cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Educational Psychology Journal
ISSN : 2252634x     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 1 (2013): July 2013" : 10 Documents clear
SELF REGULATED LEARNING DITINJAU DARI GOAL ORIENTATION
Educational Psychology Journal Vol 2 No 1 (2013): July 2013
Publisher : Departement of Psychology, Faculty of Education, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena masih kurangnya pengaturan diri siswa dalam belajar (self regulated learning), di mana hal tersebut dapat berpengaruh negatif pada kualitas dan kuantitas pembelajaran. Perbedaan goal orientation antara mastery goal dengan performance goal dapat menjadi penyebab tinggi rendahnya self regulated learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan self regulated learning ditinjau dari goal orientation siswa SMA Negeri 1 Mertoyudan Kabupaten Magelang. Penelitian ini merupakan penelitian Kuantitatif Komparasi. Subjek penelitian berjumlah 128 siswa yang dibagi menjadi dua kelompok mastery goal dan performance goal. Teknik sampling yang digunakan adalah Probability Sampling berupa Simple Random Sampling, yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Berdasarkan uji perbedaan menggunakan teknik uji t dengan bantuan program SPSS 17.0 for windows diperoleh nilai t = 6,823 dengan nilai signifikansi atau p = 0,000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan self regulated learning antara siswa mastery goal dengan siswa performance goal.      This research is motivated by the phenomenon of the lack of students in self-regulated learning, where it can be a negative influence on the quality and quantity of learning. Difference goal orientation between mastery goal and performance goal may be the cause of high and low self regulated learning. This study aimed to determine differences in self regulated learning in terms of goal orientation students SMAN 1 Mertoyudan Magelang regency. This research is Quantitative Comparison. Subjects numbered 128 students were divided into two groups: mastery goals and performance goals. The sampling technique used is a Simple Random Sampling Probability Sampling, which is taking a sample of members of the population was randomly without regard to existing strata in the population. Based on testing using the difference technique t test with SPSS 17.0 for Windows obtained the value of t = 6.823 with significance or value of p = 0.000. The results show that there are differences in self-regulated learning among students with student mastery goal performance goals.
PENGARUH RELIGIUSITAS TERHADAP KENAKALAN REMAJA
Educational Psychology Journal Vol 2 No 1 (2013): July 2013
Publisher : Departement of Psychology, Faculty of Education, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu masalah yang dihadapi pada masa remaja yaitu adanya masa transisi yang menjadikan emosi remaja kurang stabil. Masa ini sering disebut sebagai masa topan badai (“strum and drang)” yaitu masa yang penuh dengan gejolak akibat pertentangan nilai-nilai. Masa transisi inilah yang menimbulkan kecenderungan munculnya perilaku-perilaku menyimpang atau yang biasa disebut dengan istilah kenakalan remaja. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja. Untuk itu dibutuhkan keyakinan dan pengamalan yang kuat terhadap ajaran-ajaran agama guna mengurangi perilaku-perilaku kenakalan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) pengaruh religusitas terhadap kenakalan remaja; dan 2) seberapa besar sumbangan efektif religiusitas terhadap kenakalan remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 02 Slawi dengan sampel berjumlah 70 siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi satu prediktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara religiusitas dengan kenakalan remaja pada siswa kelas VIII SMP Negeri 02 Slawi. Nilai koefisien korelasi sebesar -0,771 dengan signifikansi sebesar 0,000 dimana p<0,05. Hal ini berarti semakin tinggi religusitas maka semakin rendah perilaku kenakalan remaja, sehingga hipotesis kerja yang diajukan diterima. Hasil uji regresi diperoleh R-Square 0,594 yang berarti religiusitas berpengaruh terhadap kenakalan remaja sebesar  59,4% dan sisanya sebesar 40,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang belum terungkap dalam penelitian ini. Kesimpulannya ada pengaruh religiusitas terhadap kenakalan remaja pada siswa kelas VIII SMP Negeri 02 Slawi Kabupaten Tegal.    