Articles
60 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5, No 5 (2001)"
:
60 Documents
clear
TANAH DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA CENDANA (Scmtalum album L.) PROPINSINUSA TENGGARA TIMUR
SB Silalahi
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1470
Banyak aspek perlu dikaji dan dipertimbangkan dalam upaya pengembangan budidaya cendana di Nusa Tenggara Timur (NTT), antara lain aspek kesesuaian lahan dan lingkungan. Aspek hukum status dan kepemilikan tanah juga sangat penting karena di NTT dikenal dengan istilah "tanah suku" serta beberapa peraturan yang terkait dengan tanah seperti UU No. 5 Tahun 1960, UU No. 5 Tahun 1967 yang diperbaharui dengan UU No. 41 Tahun 1999, UU No. 24 Tahun 1992, UU No. 4 Tahun 1982 yang diperbaharui dengan UU No. 23 Tahun 1997, UU No. 11 Tahun 11967 dan UU No. 22 Tahun 1999. Dalam membuat perencanaan sistem pengembangan cendana, peta setiap desa/tanah suku yang terkena lokasi pengembangan perlu dibuat dengan Rencana Tata Ruang Desa, Kecamatan dan tidak menimbulkan konflik dengan kepentingan lainnya misalnya petemakan. Peta tanah tersebut meliputi pemetaan penguasaan, pemilikan dan penguasaan tanah serta penggunaannya. Pengembangan cendana diharapkan dari awal melibatkan partisipasi masyarakat setempat sehingga pemeliharaan dalam jangka panjang akan lebih menguntungkan baik masyarakat maupun Pemerintah Daerah. Dalam pengembangan cendana sebagai komoditi andalan daerah masa kini dan masa mendatang, selain harus diperhatikan aspek kesesuaian lahan, ekologi dan hukum, aspek lain juga perlu dikaji yakni permodalan, sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat.
SILVIKULTUR CENDANA: MENCARILUASAN BUDIDAYA YANG LAYAK EKOLOGIS DAN EKONOMIS
Endang Ahmad Husaeni;
Sudaryanto Sudaryanto
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1461
Kayu cendana memainkan peranan sangat penting dalam perekonomian Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui sumbangannya sebesar 40% per tahun terhadap PAD.Sumbangan sebesar itu berasal dari pengusahaan hutan alam yang potensinya terus menurun dari tahun ke tahun. Untuk mempertahankan dan sekaligus meningkatkan peranan cendana terhadap perekonomian Propinsi NTT, selain tetap mengusahakan hutan alam yang ada, perlu dibangun kelas perusahaan cendana seluas 10.000 ha,dengan menerapkan sistem silvikultur THPB dan silvikultur intensif.Dengan daur (umur tebang) 50 tahun kelas perusahaan tersebut mampu memproduksi kebutuhan dalam negeri dan untuk ekspor.Pembangunan kelas perusahaan cendana ini dilaksanakan bersama masyarakat di Pulau Timor, Sumba dan Flores, pada ketinggian tempat sekitar 700 m dpi.Adanya kebun benih sangat diperlukan untuk memasok kebutuhan benih setiap tahunnya.
PERANAN CENDANA DALAM PEREKONOMIAN NTT: DULU DAN KINI
Herman H Banoet
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1452
Berbagai stigma diberikan untuk cendana (Santalum album L.) berhubungan dengan status dan perlakuan terhadap komoditi tersebut, seperti kayu setan (hau nitu), kayu perkara (hau lasi) dan kayu pemerintah (hau plenat). Penghitungan terhadap produksi cendana dalam kurun waktu 28 tahun (1969-1997) cukup fluktuatif, dengan rataan sebesar 606.000 kg per tahun. Sementara nilai jualnya bervariasi, tergantung dari klasifikasi kayu, yaitu antara Rp. 1.000 (untuk gubal) hingga Rp. 118.000 (untuk kelas A). Perdagangan tersebut telah memberikan kontribusi kepada PAD (Pendapatan Asli Daerah) NTT dalam kurun waktu 8 tahun (1990-1998) dengan rataan sebesar Rp. 4.071.000.000 setiap tahun. Mengingat perdagangan cendana memiliki nilai ekonomi, baik bagi Pemerintah Daerah, masyarakat maupun industri/pedagang cendana, maka diperlukan pokok-pokok pikiran strategis bagi pengembangan dan pengelolaan cendana di masa mendatang.
ANALISIS KESESUAIAN IKLIM UNTUK PENGEMBANGAN CENDANA (Santalum album L.) DI NUSA TENGGARA TIMUR
Rizaldi Boer;
Tania June
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1466
Land suitability analysis method is introduced for sandalwood (Santalum album L.) in Nusa Tenggara Timur. It includes analysis on its (I) agro ecological suitability based on crop requirement for climate and soil characteristic, (2) ecological suitability, and (3) social-economic requirement for sustainable and profitable production. Approach to these three components is conducted through desk study/survey and on site research. All information collected and analyzed is combined together in GIS (Geographical Information System) for further use.
