cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal METTEK (Jurnal Ilmiah Nasional Dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin)
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2016)" : 7 Documents clear
UNJUK KERJA MOBIL BERTRANSMISI MANUAL MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR LIQUIFIED GAS FOR VEHICLE (LGV) I Dewa Gede Ari Suwira Putra; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; Anak Agung Adhi Suryawan
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 2 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahan Bakar minyak (BBM) merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui maka cepat atau lambat akan habis. Dalam keadaan seperti ini diperlukan sebuah alternatif lain yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak. Penggunaan bahan bakar gas, khususnya Liquefied Gas for Vehicle (LGV) merupakan salah satu energi alternatif  yang murah serta dapat meningkatkan performa mesin. Penelitian yang dilakukan yaitu pengujian unjuk kerja pada mobil bertransmisi manual pada kondisi stasioner. Pengujian unjuk kerja mobil ini dilakukan menggunakan alat Dyno test. Data hasil pengujian dianalisis dengan cara mendeskripsikan dan merangkum hasil-hasil pengujian dalam bentuk tabel dengan menggunakan Software Microsoft Excel, lalu di ubah ke dalam bentuk grafik. Data menunjukkan besarnya torsi dan daya yang dihasilkan menggunakan bahan bakar Premium dan LGV. Dari hasil pengujian, penggunaan bahan bakar Liquified Gas for Vehicle (LGV) menghasilkan Daya dan Torsi yang lebih baik dari pada bahan bakar Premium. Torsi mengalami kenaikan sebesar 4.84 % dan daya mengalami kenaikan sebesar 4.74 %.Fuel oil (BBM) is a natural resource that can not be updated sooner or later will be depleted. In circumstances such as this required an alternative that can be used as a substitute for fuel oil. The use of fuel gas, especially Liquefied Gas for Vehicle (LGV) is a cheap alternative energy and can improve engine performance. Research done is test the performance of the manual transmission car in stationary conditions. Testing the performance of the car is done using a Dyno test. The test data is analyzed by describing and summarizing the test results in tabular form using Microsoft Excel software, then the change in the form of graphs. The data show the amount of torque and power produced by the engine using premium fuel and LGV. From the test results, the use of fuel Liquefied Gas for Vehicle (LGV) generate power and torque better than the Premium fuel. Torque has increased by 4.84% and power increased by 4.74%.
ANALISA KINERJA THERMAL KOLEKTOR SURYA BERBASIS PIPA KALOR I Made Suinata; Wayan Nata Septiadi; K. G. Wirawan
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 2 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu pemanfaatan energi matahari adalah sistem pemanas air energi surya (solar water heater). Solar water heater yang banyak digunakan adalah solar water heater konvensiaonal dimana untuk mensirkulasikan fluida kerja pada kolektor surya menggunakan pompa sehingga masih menggunakan energi listrik yang sebagian besar bersumber dari energi fosil. Untuk mengurangi penggunaan energi listrik yang bersumber dari fosil tersebut sudah banyak dikembangkan solar water heater dengan menggunakan evacuated tube collectors yang memanfaatkan sirkulasi fluida secara alami. Karena sirkulasi fluida kerja pada evacuated tube collectors hanya memanfaatkan efek grafitasi dan lintasan uap dan cairan pada lintasan yang sehingga terjadi kekeringan dan kollektor menjadi tidak berfungsi. