cover
Contact Name
Rifky Ananda
Contact Email
fkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentino.ulm@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentino: Jurnal Kedokteran Gigi
ISSN : 23375310     EISSN : 25274937     DOI : 10.20527
Core Subject : Health,
Dentino [P-ISSN 2337-5310 | E-ISSN 2527-4937] is the journal contains research articles and review of the literature on dentistry which is managed by the Faculty of Dentistry, Lambung Mangkurat University. Dentino published twice a year, every March and September.
Arjuna Subject : -
Articles 42 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016)" : 42 Documents clear
GAMBARAN KARIES DENGAN MENGGUNAKAN DMF-T PADA MASYARAKAT PESISIR PANTAI KELURAHAN TAKISUNG KECAMATAN TAKISUNG KABUPATEN TANAH LAUT Sukmana, Bayu Indra
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  Background: Caries is a disease affecting tooth hard tissues, such as enamel, dentin, and cementum, caused by microorganisms’ activities of carbohydrates fermentation. Caries process starts from tooth hard tissues demineralization and is followed by its organic materials destruction. Purpose: The aim of this study was to assess the caries distribution using DMF-T index in seaside community of Takisung, Tanah Laut in 2015. Methods: This descriptive observational study was performed on seaside community of Takisung in August 2015. Samples chosen were 60 people who had completed permanent teeth eruption, aged between 20-50. Result: The results of this study showed that DMF-T indexes for age groups 20-30, 31-40, and 41-50 were 2,1; 3,9; and 4,0 respectively. Conclusion: This study concluded that caries index of seaside community of Takisung, Tanah Laut was categorized as poor.  Keywords: caries, DMF-T  ABSTRAK  Latar Belakang: Karies gigi merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi yaitu email, dentin, dan sementum yang disebabkan oleh aktifitas jasad renik yang ada dalam suatu karbohidrat yang diragikan. Proses karies gigi ini ditandai dengan terjadinya demineralisasi pada jaringan keras gigi yang diikuti dengan kerusakan bahan organiknya. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karies dengan menggunakan DMF-T pada masyarakat pesisir pantai di Kelurahan Takisung Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut tahun 2015. Metode: Penelitian ini berupa deskriptif observasional pada masyarakat pesisir pantai di Kelurahan Takisung Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut pada bulan Agustus 2015. Sampel yang diambil sejumlah 60 orang masyarakat yang sudah tumbuh gigi tetapnya dengan rentang usia 20-50 tahun. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian  didapatkan angka  DMF-T dengan hasil usia 20-30 tahun rata-rata indeksnya sebesar 2,1, usia 31-40 tahun sebesar 3,9, dan usia 41-50 tahun sebesar 4,0. Kesimpulan: Kesimpulan yang dapat diambil adalah gambaran karies masyarakat pesisir pantai Kelurahan Takisung Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut tergolong kurang baik.  Kata-kata kunci: karies, DMF-T
PERBEDAAN INDEKS KARIES GIGI ANTARA SISWA DENGAN STATUS GIZI LEBIH DAN STATUS GIZI NORMAL Tinjauan pada Siswa Kelas IV, V dan VI di Madrasah Ibtidayah Muhammadiyah 3 Al-Furqan Banjarmasin Riswandi, Muhammad Ali; Adhani, Rosihan; Hayatie, Lisda
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: Children have habit of uncontrolled diet and their favored foods are mosty cariogenic. Cariogenic food contains high carbohydrate level that can cause dental caries also the risk of excessive nutritional status. Data shows that excessive nutritient intake has become worldwide health problem and dental caries is one of the most occurring case of dental problem in south Kalimantan. Purpose: The purpose of this research was to determine the difference of dental caries index between excessive and normal nutritional status in student. Methods;This research was an analytic observational with cross sectional approach. The samples were the students of grade IV, V and VI at Madrasah Ibtidayah Muhammadiyah 3 Al-Furqan Banjarmasin which were randomly selectide. The Samples of this research