cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 12 (1) 2023" : 16 Documents clear
Prevalensi dan Histopatologi Proventrikulus pada Itik Bali yang Terinfeksi Cacing Tetrameres spp. di Bali
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.22

Abstract

Itik merupakan ternak unggas penghasil daging dan telur yang memiliki kandungan protein tinggi dan lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan ayam. Salah satu parasit yang dapat menginfeksi sistem pencernaan itik adalah cacing Tetrameres spp. yang berpredileksi pada proventrikulus itik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi dan perubahan histopatologi proventrikulus pada itik di Bali yang terinfeksi cacing Tetrameres spp.. Sampel itik berjumlah 50 ekor diambil dengan metode purposive sampling pada itik hidup yang dijual di Pasar Badung dan Pasar Gianyar. Itik dikelompokkan berdasarkan lokasi pasar tempat pembelian itik, umur, dan jenis kelamin itik. Itik dinekropsi dan proventrikulus itik yang positif terinfeksi Tetrameres spp. diawetkan dengan Bouin Solution untuk dijadikan preparat histopatologi dengan menggunakan pewarnaan Hematoxylin Eosin (HE). Perubahan histopatologi yang terjadi akan dianalisis secara deskriktif kuantitatif dan hubungan antara lokasi pasar tempat pembelian itik, umur dan jenis kelamin itik dengan prevalensi di analisis menggunakan uji chi-square. Prevalensi cacing Tetrameres spp. pada itik di Bali sebesar 12%. Perubahan histopatologi yang diterjadi pada proventrikulus itik yang terinfeksi yaitu: terjadinya nekrosis pada vili yang terdapat pada proventrikulus itik, kelenjar proventrikulus itik mengalami atrofi, ditemukan adanya sel radang dengan sedikit fibroblas pada proventrikulus itik, dan ditemukannya tubuh dari cacing Tetrameres spp. di proventrikulus itik yang terinfeksi. Kesimpulanya adalah lokasi pasar tempat pembelian itik, umur, dan jenis kelamin itik tidak menunjukkan adanya hubungan yang berpengaruh nyata dengan prevalensi.
Laporan Kasus: Penanganan Ehrlichiosis pada Anjing Akita dengan Pemberian Doksisiklin dan Transfusi Darah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.79

Abstract

Ehrlichiosis merupakan penyakit pada anjing yang dapat menyerang semua umur dan ras. Ehrlichiosis disebabkan oleh Ehrlichia sp. yang merupakan bakteri obligat intraseluler Gram negatif dari genus Ehrlichia. Seekor anjing jantan ras Akita bernama Yama, warna rambut putih dan cokelat, berumur tujuh tahun, dan bobot badan 28 kg dibawa ke Anom Vet Clinic dengan keluhan lemas, nafsu makan menurun, dan mengalami epistaksis sebelum dibawa ke klinik. Hasil pemeriksaan klinis anjing kasus ditemukan kepucatan pada mukosa mulut dan konjungtiva, infestasi caplak Rhipicephalus sanguineus pada kulit dan anjing mengalami epistaksis bilateral. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan bahwa anjing kasus mengalami anemia mikrositik normokromik, trombositopenia, dan leukopenia. Hasil pemeriksaan test kit menunjukkan hasil positif mengandung antibodi E. canis. Berdasarkan anamnesis, tanda klinis, hasil pemeriksaan hematologi, dan pemeriksaan menggunakan test kit, maka anjing kasus didiagnosis menderita ehrlichiosis dengan prognosis dubius. Penanganan yang diberikan pada anjing kasus yaitu, dengan pemberian cairan Ringer Laktat 910 mL/hari, doksisiklin 5 mg/kg BB, BID, PO selama tujuh hari, transfusi darah sebanyak 337 mL, dan pemberian vitamin B kompleks satu tablet per hari selama 10 hari. Penanganan pada hewan kasus menunjukkan hasil yang baik secara klinis dengan epistaksis sudah tidak terlihat dan nafsu makan mulai membaik pada hari ketiga. Pada hari ke-10 kondisi anjing kasus membaik secara klinis dan diperbolehkan pulang.
Kajian Pustaka: Sindroma Pendarahan Usus pada Sapi Perah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.164