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, pipa kalor memang memiliki keunggulan tersendiri. Keuntungan dalam pemanfaatan pipa kalor sebagai penukar kalor atau pendingin diantaranya siklus pemindahan kalor yang relatif lebih singkat, kekompakan dimensi, menigkatkan koefisien perpindahan kalor yang cukup tinggi serta tidak diperlukannya daya tambahan karena sirkulasi terjadi secara natural. Dalam penelitian ini kolektor surya dibuat menggunakan tabung kaca yang divakum dengan berbasis pipa kalor yang kemudian dirangkaikan sehingga menjadi sistem pemanas air yang berbasis pipa kalor. Dari hasil pengujian kolektor surya berbasis pipa kalor mampu memanaskan air hingga temperatur 71oC dengan laju aliran air 1 lpm. Hambatan termal tertinggi terjadi pada pukul 09.00 sebesar 0,388 Watt/oC, terkecil pada pukul 14.30 sebesar 0,027 Watt/oC.One of the utilization of solar energy is solar energy water heating systems. Solar water heater is the widely used on conventional solar water heater in which to circulate the working fluid in the solar collector using a pump so they use electrical energy which are largely sourced from fossil fuels. To reduce the use of electricity that comes from the fossil has been developed using a solar water heater with evacuated tube collectors that utilize natural circulation of fluid. Due to the circulation of the working fluid in the evacuated tube collectors utilize only the effects of gravity and the trajectory of vapor and liquid on the track, causing drought and kollektor become dysfunctional. Of the few studies that have been conducted, the heat pipe does have its own advantages. The advantage in the use of heat pipe as heat exchanger or cooling cycle including the removal of heat is relatively short, compactness dimensions, enhances heat transfer coefficient is high enough and no additional power needed for the circulation occurs naturally. In this study the solar collector is made using glass tubes that vacuum with heat pipe which is then sequenced so that a heat pipe solar water heater. From the test results based heat pipe solar collector is capable of heating water to a temperature of 71oC with the flow rate of water 1 lpm. The highest thermal barriers at 09.00 amounted to 0,388 Watt /oC, the smallest in 14.30 amounted to 0,027 Watt /oC.
PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN BAKAR LIQUEFIED GAS FOR VEHICLE (LGV) TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR, SFC DAN EMISI GAS BUANG PADA MOBIL Gede Bayu Wiria Esaputra; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; Anak Agung Adi Suryawan
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 2 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) menyebabkan ketersediaan energi fosil berkurang dan berdampak pada harga bahan bakar minyak yang semakin meningkat tiap tahunnya. Hal ini mendorong masyarakat mulai melirik energi alternatif berupa bahan bakar gas (BBG) yang lebih hemat. Untuk mengetahui performa mesin dari pemakaian bahan bakar LGV maka perlu dilakukan pengujian unjuk kerja mesin dengan bahan bakar LGV, meliputi pengujian daya, konsumsi bahan bakar, serta konsumsi bahan bakar bakar spesifik (SFC) dan emisi gas buangnya. Pada pengujian ini bahan bakar LGV akan dibandingkan dengan pemakaian bahan bakar Pertamax. Pengujian dilakukan dengan variasi putaran mesin yang berbeda di tiap persneling. Dari hasil pengujian penggunaan bahan bakar LGV menghasilkan uji kerja berupa Daya, Konsumsi Bahan Bakar yang lebih baik dibandingkan bahan bakar Pertamax. LGV lebih hemat bahan bakar, dan menghasilkan daya yang lebih besar dibandingkan Pertamax, sehingga menghasilkan SFC yang lebih baik dibandingkan Pertamax, begitu pula emisi gas buangnya.Increased of fuel oil consumption ( BBM ), makes the availability of fossil energy are thin out and the fuel prices are increasing every year. This makes people begin to looking for alternative energy in the form of fuel gas (CNG ), which is more efficient. Currently, the government has already started to introduce fuel gas , namely Liquefied Gas for Vechicle ( LGV ) to the citizen, as an alternative energy fuel on transportation sector. To determine the engine performances of fuel consumption of LGV it’s used to test the engine performance of fuel LGV, involved testing of it’s power , fuel consumption, specific fuel consumption ( SFC ) and the emission. In this test the LGV will be compared with Pertamax. Testing was done by different variations of engine speed on different gear. From the results of LGV we got that the power and the fuel consumption better than Pertamax fuel . LGV is more fuel-efficient, and it’s have greater power than Pertamax,and also the result of spesific fuel consumptions are better than Pertamax , as well as it’s emission.
