cover
Contact Name
Eko Suhartono
Contact Email
esuhartono@ulm.ac.id
Phone
+6281251126368
Journal Mail Official
jbk@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Berkala Kedokteran
ISSN : 14120550     EISSN : 25485660     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Health, Science,
Berkala Kedokteran is a journal contains scientific articles from original research and literature review in medical and health scope. It is published twice in a year, on February and September.
Articles 31 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2016)" : 31 Documents clear
KORELASI PANJANG LENGAN ATAS DENGAN TINGGI BADAN PADA WANITA SUKU BANJAR Iwan Aflanie; Fitria Amalia; Mashuri Mashuri
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.709 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.3692

Abstract

Abstract: The role of identification in the field of forensic medicine is the most important thing to the victims who have died. Identification is needed to reveal the identity of the corpse, one is needed to estimate the length of the corpse. The purpose of this research is analyzing the correlation between the length of upper arm with height in Banjarese student of Medical Faculty at Lambung Mangkurat University and to get height estimation formula based on the length of upper arm in Banjarese woman. The research methodology is the observational analytic with the cross sectional approach method. This research uses the purposive sampling method to take subject result with the total sample as many as 52 people. The Pearson test result showed that value p = 0,000 and value r = 0,933 for right upper arm and r = 0,928 for left upper arm, which indicated a very strong correlation between right and left upper arm with height in Banjarese woman. The conclusion from this research is that there is very strong correlation between the length of upper arm with height in Banjarese woman, with height estimation formula TB = 59,829 + 3,010 x PLAkn for right upper arm and TB = 59,618 + 3,020 x PLAkr for left upper arm. Keywords : identification, height estimation, Banjarese woman Abstrak: Peranan identifikasi dalam bidang ilmu kedokteran forensik merupakan hal paling penting pada korban yang telah meninggal. Identifikasi sangat dibutuhkan untuk mengungkapkan identitas mayat, salah satu yang diperlukan yaitu dengan memperkirakan panjang tubuh mayat tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis korelasi panjang lengan atas dengan tinggi badan pada mahasiswi suku Banjar di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat dan untuk mendapatkan formula estimasi tinggi badan berdasarkan panjang lengan atas pada wanita suku Banjar. Metode penelitian ini yaitu observasional analitik dengan metode pendekatan cross sectional. Pengambilan subjek penelitian menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 52 orang. Hasil uji Pearson menunjukkan nilai p = 0,000 dan nilai r = 0,933 untuk lengan kanan dan r = 0,928 untuk lengan kiri, yang menunjukkan adanya korelasi yang sangat kuat antara panjang lengan atas kanan dan kiri dengan tinggi badan pada wanita suku Banjar. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat korelasi yang sangat kuat antara panjang lengan atas dengan tinggi badan pada wanita suku Banjar, dengan formula estimasi tinggi badan TB = 59,829 + 3,010 x PLAkn untuk lengan kanan dan TB = 59,618 + 3,020 x PLAkr untuk lengan kiri. Kata-kata kunci : identifikasi, estimasi tinggi badan, wanita suku Banjar
Potensi Ekstrak Kelakai (Stenochlaena palustris (Burm.F) Bedd) terhadap Kadar Tumor Necrosis Factor-Alfa (TNF-α) pada Mencit BALB/c yang Diinfeksi Plasmodium berghei ANKA Denny P.N.H. Margono; Eko Suhartono; Heny Arwati
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.902 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.359

