cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2015)" : 14 Documents clear
Akurasi Pemeriksaan HbA1c dalam Mendeteksi Gangguan Toleransi Glukosa pada Anak dan Remaja Obes dengan Riwayat Orang Tua DM Tipe 2 Abdi Wijaya; Aditiawati Aditiawati; Irsan Saleh
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.17-20

Abstract

Latar belakang. Obesitas dengan riwayat orang tua diabetes mellitus (DM) tipe 2 berhubungan dengan gangguan toleransi glukosa,dislipidemia, dan DM. Toleransi glukosa terganggu (TGT) merupakan pertanda awal terjadinya DM tipe 2. Hemoglobin A1c(HbA1c) telah muncul menjadi alat diagnostik untuk mengidentifikasi DM dan subjek yang berisiko menderita DM. Rekomendasiini didasarkan pada data dari orang dewasa yang menunjukkan hubungan antara HbA1c dengan terjadinya DM di kemudian hari.Penelitian yang khusus ditujukan pada populasi anak dan remaja masih sedikit.Tujuan. Mengetahui penggunaan dan titik potong optimal pemeriksaan HbA1c dalam mendiagnosis gangguan toleransi glukosapada anak dan remaja obesitas dengan faktor risiko dibandingkan dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO).Metode. Dilakukan uji diagnostik terhadap 40 anak obesitas (Indeks Massa Tubuh menurut umur dan jenis kelamin berdasarkan Zscore WHO 2008 􀁴 +2 SD) usia 10-15 tahun dengan riwayat orang tua DM tipe 2 tahun di Palembang dari Desember 2013 - Februari2014. Pada semua subjek dilakukan pemeriksaan HbA1c dan TTGO.Hasil.Ditemukan dua anak dengan TGT. Dari analisis kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) didapatkan titik potong optimalpemeriksaan HbA1c adalah 5,55% dengan nilai sensitivitas 67% dan spesifisitas 20%, area Under the Curve (AUC) diperoleh sebesar79,3% (95% IK 45,7%-100%).Kesimpulan. Nilai pemeriksaan HbA1c >5,55% dianjurkan sebagai alat skrining untuk mengindentifikasi TGT pada anak danremaja obesitas dengan faktor risiko.
Manfaat Pemberian Probiotik pada Diare Akut Diana Rahmi; Pramita Gayatri
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.243 KB) | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.76-80

Abstract

Latar belakang. Beberapa penelitian membuktikan bahwa probiotik bermanfaat pada diare akut dan diharapkan dapat mengurangidurasi dan frekuensi diare serta gejala lain seperti demam sera muntahTujuan. Mengevaluasi kegunaan probiotik pada diare akut berdasarkan bukti ilmiahMetode. Penelusuran pustaka database elektronik : Pubmed, Cochrane, Highwire.Hasil. Dua metaanalisis mengenai efek probiotik terhadap diare akut mendapatkan probiotik secara bermakna durasi diare dibandingkankontrol (-0,67; KI 95%, -0,95 sampai -0,38, p<0,00001) dan mean duration diare berkurang bermakna pada kelompok probiotik(86,4 jam) dan 115,2 jam pada kelompok plasebo (p=0,0001). Uji klinis acak tersamar mendapatkan pemberian probiotik single strainmempersingkat durasi diare dibandingkan pada kelompok probiotik multiple strain (p=0.004). Uji klinis acak tersamar menggunakanprobiotik Lactobacilus GG dengan placebo mendapatkan jumlah hari diare kembali ke konsistensi normal lebih singkat pada kelompokprobiotik (p=0,002), tetapi penelitian di India tidak mendapatkan perbedaan bermakna dalam durasi diare.Kesimpulan. Penelitian terhadap efektifitas pemberian probiotik pada diare akut masih beragam meskipun sebagian besar menunjukkanefektifitas dalam menurunkan lama dan frekuensi diare, hal ini mungkin dipengaruhi oleh strain probiotic yang diberikan.
Rasio Jumlah Neutrofil-Limfosit pada Awal Masuk Rawat sebagai Faktor Risiko Luaran Pneumonia Anak Farah Katleya; MS Anam; Dwi Wastoro Dadiyanto
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.065 KB) | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.47-51

