultural extension and communication, agricultural sociology, farmer institutions, and community empowerment; (2) The micro approach includes the study in the development of agribusiness (finance, farm management, functional and technical aspects) and agricultural local institutional.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "No 12 (1979): 1979" : 7 Documents clear
POKO-POKOK SEGI ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN SUATU ORGANISASI PENGAIRANQ Mudjijo Prodjosuharjo
Agro Ekonomi No 12 (1979): 1979
Publisher : Department of Agricultural Socio-Economics Faculty of Agriculture Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.771 KB) | DOI: 10.22146/agroekonomi.16884

Abstract

PendahuluanOrganisasi adalah suatu kelompok kerja-sama yang dibentuk oleh sekelompok orang yang mempunyai satu tujuan, satu kondisi dan satu kepentingan serta dipimpin di antara mereka sendiri. Dari pengertian di atas menunjuldran kepada kita, bahwa organisasi itu harus timbul dari kepentingan-kepentingan perorangan, yang kemudian atas dasar kepentingan ini orang menyusun kelompok-kelompok dari bawah ke atas (botto up); dimaksudkan adalah bahwa organisasi dibentuk oleh orang dengan satu tujuan dan satu kepentingan ini, biasanya pirnpinan yang mengemudikan organisasi ini ditangani oleh beberapa orang dari kelompok orang-orang ini, yang diangkat sebagai pengurus kelompok yang bergerak dari kepentingan perorangan menjadi kepentingan bersama dalam kelompok.Pengairan di sini dimaksudkan adalah suatu sistem pengadaan, penyaluran dan pembagian air untuk kepentingan pertanian, atau usaha tani oleh petani-petani (kOperasi pengairan).Jadi kalau begitu koperasilorganisasi pengairan ini adalah bentuk organisasi petani pengusaha tani yang mempunyai satu kepentingan dan satu tujuan terhadap air pengairan ini, agar air dapat dimanfaatkan bersama, diatur bersama, dipelihara bersarna atau dilola bersama untuk satu kepentingan bersama yaitu berusaha tani.Oleh karena organisasi ini hams dilola pula sesuai dengan kepentingrin bersama sejak menyusun suatu rencana pembuatan, perna.nfaatan, pemeliharaan, pembeayaan dan pengawasannya
PENGARUH PENGGUNAAN TERNAK KERJA PADA PENGELOLAAN TANAH SAWAH TERHADAP PENDAPATAN PETANI PAID DI GALUR Ues Herdiana Sukardjaputra
Agro Ekonomi No 12 (1979): 1979
Publisher : Department of Agricultural Socio-Economics Faculty of Agriculture Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.061 KB) | DOI: 10.22146/agroekonomi.16891

Abstract

PendahuluanMenyadari akan pentingnya padi sebagai bahan makanan utama. maka dalam Pelita III yang iidak lama lagi akan dilaksanakan, titik berat Pembang-unan Pertanian adalah swasembada pangan karbohidrat non terigu, terutama padi (bergs).Berbagai usaha yang dilaksanakan untuk meningkatkan produksi padi, bila tanpa menyadari akan pentingnya pengolahan tanah hanyalah merupakan usaha yang sia-sia. Dengan demikian adalah sangat tepat, bahwa dalam intensifikasi usaha tani padi, pengolahan tanah termasuk salah satu dari lima usaha dalam "Panca Usaha Tani".Pengolahan tanah pada pola eko-system sawah, tidak lain adalah untuk menciptakan keadaan sifat fisik tanah yang baik, yakni lapisan oleh tanah ( ± 20 - 30 cm) yang berstruktur lumpur, adanya lapisan kedap air, lapisan oksidasi dan reduksi yang nyata. Pada keadaan lapisan olah tanah yang demikian akan terjadi proses peningkatan kesuburan kimia dan kesuburan biologi yang baik, berkurangnya kecepatan kehilangan air, keadaan suhu dan kandungan 02 yang cukup serta proses humifikasi dan mineralisasi yang sempurna. Dengan perkataan lain dapatlah kiranya diungkapkan sebagai eko-system tanah yang sesuai dengan tuntutan pertumbuhan tanaman path sawah.Daiam usaha menciptakan lapisan olah tanah seperti dikatakan di atas, jelas menunjukkan bahwa pengolahan tanah sawah relatif memerlukan tenaga yang lebih banyak dibandingkan dengan tenaga yang diperlukan untuk mengolah tanah kering (darat). Sedangkan di lain pihak menunjukkan, bahwa usaha tani padi pada suatu hamparan/lokasi harus
PENGEMBANGAN PENGELOLAAN ANGGREK SECARA PERUSAHAAN DI YOGYAKARTA Sinarhadi Sinarhadi
Agro Ekonomi No 12 (1979): 1979
Publisher : Department of Agricultural Socio-Economics Faculty of Agriculture Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.122 KB) | DOI: 10.22146/agroekonomi.16885