were 60 studenst, 30 were students with excessive nutritional status and 30  were students with normal nutritional status. Result: The result showed that there were differences in the average index DMF-T. The group with excessive nutritional status showed high dental caries with index of 4,5 and low dental caries with index of 1,6 in the group with normal nutritional status. Statistical analysys using Mann-Whitney test obtained 0,00 (p-value-0,05) as the significant value. Conclusion: In conclusion, there was differences in the index of dental caries among students with better nutritional status and the students with normal nutritional status.  Keywords: Dental Caries, Better Nutritional Status, DMF-T  ABSTRAK Latar Belakang: Anak-anak memiliki kebiasaan pola makan yang tidak terkontrol dan makanan yang disukai seringkali berupa makanan kariogenik.  Makanan kariogenik memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, selain menyebabkan karies gigi juga dapat meningkatkan risiko gizi berlebih. Data menunjukan gizi berlebih telah menjadi masalah di seluruh dunia dan karies merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang cukup tinggi di Kalimantan Selatan.Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan indeks karies gigi antara siswa dengan status gizi lebih dan status gizi normal. Metode:  Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel adalah siswa kelas IV, V dan VI di Madrasah Ibtidayah Muhammadiyah 3 Al-Furqan Banjarmasin yang diambil secara acak. Sampel penelitian ini berjumlah 60 siswa yang terdiri dari 30 siswa dengan status gizi lebih dan 30 siswa dengan status gizi normal. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pada indeks rata-rata DMF-T yaitu pada kelompok status gizi lebih menunjukan indeks kareis gigi tinggi dengan indeks 4,5 dan 1,6 pada kelompok status gizi normal termasuk dalam kategori rendah. Analisis statistik dengan uji Mann-Whitney diperoleh nilai signifikan adalah 0,00 (p-value < 0,05). Kesimpulan: Kesimpulan penelitian adalah terdapat perbedaan indeks karies gigi antara siswa dengan status gizi lebih dan siswa dengan status gizi normal.   Kata-kata kunci: Karies Gigi, Status Gizi Lebih, DMF-T
FREKUENSI TERJADINYA GINGIVITIS PADA PEMAKAI GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN Tinjauan Pada Pasien Pemakai Gigi Tiruan Sebagian Lepasan di Puskesmas Cempaka Putih Banjarmasin Arie Yunanto, Muhammad Yoga; Adhani, Rosihan; Widodo, Widodo
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  Background: Losing teeth will cause malfunctioning of Phonetics, mastication, and the aesthetic as well as causing changes in alveolar lingir. Patient used removable partial denture offen found plaque accumuation who caused gingivitis. Gingivitis is the inflammation of the gums caused by bacteria with clinical signs of discoloration more red than normal, swollen gums and bleeding on a light pressure. Methods: This research aims to know the frequency of the occurrence of gingivitis in partial denture wearers spin-off in Cempaka Putih Puskesmas Banjarmasin. This research is descriptive research with cross sectional design. The population of this research are patients of Dental Clinics poly Cempaka Putih Banjarmasin who used dentures partial spin-off. The sample of this research are patients of Dental poly that come to Clinics Cempaka Putih Banjarmasin who was using some loose dentures with a minimum of 30 sample sample by using the technique of Accidental Sampling. Results: Based on the research results obtained by user removable partial denture Dental poly on patients in Clinics Cempaka Putih Banjarmasin are men amounted to 13 people  and females totaled 17 people. The health of gingiva in patients of Dental Clinics poly Cempaka Putih Banjarmasin mostly experience gingivitis with severity: mild gingivitis category amounted to 12 persons, the category of gingivitis are numbered 5 people, the strenuous gingivitis category amounted to 8 people. Conclusion: It could be concluded that the health of gingiva in patients of Dental Clinics poly Cempaka Putih Banjarmasin mostly experience gingivitis with severity mild gingivitis.  