EVALUASI JARINGAN PERPIPAAN TRANSMISI AIR BAKU DI KABUPATEN KARANGASEM Agus Adi Putra; Ainul Ghurri; I Gusti Ngurah Priambadi
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 2 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan manusia terhadap air pada saat ini sangatlah besar baik untuk dikonsumsi maupun untuk menunjang kehidupan manusia. Pemerintah telah melakukan perencanaan dan melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana jaringan transmisi pipa air baku di tahun anggaran 2006 sampai tahun anggaran 2014. Sejak selesainya kontruksi, muncul beberapa masalah seperti, tingkat kebocoran - kebocoran air yang dialami pipa, oleh karena itu jaringan pipa yang ada di Kabupaten Karangasem yang berfungsi mentransmisikan air bersih yang memenuhi kebutuhan masyarakat perlu untuk di evaluasi kembali terhadap jaringan pipa sehingga dapat ditemukan solusi yang tepat dalam menyelesaikan masalah tersebut. Penelitian ini dilakukan beberapa tahapan yaitu pengukuran secara langsung dan tidak langsung dilapangan. Persiapan tidak langsung dilakukan dengan melihat data awal dari asbuilt drawing, pengukuran langsung dilakukan dengan cara survey lokasi yaitu dengan pencatatan fitting persegmen yang ada di jaringan transmisi pipa dan pengukuran elevasi pada masing – masing diameter pipa dan jarak stasioner. Tahap berikutnya adalah menganalisa tekanan hanya berdasarkan beda tinggi dan menganalisa tekanan dengan adanya fitting. Pengukuran langsung dilapangan dan analisa dalam menentukan tekanan pada jaringan transmisi pipa air baku telah dilakukan dengan cara pengukuran  elevasi akhir pipa dari segmen A (pipa GIP Ø 700 mm) di elevasi 914,428 dengan panjang pipa 5.869 m ; akhir pipa segmen B (pipa HDPE Ø 710 mm) pada elevasi 924,907 m dengan panjang pipa 3.810 m; akhir pipa segmen C (pipa HDPE Ø 630 mm) pada elevasi 819,61 m dengan panjang pipa 2.376 m dan akhir pipa segmen D (pipa HDPE Ø 560 mm) pada elevasi 929 m dengan panjang pipa 3.314 m. Jaringan transmisi pipa air baku di Kabupaten Karangasem menunjukkan bahwa secara analisis perhitungan penyetingan pada gate valve, tekanan pada perpipaan yang sudah terpasang masih dalam keadaan aman dari tekanan berlebih yang melebihi tekanan nominal pipa dan jika masih diperlukan untuk menurunkan tekanan di jaringan transmisi air baku maka secara operasional bisa dilakukan yaitu dengan membuka setengah gate valve, yang akan mampu menurunkan tekanan air dalam pipa,  sehingga sistem penyediaan air baku dapat berfungsi dengan baik.The human need for water at this point is great both for consumption and to support human life. The government has been planning and implementing infrastructure development for the raw water pipeline transmission network in fiscal year 2006 to 2014. Since the completion of the construction, there were some problems such as, water leakage rate experienced pipe, therefore pipelines that exist in Karangasem regency which serves to transmit clean water that meets the needs of people in need for re-evaluation of the pipeline so you can find the right solution to solve the problem. This research was conducted several stages of measurement directly and indirectly in the field. Preparation indirect done by looking at the preliminary data from drawing asbuilt. Direct measurement is done by survey with recording location is fitting persegmen existing transmission pipeline network and elevation measurements on each - each stationary pipe diameter and distance. The next step is to analyze the pressure only on the height difference and analyze pressure with their fittings. Measurement directly in the field and analysis in determining the pressure on the raw water pipeline transmission network has been done by the end of the pipe elevation measurement of segment A (GIP pipe Ø 700 mm) in elevation 914,428 with a length of 5.869 m of pipe; the end of the pipe segment B (HDPE pipe Ø 710 mm) at an elevation of 924,907 m to 3,810 m long pipe; the end of the pipe segment C (HDPE pipe Ø 630 mm) at an elevation of 819,61 m with a 2.376 m long pipe and pipe end segment D (HDPE pipe Ø 560 mm) at an elevation of 929 m to 3.314 m long pipe. Transmission network pipe raw water in Karangasem shows that the analysis of the calculation of the setup on the gate valve, the pressure in the piping already installed is in a safe state of excess pressure that exceeds the nominal pressure pipe and if it is still needed to reduce the pressure on the transmission network raw water then the operations can be done is to open half a gate valve, which will be able to lower the water pressure in the pipe, so that the raw water supply system to function properly.
