Articles
60 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5, No 5 (2001)"
:
60 Documents
clear
PEMBAHASAN
Bungaran Saragih
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1473
Menurut pendapat saya seharusnya NTT bisa lebih makmur daripada yang ada sekarang ini, tetapi sangat sayang sekali rupanya sumber daya alam yang sangat penting di sana itu tidak digunakan secara baik atau tidak dikelola secara baik. Oleh karena itu tidak bisa menyumbang untuk Pembangunan Daerah padahal altematif yang lain barangkali sangat sulit untuk ditawarkan. Kalau saya dengar tadi penjelasan, masalah yang pokok dari tanaman Cendana ini adalah bukan pada masalah teknis biologis; masalahnya adalah policy, kebijakan. Pemerintah Daerah melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh Pemerintahan Kolonialdan tidak memperbaikinya. Apa yang dibuat Pemerintahan Kolonial sudah bagus; bagus untuk mereka, bagus untuk kepentingan negara yang menjajah. Tetapi setelah kita merdeka 'konteks' tidak kita pelajari, kita lakukan hal yang sama dan akibatnya seperti sekarang. Kalau tadi Bapak Kepala Dinas Kehutanan Propinsi mengatakan "semuanya tidak ada lagi biaya dinas", saya melihat dengan begitu cemasnya, jangan-jangan Cendana sudah akan punah. Seharusnya NTT bisa memiliki monopoli internasional terhadap cendana, tetapi itu tidak dimungkinkan lagi dan orang (negara) lain sudah mulai mencari alternatif, menanam. Cendana India yang asalnya dari Timor sekarang sudah lebih terkenal dari Cendana Timor sendiri, seperti yang dikatakan Bapak Hartono (Pembicara, Pengusaha dari PT Tropical Oil, Red.). Intinya adalah bahwa komoditi itu terlalu diregulasi oleh Pemerintah; dan tidak hanya diregulasi tapi dimonopoli, dan merampas hak rakyat untuk melakukan bisnis ini.
KAJIAN BOTANI, EKOLOGI DAN PENYEBARAN POHON CENDANA (Santalum album L.)
Soedarsono Riswan
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1464
Cendana (Santalum album L.) yang merupakan flora maskot Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah pohon yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Jenis pohon ini tumbuh secara alami di propinsi ini dan terutama berasal dari Pulau Timor dan P. Sumba. S. album merupakan salah satu jenis dari marga Santalum dan termasuk dalam suku Santalaceae. Sejarah mencatat bahwa Cina merupakan negara utama yang membeli kayu cendana ini. Perdagangan kayu cendana dari P. Timor dan P. Sumba ini telah berjalan sejak abad ke-3.Dalam tulisan ini akan dibahas asal dan penyebaran, botani, ekologi dan sejarah perdagangan pohon cendana.
PENGELOLAAN DAN PEMBUDIDAYAAN CENDANA
Cornells Tapatab
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1455
Masa lalu cendana dihiasi dengan perannya dalam kisah raja-raja, perekonomian antarbangsa, panggung religi maupun PAD Propinsi.Namun peran ini hampir punah oleh berbagai kebijakan yang kurang tepat,yang tidak jarang dilakukan oleh pemerintah sendiri. Pemikiran dan saran untuk mengembalikan cendana berperan kembali seperti di 'zaman keemasannya' dikemukakan.