Keywords: Removable Partial Denture, Gingivitis, Clinics Cempaka Putih Banjarmasin  ABSTRAK  Latar belakang: Kehilangan gigi akan menyebabkan gangguan fungsi fonetik, mastikasi, dan estetik serta menyebabkan perubahan lingir alveolar. Pada pemakai gigi tiruan sebagian lepasan sering ditemukan penumpukan plak pada protesanya yang menyebabkan gingivitis. Gingivitis adalah peradangan pada gusi yang disebabkan bakteri dengan tanda-tanda klinis perubahan warna lebih merah dari normal, gusi bengkak dan berdarah pada tekanan ringan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi terjadinya gingivitis pada pemakai gigi tiruan sebagian lepasan di Puskesmas Cempaka Putih Banjarmasin. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah pasien poli gigi Puskesmas Cempaka Putih Banjarmasin yang memakai gigi tiruan sebagian lepasan. Sampel penelitian ini adalah pasien poli gigi yang datang ke Puskesmas Cempaka Putih Banjarmasin yang sedang memakai gigi tiruan sebagian lepasan dengan sampel minimumnya 30 sampel dengan menggunakan teknik Accidental Sampling. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan pengguna gigi tiruan sebagian lepasan pada pasien poli gigi di Puskesmas Cempaka Putih Banjarmasin adalah laki-laki berjumlah 13 orang dan perempuan berjumlah 17 orang. Kesehatan gingiva pada pasien poli gigi Puskesmas Cempaka Putih Banjarmasin sebagian besar mengalami gingivitis dengan tingkat keparahan : kategori gingivitis ringan berjumlah 12 orang, kategori gingivitis sedang berjumlah 5 orang, kategori gingivitis berat berjumlah 8 orang. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa pasien poli gigi Puskesmas Cempaka Putih Banjarmasin sebagian besar mengalami gingivitis dengan tingkat keparahan gingivitis ringan. Laporan.Kata-kata kunci: Gigi Tiruan Lepasan, Gingivitis, Puskesmas Cempaka Putih Banjarmasin
KEKASARAN PERMUKAAN RESIN-MODIFIED GLASS IONOMER CEMENT SETELAH PERENDAMAN DALAM AIR SUNGAI (Penelitian Menggunakan Air Sungai Desa Anjir Pasar, Barito Kuala, Kalimantan Selatan) Permatasari, Anindya Putri; Ichrom Nahzi, Muhammad Yanuar; Widodo, Widodo
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  Background:Resin-modified glass ionomer cement is a hybrid form of glass ionomer cement and resin. Added resin (HEMA) in this material allows its characteristics to improve, especially its resistance of acid.The water of  Desa Anjir Pasar River has acidic nature with pH as low as 3-5.Purpose: The aim of this studywas to find surface roughness difference of resin modified glass ionomer cement after being soaked in the water of Anjir Pasar Village River compared to aquadest-soaked materials.Method:This study was true experimental used posttest only with control group design. Samples used resin-modified-glass ionomer cement specimenswhich were prepared in cylindrical-shaped with diameter of 10 mm and thickness of 2 mm. One groupwassoaked in aquadest (control) andanother group in river water with pH of 4,07for 4,5 days (equivalent to 3 years of exposure) before measuring the surface roughness of each group. Data was analyzed using parametric analysis Independent T-Test 95% (α = 0,05) which presented p value = 0,03 (p<0,05). Result:The result indicated that there was a significant difference of surface roughness between resin modified glass ionomer cement soaked in the water of Anjir Pasar Village River with pH of 4,07 for 4,5 daysand in the aquadest.Conclusion: Based on this study it was concluded that resin-modified glass ionomer cement which soaked with river water has higher surface roughness that resin-modified glass ionomer cement which soaked with sterile aquadest.   Keywords: Resin-Modified Glass Ionomer Cement, river water, surface roughness  ABSTRAK  Latar Belakang:Resin-modified glass ionomer cement merupakanhybrid dari glass ionomer cement dengan resin. Penambahan bahan resin (HEMA) memperbaiki sifatnya, yaitu ketahanan terhadap asam.Air Sungai Desa Anjir Pasar memiliki karakteristik asam dengan rentang pH 3-5.Tujuan:Tujuan penelitian ini untukmengetahuiperbedaan kekasaranpermukaanbahanresin-modified glass ionomer cement setelahdilakukanperendaman dalam air Sungai Desa Anjir Pasar dan akuades steril. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan rancangan posttest only with control group design. Sampel penelitian ini menggunakan spesimen resin-modified glass ionomer cement dibuat berbentuk silindris dengan diameter 10 mm dan ketebalan 2 mm. Masing-masing kelompok direndam dalam akuades steril (kontrol) dan air sungai pH 4,07 selama 4,5 hari (sama dengan 3 tahun pemaparan), kemudian dihitung kekasaran permukaannya. Data diuji menggunakan analisis parametrik Independent T-Test 95% (α = 0,05) dan didapatkan p=0,03 (p<0,05). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kekasaran permukaan yang bermakna pada resin-modified glass ionomer cement antara perendaman dalam air sungai pH 4,07 selama 4,5  dengan perendaman dalam akuades steril.Kesimpulan: terdapat perbedaan kekasaran yang lebih besar pada bahan resin-modified glass ionomer cement yang direndam dalam air sungai daripada yang direndam akuades steril.   Kata-kata kunci:  Resin-modified Glass Ionomer Cement, Air Sungai, Kekasaran Permukaan
UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN TUNGGAL DIBANDINGKAN KOMBINASI SEDUHAN DAUN TEH HIJAU (Camellia sinensis) DAN MADU (Studi in Vitro terhadap Jumlah Koloni Bakteri Rongga Mulut) Tinjauan pada Mahasiswa PSKG FK Unlam Banjarmasin Angkatan 2011-2013 A, Wahyuni; Dewi, Nurdiana; Budiarti, Lia Yulia
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTGreen tea has various active substances; one of them is polyphenol, mostly cathechin, an active compound which can protect teeth from caries because of its anti-streptococcal activity. A high content of minerals in honey has alkali characteristic thus the disinfectant trait in oral cavity. The aim of this study was to assess whether single and combined preparations of brewed green tea and honey can decrease bacterial colony count in oral cavity. This study was quasi experimental with pretest and posttest controlled group design. Samples of 38 Students of Dentistry Study Program Universitas lambung Mangkurat were divided into 19 groups: 3 groups were given 25%, 50%, 100% green tea in single preparations, 4 groups were given 6,25%, 12,5%, 25%, 50% honey in single preparations, and 12 groups were given combined preparations of green tea and honey. Bacterial colony before and after gargling grown on isolated medium was counted using colony counter. Repeated anova test showed p value of 0,037 (p < 0,05), stating that there was a significant difference among treatment groups. In conclusion, combined preparations of 50% green tea + 12,5% honey and 100% green tea + 25% honey were more effective in decreasing bacterial colony count.   ABSTRAKTeh hijau mempunyai beberapa komponen aktif yang salah satunya adalah polifenol berupa katekin, suatu senyawa aktif dalam melindungi gigi dari karies karena memiliki aktivitas anti-streptococcal. Kandungan mineral yang tinggi pada madu mempunyai sifat basa (mengandung unsur alkali) sehingga dapat berfungsi sebagai desinfektan terhadap rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sediaan tunggal dan kombinasi seduhan daun teh hijau dan madu dapat menurunkan jumlah koloni bakteri rongga mulut. Penelitian ini bersifat eksperimental kuasi dengan rancangan pretest and posttest controlled group design. Sampel sebanyak 38 orang mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran yang dibagi dalam 19 kelompok yaitu sebanyak 3 kelompok perlakuan sediaan tunggal teh hijau menggunakan konsentrasi 25%, 50%, dan 100%, sebanyak 4 kelompok perlakuan sediaan tunggal madu menggunakan konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50%, sebanyak 12 dengan kelompok perlakuan sediaan kombinasi teh hijau dan madu. Jumlah koloni yang tumbuh pada media isolasi sebelum dan sesudah berkumur dihitung menggunakan alat colony counter. Hasil uji Repeated anova menunjukan nilai p = 0,037 (p < 0,05), terdapat perbedaan yang bermakna diantara perlakuan. Dapat disimpulkan bahwasediaan kombinasi teh hijau 50% dengan madu 12,5% dan teh hijau 100% dan madu 25% lebih efektif dalam menurunkan jumlah koloni bakteri.