Abstract

PendahuluanPerkembangan peranggrekan di Indonesia pada akhir-akhir ini menunjukkan perhatian yang besar dari masyarakat terhadap penggunaan salah satu komoditi yang dapat merangsang sebagai sumber penghasilan pokok atau tambahan. Beberapa ahli telah menilai bahwa prospek peranggrekan di Indonesia adalah cerah, mengingat kondisi yang memungkinkan bagi perluasan tanaman, daerah pemasarannya dan masih banyak keroungkinan dikembangkannya jenis-jenis yang ada dengan tujuan komersial. Dengan perkataan lain bahwa usaha untuk memajukan peranggrekan di Indonesia masih mempunyai kemungkinan-kemungkinan luas dan besar, karena potensi atau kekuatan di dalam alam Indonesia masih dimungkinkan.Indonesia pernah tercatat sebagai pengexport bunga anggrek ke beberapa negara Eropa, Asia dan juga ke Amerika Serikat secara terputus-putus. Dari angka-angka pernah tercatat adanya volume export dari tahun 1969 sebesar 765 Kg dan tahun 1972 sebesar 35.064 Kg.Kemajuan-kemajuan yang ada masih diikuti dengan kelemahan-kelemahan yang terdapat pada modal dan koordinasi aparatur penganggrek sendiri
PERINGATAN LIMA TAHUN WAFATNYA PROF. ISO REKSOHADIPROJO Soedarsono Hadisapoetro
Agro Ekonomi No 12 (1979): 1979
Publisher : Department of Agricultural Socio-Economics Faculty of Agriculture Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.058 KB) | DOI: 10.22146/agroekonomi.16886

Abstract

Peringatan lima tahun wafatnya prof. Iso Reksohadiprojo
CIRI-CIRI PENGERTIAN PETANI KECIL Suproyo Suproyo
Agro Ekonomi No 12 (1979): 1979
Publisher : Department of Agricultural Socio-Economics Faculty of Agriculture Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.932 KB) | DOI: 10.22146/agroekonomi.16887