Abstract

Sindroma pendarahan usus adalah penyakit yang relatif umum pada sapi perah dan sapi potong yang memiliki tingkat kematian yang tinggi. Penyakit ini diklasifikasikan sebagai enteritis akut, sporadis dan necrohemorrhagic. Hal ini biasanya terlihat pada sapi perah yang sangat produktif. Penyebab sindroma pendarahan usus tidak jelas dan patogenesisnya tidak dipahami dengan baik. Namun, Clostridium perfringens tipe A telah diusulkan sebagai agen etiologi utama dan toksin alfa dan beta-2 nya diduga memiliki peran penting dalam terjadinya penyakit sindroma pendarahan usus. Penyakit ini terutama diamati pada tiga bulan pertama laktasi pada sapi perah laktasi. Kesalahan dalam memilih bahan-bahan yang akan digunakan dalam ransum dan fermentasi yang tidak tepat dari pakan yang diberikan tampaknya menjadi faktor predisposisi yang paling penting dalam perkembangan sindroma pendarahan usus. Toksemia berat (enterotoksemia) dan perdarahan hebat di usus kecil menyebabkan perubahan patologis di usus. Pembekuan darah di lumen usus, temuan spesifik dari sindroma pendarahan usus hanya dapat ditunjukkan pada 19% sapi yang terinfeksi. Diagnosis sering didasarkan pada temuan klinis, ultrasonografi, nekropsi dan juga dengan diagnosis banding enteritis hemoragik lainnya yang disebabkan oleh salmonellosis, bovine viral diarrhea, coccidiosis dan lain lain. Dilakukannya bedah laparotomy, penggunaan feed additive, manajemen nutrisi yang baik dan pemberian vaksin dianjurkan untuk pengendalian penyakit.
Kajian Pustaka: Hepatitis pada Anjing Peliharaan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.181

Abstract

Hepatitis merupakan penyakit umum pada anjing yang menyebabkan hilangnya fungsi dan seiring waktu terjadi hilangnya jaringan hati akibat nekrosis dan sirosis. Hepatitis dapat disebabkan karena adanya infeksi virus seperti Canine adenovirus tipe-1 (CAV-1), infeksi parasit seperti Capillaria hepatica, infeksi bakteri seperti leptospirosis, infeksi mikotik yang umum terjadi seperti kandidiasis, histoplasmosis, dan aspergillosis, toksin, dan obat-obatan seperti antikonvlusan atau obat antijamur. Kajian pustaka ini menyajikan 15 laporan kasus hepatitis pada anjing yang ditandai dengan gejala klinis secara umum yaitu penurunan nafsu makan, anoreksia, penurunan bobot badan, muntah, dan diare. Penurunan fungsi pada hati menyebabkan kekuningan/jaundice dan ascites. Pemeriksaan penunjang yang umum digunakan dalam menegakkan diagnosis meliputi pemeriksaan darah, biokimia darah, ultrasonografi (USG), radiografi, dan biopsi. Terapi dalam kasus ini umumnya dilakukan terapi kausatif jika penyebabnya diidentifikasi seperti pemberian antibiotik, terapi simptomatik dengan obat golongan steroid, dan terapi suportif melalui pemberian cairan infus. Prognosis dari hepatitis mulai dari baik hingga buruk dapat terjadi tergantung pada faktor penyebab dan keparahan dari penyakit. Metode yang digunakan pada penulisan artikel ini adalah kajian literatur, dengan sumber yang dapat berasal dari buku, jurnal, dan artikel yang terkait dengan topik hepatitis pada anjing. Hasil kajian literatur mengenai pengobatan untuk hepatitis akut dapat diberikan terapi suportif untuk pemulihan, sedangkan hepatitis kronis idiopatik masih dalam peninjauan. Berbagai macam terapi pengobatan dilakukan dalam pengobatan hepatitis dan didapatkan hasil yang baik dan juga terdapat kematian pada beberapa hewan kasus karena kondisi hewan yang sudah memburuk.
Kajian Pustaka: Faktor-Faktor Risiko Penyakit Mulut dan Kuku pada Hewan Pemamah Biak (Ruminansia) Kecil
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.140