PEMASARAN PRODUK MINYAK CENDANA (Santalum album L.): REALITA, TANTANGAN DAN HARAPAN
Hartono Hartono
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1457
Salah satu komponen utama masalah tanaman cendana (Santalum album L.) sebagai komoditi perdagangan adalah pemasaran terhadap produk yang diperoleh terutama ekstrak minyaknya. PT Tropical Oil, Kupang, Timor, NTT merupakan suatu perusahaan industri minyak cendana yang selama ini melakukan ekstraksi minyak tanaman cendana menggunakan bahan mentah dari NTT. Makalah ini membahas pandangan pengusaha mengenai jangkauan pasar yang telah dicapai, kecenderungan pasar terhadap produk minyak cendana baik segi kuantitas maupun kualitas, terutama kandungan santalol sebagai komponen mutlak dalam minyak cendana.Berbagai harapan disampaikan,disertai kendala-kendala ketersediaan bahan baku dan pasar(terutama internasional) yang dihadapi seorang pengusaha mulai dari produksi hingga pemasaran dan sumbangsaran demi keberlangsungan produksi dan pemasaran minyak cendana yang telah memiliki segmen pasar tersendiri yang cukup luas.
KAYU CENDANA SEBAGAIBAHAN BAKU INDUSTRI KERAJINAN RAKYAT MENYONGSONG OTONOMIDAERAH PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Y Suranto
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1471
Kayu Cendana (Sanlalum album Linn.) merupakan satu jenis produk terpenting yang dihasilkan oleh sumberdaya alam berupa hutan di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Perlu pengelolaan cendana lebih intensif dan pemanfaatan optimal bagi peningkatan kesejahteraan rakyat NTT dan Pendapatan Asli Daerah dalam menyongsong Otonomi Daerah. Sumber ekonomi yang diperoleh daerah NTT melalui penjualan kayucendana sebagai bahan mentah ke daerah lain kiranya patut ditinjau kembali. Pemanfaatan sebagai bahan baku bagi industri kecil dan menengah perlu ditumbuhkan, dibina dan dikembangkan di daerah NTT merupakan alternatif yang selayaknya ditempuh. Pemanfaatan kayu cendana sangat beragam. Berdasarkan sifat kayu dan kandungan minyak atsirinya, kayu cendana sudah digunakan sebagai bahan baku bagi industri minyak atsiri, industri serbuk (tepung) kayu dan industri kerajinan kayu. Industri kerajinan kayu merupakan industri yang paling potensial, meningkatkan kesejahteraan rakyat karena penciptaan lapangan kerja dan nilai tambah yang langsung menyangkut masyarakat di tingkat bawah. Produk kerajinan berupa patung, ukiran dan topeng sering kali mengalami cacat retak atau pecah. Cacat ini akan menurunkan nilai produk tersebut. Penurunan ini dapat dihindarkan dengan penerapan teknologi pengeringan dan teknologi stabilisasi dimensi dengan Poli Etilen GUkol (PEG). Teknologi stabilisasi melalui perendaman selama 5 hari dalam PEG-1000 berkonsentrasi 40%, terhadap patung (hasil kerajinan) akan membebaskan sepenuhnya dari cacat retak dan pecah, tetapi mengubah warna kayu dari putih kekuningan menjadi putih keabu-abuan dan menguragi bahkan menihilkan aroma cendana. Penerapan teknologi pengeringan kayu berdampak yang serupa dengan dampak teknologi stabilisasi dimensi.
SANDALWOOD AS A COMPONENT OF AGROFORESTRY: EXPLORATION OF PARASITISM AND COMPETITION WITH THE WANULCAS MODEL
Meine van Noordwijk;
Albert Husein Wawo;
Betha Lusiana;
Jim Roshetko
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1462
Sandalwood is an important component of agroforestry systems in the drier Eastern parts of Indonesia, although its value to farmers is still limited by existing policies and regulation of marketing. As a relatively slow growing root parasite, sandalwood will interact with other components in a complex pattern of competition and host-parasite relationships, depending on root distribution and rooting depth of potential hosts. We describe a number of modifications to the generic tree-soil-crop simulation model WaNuLCAS, that allow exploration of the transition between parasitism and competition. The key variable in this transition is the effectiveness of formation of the parasitic link for all situations where roots of the host and parasite occur in the same volume of soil. At low values of this effectiveness competition dominates, at higher values sandalwood will weaken the host, until it effectively kills it, leading to an optimum response of sandalwood to the effectiveness parameter. Unresolved questions in the formulation of the model are the lifespan of parasitized roots and the question whether or not sandalwood will allocate energy resources for maintenance respiration of host roots after the formation of haustoria. The'desk study' reported here was intended to focus subsequent field studies on these unresolved issues.