cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
BERITA BIOLOGI
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 4 (1979)" : 8 Documents clear
PENGARUH PUPUK TERHADAP PERTUMBUHAN AZOLLA ABDULKADIR, SUBADRI
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 4 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.874 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i4.1396

Abstract

Di antara tumbuhan air yang biasa terdapat di sawah, Azolla (yang dalam bahasa daerah disebut lukut cai, kiapu, bang apu atau kiambang) merupakan salah satu tumbuhan yang mempunyai keistimewaan tersendiri karena kemampuannya dalam menambat nitrogen. Dalam keadaan yang optimal tumbuhan paku air ini dapat menambat nitrogen sebesar 7,2 mg N/g berat kering/hari (Brotonegoro & Abdulkadir 1976). Kemampuan ini dapat menerangkan mengapa Azolla dapat tumbuh dan memperbanyak did pada perairan yang kurang subur. Di samping mampu menambat nitrogen, Azolla dapat terurai dengan melepaskan senyawa N dalam tanah yang lembab atau tergenang (Brotonegorp & Abdulkadir 1978). Senyawa N yang dilepaskan tadi dapat diserap oleh tanaman padi atau tanaman lainnya, sehingga Azolla telah dipakai sebagai pupuk hijau di Vietnam dan Muangthai (Saubert 1949; Moore 1969). Untuk itu diperlukan Azolla dalam jumlah yang besar, sebab tumbuhan ini mengandung air sekitar + 95% berat basahnya dan kandungan N- totalnya sekitar ±3-5% berat keringnya.Keperluan yang besar itu mungkin dapat terpenuhi jika keadaan pertumbuhannya di sawah, parit dan danau sebaik beberapa tahun yang silam. Di Jawa khususnya, sejak beberapa tahun terakhir ini populasi Azolla menurun sangat menyolok. Sekarang untuk mendapatkan populasi Azolla yang melimpah dan terhampar menyerupai permadani sukar sekali.
BIOLOGI PERBUNGAAN BEBERAPA JENIS CITRUS SUTARTO, MASLICHAH A.
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 4 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i4.1397

Abstract

Untuk mengadakan persilangan tanaman perlu diketahui terlebih dulu sifat perbungaan kedua tanaman yang disilangkan. Bila tidak diketahui saat masak dan suburnya masing-masing bunga yang di silangkan secara pasti, usaha persilangan dapat gagal, Kegagalan ini disebabkan antara lain oleh masak bunga pada kedua tanaman yang disilangkan terjadi pada waktu yang berlainan dan kurun subur bunga nya sangat pendek.Lain halnya bila sifat perbungaan kedua tanaman tersebut sudah diketahui sebelumnya.Masalah yang disebabkan oleh masak bunga yang berlainan dan kurun subur bunga yang pendek dapat diatasi dengan cara mengatur waktu persilangan yang tepat.
MORFOLOGI SISTEM PENCERNAAN BEBERAPA JENIS COLEOPTERA PEROMBAK KAYU LAPUK RAHAYUNINGSIH, Y.; NOERDJITO, W.A.; ADISOEMARTO, S.
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 4 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i4.1394

Abstract

Pada dasarnya tipe mulut serangga dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu tipe pengunyah dan tipe pengisap (Boiror & De Long 1954).Mulut bertipe pengunyah ditandai dengan mandibula kuat yang dapat digerakkan ke samping. Mulut bertipe pengisap telah mengalami variasi dan modifikasi sehingga berbentuk pipa pengisap.Salah satu kelompok besar serangga yang sangat beranekaragam ialah kumbang atau Coleoptera.Walaupun beranekaragam, semua Coleoptera mempunyai bagian mulut yang berfungsi sebagai pengunyah.Berdasarkan perbedaan makanannya, bentuk terperinci bagian-bagian mulut dan saluran pencernaan pemakan tumbuhan berbeda dari pemakan binatang.Perincian perbedaan pada Coleoptera masih belum banyak diungkapkan.Untuk menambah data umum yang telah diperoleh (Snodgrass1935,' Borror & De Long 1954, Imms 1957,Metcalf & Flint 1962),dilakukan pengamatan morfologi terhadap beberapa jenis Coleoptera pemakan kayu lapuk.
FAKTOR MUSIM DALAM PEMBUAHAN SALAK (SALACCA EDULIS) MOGEA, JOHANIS P.
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 4 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i4.1395