POTENSI CENDANA SEBAGAI AND ALAN OTONOMI DI NUSA TENGGARA TIMUR
Palulun Boroh
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1469
Cendana merupakan tanaman yang mempunyai daya tarik tersendiri karena baunya harum dan banyak kegunaannya, bahkan sudah menjadi komoditi perdagangan sejak jaman dahulu. Kondisi iklim NTT yang kering dan tanah berkapur (pH 5-8) merupakan habitat yang optimum untuk menghasilkan kayu berkualitas dengan kandungan santalol yang tinggi. Penanaman cendana di daerah lain misalnya 1 Gunung Kidul terbukti tidak dapat menghasilkan kayu yang wangi seperti daerah aslinya (NTT). Secara alami habitat cendana tersebar di 7 kabupaten yaitu Kupang, TTS, TTU, Belu, Sumba Barat, Sumba Timur dan Solor; oleh karena itu pengembangan cendana menjadi satu kelas sebaiknya diprioritaskan di 7 kabupaten tersebut. Pengembangan cendana di NTT mengalami banyak kendala yang disebabkan terutama oleh faktor non-teknis antara lain peraturan daerah, sistem dan mekanisme pengelolaan, pemasaran dan pengelolaan hasil yang tidak terkoordinasi dan dominasi Pemerintah. Perizinan perdagangan global mengakibatkan maraknya penebangan secara sembarangan sampai pohon-pohon yang belum berteraspun ditebang habis. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa populasi cendana menurun sangat drastis, bahkan dewasa ini sumber benih sudah mulai langka dan sangat sulit dijumpai. Kegiatan yang mendesak adalah penunjukan pohon induk sebagai kebun benih, terutama varietas berdaun kecil yang sangat berkualitas. Untuk pengelolaan dengan asas lestari dan hasil yang maksimum perlu perencanaan dalam satu Kelas Perusahaan Cendana di dalam kawasan hutan dan Hutan Rakyat untuk pengembangan di lahan milik ulayat. Dengan jumlah penduduk NTT sekitar 3,5 juta, jika tiap jiwa menanam 2 pohon maka diperkirakan setelah 50 tahun akan diperoleh hasil panen sekitar Rp. 7,5 trilyun. Analisa potensi cendana dapat diperhitungkan sebagai berikut: dengan daur 50 tahun dan areal Kelas Perusahaan Cendana 3000 ha maka setiap KK dapat menikmati hasil Rp. 4.500.000/ tahun. Potensi cendana yang sangat prospektif sebagai sumber pendapatan daerah dan petani dapat terwujud jika dikelola dengan baik, jujur dan profesional serta ada kerja sama dari semua pihak. Pengembangan cendana selain sangat menjanjikan dari segi ekonomi juga lebih ramah lingkungan dan NTT adalah satu-satunya kawasan yang merupakan habitat cendana secara alami.
STATUS PENELITIAN CENDANA DI PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR
I Komang Surata;
Maman Mansyur Idris
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1460
Cendana (Santalum album L.) adalah hasil hutan yang tergolong sangat penting dari Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), karena merupakan spesies endemik yang terbaik di dunia dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Dewasa ini populasinya sudah semakin menurun. Oleh sebab itu dalam pemanfaatan perlu segera diikuti upaya pelestarian. Untuk mewujudkan upaya tersebut sebagaimana yang diharapkan, dukungan teknologi sangat diperlukan. Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Kupang yang berkedudukan di daerah inti produksi cendana telah berupaya secara sungguh-sungguh untuk menyediakan teknologi yang dibutuhkan lewat kegiatan penelitian. Paket-paket teknologi hasil penelitian cendana yang telah dihasilkan dan sudah dapat diujicobakan untuk pengembangannya di lapangan antara lain teknik pembuatan Hutan Tanaman dengan menggunakan sistem tumpangsari, pengelolaan tegakan alam lewat permudaan tunas akar yaitu dengan pemotongan akar lateral pohon induk cendana dan teknik penggalian tunggak akar yang dilaksanakan saat penebangan, penentuan target tebangan tahunan yang berdasarkan data jumlah pohon masak tebang, kandungan teras dan daur/umur pohon cendana. Dalam rangkamendapatkan benih cendana dengan kualitas dan kuantitas yang memadai dewasa ini upaya pemuliaan pohon cendana telah mulai dilakukan. Kegiatan yang sedang berjalan antara lain pemilihan calon pohon plus, uji keturunan, uji provenan, teknik kultur jaringan,penunjukan tegakan benih dan pembangunan kebun benih. Adapun hasil sementara kegiatan ini telah dilakukan penunjukan pohon plus sebanyak 175 pohon beserta uji keturunanya di Pulau Timor, pembangunan kebun benih seluas 4 ha, kultur jaringan cendana seperti pengembangan eksplan, pengakaran dan pembentukan kalus, dari kultur jaringan, uji provenansi dan penunjukan tegakan benih. Sebagian besar penelitian ini berlangsung dalam jangka panjang. Kebijakan pengelolaan cendana di NTT yang diatur oleh PERDA No.16 tahun 1986 masih rendah memberikan kontribusi bagi upaya pelestarian cendana secara berkelanjutan. Oleh karena itu aturan ini perlu disempurnakan agar dapat menguntungkan masyarakat dan pemerintah agar mampu mendorong partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian cendana. Paket-paket teknologi yang dihasilkan BPK Kupang yang sudah siap untuk dikembangkan perlu diangkat menjadi kebijakan dalam rangka membantu pelestarian cendana.