Abstract

Latar belakang. Data global menunjukkan pneumonia pada anak usia di bawah 5 tahun (balita) menyebabkan kematian 15,5%.Neutrophil to lymphocyte count ratio (NLCR) atau rasio jumlah neutrofil-limfosit merupakan parameter inflamasi sistemik dan stresuntuk pasien kritis. Dari beberapa penelitian didapatkan hubungan antara derajat keadaan klinis dengan peningkatan NLCRTujuan. Membuktikan nilai NLCR awal masuk sebagai faktor risiko luaran pasien pneumonia anak yang dirawat di bangsal anakRSUP dr KariadiMetode. Penelitian kohort prospektif pada anak pneumonia usia 1 bulan – 5 tahun yang dilaksanakan di ruang perawatan anak(bangsal anak, HCU, PICU) RS dr Kariadi, Semarang. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan pemeriksaan darah rutin,kemudian dilakukan pemantauan klinis pada hari perawatan ke 10. Pada spesimen darah diperiksa darah rutin dan dilakukanperhitungan NLCR. Analisis statistik menggunakan uji chi square dan Mann-Whitney UHasil. Didapatkan 40 subjek dengan pneumonia. Rerata NLCR lebih tinggi pada luaran yang buruk dari pada luaran yang baik(3,42± 4,063) vs (1,73 ± 1,568) tetapi tidak berbeda bermakna (p= 0,118). Titik potong NLCR 􀁴 1,335 meningkatkan risiko luaranperburukan pada pneumonia anak sebesar 1,727 kaliKesimpulan. Tidak terdapat perbedaan nilai NLCR awal antara luaran perbaikan dan perburukan. Titik potong dari NLCR awaltidak dapat digunakan sebagai indikator prognosis luaran pneumonia anak
Malaria Kongenital di Daerah Endemis Indonesia: Studi di RSUD Dr. Tc Hillers Maumere Flores Mario B. Nara; Irene Ratridewi Huwae; Loeki Enggar Fitri; Natalia Erica Jahja
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.599 KB) | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.21-4

Abstract

Latar belakang. Di distrik Sumba Barat pada tahun 2004 dilaporkan malaria merupakan penyakit terbanyak. Era transportasi yangtinggi menyebabkan kemungkinan kejadian malaria kongenital di Lembata dan Flores (Maumere) juga tinggiTujuan. Memberikan gambaran mengenai malaria kongenital di RSUD dr. TC. Hillers, Maumere.Metode: Penelitian deskriptif dilakukan mulai Desember 2012 – Desember 2013. Spesimen darah diambil dari neonatus dan ibunya,dikirim dengan dry ice ke Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dan dilakukan pemeriksaan hapusan darah dan nested PCR.Hasil. Angka kejadian malaria kongenital di RSUD dr. TC. Hillers Maumere selama 1 tahun penelitian 7,78%. Dari 39 subjekyang terinfeksi malaria kongenital, 74,4% terinfeksi P. vivax. Gejala neonatus yang terinfeksi antara lain, anemia (46,2%), sepsis like(28,2%), prematur (38,5%), ikterus (5,5%), dan asimtomatis (48,7%).Kesimpulan. Angka kejadian malaria kongenital di RSUD dr. TC. Hillers Maumere cukup tinggi dan dapat memberikan manifestasiklinis pada bayi yang dilahirkan.
Kecenderungan Gangguan Perilaku pada Anak dengan Sindrom Nefrotik Diarum Puspasari; Indria Laksmi Gamayanti; Madarina Julia
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.1-8

Abstract

Kejadian Demam Setelah Imunisasi DTwP-1 pada Anak yang Mendapat ASI dan Tidak Mendapat ASI di Kota Palembang Firdinand Firdinand; Rismarini Rismarini; Yudianita Kesuma; Kms Yakub Rahadiyanto
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.52-8