Analisa Pengaruh Temperatur Lingkungan Terhadap Akurasi Pompa Bahan Bakar Minyak Komang Ayu Ratnawati; I Ketut Suarsana; I Wayan Nata Septiadi
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 2 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan masyarakat akan bahan bakar minyak (BBM) masih relative tinggi terutama untuk transportasi darat. BBM dapat diperoleh di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Pelayanan SPBU menggunakan Pompa BBM yang wajib diuji secara berkala oleh instansi metrology daerah sesuai dengan peraturan yang berlaku.  Mengingat pentingnya akurasi pompa BBM untuk melindungi konsumen, maka penulis melakukan penelitian terhadap pengaruh temperature lingkungan terhadap akurasi pompa BBM, apakah terjadi perbedaan akurasi pompa pada temperatur 28°C, 31°C dan 33°C. Pengujian dilakukan dengan Bejana Ukur Standar 20 liter dengan batas kesalahan sebesar ±0,5% atau ±100 ml. Dari pengujian yang dilakukan pada SPBU di Kabupaten Buleleng, diperoleh bahwa temperature lingkungan memiliki pengaruh sangat kecil terhadap akurasi pompa BBM. Pada temperatur 28°C error sebesar-0,165%, pada temperatur 31°C  error -0,168% dan pada temperatur 33°C error -0,250%.Community needs to fuel oil (BBM) is still relatively high, particularly for ground transportation. Fuel can be obtained at the General Fuel Filling Station (Gas Station). Service gas stations use fuel pumps that must be tested periodically by regional metrology institutions in accordance with applicable regulations. Given the importance of the accuracy of the fuel pump to protect the consumer, the authors conducted a study of the influence of environmental temperature on the accuracy of fuel pumps, pump accuracy whether there is a difference in temperature 28°C, 31°C and 33°C. Testing is done with a standard 20 liter gauging vessels with a margin of error of ± 0.5% or ± 100 ml. From the tests carried out at a gas station in Buleleng, found that the environmental temperature has very little effect on the accuracy of fuel pumps. At temperatures of 28°C error of -0.165%, at a temperature of 31°C error -0.168% and at a temperature of 33°C error -0.250%.