Abstract

Buah salak sudah cukup dikenal, walaupun jarang sekali orang menempatkannyapadaurutan tertinggi di antara kumpulan buah-buahan yang enak dimakan. Tetapi ini bukan berarti salak tidak mempunyai nilai ekonomi sama sekali sebab di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogya, Penpasar dan di Iain-lain kota harganya dapat mencapai Rp. 50,- per buah. Karenanya kebun-kebun salak yang terdapat a.l. di Condet (Jakarta), Manonjaya (Tasik), Sleman (Yogya), Bangkalan (Madura), Kaiang Asem (Bali), Pangu serta Tahu Landang (Sulawesi Utara) dapat memberikan penghasilan yang cukup berarti bagi para pemiliknya. Di Manonjaya misalnya, dari 300 rum pun pohon salak dapat dihasilkan rata-rata 6000 buah setiap bulannya. Di desa tersebut terdapat kebun-kebun rakyat yang keseluruhannya berjumlah hampir 400 ribu Ha dan memiliki hampir 3 juta pohon salak. Karena itu tidaklah mengherankan jika produksi buah salak di sana ternyata mempunyai peranan besar dalam pembangunan desa, seperti perbaikan jalan desa, pembangunan gedung sekolah dan Iain-lain.
BIOLOGI PERBUNGAAN BEBERAPA JENIS CITRUS MASLICHAH A. SUTARTO
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 4 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i4.1397

Abstract

Untuk mengadakan persilangan tanaman perlu diketahui terlebih dulu sifat perbungaan kedua tanaman yang disilangkan. Bila tidak diketahui saat masak dan suburnya masing-masing bunga yang di silangkan secara pasti, usaha persilangan dapat gagal, Kegagalan ini disebabkan antara lain oleh masak bunga pada kedua tanaman yang disilangkan terjadi pada waktu yang berlainan dan kurun subur bunga nya sangat pendek.Lain halnya bila sifat perbungaan kedua tanaman tersebut sudah diketahui sebelumnya.Masalah yang disebabkan oleh masak bunga yang berlainan dan kurun subur bunga yang pendek dapat diatasi dengan cara mengatur waktu persilangan yang tepat.
MORFOLOGI SISTEM PENCERNAAN BEBERAPA JENIS COLEOPTERA PEROMBAK KAYU LAPUK W.A. NOERDJITO; S. ADISOEMARTO; Y. RAHAYUNINGSIH
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 4 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i4.1394

Abstract

Pada dasarnya tipe mulut serangga dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu tipe pengunyah dan tipe pengisap (Boiror & De Long 1954).Mulut bertipe pengunyah ditandai dengan mandibula kuat yang dapat digerakkan ke samping. Mulut bertipe pengisap telah mengalami variasi dan modifikasi sehingga berbentuk pipa pengisap.Salah satu kelompok besar serangga yang sangat beranekaragam ialah kumbang atau Coleoptera.Walaupun beranekaragam, semua Coleoptera mempunyai bagian mulut yang berfungsi sebagai pengunyah.Berdasarkan perbedaan makanannya, bentuk terperinci bagian-bagian mulut dan saluran pencernaan pemakan tumbuhan berbeda dari pemakan binatang.Perincian perbedaan pada Coleoptera masih belum banyak diungkapkan.Untuk menambah data umum yang telah diperoleh (Snodgrass1935,' Borror & De Long 1954, Imms 1957,Metcalf & Flint 1962),dilakukan pengamatan morfologi terhadap beberapa jenis Coleoptera pemakan kayu lapuk.
FAKTOR MUSIM DALAM PEMBUAHAN SALAK (SALACCA EDULIS) JOHANIS P. MOGEA
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 4 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i4.1395