Abstract

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit akut yang sangat menular. Selain itu, virus penyakit mulut dan kuku diketahui menghambat pertumbuhan dan reproduksi pada hewan ruminansia kecil. PMK merupakan penyakit yang sangat penting karena menyerang ternak ruminansia dengan seroprevalensi keseluruhan sebesar 11,48%. Saat ini, wabah penyakit mulut dan kuku sedang meningkat di Indonesia sehingga tulisan ini diharapkan dapat menjadi informasi yang berguna untuk menekan penyebarannya. Tinjauan pustaka yang digunakan pada studi literatur ini yaitu menggunakan penelusuran pustaka dengan melakukan pencarian artikel jurnal yang terkait dengan topik yang akan dibahas yaitu faktor risiko PMK pada ruminansia kecil dari beberapa sumber seperti artikel-artikel pada Frontiers in Veterinary Science dan Google Scholar. Faktor risiko pada hewan ternak ruminansia kecil yang berhubungan dengan seropositif PMK meliputi agroekologi, sistem produksi, umur, jenis kelamin, kontak dengan satwa liar, iklim, ras, interaksi dengan ternak lain, manajemen, dan sanitasi ternak. PMK diduga awalnya terjadi di Italia Utara pada tahun 1514 dan di Afrika Selatan pada tahun 1780. Penyakit ini memiliki morbiditas yang tinggi hingga 100% dan mortalitas yang rendah. Berdasarkan hasil pustaka ini dapat disimpulkan bahwa ditemukan adanya beberapa faktor risiko penyakit mulut dan kuku pada ruminansia kecil terdapat lima yaitu spesies, ras, umur, jenis kelamin, dan asal hewan. Mengingat terbatasnya penelitian yang telah dilakukan hingga saat, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kejadian penyakit mulut dan kuku terutama pada ruminansia kecil.
Kajian Pustaka: Gambaran Klinik dan Penanganan Pankreatitis Akut pada Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.150

Abstract

Pankreatitis akut adalah kondisi inflamasi yang menimbulkan nyeri abdomen dan enzim pankreas diaktivasi secara prematur dan mengakibatkan autodigestif pankreas. Pankreatitis dapat bersifat akut atau kronis, dengan gejala ringan sampai berat. Dilakukan kajian pustaka dari artikel pankreatitis akut yang dilaporkan di seluruh dunia secara online melalui Google Scholar dan PubMed menggunakan kata kunci pencarian “Pancreatitis”, “Acute Pancreatitis”, “Radiograph”, “USG”, dan “CT-Scan”. Dari sembilan kasus yang dibandingkan, ditemukan kesamaan anamnesis, yaitu nyeri perut dan muntah. Hal ini disebabkan karena pankreatitis akut menimbulkan nyeri karena enzim pankreas diaktivasi secara prematur dan mengakibatkan pankreas mengalami autodigestif. Peneguhan diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan hematologi, pemeriksaan radiografi, ultrasonografi (USG), ataupun dengan computerized tomography scan (CT-scan). Temuan yang muncul adalah area lobulasi jaringan hipoekoik yang abnormal pada lobus pankreas dengan pemeriksaan ultrasonografi serta peningkatan kadar lipase dan protein C-reaktif yang merupakan indikator yang bisa digunakan untuk mengetahui terjadinya pankreatitis akut. Penanganan dan pengobatan dilakukan dengan pemberian terapi cairan, obat anti muntah maropitant, antibiotik ampisilin, antibiotik metronidazol, obat asam lambung omeprazole, dan diet rendah lemak. Laparotomi dilakukan pada dua dari sembilan kasus guna meredakan nyeri pada abdomen. Gastrotomi dilakukan pada kasus enam, yaitu pada anjing betina ras Bull terrier berumur dua tahun akibat adanya benda asing (dua buah karet) pada bagian kardiak lambung. Jika anjing mengalami tanda-tanda klinis mengarah ke pankreatitis harap segera dibawa ke klinik hewan untuk diperiksa dan dilakukan pemeriksaan berupa pemeriksaan darah lengkap, biokimia serum, dan ulrasonografi agar diketahui apabila memang terjadi kasus pankreatitis akut dan bisa diberikan treatment lanjutan sehingga peluang anjing pulih dan selamat lebih besar.

Page 2 of 2 | Total Record : 16