EFEKTIVITAS SEDUHAN TEH HITAM (Camellia sinensis) DALAM PENURUNAN INDEKS PLAK GIGI (Tinjauan pada Siswa SMP 2 Banjarbaru) Ayu Suma, Feryra Putri; Dewi, Nurdiana; Adhani, Rosihan
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  Background :Black tea is a type of tea most commonly drunk in Indonesian. Black tea contains compounds that can prevent gum disease by inhibiting the formation of dental plaque. Polyphenols in black tea are the main components that can inhibit glucan from sucrose having adhesion and important in inhibiting plaque. In addition, polyphenols also kill the bacteria that causes dental plaque).Purpose : This studied aims to determine the effectiveness of black tea (Camellia sinensis) in dental plaque index decline instudents junior high school 2 Banjarbaru. Methods : The method used an a quasi experiment with design pre- and post-test with control group design. The subjects of this study consisted of a group that rinsing the mouth with black tea and groups that rinsing the mouth with mineral water. These samples included 30 people in the group of black tea rinse your mouth and 30 people in the group of mineral water rinse your mouth. Result :The results showed obtained p value (probability value) of the test p = 0.000, smaller than 0.05 or α (p = 0.000 <α 0.05), so that is the difference in plaque index between the group of black tea and mineral waters. Conclusion : The conclusion is there are conducted can be concluded that the steeping black tea (Camellia sinensis) was good to reduce decreased dental plaque index decline in students junior high school 2 Banjarbaru.  Key words: black tea, mineral water, plaque index  ABSTRAK Latar Belakang: Teh hitam  adalah jenis teh paling sering diminum di Indonesia. Teh hitam mengandung senyawa yang dapat mencegah timbulnya penyakit gigi dan mulut dengan menghambat pembentukan plak gigi.Polifenol dalam teh hitam merupakan komponen utama yang dapat menghambat glukan dari sukrosa yang mempunyai daya lekat dan penting dalam menghambat plak. Selain itu  polifenol  juga membunuh bakteri penyebab plak gigi). Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas teh hitam (Camellia sinensis) dalam penurunan indeks plak gigi pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Banjarbaru. Metode : Jenis penelitian ini adalah Quasi Experiment dengan rancangan pre and post-test with control group design. Subyek penelitian ini terdiri dari satu kelompok yang berkumur-kumur dengan teh hitam dan kelompok yang berkumur-kumur dengan air mineral.Sampel penelitian berjumlah 30 orang pada kelompok kumur-kumur teh hitam dan 30 orang pada kelompok kumur-kumur air mineral. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa p value (nilai probabilitas) dari uji tersebut p = 0,000, lebih kecil dari α 0,05 atau   (p = 0,000 < α 0,05), sehingga ada perbedaan indeks plak pada kelompok teh hitam dan air mineral. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa seduhan teh hitam (Camellia sinensis) efektif dalam penurunan indeks plak gigi pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Banjarbaru.  Kata-kata kunci: teh hitam, air mineral,plak indeks
PENGARUH EKSTRAK KULIT MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA L.) TERHADAP JUMLAH SEL LIMFOSIT PADA INFLAMASI PULPA Studi In Vivo pada Gigi Molar Rahang Atas Tikus Putih Wistar Jantan Zayyan, Anis Belinda; Ichrom Nahzi, Muhammad Yanuar; Kustiyah O., Ika