Abstract

Abstract: Malaria remains a major public health problem in most tropical and subtropical countries, including Indonesia. Severe malaria has a high mortality rate despite treatment with effective antimalarial drug. Pro-inflammatory cytokines such as Tumor Necrosis Factor-alfa (TNF-α) is raised in severe malaria.  In South Kalimantan, the kelakai (Stenochlaena palustris (Burm.f) Bedd) has few uses for treat fever and infectious diseases.  It contains bioactive substances, such as flavonoids, steroids, and alkaloids which have been reported to exert multiple biological effects, including anti-inflammatory action.   The aim of this study is to find out the potential of kelakai extract (KE) againts TNF-α level in BALB/c mice infected P. berghei ANKA. The research is true experimental study, Posttest-only with Control Group Design. Teatment groups were devided into 4 groups treated with 10 mg/kg BW, 100 mg/kg BW of KE, and 36,4 mg/kg BW artesunate orally (positive control), 3 hours post infection and when parasitemia reached 15-20%. Negative controls were without KE treatment and P. berghei infection. Treatment were given for four days. Blood was collected 24 hours after the last treatment. Plasma TNF-α level were measured by sandwich ELISA. Data was analyzed by using Kruskal-Wallis Test, confidence rate at 95%.  There was a significant different between treatment groups, where p = 0,000 (p < 0,05). KE potential to inhibit TNF-α production in Pb3K100A- group (p = 0,047).Keywords : Malaria,  TNF-α, Stenochlaena palustris Abstrak:  Malaria masih menjadi masalah kesehatan utama pada sebagian besar negara tropis dan subtropis, termasuk Indonesia.  Malaria berat menyebabkan angka kematian yang tinggi meskipun telah mendapat obat anti malaria yang efektif.  Sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α meningkat pada malaria berat.  Di Kalimantan Selatan, tanaman kelakai digunakan untuk mengobati demam dan penyakit infeksi.  Kelakai mengandung senyawa-senyawa bioaktif  antara lain flavonoid, steroid, dan alkaloid yang dilaporkan banyak memiliki efek biologis, termasuk aktivitas anti-inflamasi.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi ekstrak kelakai terhadap kadar TNF-α pada mencit BALB/c yang diinfeksi P. berghei ANKA.  Penelitian ini merupakan studi eksperimental murni dengan Posttest-only with Control Group Design.  Kelompok perlakuan dibagi menjadi 4 yaitu kelompok yang mendapat ekstrak kelakai per oral 10 mg/kg BB, 100 mg/kg BB, artesunat 36,4 mg/kg BB (kontrol positif) 3 jam setelah infeksi dan pada saat parasitemia mencapai 15-20%.  Kontrol negatif  tidak mendapat ekstrak kelakai, artesunat, dan infeksi parasit.  Perlakuan diberikan selama 4 hari.  Sampel darah diambil 24 jam setelah perlakuan terakhir.  Kadar TNF-α diukur dengan ELISA metode sandwich.  Data dianalisa dengan Uji Kruskal-Wallis, dengan tingkat kepercayaan 95%.  Terdapat perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan, nilai p = 0,000 (p<0,05).  Ekstrak kelakai berpotensi menghambat produksi TNF-α pada kelompok Pb3K100A- (p = 0,047). Kata-kata kunci : Malaria, TNF-α, Stenochlaena palustris
Hubungan antara Berat Badan Lahir dan Kejadian Asfiksia Neonatorum Novia Fajarwati; Pudji Andayani; Lena Rosida
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.766 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.354

Abstract

Abstract:Neonatal asphyxia is a condition where the baby can not breathe spontaneously and regularly soon after birth or shortly after birth. Birth weight is a part of the factors that can cause neonatal asphyxia. Research conducted retrospective observational analytic approach to determine the relationship between birth weight and neonatal asphyxia which uses secondary data from medical records of patients. The study was conducted in August-October 2015 in the NICU and medical record room of RSUD Ulin Banjarmasin. The sampling technique used purposive sampling and obtained a sample of 334 cases. The statistical test used is chi-square test with 95% confidence level. The results showed that of 334 cases of birth weight data showed 17.4% risk birth weight and no-risk birth weight by 82,6%. Neonatal asphyxia 26.3% and 73.7% of no-neonatal asphyxia. Based on the statistical test showed p = 0.674 so that it can be concluded that there is no significant correlation between birth weight and neonatal asphyxia in RSUD Ulin Banjarmasin period June 2014-June 2015.Keywords: neonatal asphyxia, birth weight, risk factor Abstrak: Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan dimana bayi tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir atau beberapa saat setelah lahir. Berat badan lahir merupakan bagian dari faktor neonatus yang dapat menyebabkan asfiksia neonatorum. Penelitian dilakukan secara observasional analitik dengan pendekatan retrospektif untuk mengetahui hubungan antara berat badan lahir dan kejadian asfiksia neonatorum yang menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2015  di ruang NICU dan ruang rekam medis RSUD Ulin Banjarmasin. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan didapatkan sampel sebanyak 334 kasus. Uji statistik yang digunakan yaitu  uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 334 kasus diperoleh data berat badan lahir berisiko sebesar 17,4% dan berat badan lahir tidak berisiko sebesar 82,6%. Kejadian asfiksia neonatorum sebesar 26,3% dan tidak asfiksia neonatorum sebesar 73,7%.  Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan hasil p = 0,674 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara berat badan lahir dan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin periode Juni 2014-Juni 2015. Kata-kata kunci: asfiksia neonatorum, berat badan lahir, faktor risiko
Gambaran Isolat Bakteri Aerob Diare pada Anak yang Dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2015 Gusti Muhamma Edy Muttaqin; Edi Hartoyo; Dona Marisa
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.892 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.360

Abstract

Abstract: Diarrhea is one of the major health problems in children, especially children under five in developing countries because the mortality and morbidity rate is still high. In the world, 4 to 6 million children die every year from diarrhea, most of these deaths occur in developing countries. In general, the cause of diarrhea can not be separated from the bacterial infection. Bacteria that cause diarrhea varies by age, place, and time. The purpose of this study is analyzing anaerobic bacterial isolate in patients hospitalized children with diarrhea in general hospital ulin Banjarmasin. This study was an observational study with cross sectional design. Types of bacteria in pediatric patients in hospitals Ulin Banjarmasin period August-October 2015 at most is Escherichia coli by 26 samples (72.22%), Salmonella typhi by 7 samples (19.44%), and Shigella sp by 3 samples (8, 33%). Keywords: aerobic bacterial isolate, hospitalized children, diarrhea Abstrak: Diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada anak terutama balita di negara berkembang karena angka kematian dan kesakitannya masih tinggi. Di dunia, sebanyak 4 sampai 6 juta anak meninggal tiap tahunnya karena diare, dimana sebagian besar kematian tersebut terjadi di negara berkembang. Pada umumnya penyebab diare tidak terlepas dari infeksi bakteri. Bakteri penyebab diare berbeda-beda berdasarkan umur, tempat, dan waktu. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengidentifikasi isolat bakteri aerob diare pada pasien diare anak yang dirawat di RSUD Ulin Periode Agustus – November 2015. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Sampel diambil adalah feses dari seluruh populasi anak penderita diare yang dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin dengan menggunakan metode total sampling. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa jenis isolat bakteri pada pasien anak di RSUD Ulin Banjarmasin periode Agustus – Oktober 2015 dengan total 36 sampel paling banyak adalah Eschericia coli dengan jumlah 26 (72,22%) sampel, Salmonella typhi dengan jumlah 7 (19,44%) sampel, kemudian Shigella sp. 3 (8,33%) sampel. Kata-kata kunci: isolate bakteri aerob, anak yang dirawat, diare
Pengaruh Latihan Aerobik Ringan dan Sedang terhadap Kadar Interleukin 8 dan Jumlah Netrofil pada Remaja Huldani Huldani
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.303 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.357

Abstract

Abstract: Aerobic exercise with mild to moderate intensity will improve health and fitness. Aerobic exercise stimulates an increase in the concentration of IL-8 and will attract neutrophils out of circulation and infiltrate into the damaged tissue for physical activity. To determine the effect of mild and moderate aerobic exercise on levels of interleukin 8 and the number of neutrophils in adolescents, semi-experimental research laboratory with the entire population of male students of SMAN I Banjarbaru. Determination of the sample with inclusion and exclusion criteria obtained 31 samples (9 mild aerobic exercise, moderate aerobic exercise 12 and 10 as a control). The implementation of data collection (blood plasma) immediately after the sample is finished doing aerobic exercise. Blood plasma samples were analyzed by flowcytometri to see the number of neutrophils and elisa to see the levels of Interleukin 8 (IL-8). The results showed that mean plasma levels of IL-8 in mild aerobic group (605.69 ± 123.28) and moderate (718.75 ± 132.55) is lower than the control group (720.80 ± 213.11). Kruskal Wallis statistic test in the three groups no significant difference with p = 0.320. The average number of neutrophils mild aerobic exercise group (52.42 ± 8.29) and moderate (63.60 ± 8.73) was higher than the control group (50.11 ± 5.55), which means that there is an increase in the number of neutrophils after aerobic exercise , with one-way ANOVA statistical test showed different significant with p = 0.001. LSD test found significant differences between mild and moderate aerobic group with p = 0.003, 95% CI. There is no difference between the control group mild aerobic with p = 0.519. There are differences between the groups of moderate aerobic and control with p = 0.000. It can be concluded that mild and moderate aerobic exercise did not affect the increased plasma levels of interleukin-8 in adolescents. Mild aerobic exercise had no effect on the increase in the number of neutrophils in adolescents. Moderate aerobic exercise influence on the increase in the number of neutrophils in adolescents.Keywords :  Aerobic exercise, Interleukin 8, Neutrophyl Abstrak: Latihan aerobik dengan intensitas ringan sampai sedang akan meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh. Latihan aerobik merangsang peningkatan konsentrasi IL-8 dan akan menarik netrofil dari sirkulasi dan menyusup kejaringan yang rusak karena aktivitas fisik.  Untuk mengetahui pengaruh latihan aerobik ringan dan sedang terhadap kadar interleukin 8 dan jumlah netrofil pada remaja, dilakukan penelitian semi eksperimental laboratorik dengan populasi seluruh pelajar laki-laki SMAN I Banjarbaru. Penentuan besarnya sampel dengan kriteria inklusi dan ekslusi didapatkan 31 sampel (9 latihan aerobik ringan, 12 latihan aerobik sedang, dan 10 sebagai kontrol). Pelaksanaan pengambilan data (plasma darah) segera setelah sampel selesai melakukan latihan aerobik. Plasma darah sampel dianalisa dengan flowcytometri untuk melihat jumlah netrofil dan pemeriksaan elisa untuk melihat kadar Interleukin 8 (IL-8). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar IL-8 plasma pada kelompok aerobik ringan (605,69 ± 123,28) dan sedang (718,75 ± 132,55) lebih rendah dari kelompok kontrol (720,80 ± 213,11). Secara uji statistik Kruskal Wallis ketiga kelompok tidak ada perbedaan bermakna dengan nilai p = 0,320. Jumlah rerata netrofil kelompok latihan aerobik ringan (52,42 ± 8,29)  dan sedang (63,60 ±  8,73) lebih tinggi daripada kelompok kontrol (50,11 ± 5,55), artinya ada peningkatan jumlah netrofil setelah latihan aerobik. Dengan uji statistik ANOVA satu arah didapatkan hasil yang bermakna berbeda dengan nilai p = 0.001. Uji LSD didapatkan  perbedaan bermakna antara kelompok aerobik ringan dan sedang dengan nilai p = 0,003, IK 95 % . Tidak terdapat perbedaan antara kelompok aerobik ringan dengan kontrol dengan nilai p = 0,519. Terdapat perbedaan antara kelompok aerobik sedang dan kontrol dengan nilai p = 0,000. Dapat disimpulkan bahwa latihan aerobik ringan dan sedang tidak berpengaruh terhadap peningkatan kadar Interleukin-8 plasma pada remaja. Latihan aerobik ringan tidak berpengaruh terhadap peningkatan jumlah netrofil pada remaja. Latihan aerobik sedang berpengaruh terhadap peningkatan jumlah netrofil pada remaja. Kata Kata Kunci : Latihan Aerobik, Interleukin 8, Netrofil
Efek Pemberian Cairan Koloid dan Kristaloid terhadap Tekanan Darah Rebika Nurul Azizah; Kenanga Marwan Sikumbang; Asnawati Asnawati
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.35 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.352