One of the problems faced in adolescence is a period of transition which make adolescents less emotionally stable. This period is often referred to as the hurricanes ("shock and Drang)" the turbulent period from conflicting values​​. The transition period is a cause of the emerging trend of deviant behaviors or commonly referred to as juvenile delinquency. Psychologically, juvenile delinquency is a manifestation of the conflicts are not resolved properly in childhood and adolescence. That requires understanding and a strong belief in religious teachings in order to reduce the delinquency behaviors. The purpose of this study was to determine: 1) the influence of religiosity on juvenile delinquency, and 2) the contribution of religiosity effective against juvenile delinquency. This study is a quantitative correlation. The population was eighth grade students of SMP Negeri 02 Slawi the sample was 70 students. The data analysis technique used is regression analysis of the predictors. The results showed that there is a negative relationship between religiosity and delinquency at eighth grade students of SMP Negeri 02 Slawi. Correlation coefficient of -0.771 with a significance of 0.000 where p <0.05. This means that the higher the lower religusitas juvenile behavior, so the proposed working hypothesis is accepted. Regression results obtained R-Square 0.594 which means religiosity affect the delinquency of 59.4% and the remaining 40.6% is influenced by other variables that have not been revealed in this study. In conclusion there is the influence of religiosity on delinquency at eighth grade students of SMP Negeri 02 Slawi Tegal regency.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECURANGAN AKADEMIK PADA MAHASISWA
Educational Psychology Journal Vol 2 No 1 (2013): July 2013
Publisher : Departement of Psychology, Faculty of Education, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecurangan akademik merupakan suatu permasalahan dalam dunia pendidikan yang bisa terjadi dimana saja. Salah satu cara untuk mengatasi masalah kecurangan akademik adalah mengubah perilaku dan persepsi mahasiswa. Subyek penelitian adalah mahasiswa Unnes angkatan tahun 2010 yang berjumlah 250 orang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan jenis deskriptif, pengambilan sampel melalui two stage cluster random sampling yang dilakukan dengan cara merandom fakultas dan merandom jurusan. Pengambilan data menggunakan skala faktor-faktor yang mempengaruhi kecurangan akademik dengan tingkat reliabilitas sebesar 0,905. Skala faktor-faktor yang mempengaruhi kecurangan akademik terdiri dari 41 item yang valid dengan rentang koefisien validitas dari 0,230 sampai dengan 0,735. Analisis data menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tingkat kecurangan akademik yang terjadi pada mahasiswa Unnes angkatan 2010 masih tinggi dengan faktor efikasi diri akademik sebagai faktor paling dominan dan mean empirik faktor efikasi diri akademik sebesar 44.3400. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kecurangan akademik cenderung tinggi pada mahasiswa Unnes angkatan 2010 dengan faktor yang paling berpengaruh adalah faktor efikasi diri akademik.   Academic cheating is an issue in education that could happen anywhere. One way to overcome the problem of academic cheating is to change students attitudes and perceptions. Subjects were Unnes students force in 2010, amounting to 250 peoples. This study uses a quantitative design with a descriptive type, sampling through a two stage cluster random sampling is random by faculty and majors. Data retrieval using scale factors that influence academic cheating with reliability level of 0.905. Scale factors that influence academic cheating consists of 41 items that are valid with the validity coefficients range from 0.230 to 0.735. Data analysis using descriptive analysis. Results of data analysis showed that the level of academic cheating that occurred on Unnes student class of 2010 is still higher by a factor of academic self-efficacy as the most dominant factors and the empirical mean academic self-efficacy factor of 44.3400. Based on the results of this study concluded that academic cheating Unnes students tend to be high in the class of 2010's most influential factor is the factor of academic self-efficacy.
HUBUNGAN ORIENTASI TUJUAN DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI PADA MAHASISWA
Educational Psychology Journal Vol 2 No 1 (2013): July 2013
Publisher : Departement of Psychology, Faculty of Education, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini, banyak permasalahan di dunia pendidikan yang perlu mendapat perhatian. Rendahnya motivasi berprestasi khususnya, tercermin dari kurangnya usaha mahasiswa dalam mengerjakan tugas-tugas prestasi seperti dengan melakukan kecurangan akademik ataupun plagiat. Masih banyak juga mahasiswa yang memilih berhenti atau menunda-nunda mengerjakan tugas, seperti tugas akhir/skripsi. Hal ini salah satunya dapat terjadi karena tingkat orientasi tujuan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara orientasi tujuan (X) dengan motivasi berprestasi (Y) pada mahasiswa Psikologi UNNES. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Psikologi UNNES angkatan tahun 2009 sampai dengan 2012 yang berjumlah 440 mahasiswa. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 110 mahasiswa dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling. Data penelitian diambil menggunakan skala orientasi tujuan dan skala motivasi berprestasi. Skala orientasi tujuan terdiri dari 40 item valid dengan koefisien validitas antara 0,320 sampai 0,708. Sedangkan skala motivasi berprestasi terdiri dari 44 item valid dengan koefisien validitas antara 0,329 sampai 0,692. Koefisien alpha cronbach reliabilitas skala orientasi tujuan adalah 0,911 dan koefisien alpha cronbach reliabilitas skala motivasi berprestasi adalah 0,916. Metode  analisis data dalam penelitian ini adalah analisis korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan positif antara orientasi tujuan dengan motivasi berprestasi pada mahasiswa Psikologi UNNES (nilai r = 0,629 dengan p < 0,01). Peneliti menyimpulkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara orientasi tujuan dengan motivasi berprestasi. Jika orientasi tujuan tinggi maka motivasi berprestasi juga akan tinggi, begitu juga sebaliknya. Mahasiswa yang memiliki orientasi tujuan tinggi akan menggunakan strategi belajar yang lebih adaptif, lebih fokus pada penguasaan tugas, tidak mudah menyerah sehingga motivasi berprestasinya lebih tinggi daripada mahasiswa yang kurang memiliki orientasi tujuan.  Today many problems in education that need attention. The low achievement motivation in particular, reflected a lack of student effort in tasks such as the achievement of academic cheating or plagiarism. There are still many students who choose to stop or delay the task, such as the final project/thesis. This can occur because of one goal orientation level students. This study aims to determine the relationship between goal orientation ( X ) and achievement motivation ( Y ) on UNNES psychology student. This research is correlational. The study population was a psychology student UNNES force of 2009 to 2012 , amounting to 440 students. The number of samples in this study were 110 students by using Simple Random Sampling technique. The data were taken using a scale of goal orientation and achievement motivation scale. Goal orientation scale consists of 40 items with a valid validity coefficient from 0.320 to 0.708. While the achievement motivation scale consists of 44 items with a valid validity coefficients between 0.329 to 0.692. Alpha Cronbach reliability coefficient of goal orientation scale was 0.911 and Alpha Cronbach reliability coefficient of achievement motivation scale is 0.916. Methods of data analysis in this study is the product moment correlation analysis. The results showed a positive relationship between goal orientation and achievement motivation in students UNNES Psychology ( r = 0.629 with p < 0,01 ). Researchers concluded that there was a significant positive relationship between goal orientation and achievement motivation . If the orientation of the high goals of achievement motivation will also be high , and vice versa. Students who have a high goal orientation will use learning strategies more adaptive, more focused on mastering the task, do not give up so motivated underachievement higher than students who lack goal orientation.
HUBUNGAN PERILAKU OVER PROTECTIVE ORANG TUA DAN BULLYING PADA SISWA SEKOLAH DASAR
Educational Psychology Journal Vol 2 No 1 (2013): July 2013
Publisher : Departement of Psychology, Faculty of Education, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bullying telah dikenal sebagai masalah sosial, dimana ditemukan di kalangan anak-anak sekolah. Perilaku bullying pada siswa itu sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor perilaku orang tua. Tujuan penelitian ini adalah menguji secara empirik ada atau tidaknya hubungan antara perilaku over protective orang tua dengan bullying pada siswa SDN Bendan Ngisor Semarang. Subjek penelitian berjumlah 67 orang yang ditentukan menggunakan teknik total sampling (studi populasi). Skala bullying mempunyai 30 item valid dari item awal sejumlah 34 item, dengan rentang koefisien validitas sebesar 0,397 sampai 0,599 serta koefisien reliabilitas sebesar 0,873. Skala perilaku over protective orang tua mempunyai 23 item valid dari item awal sejumlah 30 item, dengan rentang koefisien validitas sebesar 0,391 sampai 0,617 serta koefisien reliabilitas sebesar 0,838. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan positif antara perilaku over protective orang tua dengan bullying pada siswa SDN Bendan Ngisor Semarang dengan nilai r sebesar 0,344 dengan taraf siginifikansi sebesar 5%. Hal tersebut berarti hipotesis diterima.   Bullying has been recognized as a social problem, which was found among school children. Bullying behavior in students themselves are influenced by many factors, such as parental behavioral. The purpose of this study was to test empirically whether there is any relationship between over protective behavior from parent with bullying at school SDN Bendan Ngisor Semarang. Subjects numbered 67 people were determined using total sampling technique (study population). The scale has 30 items bullying valid from the beginning item number 34 items, with a range of validity coefficients of 0.397 to 0.599 and the reliability coefficient of 0.873. Scale behavior over protective parents have 23 valid items from a number of initial items 30 items, with a range of validity coefficients of 0.391 to 0.617 and the reliability coefficient of 0.838. The results showed that the positive relationship between behavior over protective parents with bullying at school SDN Bendan Ngisor Semarang with r values ​​of 0.344 with siginifikansi level of 5%. This means that the hypothesis is accepted.