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACK  Background: Mangosteen is one of Indonesian’s favorite. Mangosteen pericarp extract contains saponin, tannin, flavonoid, xanthone and its derivatives, alpha-mangosteen, beta-mangosteen, and gamma-mangosteen, which have anti-inflammatory properties. Purpose: The aim of this study is to assess the effect of mangosteen pericarp extract on lymphocytes count in pulp inflammation and compare it to calcium hydroxide on day 1, 3, 5, and 7. Methods: This study was true experimental with pretest-posttest with control group design. Samples used were 39 white wistar (Rattus novergicus) rats divided into 3 groups of mangosteen pericarp extract treatment group, calcium hydroxide treatment group and no treatment group. Lymphocytes count was observed microscopically in zig zag fields of view. Result: The result presented mean scoring of lymphocytes in mangosteen pericarp extract treatment group as 3,67 on day 1, 6 on day 3, 11 on day 5, and 7,67 on day 7. Lymphocytes count reached its peak on day 5. Two way ANOVA and Post Hoc LSD tests indicated that there was significant difference between mangosteen pericarp extract treatment group and no treatment group, between mangosteen pericarp extract treatment group and calcium hydroxide treatment group, and between calcium hydroxide treatment group and no treatment group. Conclusion: There was a significant effect of mangosteen pericarp extract on lymphocytes count in wistar rats’ pulp inflammation compared to calcium hydroxide in decreasing lymphocytes count.  Keywords: pulp inflammation, lymphocytes, mangosteen pericarp extract, calcium hydroxide, antiinflammatory, pulp capping.  ABSTRAK  Latar Belakang: Manggis merupakan buah yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Ekstrak kulit manggis mengandung saponin, tanin, flavonoid, xanthone dengan turunannya alpha-mangostin, beta-mangostin, dan gammamangostin, yang berfungsi sebagai anti-inflamasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak kulit manggis terhadap jumlah sel limfosit pada proses inflamasi pulpa dan membandingkannya dengan kalsium hidroksida pada hari 1, 3, 5 dan 7. Metode: Jenis penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan rancangan pretest-posttest with control group. Penelitian ini menggunakan 39 tikus putih (Rattus norvegicus) wistar yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok perlakuan ekstrak kulit manggis, kelompok kalsium hidroksida, dan kelompok tanpa obat. Jumlah limfosit dilihat secara mikroskopis dan dihitung secara zig-zag. Hasil: Hasil penelitian menunjukan skoring rata-rata jumlah sel limfosit perlakuan ekstrak kulit manggis hari 1 (3,67), hari 3 (6), hari 5 (11), dan hari 7 (7,67). Jumlah sel limfosit mencapai puncak pada hari ke-5. Hasil uji Two Way ANOVA dan uji Post hoc LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kelompok ekstrak kulit manggis dan tanpa obat, antara kelompok ekstrak kulit manggis dan kalsium hidroksida dan antara kalsium hidroksida dan tanpa obat. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian ekstrak kulit manggis berpengaruh terhadap jumlah sel limfosit pada inflamasi pulpa gigi tikus wistar dibandingkan kalsium hidroksida dilihat dari penurunan jumlah sel limfosit pada kelompok ekstrak kulit manggis dibandingkan kelompok kalsium hidroksida.
