cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2004)" : 8 Documents clear
Batuk Kronik pada Anak: masalah dan tata laksana Darmawan B Setyanto
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.64-70

Abstract

Batuk kronik pada anak cukup banyak dijumpai dalam praktek sehari-hari. Pada pasienanak, gejala batuk yang kronik atau berulang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari,mengurangi nafsu makan, dan pada akhirnya dapat mengganggu proses tumbuhkembang. Orang tua juga akan terganggu terutama bila gejala batuk lebih sering danlebih berat pada malam hari. Batasan batuk kronik bermacam-macam, ada yangmengambil batas 2 minggu atau 3 minggu. Ada pula yang membagi batuk menjadibatuk akut, subakut, dan kronik. Antara batuk kronik dan batuk berulang seringkalisulit dibedakan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganut batasan tersendiriyaitu batuk kronik berulang (b.k.b) yang mencakup pengertian batuk kronik di dalamnya.Dua fungsi utama batuk, pertama sebagai mekanisme pertahanan respiratorik; keduasebagai gejala yang mengindikasikan adanya gangguan / kelainan / penyakit di sistemrespiratorik umumnya, dan sebagian di luar sistem respiratorik. Batuk akan timbul bilareseptor batuk terangsang. Pada anak, berbagai hal, keadaan, atau penyakit dapatbermanifestasi sebagai batuk. Sebagian besar etiologi berasal dari sistem respiratorik,sebagian kecil karena kelainan di sistem non-respiratorik. Untuk mendeteksi etiologibatuk, pemahaman tentang mekanisme batuktermasuk lokasi reseptor batuk sangatpenting diketahui. Dengan pemahaman itu, kita akan tetap ingat bahwa batuk kronikjuga dapat disebabkan oleh kelainan atau penyakit di luar sistem respiratorik. Pasienanak dengan batuk kronik dibagi menjadi dua kelompok, tanpa kelainan dasar yangnyata serta anak relatif tampak sehat, dan pasien dengan kelainan respiratorik yangnyata. Perlu pula diketahui etiologi yang sering timbul pada berbagai kelompok umuranak. Langkah diagnostik dimulai dari penggalian anamnesis yang mendalam,pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang yang relevan. Tata laksana batuk kronikpada anak ditujukan kepada penyakit dasarnya, peran antitusif sangat terbatas.
Diagnosis dan Tata Laksana Neonatus dari Ibu Hamil Tuberkulosis Aktif Bobby S Dharmawan; Darmawan B Setyanto; Rinawati R
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.85-90

Abstract

Tuberkulosis (TB) pada kehamilan selain dapat mengenai ibu juga dapat menular padabayi baik intrauterin, saat persalinan, maupun pasca natal. Kejadian TB kongenital selamapersalinan sangat jarang. Gejala klinis TB pada neonatus sulit dibedakan dengan sepsisbakterial umumnya dan hampir semua kasus meninggal karena keterlambatan diagnosis.Manifestasi klinis TB kongenital dapat timbul segera setelah lahir maupun dalambeberapa hari. Gejala yang paling sering ditemukan adalah distres pernapasan,hepatosplenomegali, dan demam. Tata laksana TB pada neonatus mencakup beberapaaspek yaitu ibu, bayi yang dilahirkan dan lingkungan keluarga. Untuk diagnosis dantata laksana diperlukan pemeriksaan klinis dan penunjang berupa pemeriksaan patologidari plasenta darah v.umbilikalis, foto toraks, bilas lambung serta evaluasi uji tuberkulinsecara berkala. Deteksi dini TB pada neonatus dan penanganan yang baik pada ibudengan TB aktif akan memperkecil kemungkinan terjadinya TB perinatal.
Pengaruh Pemberian Antibiotik Terhadap Populasi dan Produksi Toksin Clostridium difficile pada Pasien Demam Tifoid dan Pneumonia serta Hubungannya dengan Gejala Diare Dwi Prasetyo
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.819 KB) | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.58-63

