cover
Contact Name
Eko Suhartono
Contact Email
esuhartono@ulm.ac.id
Phone
+6281251126368
Journal Mail Official
jbk@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Berkala Kedokteran
ISSN : 14120550     EISSN : 25485660     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Health, Science,
Berkala Kedokteran is a journal contains scientific articles from original research and literature review in medical and health scope. It is published twice in a year, on February and September.
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2016)" : 32 Documents clear
PENGARUH LANSOPRAZOL DAN OMEPRAZOL TERHADAP AKTIVITAS ENZIM KATALASE HEPAR TIKUS Sartika, Eria; Suhartono, Eko; Biworo, Agung
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1875

Abstract

Abstract: Lansoprazole and omeprazole is a Proton Pump Inhibitor class of drugs that are often used for the treatment of peptic ulcers. Lansoprazole and omeprazole have an influence on the various target organs exposed. Mechanism of lansoprazole and omeprazole in influencing the activity of the enzyme catalase is competing with absolute catalase enzyme substrate (H2O2) in the binding of the enzyme active site. This study aims to determine the effect of lansoprazole and omeprazole against liver catalase enzyme activity. This study was a laboratory experimental study conducted in three groups, namely the control group (P0), the treatment group (P1) is given lansoprazole 30 mg and a treatment group (P2) given omeprazole 20 mg. The result showed the value of Km of the control group (P0) of 13.482 mmol/dm3, the treatment group (P1) of 11,227 mmol/dm3 and the treatment group (P2) of 6,327 mmol/dm3. Analysis of statistical data shows the regression correlation value of p for P1 was 0,01 adn for P2 was 0,02 (p <0.05) and the R value approaching 1 with a linear graph Lineweaver Burk meaningful. Concluded that lansoprazole and omeprazole may affect the activity of the liver enzyme catalase. Keywords: lansoprazole, omeprazole, enzyme catalase, rat liver Abstrak: Lansoprazol dan omeprazol merupakan obat golongan proton pump inhibitor yang sering digunakan untuk pengobatan tukak lambung. Lansoprazol dan omeprazol memiliki berbagai pengaruh terhadap organ target yang terpajan. Mekanisme lansoprazol dan omeprazol dalam mempengaruhi aktivitas enzim katalase adalah berkompetisi dengan substrat absolut enzim katalase (H2O2) dalam mengikat sisi aktif enzim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lansoprazol dan omeprazol terhadap aktivitas enzim katalase hepar. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental yang dilakukan pada 3 kelompok, yakni kelompok kontrol (P0), kelompok perlakuan (P1) diberikan lansoprazol 30 mg dan kelompok perlakuan (P2) diberikan omeprazol 20 mg. Hasil penelitian didapatkan nilai Km pada kelompok kontrol (P0) sebesar 13,482 mmol/dm3, pada kelompok perlakuan (P1) sebesar 11,227mmol/dm3 dan pada kelompok perlakuan (P2) sebesar 6,327mmol/dm3. Analisis data statistik korelasi regresi menunjukkan nilai p pada P1 0,01 dan pada P2 0,02 (p<0,05) serta nilai R mendekati 1 dengan grafik linear Lineweaver Burk yang menanjak. Disimpulkan bahwa lansoprazol dan omeprazol dapat mempengaruhi aktivitas enzim katalase hepar mencit. Kata-kata kunci: lansoprazol, omeprazol, enzim katalase, hepar mencit
RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER AKIBAT PAJANAN KADMIUM MELALUI PENGUKURAN KADAR KOLESTEROL DAN CIRCULATING ENDOTHELIAL CELLS DARAH TIKUS PUTIH Anindya, Anindya; Muhyi, Ruslan; Suhartono, Eko
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1863

Abstract

Abstract: Coronary Heart Disease (CHD) is a disease caused by narrowing of the coronary arteries of heart due to the process of arteriosclerosis. Broadly speaking CHD triggered by two factors, ie factors that can be modified and controlled. One factor that can be controlled are environmental factors, including exposure to heavy metals, such as cadmium (Cd). Patomekanisme Cd in the trigger CHD until now has not known for certain, but suspected by his activity in the trigger endothelial dysfunction and interfere with cholesterol metabolism. This study aimed to assess the effect of Cd exposure to an increased risk of CHD, by measuring the levels of circulating endothelial cell (CEC) and blood cholesterol the liver of mice. This study was purely experimental design with Post Test Only with Control Group Design. The subjects used were 15 rats (Rattus novergicus) male, Sprague-Dawley, normal activities, aged 3-4 months, weighing 300 ± 10 grams. The research subjects were divided into three groups with the number of each of 5 mice per group, which consists of one control group (P0), and the 2 treatment groups (P1 and P2). Group P0, that rats fed a commercial feed only, P1, namely rats fed a commercial feed + Cd at a concentration of 3 mg / l in drinking water for 1 day (acute), and P2, the mice were fed a commercial + Cd with concentration 3 mg / l in drinking water for 4 weeks (subacute). Each end of the exposure period, rats from each group will do the surgery, to take blood samples. Furthermore, the CEC will be measured and blood cholesterol levels. Data were analyzed statistically using One Way ANOVA and Tukey HSD Post Hoc. The results showed that Cd exposure may affect kada CEC and kolseterol significantly (P <0.05). The results also showed that there were significant differences between the levels of blood CEC each treatment group (P <0.05). Based on the results of this study concluded that Cd exposure may increase the risk of developing CHD by elevated levels of CEC and blood cholesterol.Keywords: Cadmium, Circulating Endhotelial Cells, Blood Cholesterol Abstrak: Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang disebabkan oleh penyempitan arteri koronaria jantung akibat proses ateriosklerosis. Secara garis besar PJK dipicu oleh dua faktor, yaitu faktor yang dapat dimodifikasi dan dikendalikan. Salah satu faktor yang dapat dikendalikan adalah faktor lingkungan, termasuk pajanan logam berat, seperti kadmium (Cd). Patomekanisme Cd dalam memicu PJK sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun diduga melalui aktivitasnya dalam memicu disfungsi endotel dan mengganggu metabolism kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pajanan Cd terhadap peningkatan risiko PJK, melalui pengukuran kadar Circulating Endothelial Cell (CEC) dan kolesterol darah hati tikus putih. Penelitian ini bersifat eksperimental murni dengan rancangan  Post Test Only with Control Group Design. Subyek yang digunakan adalah 15 tikus putih (Rattus novergicus) jantan, galur Sprague-Dawley, beraktivitas normal, berumur 3-4 bulan, dengan berat 300±10 gram. Subyek penelitian kemudian dibagi menjadi 3 kelompok dengan jumlah masing-masing 5 tikus per kelompok, yang terdiri dari 1 kelompok kontrol (P0), dan 2 kelompok perlakuan (P1 dan P2). Kelompok P0, yakni tikus yang diberi pakan komersial saja, P1, yakni tikus yang diberi pakan komersial+Cd dengan konsentrasi 3 mg/l dalam air minum selama 1 hari (akut), dan P2, yakni tikus yang diberi pakan komersial+Cd dengan konsentrasi 3 mg/l dalam air minum selama 4 minggu (subakut). Setiap akhir periode pemajanan, tikus dari masing-masing kelompok akan dilakukan pembedahan, untuk mengambil sampel darah. Selanjutnya, akan dilakukan pengukuran kadar CEC dan kolesterol darah. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistic menggunakan uji One Way Anova dan Post Hoc Tukey HSD.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pajanan Cd dapat mempengaruhi kada CEC dan kolseterol secara bermakna (P < 0,05). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna kadar CEC darah antar masing-masing kelompok perlakuan (P<0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pajanan Cd dapat meningkatkan risiko terjadinya PJK melalui peningkatan kadar CEC dan kolesterol darah. Kata - Kata Kunci: Kadmium, CEC, Kolesterol Darah
UJI SENSITIVITAS BAKTERI PENYEBAB INFEKSI SALURAN KEMIH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TERHADAP SEFTRIAKSON, LEVOFLOKSASIN, DAN GENTAMISIN Rachman, Nova Octavianty; Prenggono, Muhamad Darwin; Budiarti, Lia Yuli
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1871