POTENSI SUMBER DAYA HAYATI SEBAGAI PENUNJANG PEMBANGUNAN DAERAH YANG BERKELANJUTAN
Aca Sugandhy
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1451
Konsep perabangunan berkelanjutan (sustainable development) di Indonesia selatna ini belum diimplementasikan sebagaimana mestinya.Pembangunan yang dijalankan selama ini masih menitikberatkan pada aspek ekonomi dan meninggalkan aspek konservasi jauh di belakang. Akibatnya adalah menurunnya kualitas lingkungan hidup yang terjadi di mana-mana, termasuk degradasi lahan, penurunan fiingsi dan produktivitas lahan serta meningkatnya berbagai bentuk bencana alam. Untuk itu kebutuhan manusia dan kegiatannya haras diselaraskan dengan pemeliharaan keanekaragaman hayati. Pendekatan keterpaduan ini dijabarkan dalam pengelolaan bioregional yang mewadahi dan menitikberatkan konservasi keanekaragaman hayati dan peran serta masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya alam.
KAJIAN PARASITISME TUMBUHAN CENDANA (Santalum album L.) SEBAGAI DASAR DALAM PEMBUDIDAYAANNYA
Sunaryo Sunaryo;
Saefudin Saefudin
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1465
Cendana {Santalum album L.)merupakan tumbuhan yang termasuk dalam kelompok suku Santalaceae. Sebagai anggota kelompok tumbuhan parasit, pada fase pertumbuhannya cendana memerlukan interaksi dengan tumbuhan lain yang berfungsi sebagai inang, melalui alat-alat kontak yang disebut haustorium. Sistem perakaran cendana, di mana padanya haustoria berkembang, lebih didominasi oleh pertumbuhan horizontal. Jenis tanaman inangnya tidak spesifik, sehingga pemilihan jenis tanaman inang untuk cendana dapat disesuaikan dengan model-model yang akan dikembangkan yaitu model agroforestri atau konservasi.
ASPEK HUKUM CENDANA DAN PERILAKU MASYARAKAT NTT
Jimmy Pello
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1456
Cendana sebagai komoditi bernilai ekonomi tinggi yang persebaran alaminya terdapat di Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan kebanggaan masyarakat setempat. Nilai ekonomi tanaman cendana terdapat pada kayu gubal, teras, serbuk dan ampas serta minyak cendana. Kayu cendana digunakan untuk kerajinan dan minyak cendana untuk obat-obatan dan kosmetik. Dampak dari nilai ekonomi yangtinggi adalah sering terjadinya penebangan secara liar (tidak terkontrol), sehingga kehidupannya semakin terancam. Penebangan yang tidak terkendali ini tidak memperdulikan aturan-aturan yang berlaku baik dari segi tertib hukum maupun dari segi konservasi seperti ukuran lingkar batang, umur tanaman dan intensitas penebangan. Dilihat dari umur cendana yang berkualitas bagus dapat ditebang pada umur berkisar 40-50 tahun. Walaupun cendana cukup berpotensi karena harga jual yang cukup menjanjikan tetapi tidak membuat kesejahteraan hidup masyarakat meningkat. Hal ini karena monopoli pemerintah terus berlanjut bagi tanaman cendana yang tumbuh di pekarangan maupun lahan lainnya milik masyarakat; sehingga terjadi masalah yang cukup serius mengenai cendana ini bila dilihat dari segi ekonomi,ekologi serta perilaku masyarakat. Selanjutnya bagaimana hukum pengelolaan cendana dan bagaimana perilaku masyarakatnya dengan berlakunya ketentuan hukum tentang cendana di NTT. Dibutuhkan tertib hukum yang menyangkut aspek yuridis seperti hak dan kewajiban, kedudukan hukum, peran serta masyarakat serta kepatuhan masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa pemerintah sebagai penanggungjawab penyelenggaraan pengelolaan cendana di NTT belum mengadopsi azas-azas hukum umum pengelolaan sumber daya alam hayati (SDAH) yang berlaku di Indonesia. Adanya pengaturan hukum yang memberikan hak mengelola cendana kepada Pemerintah Daerah mengakibatkan penyimpangan yang lebih merugikan cendana dan habitatnya di NTT. Sosialisasi hukum lingkungan dan peraturan lingkungan lainnya perlu segera disosialisasikan kepada seluruh masyarakat NTT.