Abstract

Clostridium difficile merupakan flora normal dalam saluran pencernaan manusia, tetapidalam keadaan tertentu dapat menimbulkan penyakit, yaitu menjadi patogen bila adakesempatan untuk bermultiplikasi dan membentuk toksin. Misalnya pemberian obatanti jasad renik dapat menekan sementara unsur-unsur flora usus yang peka terhadapobat tersebut. Sebaliknya kuman yang resisten tetap hidup, bahkan akan berkembangterus sehingga terjadi pertumbuhan yang berlebih. Di Indonesia Clostridium difficilebelum begitu dikenal sebagai penyebab kolitis akibat pemakaian antibiotik. Kemungkinankarena kurangnya kewaspadaan dalam klinik, tidak tersedianya fasilitas laboratoriumyang khusus untuk biakan anaerob atau kegagalan dalam melakukan biakan anaerob.Tujuan penelitian untuk mengetahui jumlah kultur Clostridium difficile yang positifpada pemeriksaan hari pertama (maksimum mendapat 3 hari pengobatan antibiotik),peningkatan populasi Clostridium difficile dalam tinja pasien demam tifoid danpneumonia yang mendapatkan pengobatan antibiotik 8 hari, adanya toksinClostridium difficile dalam tinja anak penderita demam tifoid dan pneumonia yangmendapat pengobatan antibiotik 8 hari dan mengevaluasi hubungannya dengan gejaladiare. Penelitian ini dilakukan terhadap 38 pasien demam tifoid dan 12 pasien pneumoniayang mendapat antibiotik minimal 8 hari dan dirawat di Sub Bagian Infeksi danPulmonologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-Unpad/Rumah Sakit Umum Pusat Dr.Hasan Sadikin, Bandung. Sebagai kontrol dilakukan pemeriksaan tinja pada 20 anaksehat. Pemeriksaan bakteriologik dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, FakultasKedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung.Dari 50 pasien yang diteliti didapatkan 24 (48,0%) laki-laki dan 26 (52,0%)perempuan. Kelompok umur 1-4, 5-9, dan > 10 tahun berturut-turut didapatkan 26(52,0%), 13 (26,0%) dan 11 (22,0%). Antibiotik kloramfenikol diberikan pada 38(76,0%) anak, sedangkan ampisilin pada 12 (24,0%) anak. Hasil kultur Clostridiumdifficile pertama positif sebanyak 30 (60,0%) dan negatif 20 (40,0%) pasien. Ternyatapada kelompok anak sehat ditemukan 8 anak dengan kultur Clostridium difficile positif(40,0%) dan 12 anak dengan kultur negatif (60,0%). Dari hasil perhitungan statistiktidak didapatkan perbedaan yang bermakna jumlah rata-rata koloni Clostridium difficileper gram tinja pada kelompok anak sehat dan pasien infeksi yang diambil pada haripertama perawatan yang sebelumnya telah mendapat maksimum 3 hari antibiotik.Didapatkan peningkatan jumlah koloni Clostridium difficile secara bermakna pada anakpasien demam tifoid dan pneumonia setelah diberi antibiotik 8 hari. Walaupun toksinClostridium difficile terdeteksi pada 24,0% pasien, tetapi yang disertai gejala diare hanyapada 2 penderita. Juga didapatkan perbedaan bermakna rata-rata jumlah koloniClostridium difficile per gram tinja antara pasien dengan toksin positif dan negatif.Pada semua anak yang didapatkan toksin Clostridium difficile ternyata mempunyaijumlah koloni Clostridium difficile melebihi 103 koloni per gram tinja.
Penelitian Kendali Acak Terbuka Terhadap Efektifitas dan Keamanan Cairan Elektrolit Rumatan pada Neonatus dan Anak (KAEN 4B® vs N/4D5) M. Juffrie
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.91-6

Abstract

Cairan rumatan sangat dibutuhkan oleh tubuh kita untuk memelihara keseimbanganhemodinamik, apalagi pada pasien neonatus dan anak. Cairan rumatan dengankecukupan elektrolit esensial sangat berperan penting menunjang keseimbangan cairandan elektrolit sehari-hari. Oleh karena itu dibutuhkan suatu bentuk cairan yangmengandung kecukupan air dan elektrolit tersebut. Penelitian ini bertujuan melihatdan mengetahui lebih jauh apakah sediaan cairan rumatan baru (KAEN 4B®) yangtelah dipasarkan dapat memenuhi kecukupan elektrolit dan aman dipakai dibandingkandengan cairan rumatan yang biasa digunakan pada pasien neonatus dan anak, yaitucairan NaCl 0.225%, D5 atau (N/4-D5).Penelitian kendali acak terbuka ini dilakukan terhadap 44 subyek yang terbagi22 subyek pada kelompok kasus dengan cairan elektrolit rumatan (KAEN 4B®) dan22 subyek lainnya pada kelompok kontrol dengan (N/4-D5). Tidak didapatkan suatuperbedaan yang bermakna dari kadar natrium dan kalium serum antara keduakelompok setelah 6-8 jam perlakuan; sedangkan kadar kalium di dalam urin tampaklebih sedikit pada kelompok kontrol. Analisa gas darah tak tampak ada perbedaanbermakna sebelum dan setelah perlakuan pada kedua kelompok namun kadar pCO2lebih tinggi pada kelompok kontrol. Kreatinin serum tak ada perbedaan pada keduakelompok tetapi terjadi penurunan setelah perlakuan 6-8 jam. Kadar glukosa terdapatpenurunan setelah perlakuan terutama pada kelompok kontrol. Tidak didapatkansuatu reaksi efek samping atau reaksi anafilaksi pada kedua kelompok. Hasil penelitianini menunjukkan bahwa pemakaian cairan elektrolit rumatan baru yang beredar dipasaran KAEN 4B® dapat menjaga kadar elektrolit terutama Na dan K setelah 6-8jam puasa, aman dipakai dan bisa diterima dengan baik pada neonatus dan anakbila dibandingkan cairan N/4-D5.
Osteopetrosis Theresia Santi; Kemas Firmansyah; Maria Abdulsalam
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.97-102