PERBANDINGAN SENSITIVITAS LIDAH TERHADAP RASA MANIS DAN PAHIT PADA ORANG MENGINANG DAN TIDAK MENGINANG DI KECAMATAN LOKPAIKAT KABUPATEN TAPIN Tunggala, Sunjaya; Dewi, Nurdiana; Asnawati, Asnawati
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  Background:Tongue has taste buds which are consisted of taste receptors. Its sensitivity is influenced by several factors including betel chewing habit. Purpose:This study aimed to identify whether tongue sensitivity of sweet and bitter tastes in betel chewing community was lower compared to non-betel chewing people in Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin. Methods:This study was an analytical survey with cross sectional approach. Samples were selected using total sampling method. Total samples were 32 people, classified into 2 groups of 16 women with betel chewing habit and 16 women without betel chewing habit. Both groups were given sucrose solution of 4 different concentrations (0,05; 0,1; 0,2 and 0,4g/mL) to test tongue sensitivity of sweet taste and quinine hydro-chloride solution of 4 different concentrations (0,0004; 0,0009; 0,0024 and 0,006g/mL) to test the bitter taste sensitivity. Result:Results shown provided an average scores of 1.875 ± 0.619 for sweet taste sensitivity and 1.250 ± 1.125 for bitter taste sensitivity in betel chewing community and an average scores of 3.687 ± 0.478 for sweet taste sensitivity and 3.000 ± 0.816 for bitter taste sensitivity in nonbetel chewing people. Mann-Whitney test result of both groups indicated a p-value of (0.000). Conclusion:Based on the results, it could be concluded that tongue sensitivity of sweet and bitter tastes in betel chewing community was lower than non-betel chewing people in Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin.  Key Words :tongue sensitivity, tongue,betel chewing  ABSTRAK  Latar Belakang:Lidah memiliki taste buds yang mengandung reseptor rasa. Sensitivitasnya dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor termasuk kebiasaan menginang.Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sensitivitas lidah terhadap rasa manis dan pahit pada orang menginang lebih rendah daripada orang yang tidak menginang di Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Sampel berjumlah 32 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 16 wanita dengan kebiasaan menginang dan 16 wanita tanpa kebiasaan menginang. Kedua kelompok sampel diberi larutan sukrosa dengan 4 konsentrasi berbeda (0,05; 0,1; 0,2 dan 0,4g/mL) untuk menguji sensitivitas rasa manis dan larutan quinine hydro-chloride dengan 4 konsentrasi berbeda (0,0004; 0,0009; 0,0024 dan 0,006g/mL) untuk menguji sensitivitas rasa pahit. Hasil: Hasil penelitian pada orang menginang terhadap rasa manis didapatkan skor rata-rata 1,875±0,619  pada rasa pahit didapatkan skor rata-rata 1,250 ±1,125 dan pada orang  tidak menginang terhadap rasa manis didapatkan skor rata-rata 3,687±0,478 pada rasa pahit didapatkan skor ratarata 3,000 ±0,816. Hasil uji Mann-Whitney pada kedua kelompok menunjukkan nilai p (0,000). Kesimpulan:Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpukan bahwa sensitivitas lidah terhadap rasa manis dan pahit pada orang menginang lebih rendah daripada orang yang tidak  menginang di Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin.  Kata-kata kunci : sensitivitas lidah, lidah, menginang
EFEKTIVITAS MENYIKAT GIGI DENGAN METODE FONE TERHADAP INDEKS KEBERSIHAN RONGGA MULUT Tinjauan pada Pasien Stroke di Klinik Millennia Banjarmasin Tahun 2014 Aldiaman, Habibie; Adhani, Rosihan; Adenan, Adenan
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Stroke often causing long term disability and patient’s oral hygiene quality defended difficultly. Purpose: The purpose of this study was to compare OHI-S (Oral Hygiene Index-Simplified) score before and after tooth brushing used fone method to the patient of stroke in Millennia Clinic Banjarmasin. Methods: It was a descriptive analitic study with pre and post-test design and used total sampling with 15 peoples sample and consisted of before and after tooth brushing used fone method as intervention. Results: The results showed an average of OHI-S score before tooth brushing used fone method was 2,3038 and after tooth brushing used fone method was 0,8847. Conclusion: The conclusion of this study was tooth brushing used fone method showed effectiveness significantly to decrease OHI-S score and there was significant differences in effectiveness between before and after. ABSTRAKLatar Belakang: Stroke seringkali mengakibatkan disabilitas jangka panjang dan kualitas  oral hygiene pasien sulit dipertahankan. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan skor OHI-S (Oral Hygiene Index-Simplified) sebelum dan sesudah menyikat gigi dengan metode fone pada pasien stroke di Klinik Millennia Banjarmasin. Metode: Penelitian ini merupakan deskriptif analitik dengan pre and post-test design yang menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 15 orang dengan dilakukan intervensi berupa menyikat gigi dengan metode fone. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor OHI-S sebelum menyikat gigi dengan metode fone yakni sebesar 2,3038 dan setelah menyikat gigi dengan metode fone yakni sebesar 0,8847. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa menyikat gigi dengan metode fone terbukti efektif secara bermakna terhadap peningkatan indeks kebersihan rongga mulut pada pasien stroke di Klinik Millennia Banjarmasin pada tahun 2014.
DESKRIPSI FRAKTUR MANDIBULA PADA PASIEN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN BANJARMASIN PERIODE JULI 2013 - JULI 2014 (Studi Retrospektif Berdasarkan Insidensi, Etiologi, Usia, Jenis Kelamin, dan Tatalaksana) Awwalu Hakim, Ahmad Habibi; Adhani, Rosihan; Indra Sukmana, Bayu
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACK  Background:Mandibular fracture is a condition where the continuity of mandibular bone is broken. The loss of mandibular bone continuity may lead to fatal outcomes if left without proper treatment. Mandibular fractures classification according to anatomical position of the fracture is divided into dentoalveolar, condyle, coronoideus, ramus, mandibular angle, mandibular body, simphysis, and parasymphisis fracturesPurpose:The aim of this study was to assess mandibular fractures incidence based on genders, age, fracture etiology, and treatments. Methods:This study was retrospective descriptive study. Samples included medical records of patients with mandibular fractures during Juli 2013 – Juli 2014. Samples were chosen using total sampling. Result:The result of this study presented that mandibular fracture incidence rate was higher in males with 52 cases (74,1 %) than females with only 19 cases (25,9 %) with the ratio of 3 to 1. Based on age, mandibular fractures were often found in productive age of 11-30 years old (61,4%). The most frequent mandibular fractures were in symphisis area with 27 cases (38,1 %). The most common etiology was motorcycle accident with 47 cases (78,4 %). The treatment carried out on patients with mandibular fractures was Open Reduction (Elective ORIF) amounting to 58,1 %. Result also showed 18,8% patients refused treatment because of financial problem, anxiety and fear prior to operation thus they refused or delayed the treatment and requested for discharge against medical advice.  Keywords: incidence, mandibular fracture  ABSTRAK  Latar Belakang: Fraktur mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula Hilangnya kontinuitas pada rahang bawah (mandibula), dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan benar. Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan pada letak anatomi dapat terjadi pada daerah-daerah dentoalveolar, kondilus, koronoideus, ramus, sudut mandibula, korpus mandibula, simfisis, dan parasimfisis. Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidensi fraktur mandibula berdasarkan jenis kelamin, usia, penyebab fraktur, dan penatalaksanaan. Metode:Jenis penelitian  merupakan penelitian metode deskriptif retrospektif. Sampel terdiri dari data rekam medik pasien fraktur mandibulaJuli 2013 – Juli 2014. Pemilihan sampel berdasarkan metode total sampling. Hasil:Hasil penelitian menunjukkan insidensi fraktur lebih banyak terjadi pada laki – laki sebanyak 52 kasus (74,1%) dan perempuan sebanyak 19 kasus (25,9%)dengan rasio sebesar 3:1. Berdasarkan usia, fraktur mandibula paling banyak terjadi pada usia produktif yakni 11-30 tahun sebesar (61,4%). Fraktur mandibula paling banyak terjadi pada lokasi Fraktur Simpisis sebanyak 27 kasus (38,1%). Etiologi terbesarkarena kecelakaan sepeda motor sebanyak 47 orang (78,4%). Perawatan yang dilakukan terhadap pasien fraktur mandibula adalah Open Reduction (ORIF Elektif) sebanyak (58,1%). Hasil penelitian juga menunjukan pasien yang menolak perawatan sebanyak (18,8%) di karenakan kendala biaya, pasien sangat cemas dan ketakutan atau tidak siap operasi sehingga mereka menolak atau menunda dan meminta pulang paksa.  Kata-kata kunci : insidensi, fraktur mandibula