Abstract

Buah salak sudah cukup dikenal, walaupun jarang sekali orang menempatkannyapadaurutan tertinggi di antara kumpulan buah-buahan yang enak dimakan. Tetapi ini bukan berarti salak tidak mempunyai nilai ekonomi sama sekali sebab di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogya, Penpasar dan di Iain-lain kota harganya dapat mencapai Rp. 50,- per buah. Karenanya kebun-kebun salak yang terdapat a.l. di Condet (Jakarta), Manonjaya (Tasik), Sleman (Yogya), Bangkalan (Madura), Kaiang Asem (Bali), Pangu serta Tahu Landang (Sulawesi Utara) dapat memberikan penghasilan yang cukup berarti bagi para pemiliknya. Di Manonjaya misalnya, dari 300 rum pun pohon salak dapat dihasilkan rata-rata 6000 buah setiap bulannya. Di desa tersebut terdapat kebun-kebun rakyat yang keseluruhannya berjumlah hampir 400 ribu Ha dan memiliki hampir 3 juta pohon salak. Karena itu tidaklah mengherankan jika produksi buah salak di sana ternyata mempunyai peranan besar dalam pembangunan desa, seperti perbaikan jalan desa, pembangunan gedung sekolah dan Iain-lain.
PENGARUH PUPUK TERHADAP PERTUMBUHAN AZOLLA SUBADRI ABDULKADIR
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 4 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i4.1396

Abstract

Di antara tumbuhan air yang biasa terdapat di sawah, Azolla (yang dalam bahasa daerah disebut lukut cai, kiapu, bang apu atau kiambang) merupakan salah satu tumbuhan yang mempunyai keistimewaan tersendiri karena kemampuannya dalam menambat nitrogen. Dalam keadaan yang optimal tumbuhan paku air ini dapat menambat nitrogen sebesar 7,2 mg N/g berat kering/hari (Brotonegoro & Abdulkadir 1976). Kemampuan ini dapat menerangkan mengapa Azolla dapat tumbuh dan memperbanyak did pada perairan yang kurang subur. Di samping mampu menambat nitrogen, Azolla dapat terurai dengan melepaskan senyawa N dalam tanah yang lembab atau tergenang (Brotonegorp & Abdulkadir 1978). Senyawa N yang dilepaskan tadi dapat diserap oleh tanaman padi atau tanaman lainnya, sehingga Azolla telah dipakai sebagai pupuk hijau di Vietnam dan Muangthai (Saubert 1949; Moore 1969). Untuk itu diperlukan Azolla dalam jumlah yang besar, sebab tumbuhan ini mengandung air sekitar + 95% berat basahnya dan kandungan N- totalnya sekitar ±3-5% berat keringnya.Keperluan yang besar itu mungkin dapat terpenuhi jika keadaan pertumbuhannya di sawah, parit dan danau sebaik beberapa tahun yang silam. Di Jawa khususnya, sejak beberapa tahun terakhir ini populasi Azolla menurun sangat menyolok. Sekarang untuk mendapatkan populasi Azolla yang melimpah dan terhampar menyerupai permadani sukar sekali.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