Abstract

Abstract: Maternal hypotension is a serious problem that most commonly occurs after spinal anesthesia in cesarean section. To reduce the incidence of maternal hypotension, mother with spinal anasthesia for cesarean section can be given fluids intravenously using crystalloid or colloid.The purpose of this study was to determine the effect of colloid and crystalloid fluid to blood pressure in mother with spinal anesthesia for cesarean section. This study was cross sectional observational analytic. There were 2 groups in this study, crystalloid group and colloid group. Sampels in each group were 20 subject. Generalized linier models test showed the value of P > 0.05 for each hemodynamic markers (Systolic and diastolic pressure at 5th, 10th, and 15th minutes). On the statistical test value of systolic ( P= 0.379) and diastolic ( P= 0.654). It can be concluded that crystalloid and colloid fluid were equally efective to defend blood pressure in patients with spinal anesthesia for caesarean sectionKeywords: blood pressure, spinal anesthesia, cesarean section, crystalloid, colloid. Abstrak: Hipotensi pada ibu hamil adalah masalah serius yang paling umum terjadi pasca anestesi spinal pada seksio sesarea. Untuk mengurangi kejadian hipotensi tersebut dapat diberikan cairan intravena berupa kristaloid atau koloid. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan efek penggunaan cairan koloid dan kristaloid terhadap tekanan darah pasien seksio sesaria dengan anestesi spinal. Penelitian ini bersifat observasional analitik cross sectional. Dua puluh pasien yang telah diberikan cairan kristaloid dan 20 pasien lainnya yang diberikan cairan koloid. Dari uji statistik dengan generaliz linier model didapatkan nilai P= >0.05 pada setiap penanda hemodinamik (TDS dan TDD pada menit ke-5, 10, dan 15). Pada uji statistik tersebut nilai TDS (P = 0.379) dan TDD (P = 0.654). Dapat disimpulkan bahwa cairan kristaloid dan koloid sama efektifnya dalam mempertahankan tekanan darah pada ibu hamil dengan seksio sesarea yang dilakukan anestesi spinal. Kata-kata kunci: tekanan darah, anestesi spinal, seksio sesarea, kristaloid, koloid.
Pengaruh Insuflasi terhadap Jumlah Sel Mast Peritoneum Tikus Muhammad Halim Fathoni; Zairin Noor; Hery Poerwosusanto
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.591 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.355

Abstract

Abstract:Peritoneal insufflation is swelling process to perform laparoscopic surgery, the choice of gas for insufflation in laparoscopic surgery, namely CO2. because it is not flammable bleak N2O, so it can be used safely for diathermy in mice. This study aims to determine whether there is influence insufflation in an increased number of mast cells in rats (Rattus norvegicus). This study is pure experimental research with posttest-only control group design, which consists of the control and treatment of pressure 8 mmHg and 10 mmHg, with the results obtained p0 control = 0.52 p1 8 mmHg = 7.84  p2 10 mmHg = 11.94. ANOVA test showed that the increase in the number of mast cells was significantly occurred in the group with a pressure of 10 mmHg as compared to the pressure of 8 mmHg. Based on research carried out can be concluded that the higher the CO2 gas in the insufflation pressure significantly increases the number of mast cells.Keywords: insuflation, peritoneal, cell Mast Abstrak: Insuflasi adalah proses penggembugan peritoneum untuk melakukan pembedahan laparoskopi, pilihan gas untuk insuflasi pada bedah laparoskopi yaitu CO2. karena tidak mudah terbakar seprti N2O, sehingga dapat digunakan secara aman untuk diatermi pada tikus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh insuflasi dalam peningkatan jumlah sel mast pada tikus putih (Rattus norvegicus). penelitian ini merupakan penelitian experimental murni dengan posttest-only with control group design, yang terdiri dari kontrol dan perlakuan dengan tekanan 8 mmHg dan 10 mmHg, dengan hasil yang didapatkan p0 kontrol = 0,52 p1 8 mmHg = 7,84 p2 10 mmHg=11,94. Uji anova menunjukan bahwa peningkatan jumlah sel mast secara bermakna terjadi pada kelompok dengan tekanan 10 mmHg dibandingkan dengan tekanan 8 mmHg. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa semakin tinggi tekanan gas CO2 pada insuflasi secara bermakna dapat meningkatkan jumlah sel mast. Kata-kata Kunci :Insuflasi, sel mast, peritoneum
Korelasi antara Kadar Kolesterol Total dengan Jumlah Monosit pada Pasien Penyakit Jantung Koroner Fransiska Anggriani Salim; Miftahul Arifin; Asnawati Asnawati
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.243 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.361

Abstract

Abstract: Coronary heart disease (CHD) is one of three leading causes of death in the world. CHD is a disease resulting from narrowing or blockage of the arteries that supply blood to the heart muscle. Total cholesterol and monocytes play an important role in the process of atherosclerosis that causes CHD. This study aimed to analyze the correlation between total cholesterol levels and monocytes count in patients with CHD in  RSUD Ulin Banjarmasin in August 2014 to May 2015. This study use observational analytic study with cross-sectional approach. 92 samples selected according to the inclusion criteria. The results showed the average of total cholesterol levels and monocytes count are 198.41 mg/dL and 0.58 thousand/uL. The analysis with Pearson correlation test and give a result r=0.033 and p=0.758. The conclusion is there is a very weak, not significant and positive correlation between total cholesterol levels and monocytes count in patients with CHD. Keywords: total cholesterol, monocytes, coronary heart disease Abstrak: Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan satu dari tiga penyebab utama kematian di dunia. PJK adalah penyakit yang timbul akibat penyempitan atau penyumbatan arteri yang memasok aliran darah ke otot jantung. Kolesterol total dan monosit berperan penting dalam proses aterosklerosis yang menyebabkan PJK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara kadar kolesterol total dengan jumlah monosit pada pasien penyakit jantung koroner di RSUD Ulin Banjarmasin periode Agustus 2014-Mei 2015. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. 92 sampel dipilih sesuai  kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar kolesterol total dan jumlah monosit sebesar 198,41 mg/dL dan 0,58 ribu/uL. Kemudian dilakukan análisis dengan uji korelasi Pearson dan didapatkan nilai r=0,033 dan p=0,758. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat korelasi yang sangat lemah, tidak signifikan dan searah antara kadar kolesterol total dengan jumlah monosit pada pasien PJK. Kata-kata kunci: kolesterol total, monosit, penyakit jantung koroner
Perbedaan Kadar LDH Serum Total Sebelum dan Sesudah Kemoterapi pada Berbagai Kelompok Stadium Kanker LNH Hamidah Hamidah; Muh.Darwin Prenggono; Farida Heriyani
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.026 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.356

Abstract

Abstract: Lactate dehydrogenase (LDH) is tumor prognostic for Non Hodgkin Lymphoma (NHL) and it levels would be elevated. The several papers has reported there are an association of total serum LDH levels and staging group of NHL. The study aimed to determine the differences of total serum LDH levels before and after the combination chemotherapy CHOP (Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vincristine, and Prednisone) for NHL’s patients at RSUD Ulin Banjarmasin during 3 years. It was an observational analyticstudy design and cross-sectional approach, data collected with design method of totally sampling. Of the 51 patient medical records who included, 54,9% were staging group I-II and 45,1% were staging group III-IV. The first statistic analytic used dependent T test with p=0,303 (p>0,05)showed no differencesof total serum LDH levels before and after the combination chemotherapy CHOP in NHL’s patients with staging group I-II. The second statistic analytic used alternative wilcoxon test with p=0,013 (p<0,05) showed differencesof total serum LDH levels before and after the combination chemotherapy CHOP in NHL’s patients with staging groupIII-IV. The third statistic analytic used alternative mann whitney test with p=0,161 (p>0,05) showed no differencesof total serum LDH levels after the combination chemotherapy CHOP in NHL’s patients between staging group I-II and III-IV.Keywords: total serum LDH levels, NHL, combination chemotherapy CHOP Abstrak: Laktat dehidrogenase (LDH) adalah tumor prognostic pada kanker Limfoma Non Hodgkin (LNH) dan kadarnya selalu menunjukan peningkatan. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa terdapat hubungan antara kadar LDH serum total dengan kelompok stadium kanker LNH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar LDH serum total sebelum dan sesudah kemoterapi kombinasi CHOP (Siklofosfamid, Doksorubisin, Vinkristin, dan Prednison) pada penderita kanker LNH di RSUD Ulin Banjarmasin selama 3 tahun.Penelitian ini menggunakan rancangan studi observasional analitik dan metode pendekatan cross sectional, pengambilan sampel dengan teknik rancangan totally sampling. Dari 51 data rekam medik yang termasuk kriteria inklusi, 54,9% kelompok stadium I-II dan 45,1% kelompok stadium III-IV. Analisis statistik pertama menggunakan uji T berpasangandengan p=0,303 (p>0,05) sehingga tidak terdapat perbedaan kadar LDH serum total sebelum dan sesudah kemoterapi kombinasi CHOP pada penderita kanker LNH kelompok stadium I-II. Analisis statistik kedua menggunakan uji alternatif yaitu uji wilcoxondengan p=0,013 (p<0,05) sehingga terdapat perbedaan kadar LDH serum total sebelum dan sesudah kemoterapi kombinasi CHOP pada penderita kanker LNH kelompok stadium III-IV. Analisis statistik ketiga menggunakan uji alternatif yaitu uji mann whitney dengan p=0,161 (p>0,05) sehingga tidak terdapat perbedaan kadar LDH serum total sesudah kemoterapi kombinasi CHOP pada penderita kanker LNH antara kelompok stadium I-II dan III-IV. Kata-kata kunci: kadar LDH serum total, LNH, kemoterapi kombinasi CHOP
Perbandingan Efektivitas Antibakteri antara Ekstrak Metanol Kulit Batang Kasturi dengan Ampisilin terhadap Staphylococcus aureusin Vitro M. Rizki Valian Akbar; Lia Yulia Budiarti; Edyson Edyson
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.876 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.350

Abstract

Abstract:Kasturi as a typical plant in South Kalimantan is one fruit that has many benefits. The barks of kasturi has proved to have benefits, especially to inhibit the activity of Staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus is a gram positive bacteria that cause pneumonia, mastitis, and urinary tract infections. The bark of kasturi can be used in extract form. The objective of this research is to know the difference between the preparations of inhibition kasturi’s bark extract and ampicillin 30μg in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus in vitro. This study used an experimental method consisting of 9 treatments with 3 repetitions. Treatment test in the methanol extract of the bark of kasturi 25%, 37.5%, 50%, 62.5%, 75%, 87.5% and 100%. The control group used ampicillin and 70% methanol. Bacterial test was done by using a diffusion method. The parameter measured was the amount of inhibition zone (mm) which grown on media MH. Analysis of study data used One way Annova test and Post Hoc LSD test at α=0,05. The results showed that there were significant differences between the treatment kasturi’s bark extract 25%, 50%, 62.5%, 75%, 87.5% and 100% concentration different compared to ampicillin. Meanwhile, at the concentration of 37.5% (p <0.05) was not significant. The antibacterial effectiveness was obtained from the concentration of 100%. Key words: the bark of kasturi, methanol extract, Staphylococcus aureus, inhibition zone. Abstrak: Kasturi sebagai salah satu tanaman khas yang ada di Kalimantan Selatan merupakan salah satu buah yang memiliki banyak khasiat. Kulit batang kasturi terbukti memiliki manfaat terutama dapat menghambat aktivitas Staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang menyebabkan penyakit pneumonia, mastitis, dan infeksi saluran kemih. Kulit batang kasturi dapat digunakan dalam bentuk ekstrak. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan daya hambat antara sediaan ekstrak kulit batang kasturi dengan ampisilin 30µg dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara in vitro. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang terdiri dari 9 perlakuan dengan 3 kali pengulangan. Perlakuan yang di uji adalah ekstrak metanol kulit batang kasturi 25%, 37,5%, 50%, 62,5%, 75%, 87,5% dan 100%. Dan kontrol perlakuan dengan ampisilin dan metanol 70%. Uji bakteri dilakukan menggunakan metode difusi. Parameter yang diukur adalah besaran zona hambat (mm) yang tumbuh pada media MH. Analisis data penelitian mengunakan uji One way ANNOVA dan uji Post Hoc LSD pada α=0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan bermakna diantara perlakuan ekstrak kulit batang kasturi 25%, 50%, 62,5%, 75%, 87,5% dan 100% konsentrasi yang beda di bandingkan dengan ampisilin. Sedangkan pada konsentrasi 37,5% (p<0,05) tidak bermakna. Efektivitas antibakteri yang terbesar di peroleh dari konsentrasi 100%.Kata-kata kunci: kulit batang kasturi, ekstrak metanol, Staphylococcus aureus, zona hambat.

Page 3 of 4 | Total Record : 31