Abstract

Dilaporkan kasus osteopetrosis maligna pada seorang anak perempuan berusia 3 tahun.Kelainan yang diturunkan secara otosomal resesif ini disebabkan defek pada osteoklas.Pasien datang dengan keluhan pucat dan abses submandibula dengan perdarahan, disertaigigi yang mudah patah dan kebutaan sejak lahir, terdapat frontal bossing, adenoidappearance disertai nistagmus, serta hepatosplenomegali. Pemeriksaan darah tepimenunjukkan pansitopenia dengan gambaran leukoeritroblastosis. Aspirasi sumsumtulang sulit dilakukan karena kerasnya jaringan tulang, memperlihatkan gambaranhipoplasia sistem eritropoietik dan trombopoietik. Diagnosis ditegakkan berdasarkanbone survey yang memperlihatkan keseluruhan tulang yang sklerotik dengan peningkatandensitas tulang, disertai tanda khas berupa mask sign pada tulang tengkorak dan sandwichsign pada tulang vertebra. Dilakukan terapi suportif berupa transfusi sel darah merahdan trombosit, pengobatan medikamentosa berupa prednison dan kalsitriol. Prognosispenyakit ini buruk, dengan angka kematian yang tinggi pada dekade pertama kehidupansebagai akibat perdarahan dan infeksi berulang.
Terapi Nonsteroid Anti Inflammatory Drug pada Bayi Prematur dengan Duktus Arteriosus Persisten Sri Endah Rahayuningsih; Nono Sumarna; Armijn Firman; Yunita Sinaga
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.71-4

Abstract

Duktus arteriosus persisten (DAP) adalah penyakit jantung bawaan yang terjadi pada 9-12 % dari seluruh pasien penyakit jantung bawaan. Insidens DAP lebih tinggi pada bayiprematur, keadaan ini berhubungan dengan maturitas bayi. Penutupan duktus arteriosuspersisten pada bayi prematur tidak selalu memerlukan terapi bedah, tetapi dapat denganpemberian indometasin dan ibuprofen. Penelitian penelitian yang telah dilakukanmenunjukkan bahwa ibuprofen mempunyai efek samping obat lebih sedikit dibandingkandengan indometasin, sehingga ibuprofen dapat digunakan sebagai terapi DAP pada bayiprematur
Konstipasi Fungsional Bernie Endyarni; Badriul Hegar Syarif
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.914 KB) | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.75-80

Abstract

Konstipasi merupakan keadaan yang sering ditemukan pada anak dan dapat menimbulkanmasalah sosial maupun psikologis. Berdasarkan patofisiologis, konstipasi dapatdiklasifikasikan menjadi konstipasi akibat kelainan struktural dan konstipasi fungsional.Konstipasi yang dikeluhkan oleh sebagian besar pasien umumnya konstipasi fungsionalyang dihubungkan dengan adanya gangguan motilitas kolon atau anorektal. Konstipasikronis yaitu kostipasi yang telah berlangsung lebih dari 4 minggu. Dalam mentukanadanya konstipasi terdapat 3 aspek yang perlu diperhatikan, yaitu frekuensi buang airbesar (b.a.b), konsistensi tinja, dan temuan pada pemeriksaan fisis. Para ahligastroenterologi di Eropa dan Amerika telah membuat satu kriteria untuk yangmenentukan adanya konstipasi fungsional, yang dikenal dengan kriteria Roma. Meskipunmasih terus dalam pengkajian, beberapa negara telah menggunakan kriteria tersebutsebagai upaya menentukan adanya konstipasi fungsional. Dalam menangani anak dengankonstipasi perlu ditekankan tentang pentingnya hubungan yang erat antara dokter,orangtua, dan pasien. Pada dasarnya, terapi konstipasi terdiri dari dua fase, yaitu fasepengeluaran masa tinja dan fase pemeliharaan. Catatan harian tentang b.a.b, latihanb.a.b (toilet training), makan makanan berserat, terapi laksatif, serta pendekatan secarapsikiatri/psikologi merupakan upaya yang perlu dilaksanakan untuk memperoleh hasilyang optimal.
Diagnosis Sepsis Neonatal Zulfikri Zulfikri
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.586 KB) | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.81-4

Abstract

Sepsis adalah respon sistemik terhadap infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur,protozoa atau ricketsia. Insiden sepsis pada neonatus rendah yaitu 1-8 perseribu kelahiranhidup, namun angka kematian lebih dari 20-50 % kasus. Tidak ada satupun pemeriksaantunggal laboratorium yang dapat dipakai untuk diagnosis sepsis neonatal. Skor hematologiRodwell dan atau pemeriksaan imunologi sIL2R dapat dipakai sebagai alat diagnostiksepsis neonatal.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2004 2004


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue