cover
Contact Name
Isnen Fitri
Contact Email
isnen@usu.ac.id
Phone
+62911-323382
Journal Mail Official
kapata.arkeologi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Namalatu-Latuhalat, Kec. Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku 97118, Indonesia
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Kapata Arkeologi
Published by Balai Arkeologi Maluku
Kapata Arkeologi is aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. All papers are peer-reviewed by at least two referees. Kapata Arkeologi is managed to be issued twice in every volume. Kapata Arkeologi publish original research papers, review articles, case studies and conceptual ideas or theories focused on archaeological research and other disciplines related to humans and culture. The Scope of Kapata Arkeologi is: Archaeology Anthropology History Cultural Studies
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 1, Juli 2014" : 9 Documents clear
Cover Vol. 10 No. 1 (2014) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 1, Juli 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i1.211

Abstract

Preface Vol. 10 No. 1 (2014) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 1, Juli 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i1.212

Abstract

Pasang Surut Penyebaran Agama Katolik di Maluku Utara Pada Abad 16-17 Cheviano E. Alputila
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 1, Juli 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i1.213

Abstract

Until the 18th century the spice is a tremendous appeal to the international community. No exception with cloves then just grow on some island in the North Moluccas. Two first nation to get a clove monopoly rights in North Maluku is Portuguese and Spanish. When activity in the region is not only the two nations trade, but also spread their religion is Catholicism. Through a review of the literature from a variety of sources, the conclusion about the spread of the Catholic faith that made the Portuguese and Spanish in their efforts to monopolize the clove trade in North Moluccas. In the end, the spread of Catholicism that made the Portuguese and Spanish only reinforce hatred against their local authorities and result in the expulsion of both these imperialist nations of North Moluccas.Sampai abad ke-18 rempah-rempah merupakan daya tarik yang luar biasa bagi masyarakat internasional. Tidak terkecuali dengan cengkeh yang saat itu hanya tumbuh pada beberapa pulau di kawasan Maluku Utara. Dua bangsa pertama yang mendapatkan hak monopoli cengkeh di Maluku Utara adalah Portugis dan Spanyol. Saat beraktivitas di kawasan itu dua bangsa ini tidak hanya berdagang namun juga menyebarkan agama yang mereka anut yaitu Kristen Katolik. Melalui telaah pustaka dari berbagai sumber, diperoleh kesimpulan tentang penyebaran agama Katolik yang dilakukan Portugis dan Spanyol di tengah usaha mereka memonopoli perdagangan cengkeh di Maluku Utara. Pada akhirnya,  penyebaran agama Katolik yang dilakukan Portugis dan Spanyol hanya memperkuat kebencian para penguasa lokal terhadap mereka dan berakibat terusirnya kedua bangsa imperialis ini dari Maluku Utara.
Pengetahuan Arkeologi sebagai Muatan Lokal: Penerapannya di Maluku Marlon NR Ririmasse
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 1, Juli 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i1.214