Abstract

Latar belakang. Di beberapa provinsi di Indonesia, cakupan imunisasi masih rendah. Salah satu alasan orang tua tidak memberikanimunisasi karena demam yang terjadi setelah imunisasi, khususnya imunisasi DPT. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwakejadian demam setelah vaksinasi dengan DTaP dapat dicegah dengan ASI eksklusif. Data mengenai pengaruh ASI terhadap kejadiandemam setelah imunisasi dengan vaksin DTwP masih sedikit.Tujuan. Mengetahui pengaruh pemberian ASI dalam mencegah demam pada anak setelah imunisasi DPT-1 di Kota Palembang.Metode. Penelitian merupakan studi kohort prospektif yang dilakukan di tujuh Puskesmas di Kota Palembang yang dipilih secara clustersampling. Sampel penelitian adalah anak usia 2-4 bulan yang mendapat imunisasi DPT-1. Anak dikelompokkan menjadi kelompokASI eksklusif, parsial, dan susu formula. Orang tua diajarkan cara mengukur suhu di rumah dan mencatat hasil pengukuran di kartuharian. Perbandingan kejadian demam antar kelompok dihitung dengan chi square test.Hasil. Didapatkan 379 bayi masuk dalam penelitian. Demam terjadi pada 246 (64,9%) anak. Jumlah anak yang mengalami demampada kelompok ASI eksklusif 73 (19,2%), ASI parsial 75 (19,7%), dan susu formula 98 (25,8%) anak (p=0,001). Risiko relatifterjadinya demam pada kelompok susu formula adalah 1,38 (IK95%: 1,16-1,65) dibandingkan kelompok ASI eksklusif dan 1,33(IK95%: 1,12-1,58) dibandingkan kelompok ASI parsial.Kesimpulan. Pemberian ASI dapat menurunkan kejadian demam setelah imunisasi DTwP-1.
Hubungan Mikroflora Usus pada Bayi Baru Lahir dengan Jenis Persalinan Mira Febriani Hontong; Sarah M Warouw; Jeanette I. Ch. Manoppo; Praevilia Salendu
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.419 KB) | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.25-8

Abstract

Latar belakang.Mikroflora saluran cerna pada awal kehidupan berperan penting untuk respon imun dan dapat dipengaruhi oleh jenis persalinan.Tujuan. Mengetahui hubungan antara jumlah koloni mikroflora usus Bifidobacterium, Lactobacillus, Clostridium, pada bayi baru lahir denganjenis persalinan.Metode. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang terhadap semua bayi aterm sehat yang lahir pervaginam dan seksiosesarea dari bulan Oktober 2013–November 2013 di Divisi Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou,Manado. Dilakukan pemeriksaan tinja dengan quantitative realtime polymerase chain reaction (PCR-RT) untuk mendeteksi kolonisasi mikrofloraBifidobacterium, Lactobacillus, dan Clostridium. Pengolahan data dengan uji Mann-Whitney.Hasil. Dua puluh lima subjek bayi lahir pervaginam dan 25 subjek bayi lahir secara seksio. Terdapat perbedaan bermakna jumlah koloni Bifidobacteriumpada persalinan pervaginam (median 2,19 x 109 CFU/g) dibandingkan seksio sesarea (median 1,55 x 109 CFU/g) (p<0,001). Median koloni Lactobacilluspada persalinan pervaginam 3,40 x 109 CFU/g tidak berbeda bermakna dengan seksio sesarea 3,51 x 109 CFU/g (p=0,362). Median koloni Clostridiumpada persalinan pervaginam 1,12x 109 CFU/g juga tidak berbeda bermakna dengan seksio sesarea 1,04 x 109 CFU/g (p=0,961).Kesimpulan. Persalinan pervaginam kolonisasi mikroflora Bifidobacterium lebih tinggi dibandingkan dengan seksio sesarea. Tidak terdapat perbedaanbermakna kolonisasi mikroflora Lactobacillus dan Clostridium pada persalinan pervaginam dan seksio sesarea
Perbandingan Luaran dan Biaya Penutupan Defek Septum Ventrikel Perimembran secara Transkateter dan Pembedahan Liku Satriani; Audrey Audrey; Piprim B Yanuarso; Mulyadi M Djer
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.9-16