Abstract

PendahuluanBerdasar pada angka-angka pada Sensus Pertanian tahun 1973 tampaklah bahwa di Indonesia terdapat sekitar 14,3 juta hektar usahatani rakyat dan kira-kira 1.700 unit perkebunan besar. Rata-rata per unit untuk seluruh Indonesia adalah 0,98 hektar untuk 16,1 juta hektar tanah pertanian 2,2 juta hektar diusahakan 1.700 unit perkebunan besar, dan sisanya yang 13,9 juta hektar. dikerjakan 14,3 juta pertanian rakyat. Apabila dilihat antar pulau, maka rata-rata luas tanah usahatani rakyat 0,64 hektar di Jawa--Madura dan Kalimantan 2,71 hektar.Dibandingkan dengan angka Sensus Pertanian 1963 dalam jangka waktu 10 tahun terdapat pertambahan usahatani rakyat sebanyak 2 juta unit diimbangi pertambahan luas tanah pertanian 1 juta hektar dengan demikian tenjadi penurunan luas rata-rata per unit pada pertanian rakyat sebesar 0,02 hektar. Keadaan penguasaan dan pemilikan tanah di pedesaan tahun 1976 rumah tangga yang menguasai tanah sebanyak 13,3 juta dari 13,7 juta rumah tangga di Indonesia. Sebagian besar rumah tangga pedesaan menguasai tanah kurang dari 0,75 Ha, yaitu 8,3 juta atau 62% dari total rumah tangga pedesaan. Sebanyak 5 juta rumah tangga (39%) dari total rumah tangga pedesaan menguasai tanah lebih dari 1 hektar. Perkiraan penduduk di bawah garis kemiskinan tercatat sebanyak 55% dari seluruh penduduk Indonesia. Dalam sektor pertanian pusat dari kesulitan kemiskinan adalah keluarga-keluarga itu sendiri dan mengerjakan tanah yang sangat sempit atau tanpa tanah milik sendiri. Petani kecil menduduki/menguasai sektor pertanian di kebanyakan daerah di mans luas pemilikan tanah kurang dari 1 Ha berjumlah kira-kira 2/3 atau lebih dari jumlah petani.Dari gambaran tersebut di atas menunjukkan bahwa faktor-faktor luas tanah usahatani yang sempit, keadaan penguasaan dan pemilikan tanah menyebabkan rendahnya pendapatan petani di mana hingga kini hal ini memberikan pengertian kepada kita petani yang demikian disebut
PEMBANGUNAN EKONOMI YANG BERDASARKAN DEMOKRASI EKONOMI A.T Birowo
Agro Ekonomi No 12 (1979): 1979
Publisher : Department of Agricultural Socio-Economics Faculty of Agriculture Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.615 KB) | DOI: 10.22146/agroekonomi.16883

Abstract

1.PendahuluanDalam kesempatan ini akan disajikan sebuah uraian yang menjelaskan pembangunan ekonomi yang berdasarkan demokrasi ekonomi. Dalam Ketetapan MPR No. IV/MPR/1978 Bab III ditegaskan bahwa pembangunan ekonomi merupakan titik berat pembangunan jangka panjang, yang dilaksanakan bangsa Indonesia dalam perjoangan dan pembangunan nasionalnya. Di dalam UUD-45 pasal 33 telah digariskan ketentuanketentuan yang menguraikan makna demokrasi ekonomi. Yang perlu diuraikan lebih lanjut adalah penerapan demokrasi ekonomi itu dalam arah, langkah-langkah dan kebijaksanaan pembangunan ekonomi.Uraian tentang pembangunan dapat mencakup lingkup yang luas serta cakrawala pelaksanaannya yang berbeda-beda jangkauannya. Untuk dapat menyajikan uraian yang bermakna, analitis dan operasional, dalam kesempatan ini hanya akan diulas pembangunan ekonomi yang menjangkau cakrawala yang dicakup dalam Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang, seperti dimuat dalam Bab III Ketetapan MPR No. IV/MPR/ 1978. Kecuali itu, dalam uraian ini, hanya diulas penerapan demokrasi ekonomi dalam arah dan langkah-langkah pembangunan yang strategis dan konsepsional. Penjabarannya lebih lanjut perlu dirumuskan secara lebih terperinci dalam Pola Umum Pelita, maupun dalam Repelita itu sendiri
PERUSAHAAN INTI PADI (NUCLEUS RICE ESTATE) Sri Widodo
Agro Ekonomi No 12 (1979): 1979
Publisher : Department of Agricultural Socio-Economics Faculty of Agriculture Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.37 KB) | DOI: 10.22146/agroekonomi.16890

Abstract

PendahuluanMenteri Pertanian dalam pidato pengarahan pada Rapim Deptan Repelita III dengan Assosiasi dan Pengusaha Swasta di bidang pertanian 28 September 1978 mengharapkan bahwa peranan swasta dalam Pelita III akan lebih besar, terutama dalam investasi dalam ikut serta memecahkan masalah pangan. Harapan pemerintah terhadap perusahaan swasta maupun perusahaan negara seperti ini adalah wajar, selama keuntungan yang diperoleh perusahaan tersebut langsung atau tidak langsung diadakan dan diperbesar oleh adanya bantuan pemerintah dalam bentuk subsidi program peningkatan produksi pangan yang meliputi price support policy maupun input support policy.Dengan biaya yang besar, Rp 198,2 milyar biaya Bimas pada tahun 1976 dan Rp 143,4 milyar tahun 1977 3) , pemerintah berusaha untuk memecahkan masalah pangan terutama beras, tetapi nampaknya produksi beras masih di bawah supply yang diperlukan agar tidak mengakibatkan akibat ekonomi yang serius.Dalam periode di sekitar Pelita I, Indonesia telah berhasil meningkatkan produksi rata-rata 4,08% atau 525.000 ton beras setahun dari tahun 1968 s/d 1975. Kenaikan produksi ini terdiri dari 397.000 ton dari intensifikasi dan 127.000 ton dari perluasan areal 4).Akan tetapi meskipun produksi padi sudah meningkat import masih terus meningkat pula

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

1979 1979


Filter By Issues
All Issue Vol 36, No 1 (2025): JUNE 2025 Vol 36 (2025): ARTICLE IN PRESS Vol 35, No 2 (2024): DECEMBER 2024 Vol 35, No 1 (2024): JUNE 2024 Vol 34, No 2 (2023): DECEMBER 2023 Vol 34, No 1 (2023): JUNE 2023 Vol 33, No 2 (2022): DECEMBER 2022 Vol 33, No 1 (2022): JUNE 2022 Vol 32, No 2 (2021): DECEMBER 2021 Vol 32, No 1 (2021): JUNE 2021 Vol 31, No 2 (2020): DECEMBER 2020 Vol 31, No 1 (2020): JUNE 2020 Vol 30, No 2 (2019): DECEMBER 2019 Vol 30, No 1 (2019): JUNE 2019 Vol 29, No 2 (2018): DECEMBER 2018 Vol 29, No 1 (2018): JUNE 2018 Vol 28, No 2 (2017): DECEMBER 2017 Vol 28, No 1 (2017): JUNI 2017 Vol 27, No 2 (2016): DESEMBER 2016 Vol 27, No 1 (2016): JUNI 2016 Vol 26, No 2 (2015): DESEMBER 2015 Vol 26, No 1 (2015): JUNI 2015 Vol 25, No 2 (2014): DESEMBER 2014 Vol 25, No 1 (2014): JUNI 2014 Vol 24, No 2 (2013): DESEMBER 2013 Vol 24, No 1 (2013): JUNI 2013 Vol 18, No 1 (2011): JUNI 2011 Vol 17, No 2 (2010): DESEMBER 2010 Vol 17, No 1 (2010): JUNI 2010 Vol 15, No 2 (2008): DESEMBER 2008 Vol 15, No 1 (2008): JUNI 2008 Vol 14, No 1 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 2 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2004): DESEMBER 2004 Vol 11, No 1 (2004): JUNI 2004 Vol 10, No 2 (2003): DESEMBER 2003 Vol 10, No 1 (2003): JUNI 2003 Vol 9, No 2 (2002): DESEMBER 2002 Vol 9, No 1 (2002): JUNI 2002 Vol 8, No 2 (2001): DESEMBER 2001 Vol 8, No 1 (2001): JUNI 2001 Vol 7, No 1 (2000): JUNI 2000 Vol 6, No 2 (1999): DESEMBER 1999 Vol 6, No 1 (1999): JUNI 1999 Vol 4, No 2 (1994): DESEMBER 1994 No 5 (1990): 1990 Vol 9, No 1 (1988) No 4 (1986): 1986 No 12 (1979): 1979 No 11 (1978): 1978 No 3 (1978): 1978 More Issue