ANALISIS PERENCANAAN PENEMPATAN PRESSURE REDUCING VALVE PADA JARINGAN PERPIPAAN TRANSMISI AIR BAKU I Gusti Putu Jaya Nuartha; Ainul Ghurri; I Gusti Ngurah Priambadi
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 2 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air, pemerintah telah melakukan perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan air yang terpadu. Dalam proses pengaliran masih terjadi kendala – kendala yang menghambat aliran air sampai di tujuan, seperti terjadinya tekanan berlebih yang melampaui tekanan maksimal yang mampu diterima pipa itu sendiri. Untuk itu perlu pemasangan peralatan yang mampu menurunkan dan mengontrol tekanan. Penelitian ini dilakukan dalam 5 tahapan; tahap pertama merupakan survey lokasi, Tahap kedua merupakan proses analisa, Tahap ketiga merupakan survey lokasi tahap kedua,Tahap keempat merupakan proses pembangunan dan pemasangan PRV. Tahap kelima merupakan tahapan terakhir uji alir, setting tekanan masuk dan keluar dari masing-masing PRV, sekaligus pengambilan data tekanan untuk diperoleh hasil perbandingan. Dari hasil analisa hidrolika tersebut dapat ditentukan 8 titik lokasi penempatan PRV. Perbandingan tekanan yang terjadi menunjukkanbahwa data ukurawal (tanpa PRV) menunjukkan peningkatan tekanan yang semakin besar yang disebabkan oleh perbedaan elevasi yang semakin tinggi, hasil analisa (estimasi dengan PRV) menunjukkan tekanan yang terjadi sudah stabil dan hasil pengujian langsung (dengan PRV) menunjukkan tekanan yang terjadi di dalam pipa sudah stabil dan dapat dijaga mendekati perencanaan awal. Sehingga dapat disimpulkan PRV mampu menstabilkan tekanan di dalam pipa sehingga jaringan perpipaan transmisi air baku ini dapat berfungsi dengan baik.Keeping balance between supply and demand of water, the government has made planning and implementation of integrated of water management. There were some problems when supplying the water until the destination, such as there was higher pressure that passed the maximum pressure pipe itself. That’s why controlling and reducing tool installation needed. This research was conducted in five stages; The first stage is a survey locations. The second stage is the process of analyzing data. The third stage is a survey of the location of the second stage. The fourth stage is the process of construction and installation PRV. The fifth stage is the last stage of testing of flow, pressure setting in and out of each PRV, while taking pressure data for the obtained results of the comparison. From the analysis of hydraulics can be determined 8 placement location PRV, Comparison of pressure that occurs indicates that the data measuring the initial (without PRV) showed improvement greater pressures caused by the difference in elevation is higher, the analysis results (estimated by PRV) indicates the pressure is stable and the results of direct testing (with PRV) show the pressure inside the pipe is stable and can be kept closer to the initial planning. It can be concluded PRV able to stabilize the pressure in the pipe so that the raw water transmission pipeline network is able to function properly.
ANALISA CACAT DRILLING DARI MATERIAL HYBRID KOMPOSIT LAMINASI SERAT KARBON-BASALT-EPOXY Henry Widya Prasetya; Wayan Nata Septiadi; I Dewa Gede Ary Subagia
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 2 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses permesinan pada mesin perkakas merupakan salah satu jenis proses pembuatan komponen benda kerja. Salah satu proses pemotongan bahan adalah proses drilling. Penelitian ini dilakukan adalah untuk mengamati cacat pada material komposit akibat drilling proses. Material komposit dengan laminasi serat penguat karbon dan basalt telah digunakan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh drilling terhadap cacat pinggir yang terjadi pada hybrid komposit. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian eksperimental. Variasi ukuran pahat potong adalah berdiameter 8 mm dan 10 mm. Proses permesinan dilakukan dengan kondisi pemotongan dry process dan wet process. Hasil proses permesinan drilling akan diinvestigasi dengan scanning electron microscope (SEM) dan analisa data menggunakan software computer ImageJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) kenaikan mata bor tidak signifikan memberikan pengaruh nilai stress area yang terbentuk; (2) temperatur pemotongan akibat gesekan antara mata bor dengan permukaan material memberikan pengaruh terhadap nilai stress area sebelum material tersebut terdeformasi, hal ini kondisi pemotongan yang sangat berperan.The machining process is one type in work piece processing using a machine tool. The drilling was wide process in cutting work piece. This research was done to investigate the defect of composite materials against drilling process. Hybrid composite material with lamination carbon fiber and basalt fiber reinforced was carried out. The aim is to investigate the edge defect of hybrid composite against the drilling process. The experiment method was conducted in this research. The drill bit variation was used in diameter 8mm and 10mm. The machining process was conducted on dry and wet condition. The results of drilling machining process have been investigated by scanning electron microscope (SEM) and analyzed using Image J software.  The results showed that: (1) a significant increase in the drill bit does not give effect to stress the value of the area; (2) cutting temperature due to friction between the drill bit to the surface of the material to give effect to stress the value of the area before the material is deformed, it is very instrumental cutting conditions.

Page 1 of 1 | Total Record : 7