Abstract

Abstract: Urinary Tract Infection (UTI) is a general term that indicates the presences or propagation of microorganism in urine. The urinary tract infection is a very common condition that occurs in both women and men of all ages. Diabetes Mellitus (DM) can lead to the development of bacteriuria. Bacterial resistance to antibiotics prolongs the UTI recover. The aim of this research was to find out bacterial sensitivity urinary tract infection in patients diabetes mellitus to selected antibiotic during July-September 2015. It was a descriptional study with cross-sectional. The subject of this research is all patients diabetes mellitus with urinary tract infection in internal medicine wards Ulin General Hospital Banjarmasin. The sampling technique in this research was a total sampling. The sensitivity test to antibiotic test in the research used Kirby Bauer method and analyzed according to CLSI 2013 standard.This type of bacteria found in this research are Escherichia coli, Pseudomonas aerugenosa, Staphylococcus epidermidis, and Staphylococcus aureus. The sensitivity test result the percentage type of bacteria are sensitive to ceftriaxone 73%, levofloxaxin 84,6%, and gentamicin 73%. The conclution is that most sensitive antibiotic is levofloxaxin (84,6%) Keywords: diabetes mellitus (DM), urinary tract infection (UTI), ceftriaxone, levofloxaxin, gentamicin. Abstrak: Infeksi Saluran Kemih (ISK) didefinisikan sebagai adanya infeksi bakteri dalam urin yang ditandai dengan bakteriuria bermakna. Infeksi saluran kemih merupakan kondisi yang sangat umum terjadi baik pada wanita maupun pria pada semua usia. Diabetes Melitus (DM) dapat menyebabkan perkembangan bakteriuria. Resistensi bakteri terhadap antibiotik menyebabkan lamanya penyembuhan dari ISK. Penelitian ini bertujuan mengetahui sensitivitas bakteri penyebab ISK pada pasien DM terhadap antibiotik terpilih periode Juli-September 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional. Subjek penelitian ini adalah seluruh pasien DM dengan ISK Rawat Inap di Bangsal Penyakit Dalam RSUD Ulin Banjarmasin. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah Total Sampling. Uji sensitivitas bakteriuria terhadap antibiotik uji pada penelitian ini menggunakan metode Kirby-Bauer dan dianalisis secara deskriptif sesuai dengan standar CLSI 2013. Jenis bakteri yang ditemukan pada penelitian ini adalah Escherichia coli, Pseudomonas aerugenosa, Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus. Hasil uji sensitivitas menunjukkan bahwa presentase jenis bakteri yang sensitif terhadap Seftriakson 73%, Levofloksasin 84,6%, dan Gentamisin 73%. Persentase isolat bakteri yang resisten terhadap Seftriakson 15,3%, Levofloksasin 3,8%, dan Gentamisin 3,8%. Kesimpulan antibiotik yang paling sensitif terhadap bakteri penyebab ISK pada penilitian ini adalah Levofloksasin (84,6%). Kata-Kata kunci: diabetes melitus (DM), infeksi saluran kemih (ISK), seftriaxon, levofloksasin, gentamisin
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KETAHANAN TERHADAP ISPA NON-PNEUMONIA PADA BALITA DI PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN Shifa, Mutiara; Arifin, Syamsul; Yuliana, Ida
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1876

Abstract

Abstract: Puskesmas Pekauman was public health care that had highest Acute Respiratory Infection (ARI) score in Banjarmasin, it was 427 cases of  pneumonia ARI and 3.531 cases of non-pneumonia ARI, with many case happened in children under five years old (12-59 m.o). Nutrition status was one of many factor that affecting resistance of non-pneumonia ARI in children under five years old. This study was aimed to determine the correlation between nutritional status with resistance of non-pneumonia ARI in children under five years old (12-59 m.o) at Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Design of this study was observational analytic with cross sectional study. Samples obtained with systematic random sampling  were 50 children under five years old. The result of this research were nutritional status of 36% children under five years old were good,  64% were below standard, 32% children under five years old had resistance of non-pneumonia ARI, and 68% had not resistancy. Among variables was then analyzed using chi-square test. The conclusion was significant correlation found between nutritional status with resistency of non-pneumonia ARI in children under five years old (12-59 m.o) at Puskesmas Pekauman Banjarmasin (p = 0,007). Children under five years old with good nutrional status had resistancy 5 times greater than children under five years old with below standard nutritional status. Keywords: Non-pneumonia ARI, nutritional status Abstrak: Puskesmas Pekauman merupakan puskesmas dengan angka kejadian ISPA tertinggi di Kota Banjarmasin, terdiri dari 427 kasus ISPA pneumonia dan 3531 kasus ISPA non pneumonia, dengan jumlah penderita terbanyak berada pada kisaran umur 12-59 bulan. Status gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ketahanan balita terhadap ISPA non-pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan ketahanan terhadap ISPA non-pneumonia pada balita (12-59 bulan) di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Rancangan penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diperoleh melalui teknik systematic random sampling dengan jumlah 50 orang. Hasil penelitian didapatkan 36% balita status gizi kurang, 64% balita status gizi baik, 32% balita tidak memiliki ketahanan, dan 68% balita memiliki ketahanan terhadap ISPA non-pneumonia. Analisis data hasil penelitian menggunakan uji statistik chi-square. Kesimpulan penelitian ini, terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan ketahanan balita (12-59 bulan) terhadap ISPA non-pneumonia di Puskesmas Pekauman Banjarmasin (p = 0,007). Balita (12-59 bulan) di Puskesmas Pekauman Banjarmasin dengan  gizi baik memiliki ketahanan terhadap ISPA non-pneumonia 5 kali lebih besar dibandingkan balita (12-59 bulan) dengan gizi kurang. Kata-kata kunci: ISPA non-pneumonia, status gizi
PENGARUH INFEKSI KECACINGAN TERHADAP STATUS GIZI PADA ANAK DI SDN 2 BARABAI DARAT KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2015 Azizaturridha, Aulia; Istiana, Istiana; Hayatie, Lisda
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1864

Abstract

Abstract: Worm infection is an infectious disease caused by one or more intestinal parasitic worms from the class of intestinal nematodes. Worm infection can disruption of nutrients such as deficiency calories, protein, and blood loss. The aim of research is to know the effect of worm infection on nutritional status in SDN 2 Barabai Darats children South Kalimantan 2015. This research is an observational analytic with cross sectional approach. The total samples is 85 children from class 3 and 4, obtained by purposive sampling fit the inclusion criteria. Data collected by stool examination and measurement of nutritional status, the data were analyzed by Fischers Exact test. The results showed were 5,9% children with worm infections. Statistical analysis showed that there was not any effect of worm infection  on nutritional status based on BB/U (p = 1,000), based TB/U (p = 0,154), and based on BMI/U (p = 1,000). Conclusion from this research is not any effect of worm infection on nutritional status in children at SDN 2 Barabai Darat (p> 0,05). Keywords: worm infection, nutritional status, SDN 2 Barabai Darat Abstrak: Infeksi kecacingan adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh satu atau lebih cacing parasit usus dari golongan nematoda usus. Infeksi kecacingan dapat menimbulkan gangguan zat gizi berupa kekurangan kalori, protein, dan kehilangan darah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh infeksi kecacingan terhadap status gizi pada anak di SDN 2 Barabai Darat Kalimantan Selatan tahun 2015. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 85 anak dari kelas 3 dan 4, didapat secara purposive sampling  sesuai kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan feses dan pengukuran status gizi, sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Fischers Exact. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5,9% anak yang positif terinfeksi cacing. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh infeksi kecacingan terhadap status gizi berdasarkan BB/U (p=1,000), berdasarkan TB/U (p=0,154), dan berdasarkan IMT/U (p=1,000). Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat pengaruh infeksi kecacingan terhadap status gizi pada anak di SDN 2 Barabai Darat (p>0,05). Kata-kata kunci: kecacingan, status gizi, SDN 2 Barabai Darat
DISTRIBUSI POLA DIET PASIEN KANKER KOLOREKTAL DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE AGUSTUS OKTOBER 2015 Rahmadania, Emma; Wibowo, Agung Ary; Rosida, Lena
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1872

Abstract

Abstract: Colorectal cancer is a malignancy of epithelial cells of the colon or rectum. Factors associated with an increased risk of this type of cancer include eating habits. The purpose of this study was to determine distribution the dietary patterns in colorectal cancer patients at hospitals Ulin Banjarmasin period from August to October 2015 by a review of fat dietary, protein dietary, fiber dietary  by age and gender. This research is a descriptive observasional with  cross sectional approach. Data was collected using a food frequency questionnaire and interviews. Sampling was conducted with consecutive sampling technique to obtain the sample amounted to 30 patients in accordance with the inclusion criteria. Obtained the age group of patients when first diagnosed with colorectal cancer is highest in the age group 41-60 years (50%) as many as 15 people. Sex ratio of colorectal cancer patients in hospitals Ulin Banjarmasin the period August-October 2015 that men of 15 people (50%) and women of 15 people (50%). Of the 30 respondents, there are 28 (93.4%) patients with colorectal cancer who rarely consume fat, there are 25 (83.4%) patients with colorectal cancer who rarely consume protein, and there were 25 (88.7%) patients with colorectal cancer are rare consuming fiber. Distribution of pattern dietary (fat, protein, fiber)by age and sex obtained the same result that most are in the rare category. Keywords: colorectal cancer, fat, protein, fiber. Abstrak: Kanker kolorektal adalah suatu keganasan dari sel epitel kolon atau rektum. Faktor yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker jenis ini antara lain kebiasaan makan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi pola diet pasien kanker kolorektal  di RSUD Ulin Banjarmasin periode Agustus-Oktober  2015 dengan tinjauan terhadap diet lemak, diet protein, diet serat berdasarkan usia dan jenis kelamin. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif observasioal dengan pendekatan cross sectional. Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar kuesioner food frequency dan wawancara. Pengambilan sampel  dilakukan dengan teknik consecutive sampling sehingga didapatkan sampel berjumlah 30 pasien yang sesuai dengan kriteria inklusi. Didapatkan kelompok usia pasien saat pertama kali terdiagnosis kanker kolorektal terbanyak adalah pada kelompok usia 41-60 tahun (50%) yaitu sebanyak 15 orang. Rasio perbandingan jenis kelamin pasien kanker kolorektal di RSUD Ulin Banjarmasin periode Agustus-Oktober 2015 yaitu laki-laki sebanyak  15 orang (50%)  dan perempuan sebanyak 15 orang (50%). Dari 30 responden, terdapat 28 (93,4%) pasien kanker kolorektal yang jarang mengkonsumsi lemak, terdapat 25 (83,4%) pasien kanker kolorektal yang jarang mengkonsumsi protein, dan terdapat 25 (88,7%) pasien kanker kolorektal yang jarang mengkonsumsi serat. Distribusi pola diet (lemak, protein, serat) berdasarkan usia dan jenis kelamin didapatkan hasil yang sama yaitu paling banyak berada pada kategori jarang. Kata-kata kunci: kanker kolorektal, lemak, protein, serat
IDENTIFIKASI BAKTERI PENYEBAB TONSILITIS KRONIK PADA PASIEN ANAK DI BAGIAN THT RSUD ULIN BANJARMASIN Muhammad Nizar; Nur Qamariah; Noor Muthmainnah
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.854 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1867

Abstract

Abstract: Chronic tonsillitis is a condition where tonsil is enlarged, accompanied by repeated infections. Bacterial chronic tonsillitis can be caused by different bacteria, depends on its region. Research for patterns of bacteria causing chronic tonsilitis is needed to determine the target of antibiotics used by hospitals. The general objective of this research was to determine the type of bacteria that cause chronic tonsillitis obtained through a throat swab from pediatric patients in the ENT Ulin Hospital Banjarmasin from August to October 2015. This is a descriptive research using cross sectional approach. The sample in this study is the pediatric patients aged 1-17 years who were diagnosed chronic tonsillitis by ENT specialist at the ENT Ulin Hospital Banjarmasin. Swab was taken from the palatine tonsil and cultured in media isolation and examined using macroscopic, microscopic and biochemical tests. The results showed that 7 isolates of Staphylococcus aureus (53.84%), 1 sample of Escherichia coli (7.69%), and 5 samples of Streptococcus sp. (38.46%) are three major bacteria which infected chronic tonsillitis patients in Ulin GeneraL Hospital Banjarmasin. Keywords: chronic tonsillitis, bacterial identification, pediatric patients Abstrak: Tonsilitis kronis merupakan kondisi di mana terjadi pembesaran tonsil disertai dengan serangan infeksi yang berulang-ulang. Bakteri penyebab infeksi  tonsilitis kronis dapat berbeda-beda antar daerah. Perlu adanya penelitian tentang pola kuman agar pemberian antibiotik tepat sasaran.Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis bakteri penyebab tonsilitis kronik yang didapat melalui swab tenggorok pasien anak di bagian THT RSUD Ulin Banjarmasin pada Agustus-Oktober 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien anak umur 1-17 tahun yang didiagnosis tonsilitis kronis oleh dokter spesialis THT di bagian THT RSUD Ulin Banjarmasin. Identifikasi diambil dari swab pada tonsila palatinadan dibiakkan pada media isolasi yaitu dengan pemeriksaan secara makroskopis, mikroskopis, dan uji biokimia. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga jenis isolat bakteri yaitu Staphylococcus aureus 7 isolat (53,84%), Escherichia coli 1 isolat (7,69%), dan Streptococcus sp. 5 isolat (38,46%). Kata-kata kunci: Tonsilitis kronis, identifikasi bakteri, pasien anak
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN LAMA HARI RAWAT INAP PASIEN ANAK DIARE AKUT Muhammad Rizal Amin; Edi Hartoyo; Donna Marisa
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.226 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1862

Abstract

Abstract: Good nutritional status can reduce the risk of diarrhea, while children with less or poor nutritional status enables more frequent and more susceptible to diarrhea. The worse the nutrition of a children, the frequency of diarrhea increases. This situation may have a relationship with length of stay. Length of stay of childhood diarrhea is influenced by the child's physical condition (good nutritional status, less, or worse). The purpose of this study is analyzing the relationship between nutritional status and length of stay of pediatric patient on acute diarrhea in Ulin General Hospital Banjarmasin 2014. This study was done by observational analytic with cross sectional approach. Total of 50 samples were obtained by purposive sampling; 2 patients with excess nutritional status, 37 patients with good nutritional status, 8 patients with less nutritional status, and 3 patients with poor nutritional status. Data was analyzed using the Kruskal-Wallis test with a confidence level of 95%  showed that the average length of stay in each nutritional status have no significant value difference (p=0,193). It was concluded that there is no relationship between nutritional status and length of stay of pediatric patient on acute diarrhea in Ulin General Hospital Banjarmasin 2014. Keywords: nutritional status, length of stay, acute diarrhea Abstrak: Status gizi anak yang baik dapat mengurangi risiko terkena penyakit diare, sedangkan anak dengan status gizi kurang atau buruk memungkinkan lebih sering dan lebih mudah terkena diare. Makin buruk gizi seorang anak, ternyata frekuensi diare semakin banyak. Keadaan ini mungkin memiliki hubungan dengan lama hari rawat inap. Hari rawat diare anak salah satunya dipengaruhi oleh kondisi fisik anak (status gizi baik, kurang, atau buruk). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara status gizi dengan lama hari rawat inap pasien anak diare akut di RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2014. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 50 sampel didapat secara purposive  sampling sesuai kriteria inklusi, 2 pasien  status gizi lebih, 37 pasien status gizi baik, 8 pasien status gizi kurang, dan 3 pasien status gizi buruk. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa rerata lama hari rawat inap di setiap status gizi tidak memiliki perbedaan nilai yang bermakna (p=0,193). Hal ini berarti bahwa tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan lama hari rawat inap pasien anak diare akut di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2014. Kata-kata kunci: status gizi, lama hari rawat inap, diare akut
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KETAHANAN TERHADAP ISPA NON-PNEUMONIA PADA BALITA DI PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN Mutiara Shifa; Syamsul Arifin; Ida Yuliana
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.057 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1876

Abstract

Abstract: Puskesmas Pekauman was public health care that had highest Acute Respiratory Infection (ARI) score in Banjarmasin, it was 427 cases of  pneumonia ARI and 3.531 cases of non-pneumonia ARI, with many case happened in children under five years old (12-59 m.o). Nutrition status was one of many factor that affecting resistance of non-pneumonia ARI in children under five years old. This study was aimed to determine the correlation between nutritional status with resistance of non-pneumonia ARI in children under five years old (12-59 m.o) at Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Design of this study was observational analytic with cross sectional study. Samples obtained with systematic random sampling  were 50 children under five years old. The result of this research were nutritional status of 36% children under five years old were good,  64% were below standard, 32% children under five years old had resistance of non-pneumonia ARI, and 68% had not resistancy. Among variables was then analyzed using chi-square test. The conclusion was significant correlation found between nutritional status with resistency of non-pneumonia ARI in children under five years old (12-59 m.o) at Puskesmas Pekauman Banjarmasin (p = 0,007). Children under five years old with good nutrional status had resistancy 5 times greater than children under five years old with below standard nutritional status. Keywords: Non-pneumonia ARI, nutritional status Abstrak: Puskesmas Pekauman merupakan puskesmas dengan angka kejadian ISPA tertinggi di Kota Banjarmasin, terdiri dari 427 kasus ISPA pneumonia dan 3531 kasus ISPA non pneumonia, dengan jumlah penderita terbanyak berada pada kisaran umur 12-59 bulan. Status gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ketahanan balita terhadap ISPA non-pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan ketahanan terhadap ISPA non-pneumonia pada balita (12-59 bulan) di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Rancangan penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diperoleh melalui teknik systematic random sampling dengan jumlah 50 orang. Hasil penelitian didapatkan 36% balita status gizi kurang, 64% balita status gizi baik, 32% balita tidak memiliki ketahanan, dan 68% balita memiliki ketahanan terhadap ISPA non-pneumonia. Analisis data hasil penelitian menggunakan uji statistik chi-square. Kesimpulan penelitian ini, terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan ketahanan balita (12-59 bulan) terhadap ISPA non-pneumonia di Puskesmas Pekauman Banjarmasin (p = 0,007). Balita (12-59 bulan) di Puskesmas Pekauman Banjarmasin dengan  gizi baik memiliki ketahanan terhadap ISPA non-pneumonia 5 kali lebih besar dibandingkan balita (12-59 bulan) dengan gizi kurang. Kata-kata kunci: ISPA non-pneumonia, status gizi
UJI SENSITIVITAS BAKTERI PENYEBAB INFEKSI SALURAN KEMIH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TERHADAP SEFTRIAKSON, LEVOFLOKSASIN, DAN GENTAMISIN Nova Octavianty Rachman; Muhamad Darwin Prenggono; Lia Yuli Budiarti
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.795 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1871

Abstract

Abstract: Urinary Tract Infection (UTI) is a general term that indicates the presences or propagation of microorganism in urine. The urinary tract infection is a very common condition that occurs in both women and men of all ages. Diabetes Mellitus (DM) can lead to the development of bacteriuria. Bacterial resistance to antibiotics prolongs the UTI recover. The aim of this research was to find out bacterial sensitivity urinary tract infection in patients diabetes mellitus to selected antibiotic during July-September 2015. It was a descriptional study with cross-sectional. The subject of this research is all patients diabetes mellitus with urinary tract infection in internal medicine wards Ulin General Hospital Banjarmasin. The sampling technique in this research was a total sampling. The sensitivity test to antibiotic test in the research used Kirby Bauer method and analyzed according to CLSI 2013 standard.This type of bacteria found in this research are Escherichia coli, Pseudomonas aerugenosa, Staphylococcus epidermidis, and Staphylococcus aureus. The sensitivity test result the percentage type of bacteria are sensitive to ceftriaxone 73%, levofloxaxin 84,6%, and gentamicin 73%. The conclution is that most sensitive antibiotic is levofloxaxin (84,6%) Keywords: diabetes mellitus (DM), urinary tract infection (UTI), ceftriaxone, levofloxaxin, gentamicin. Abstrak: Infeksi Saluran Kemih (ISK) didefinisikan sebagai adanya infeksi bakteri dalam urin yang ditandai dengan bakteriuria bermakna. Infeksi saluran kemih merupakan kondisi yang sangat umum terjadi baik pada wanita maupun pria pada semua usia. Diabetes Melitus (DM) dapat menyebabkan perkembangan bakteriuria. Resistensi bakteri terhadap antibiotik menyebabkan lamanya penyembuhan dari ISK. Penelitian ini bertujuan mengetahui sensitivitas bakteri penyebab ISK pada pasien DM terhadap antibiotik terpilih periode Juli-September 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional. Subjek penelitian ini adalah seluruh pasien DM dengan ISK Rawat Inap di Bangsal Penyakit Dalam RSUD Ulin Banjarmasin. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah Total Sampling. Uji sensitivitas bakteriuria terhadap antibiotik uji pada penelitian ini menggunakan metode Kirby-Bauer dan dianalisis secara deskriptif sesuai dengan standar CLSI 2013. Jenis bakteri yang ditemukan pada penelitian ini adalah Escherichia coli, Pseudomonas aerugenosa, Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus. Hasil uji sensitivitas menunjukkan bahwa presentase jenis bakteri yang sensitif terhadap Seftriakson 73%, Levofloksasin 84,6%, dan Gentamisin 73%. Persentase isolat bakteri yang resisten terhadap Seftriakson 15,3%, Levofloksasin 3,8%, dan Gentamisin 3,8%. Kesimpulan antibiotik yang paling sensitif terhadap bakteri penyebab ISK pada penilitian ini adalah Levofloksasin (84,6%). Kata-Kata kunci: diabetes melitus (DM), infeksi saluran kemih (ISK), seftriaxon, levofloksasin, gentamisin

Page 2 of 4 | Total Record : 32