Abstract

Diversity is essentially an element that unites Indonesia. The broad geographical character of the region and the complexity of its cultural profile has established a nation with such a colorful appearance. An ability to manage this major diversity has become an absolute requirement as a country. The sensitivity to identify any  specific needs of each element of the nation would always be an aspect that must be  reviewed and reshaped periodically. Which is also included the need in the education sphere. Local content may be considered as a national solution to answer the breadth dimension of necessity in the school level for the teaching materials that linked with the local characteristics. Connected to this aspect is the interest to provide the knowledge of local culture. Archaeology is a discipline that adequate to share this strategic role for public. This article tries to discuss the contribution of the archaeological study in the development of local content in Moluccas. Literature study have been chosen as an approach to collect data. This study found that archaeology is potential to be developed as a part of local content material in Moluccas.Keberagaman sejatinya adalah elemen yang menyatukan Indonesia. Bentang luas  geografis dan wajah kompleks budaya nusantara telah membentuk suatu bangsa dengan warna yang begitu raya. Maka kemampuan untuk mengelola kebhinekaan menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki sebagai negara. Kepekaan untuk menemukenali kebutuhan-kebutuhan spesifik setiap elemen bangsa kiranya menjadi aspek yang senantiasa harus ditinjau dan dibentuk kembali. Termasuk kebutuhan dalam ranah pendidikan. Muatan lokal pada hakekatnya merupakan solusi nasional dalam menjawab luasnya dimensi kebutuhan di tingkat sekolah akan materi yang bertautan dengan karakteristik daerah. Melekat dalam hal ini adalah kebutuhan untuk menyajikan pengetahuan budaya lokal. Arkeologi juga menjadi bidang yang dituntut berbagi peran dimaksud. Tulisan ini mencoba untuk mendiskusikan kontribusi studi arkeologi dalam pengembangan muatan lokal di Maluku. Studi pustaka dipilih sebagai pendekatan dalam pengumpulan data. Kajian ini menemukan bahwa arkeologi dan pengetahuan sejarah budaya potensial untuk dikembangkan sebagai bagian dari materi muatan lokal di Maluku.
Kepulauan Aru dan Integrasi Kebangsaan dalam Perspektif Sejarah dan Budaya Mezak Wakim
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 1, Juli 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i1.215

Abstract

National integration is a central issue in the context of the management of the foremost islands in Indonesia. Aru Islands is one of the areas in Moluccas which became the region’s leading Indonesian island. This paper aims to address issues related to the Aru Islands national integration as one of the leading regions in Indonesia. Discussions focused on the perspective of history and culture as one of the approaches in addressing the issue of national integration. Therefore, use literature to illustrate the historical and cultural Aru Islands. The results of the discussion of an understanding that the similarity of historical and cultural background of the Aru Islands and surrounding areas provide awareness of the importance of national integration in the management of the outer islands in Indonesia.Integrasi kebangsaan merupakan isu sentral dalam konteks pengelolaan pulau terdepan di Indonesia. Kepulauan Aru adalah salah satu wilayah di Maluku yang menjadi kawasan bagi pulau terdepan di Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk menjawab permasalahan terkait isu integrasi kebangsaan bagi Kepulauan Aru sebagai salah satu wilayah terdepan di Indonesia. Pembahasan difokuskan pada perspektif sejarah dan budaya sebagai salah satu pendekatan dalam menjawab isu integrasi kebangsaan. Oleh karena itu, digunakan studi pustaka untuk memberi gambaran historis dan kultural Kepulauan Aru. Hasil pembahasan memberi pemahaman bahwa kesamaan latar belakang historis dan kultural Kepulauan Aru dan sekitarnya memberi kesadaran akan pentingnya integrasi kebangsaan dalam pengelolaan pulau-pulau terdepan di Indonesia.
Tradisi Nisan Menhir pada Makam Kuno Raja-raja di Wilayah Kerajaan Hitu Handoko, Wuri
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 1, Juli 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i1.216

Abstract

The Tradition of menhir headstone is an ancient tomb tradition by using a grave form of menhir stones. This tradition is a form of the tradition continues, as menhirs are upright stones as a sign of respect for ancestors in the megalithic tradition. This study aims to explain the tradition of Islamic tombs of the kings in the Kingdom Hitu since the beginning of the Islamic conversion and development period and how the megalithic tradition in the form of Islamic tomb when people have to convert Islam as a religion. This study was conducted using a survey to gather information and describe the forms of ancient Islamic tomb kings Hitu in central Moluccas. The results show though Islam has been adopted as the royal religion or public religion, characterized mengkonveris leaders of Islam, but confidence in the ancestor as local pre-Islamic religious understanding develops, still adhered to and maintained. Tomb tombstone shape using menhir, is one form of continuity megalithic tradition in the episode acceptance of Islam by the public since the beginning of its development, until the establishment of the Islamic government to appear in the king institutions Hitu region.Tradisi nisan menhir adalah, tradisi makam kuno dengan menggunakan tanda kubur berupa batu menhir. Tradisi ini merupakan bentuk tradisi berlanjut, karena menhir adalah batu tegak sebagai tanda penghormatan terhadap leluhur dalam tradisi megalitik. Penelitian ini bertujuan menjelaskan tradisi makam Islam raja-raja di Kerajaan Hitu sejak awal konversi Islam dan masa perkembangannya serta bagaimana tradisi megalitik pada bentuk makam Islam ketika masyarakat sudah mengkonversi Islam sebagai agamanya. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey untuk mengumpulkan informasi dan mendeskripsikan bentuk-bentuk makam kuno Islam raja-raja Hitu di Maluku tengah. Hasil penelitian menunjukkan meskipun Islam telah dianut sebagai agama kerajaan atau agama publik, ditandai para pemimpinnya mengkonveris agama Islam, namun kepercayaan terhadap leluhur sebagai paham religi lokal sebelum Islam berkembang, masih tetap dianut dan dipertahankan. Bentuk makam dengan menggunakan nisan menhir, merupakan salah satu bentuk kontinuitas tradisi megalitik dalam episode penerimaan Islam oleh masyarakat sejak awal perkembangannya, hingga masa terbentuknya pemerintahan Islam dengan muncul lembaga raja di wilayah Hitu.
Lukisan Cadas: Simbolis Orang Maluku Lucas Wattimena
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 1, Juli 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i1.217

Abstract

Rock paintings in Moluccas has a core meaning and symbols in the life cycle of Moluccans in the past, present and future-future. Archaeological remains of rock paintings is a cultural interpretation of the past, where the construction of the values contained therein are an integral part of the social system of human culture the people of Moluccas. The values contained is the value of kinship, religion, grouping, knowledge, survival (survival strategy). Rock paintings in Ohoidertawun, Wamkana and Gulf Saleman have hinted that there are phases of any future development of human society. Research on how the rock paintings as archaeological remains, as the impact of the cultural value system and the structure of the rock painting itself. Performed in order to determine the value of the cultural and social system structure Moluccans rock paintings. The study of literature become the main reference of the study, with emphasis on past and present the data. From the research results prove that the archaeological remains of rock paintings have been contributing to the sociocultural meaning people of Moluccas, including the meaning of identity, culture and plurality or diversity.Lukisan cadas di Maluku memiliki inti makna dan simbol dalam siklus hidup Orang Maluku pada masa lampau, sekarang dan masa-masa yang akan datang. Tinggalan arkeologi lukisan cadas merupakan interprestasi kebudayaan masa lampau, dimana konstruksi nilai yang terkandung didalamnya adalah bagian integral dari sistim sosial budaya manusia masyarakat Maluku. Nilai-nilai yang terkandung adalah nilai kekerabatan, religi, pengelompokkan, pengetahuan, bertahan hidup (survival strategy). Lukisan cadas yang ada di Ohoidertawun, Wamkana dan Teluk Saleman telah memberikan petunjuk bahwa ada fase-fase perkembangan masyarakat manusia setiap masa. Penelitian tentang bagaimana lukisan cadas sebagai tinggalan arkeologis, sebagai dampak sistem nilai budaya dan struktur lukisan cadas itu sendiri. Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sistem sosial nilai budaya dan struktur lukisan cadas Orang Maluku. Studi literatur menjadi acuan utama penelitian tersebut, dengan mengutamakan data terdahulu dan kini. Dari hasil penelitian membuktikan bahwa tinggalan arkeologis lukisan cadas telah memberikan kontribusi makna bagi sosial budaya Orang Maluku, diantaranya makna identitas, peradaban dan pluralitas atau kemajemukan.
Appendix Vol. 10 No. 1 (2014) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 1, Juli 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i1.218

Abstract

Back Cover Vol. 10 No. 1 (2014) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 10 No. 1, Juli 2014
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v10i1.219

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 9