1979 1979


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 3 (2022): Berita Biologi Vol 21, No 2 (2022): Berita Biologi Vol 21, No 1 (2022) Vol 21, No 3 (2021): Berita Biologi Vol 20, No 2 (2021): Berita Biologi Vol 20, No 1 (2021) Vol 19, No 3B (2020) Vol 19, No 3A (2020) Vol 19, No 2 (2020) Vol 19, No 1 (2020) Vol 18, No 3 (2019) Vol 18, No 2 (2019) Vol 18, No 1 (2019) Vol 18, No 1 (2019) Vol 17, No 3 (2018) Vol 17, No 3 (2018) Vol 17, No 2 (2018) Vol 17, No 2 (2018) Vol 17, No 1 (2018) Vol 17, No 1 (2018) Vol 16, No 3 (2017) Vol 16, No 3 (2017) Vol 16, No 2 (2017) Vol 16, No 2 (2017) Vol 16, No 1 (2017) Vol 16, No 1 (2017) Vol 15, No 3 (2016) Vol 15, No 3 (2016) Vol 15, No 2 (2016) Vol 15, No 2 (2016) Vol 15, No 1 (2016) Vol 15, No 1 (2016) Vol 14, No 3 (2015) Vol 14, No 3 (2015) Vol 14, No 2 (2015) Vol 14, No 2 (2015) Vol 14, No 1 (2015) Vol 14, No 1 (2015) Vol 13, No 3 (2014) Vol 13, No 3 (2014) Vol 13, No 2 (2014) Vol 13, No 2 (2014) Vol 13, No 1 (2014) Vol 13, No 1 (2014) Vol 12, No 3 (2013) Vol 12, No 3 (2013) Vol 12, No 2 (2013) Vol 12, No 2 (2013) Vol 12, No 1 (2013) Vol 12, No 1 (2013) Vol 11, No 3 (2012) Vol 11, No 3 (2012) Vol 11, No 2 (2012) Vol 11, No 2 (2012) Vol 11, No 1 (2012) Vol 11, No 1 (2012) Vol 10, No 6 (2011) Vol 10, No 6 (2011) Vol 10, No 5 (2011) Vol 10, No 5 (2011) Vol 10, No 4 (2011) Vol 10, No 4 (2011) Vol 10, No 3 (2010) Vol 10, No 3 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 6 (2009) Vol 9, No 6 (2009) Vol 9, No 5 (2009) Vol 9, No 5 (2009) Vol 9, No 4 (2009) Vol 9, No 4 (2009) Vol 9, No 3 (2008) Vol 9, No 3 (2008) Vol 9, No 2 (2008) Vol 9, No 2 (2008) Vol 9, No 1 (2008) Vol 9, No 1 (2008) Vol 8, No 6 (2007) Vol 8, No 6 (2007) Vol 8, No 5 (2007) Vol 8, No 5 (2007) Vol 8, No 4(a) (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 4(a) (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 6 (2005) Vol 7, No 6 (2005) Vol 7, No 5 (2005) Vol 7, No 5 (2005) Vol 7, No 4 (2005) Vol 7, No 4 (2005) Vol 7, No 1&2 (2004) Vol 7, No 1&2 (2004) Vol 7, No 3 (2004) Vol 7, No 3 (2004) Vol 6, No 6 (2003) Vol 6, No 6 (2003) Vol 6, No 5 (2003) Vol 6, No 5 (2003) Vol 6, No 4 (2003) Vol 6, No 4 (2003) Vol 6, No 3 (2002) Vol 6, No 3 (2002) Vol 6, No 2 (2002) Vol 6, No 2 (2002) Vol 6, No 1 (2002) Vol 6, No 1 (2002) Vol 5, No 6 (2001) Vol 5, No 6 (2001) Vol 5, No 5 (2001) Vol 5, No 5 (2001) Vol 5, No 4 (2001) Vol 5, No 4 (2001) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 4, No 5 (1999) Vol 4, No 5 (1999) Vol 4, No 2&3 (1998) Vol 4, No 2&3 (1998) Vol 4, No 4 (1998) Vol 4, No 4 (1998) Vol 4, No 1 (1997) Vol 3, No 9 (1989) Vol 3, No 8 (1988) Vol 3, No 7 (1987): (Supplement) Vol 3, No 7 (1987) Vol 3, No 6 (1986) Vol 3, No 5 (1986) Vol 3, No 4 (1986) Vol 3, No 3 (1985) Vol 3, No 2 (1985) Vol 3, No 1 (1985) Vol 2, No 9&10 (1984) Vol 2, No 9&10 (1984) Vol 2, No 8 (1984): (Supplement) Vol 2, No 8 (1984) Vol 2, No 7 (1983) Vol 2, No 6 (1981) Vol 2, No 5 (1979) Vol 2, No 5 (1979) Vol 2, No 4 (1979) Vol 2, No 3 (1979) Vol 2, No 2 (1977) Vol 2, No 1 (1977) Vol 1, No 4 (1974) Vol 1, No 3 (1971) Vol 1, No 2 (1968) Vol 1, No 1 (1968) More Issue