Abstract

Latar belakang. Terapi baku emas dalam penutupan defek septum ventrikel (DSV) adalah pembedahan. Prosedur pembedahanmempunyai morbiditas yang terkait dengan torakotomi, pintasan jantung paru, komplikasi prosedur, jaringan parut bekas operasi, dantrauma psikologis. Oleh karena itu, timbul usaha pendekatan transkateter untuk menutup DSV yang bersifat relatif kurang invasif.Tujuan. Mengetahui perbandingan hasil penutupan DSV perimembran, komplikasi prosedur, lama rawat di rumah sakit, dan totalbiaya prosedur antara prosedur transkateter dengan prosedur pembedahan.Metode. Penelitian retrospektif analitik dengan data berupa rekam medis pasien anak dengan DSV perimembran yang datang kePelayanan Jantung Terpadu Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo dan dilakukan penutupan defek dengan salah satu prosedurdalam periode Januari 2010-Desember 2013.Hasil. Didapat 69 kasus anak dengan DSV perimembran, terdiri atas 39 kasus dengan prosedur pembedahan dan 30 kasus denganprosedur transkateter. Prosedur pembedahan dan prosedur transkateter mempunyai tingkat keberhasilan yang serupa (89,7% vs 96,7%,p=0,271). Prosedur pembedahan mempunyai komplikasi yang lebih banyak dibandingkan prosedur transkateter (46,7% vs 7,7%,p<0,001). Prosedur pembedahan juga mempunyai lama rawat di rumah sakit yang lebih panjang dibandingkan prosedur transkateter(8 hari vs 3 hari, p<0,0001), dan semua prosedur pembedahan membutuhkan perawatan di ruang rawat intensif. Tidak ada perbedaantotal biaya antara prosedur transkateter dengan prosedur pembedahan (Rp. 55.032.636 vs Rp. 58.593.320 p=0,923).Kesimpulan. Prosedur penutupan DSV perimembran secara transkateter mempunyai efektivitas dan biaya yang sama dengan prosedurpembedahan dan mempunyai komplikasi yang lebih sedikit serta lama rawat di rumah sakit yang lebih pendek.
ASI Eksklusif sebagai Faktor Protektif Rinitis Alergi pada Anak Thrisia Wuryanti; Sumadiono Sumadiono; Tunjung Wibowo
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.59-63

Abstract

Latar belakang. Prevalensi rinitis alergi di dunia semakin meningkat termasuk di Indonesia. Rinitis alergi menyebabkan penurunankualitas hidup sehingga sedini mungkin dicegah agar proses tumbuh kembang anak optimal. Faktor pencegah di antaranya denganpemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif.Tujuan. Mengetahui apakah pemberian ASI eksklusif merupakan faktor protektif terhadap rinitis alergi pada anak di Provinsi DaerahIstimewa Yogyakarta.Metode. Rancang penelitian berupa kasus kontrol berpasangan, analisis Mc.Nemar, dan conditional logistic regression. Populasi targetmurid sekolah dasar di Yogyakarta dengan rinitis alergi sebagai kasus (diagnosis berdasarkan kriteria AIRA, kuesioner ISAAC, ujitusuk kulit). Matching berdasarkan umur dan jenis kelamin. Informasi pemberian ASI dengan wawancara dan kuesioner.Hasil. Subjek penelitian adalah 55 kasus dan 55 kontrol. Alergen terbanyak menimbulkan alergi adalah kutu rumah. PemberianASI eksklusif terhadap rinitis alergi mempunyai rasio odds 0,23; IK95% 0,08-061; p=0,23. Paparan asap rokok terhadap alergimempunyai rasio odds 3,07; IK95% 1,23-7,68; p=0,016.Kesimpulan. ASI eksklusif merupakan faktor protektif terhadap rinitis alergi pada anak.
Hubungan antara Defisiensi Besi dengan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder pada Anak Desi Fajar Susanti; Sunartini H; Retno Sutomo
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.29-34

Abstract

Latar belakang. Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) merupakan gangguan perilaku yang paling banyak dijumpai padaanak. Defisiensi besi diduga berperan dalam kejadian ADHD melalui perubahan neurotransmiter dopamin. Feritin serum merupakanindikator reliabel simpanan besi dalam tubuh termasuk otak.Tujuan. Untuk mengkaji hubungan antara defisiensi besi dan kejadian ADHD pada anak.Metode. Penelitian cross sectional dilakukan di RSUP Dr Sardjito dan Pusat Pengkajian dan Pengamatan Tumbuh Kembang Anak(P3TKA) Yogyakarta. Diagnosis ADHD berdasarkan kriteria DSM IV-TR. Subjek penelitian dipilih secara consecutive mencakup 35anak dengan ADHD and 35 anak tanpa ADHD. Dilakukan pengukuran kadar serum feritin pada semua subyek. Hubungan antaradefisiensi besi dengan ADHD dianalisis dengan chi square dan rerata feritin serum dengan uji Mean WhitneyHasil. Kadar feritin serum yang rendah ditemukan pada 34% anak dengan ADHD dan 25% pada anak tanpa ADHD tetapi secarastatistik tidak berbeda bermakna. Penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rerata feritin serum pada pasien ADHDdan tanpa ADHD (24.4 ±22.04 μg/L vs.24.4±19.9 μg/L, p > 0,01).Kesimpulan. Prevalensi defisiensi besi pada anak ADHD dibandingkan tanpa ADHD tidak berbeda secara bermakna.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue