cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JURNAL MAGISTER HUKUM UDAYANA
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25023101     EISSN : 2302528X     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Magister Hukum Udayana adalah jurnal ilmiah hukum yang mempublikasikan hasil kajian bidang hukum yang diterbitkan secara online empat kali setahun (Februari-Mei-Agustus-Nopember). Redaksi menerima tulisan yang berupa hasil kajian yang berasal dari penelitian hukum dalam berbagai bidang ilmu hukum yang belum pernah dipublikasikan serta orisinal. Jurnal ini selain memuat tulisan / kajian dari para pakar ilmu hukum (dosen, guru besar, praktisi dan lain-lain.) juga memuat tulisan mahasiswa Magister Ilmu Hukum baik yang merupakan bagian dari penulisan tesis maupun kajian lainnya yang orisinal. Tulisan yang masuk ke Redaksi akan diseleksi dan direview untuk dapat dimuat
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 2 (2020)" : 16 Documents clear
Menerobos Prinsip Kerahasiaan Bank Guna Mencegah Risiko Gagal Bayar dan Kejahatan Lintas Negara Menggunakan Letter of Credit Diah Rahma Kusumaningrum; Pujiyono Pujiyono
Jurnal Magister Hukum Udayana (Udayana Master Law Journal) Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JMHU.2020.v09.i02.p09

Abstract

L/C is a means of payment for international trades which, to date, is considered to have a high level of security due to the sharing of risks for the parties involved. What distinguishes the L/C payment method is the involvement of banks as "third parties" outside the Sales Contract, acting as the risk "guarantor". However, even though it is considered as the safest payment method, there are still risks lurking. Fraudulent practices can still be carried out by irresponsible persons by exploiting loopholes of L/C mechanism. This study aims to find alternatives to overcome and prevent this from happening thus prevent the Bank and related parties from losses, both materially and immaterially. Normative juridical research methods are used because the focus of this study departs from the vagueness of the norm. The statutory approach and analytical approach applied by analyzing legal norms in statutory regulations. The technique of tracing legal materials uses document study techniques and using qualitative analysis of law books, UCP, legal journals, and regulations. This study indicates that Bank can maximize its authority through the Prudential Banking Principle to "breakthrough" the Principles of Confidentiality to share information about importers' financial track records as an effort to strengthen due diligence thus implementing Prudential Banking. The legal instruments in Indonesia used to exercise this mechanismas are Banking Law article 44 and PBI 19 of 2017 article 56 paragraph (1) and (2). L/C merupakan sarana pembayaran transaksi perdagangan internasional yang sampai saat ini dianggap memiliki tingkat keamanan yang tinggi karena adanya pembagian risiko bagi para pihak yang terlibat. Hal yang membedakan metode pembayaran L/C dengan yang lain adalah keterlibatan bank sebagai “pihak ketiga” di luar perjanjian jual beli yang menjadi penjamin risiko. Namun, meskipun dianggap sebagai metode pembayaran yang paling aman, masih ada risiko yang mengintai bagi Bank. Praktik-praktik kecurangan masih saja dapat dilakukan oleh oknum dengan memanfaatkan celah dari mekanisme penggunaan L/C. Penelitian ini bertujuan untuk mencari alternatif guna menanggulangi dan mencegah terjadinya hal tersebut sehingga dapat menghindarkan Bank dan para pihak yang terkait dari kerugian baik secara materiil maupun imateriil. Metode penelitian yuridis normatif digunakan karena fokus kajian muncul dari norma yang kabur (vague). Digunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan analitis dengan menganalisis norma hukum dalam peraturan perundang-undangan. Teknik studi dokumen digunakan untuk menelusuri bahan hukum, serta digunakan analisis kualitatif terhadap pustaka hukum, UCP, jurnal hukum, dan peraturan perundang-undangan. Penelitian ini menunjukkan bahwa Bank dapat memaksimalkan kewenangannya melalui Prinsip Kehati-hatian untuk “menerobos” Prinsip Kerahasiaan guna melakukan sharing information tentang rekam jejak (track record) keuangan nasabah atau importir, sebagai upaya memperkuat due diligence dan pelaksanaan terhadap Prudential Banking. Instrumen hukum di Indonesia yang digunakan sebagai dasar penerapan mekanisme tersebut, antara lain UU Perbankan pasal 44 serta PBI 19/2017 pasal 56 ayat (1) dan (2).
Status Hukum Ghostwriter dan Pemegang Hak Cipta dalam Plagiarisme Menurut Undang-Undang Hak Cipta Atiekah Achmad; Kholis Roisah
Jurnal Magister Hukum Udayana (Udayana Master Law Journal) Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JMHU.2020.v09.i02.p15

Abstract

Ghostwriting is an act by the writer intended to be used on the other party's benefit. A person who does ghostwrite is called a ghostwriter. They are an anonymous writer who wrote on behalf of other people to write what they are asked to. Ghostwriter also can be told as a paid writer, who does work to write something from people who do need their skill in writing. As a writer, the ghostwriter does not have any rights over his writings or books that are published. The rights they have merely the fee and any kind of additional payment when the profit from the book selling’s reached a certain level according to the agreement between them. Due to selling his writing skills is the same as erasing his identity as the writer. Through the approaching method, the writer aimed for the research can help others to identify or to be used as an object to identified plagiarism which is committed by the same act as in this research. Act number 28 years 2014 is used to identify copyright violations. Due to its variant view about the legality of the ghostwriting act, the writer also applying the viewpoint few journals that have a similar problem. Ghostwriting adalah perbuatan yang dilakukan penulis untuk digunakan demi kepentingan orang lain. Pelaku ghostwriting dikenal sebagai ghostwriter. Mereka adalah penulis anonym yang menulis untuk kepentingan karya tulis milik orang lain. Ghostwriter bisa dikatakan sebagai penulis bayaran, yang bekerja dibayar bakat menulisnya untuk menuliskan sebuah karya tulis bagi yang memiliki kepentingan. Sebagai penulis, ghostwriter tidak memiliki hak atas karya ciptaannya setelah diterbitkan. Hak yang dimiliki oleh ghostwriter hanya sebatas berupa fee yang dijanjikan dan insentif tambahan apabila terdapat keuntungan dari penjualan buku yang diterbitkan mencapai suatu level tertentu sesuai dengan perjanjian yang mereka setujui. Dengan menjualbelikan keahliannya bersamaan dengan itu dia menghilangkan identitasnya sebagai pencipta. Melalui Metode Pendekatan normative-empiris yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan agar penelitian ini dapat dijadikan acuan atau petunjuk untuk mengidentifikasi bentuk plagiarisme menggunakan jasa ghosrtwriter. Hal ini tidak hanya dijadikan acuan untuk mengidentifikasi bentuk pelanggaran hak cipta sebagai mana di dalam Undang-undang nomor 28 tahun 2014. Melalui Undang-Undang dapat diidentifikasi apakah seseorang melakukan plagiarisme dengan menggunakan jasa ghostwriter. Juga dengan alasan sulitnya perbuatan ini dikatakan sebagai pelanggaran hak kekayaan intelektual penelitian ini ditulis dengan mempelajari pendapat mengenai ghostwriting. Adanya berbagai pandangan dan kasus-kasus yang pernah ada di berbagai negara menjadi tolok ukur dalam mengidentifikasi masalah yang diangkat penulis dalam penelitian.
Paradara: Offence in Decency in The Perspective of Hindu Law Occuring in Denpasar City I Nyoman Alit Putrawan
Jurnal Magister Hukum Udayana (Udayana Master Law Journal) Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JMHU.2020.v09.i02.p05

Abstract

The purpose of this study to discuss the paradara phenomena that occur in Denpasar and its causal factors as well as sanctions. This research is an empirical legal research conducted in the city of Denpasar. Primary data obtained through observation and interview techniques. The secondary data obtained through library research. The forms of paradara cases that occur in the city of Denpasar, among others: rape, sexual abuse of children, and adultery. The factors causing the paradara are unwise use of social media, economic factors, family factors and social environment. Sanctions that can be imposed on perpetrators of paradara are criminal as stipulated in Article 284 of the Criminal Code and imposition of customary sanctions. In Hindu law, the prohibition of paradara is regulated in several sacred libraries, including: Manawadharmasastra, such as Manawa Dharmasastra, Sulwasutra, Jyotisastra, and Purana. According to Hindu law, women must be respected and get the highest place.
Perlindungan Hukum Terhadap Hak Cuti Panjang Pekerja di Grand Istana Rama Hotel I Kadek Putra Sutarmayasa
Jurnal Magister Hukum Udayana (Udayana Master Law Journal) Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JMHU.2020.v09.i02.p10

Abstract

The norm gap between the norms in the Act and those in reality namely the gap or discrepancy in the application of Article 79 of Law 13/2003 about regarding leave / long rest. Arrangements regarding the leave entitlement for employees at the Grand Istana Rama Hotel, namely Article 17 KKB of the Istana Rama Hotel, in addition to also being explained in article 79 of Law 13/2003, Kepmen 51/2004. The legal consequences for companies that do not provide workers with long-term leave entitlements are that the company must continue to provide workers with long-term leave / long-term leave in accordance with court decisions. This type of empirical legal research is used in this study to find out and understand the incompatibility of the application of Article 79 of the Manpower Act and Article 17 of the KKB Grand Istana Rama Hotel. Kesenjangan norma antara norma-norma dalam UU dan yang pada kenyataannya adalah kesenjangan atau perbedaan dalam penerapan Pasal 79 UU 13/2003 tentang cuti / istirahat panjang. Pengaturan mengenai hak cuti panjang bagi karyawan di Hotel Grand Istana Rama, yaitu Pasal 17 KKB di Hotel Istana Rama, di samping juga dijelaskan dalam pasal 79 UU 13/2003, Kepmen 51/2004. Akibat hukum bagi perusahaan yang tidak memberikan hak cuti jangka panjang kepada pekerja adalah bahwa perusahaan harus terus memberi pekerja cuti jangka panjang / cuti jangka panjang sesuai dengan keputusan pengadilan. Jenis penelitian hukum empiris digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui dan memahami ketidaksesuaian penerapan Pasal 79 UU Ketenagakerjaan dan Pasal 17 Hotel KKB Grand Istana Rama.
Health Issues in The WTO Dispute Concerning Importation of Chicken Meat and Products between Indonesia and Brazil Ari Siswanto
Jurnal Magister Hukum Udayana (Udayana Master Law Journal) Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JMHU.2020.v09.i02.p01

Abstract

Article XX(b) of GATT justifies countries to adopt and apply trade measures to protect human health. It means that as long as the elements specified in Article XX(b) are satisfied, certain trade measures which infringe GATT rules and principles are permitted. Unfortunately, the rise of new protectionism and the unclear meaning of elements contained in Article XX(b) has likely attracted countries to use Article XX(b) as a pretext for enforcing protectionist trade measures. This research aims to address the meaning of elements of "necessary to protect human life or health" and "arbitrary or unjustifiable discrimination” as contained in Article XX(b) of GATT. It also provides an examination of how the elements have been interpreted and considered in the recent DS484 dispute involving Indonesia and Brazil over Indonesia’s trade measures concerning importation of chicken meat and product. This research, which is a normative legal research, adopted legal documents as the primary materials to be analyzed qualitatively. As the results, this research found that the element "necessary to protect human life or health" will likely be considered legitimate in a trade policy if the applying country can demonstrate the existence of health risks, take necessary measures to reduce these risks and there are no other alternative policies available that are more friendly towards international trade. As to the more subjective element of "arbitrary or unjustifiable discrimination", it can be concluded from the case examined that the principle of good faith had not yet been proportionally considered.
Penerapan Distinction Principle Dalam Perundang-Undangan di Indonesia Eno Prasetiawan; Lina Hastuti
Jurnal Magister Hukum Udayana (Udayana Master Law Journal) Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JMHU.2020.v09.i02.p16

Abstract

The ratification of the 1949 Geneva Convention implies that Indonesia must obey and implement international humanitarian law, specifically the distinction principles. One of the distinction principle relates to the separation of civilian objects and military objects, where attacks are only passed on to military objects. civilian objects and military objects in Indonesia are practically not separated and close together. This has the potential to become a threat if it does not follow the rules in international humanitarian law. The purpose of this study is to find out the importance of applying the distinction principle regarding civil objects and military objects in legislation in Indonesia. This writing uses a normative legal research method, the approach is carried out through a legislative approach and a conceptual approach. The results of the study indicate that the separation of civilian and military objects is a preventive effort in protecting civilians and civilian objects in the event of war or armed conflict. Although it has been a party to the 1949 Geneva convention, the application of the principle of differentiation has not yet been fully implemented by Indonesia, there are no specific regulations regarding the separation of civilian and military objects in its national legislation. Ratifikasi Konvensi Jenewa 1949 berimplikasi adanya kewajiban Indonesia untuk mematuhi dan melaksanakan hukum humaniter internasional, khsusnya prinsip pembedaan. Salah satu prinsip pembedaan terkait pemisahan objek sipil dan objek militer, di mana ketika berperang serangan-serangan hanya dibenarkan ke objek-objek militer saja. Objek sipil dan objek militer di Indonesia secara praktik tidak dipisahkan atau berdekatan. Ini berpotensi menjadi ancaman khususnya bagi keselamatan penduduk sipil apabila tidak mengikuti aturan di dalam hukum humaniter internasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pentingnya penerapan distinction principle terkait objek sipil dan objek militer dalam perundang-undangan di Indonesia. Penulisan ini menggunakan metode penelitian hukum normatif, dengan melakukan pendekatan melalui perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemisahan objek sipil dan militer merupakan upaya preventif dalam melindungi penduduk sipil dan objek-objek sipil jika terjadi perang atau konflik bersenjata. Meskipun telah menjadi pihak dalam konvensi jenewa 1949, penerapan prinsip pembedaan belum sepenuhnya dilaksanakan oleh Indonesia, belum ada peraturan khusus terkait pemisahan objek sipil dan militer dalam legislasi nasionalnya.

Page 2 of 2 | Total Record : 16