LATAR BELAKANG RENDAHNYA KESADARAN ORANGTUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK PEREMPUAN
Educational Psychology Journal Vol 2 No 1 (2013): July 2013
Publisher : Departement of Psychology, Faculty of Education, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan merupakan hal mendasar yang wajib dijalankan oleh setiap orang sejak dini. Orangtua mempunyai tanggung jawab besar terhadap kelanjutan masa depan anaknya, karena dengan pendidikan seseorang akan bisa mengembangkan potensi yang ada pada dirinya dan terhindar dari kebodohan. Tetapi kenyataan yang terjadi sekarang masih ada sebagian orangtua yang kurang menyadari pentingnya pendidikan terhadap masa depan anak-anaknya. Mereka mempunyai pertimbangan untuk menyekolahkan anaknya kejenjang yang lebih tinggi, khususnya untuk anak perempuan. Sebagian orangtua beranggapan bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nantinya hanya akan menjadi ibu rumah tangga di rumah dan ilmunya tidak berguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap apa yang melatar belakangi rendahnya kesadaran orangtua terhadap pendidikan anak perempuan di desa Tambakan, Gubug, Grobogan. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Unit analisis dalam penelitian ini adalah latar belakang rendahnya kesadaran orangtua terhadap pendidikan anak perempuan. Narasumber utama dalam penelitian ini sebanyak enam orang, yaitu tiga pasang orang tua. Sedangkan narasumber sekunder sebagai pendukung data dalam penelitian ini tiga orang, yaitu anak perempuan dari masing-masing orang tua. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara semi terstruktur, dan teknik keabsahan data penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian diperoleh terdapat enam hal yang melatar belakangi rendahnya kesadaran orangtua terhadap pendidikan anak perempuan, antara lain: pendidikan orangtua yang rendah, budaya religiusitas, keadaan ekonomi, perilaku modelling, sosial budaya, dan persepsi terhadap masa depan anak perempuan.    Education is fundamental thing that must be run by everyone early on. Parents have a great responsibility for the continuation of their children's future, because with education a person will be able to develop their potential and to avoid stupidity. But the fact is happening now there are some parents who are less aware of the importance of education to the future of their children. They have consideration to send their child to a higher level of school, especially for girls. Most parents assume that girls don't need high school because they would just be a housewife at home and their knowledge is useless. This research aims to uncover what thing that influence the low awareness of parents for girls education in village Gubug, Grobogan, Tambakan. Research methods that be used is qualitative research methods with the case study approach. The unit of analysis in this research is the low awareness of parental background on girls' education. The main informant in this research as many as six people, three pairs of parents, while the secondary informant as supporting data in this research are three people, they are daughters of each parent. Techniques to collect the data in this research uses a semi structured interview techniques, and the validity of this research data using triangulation of sources. The research results obtained there are six things behind the low awareness of parents towards the education of girls, there are: low parental education, religiosity culture , economic circumstances, behavioral modelling from previous parent, social culture, and perceptions of the future of the daughters.
HUBUNGAN ANTARA MANAJEMEN WAKTU DENGAN SELF REGULATED LEARNING PADA MAHASISWA
Educational Psychology Journal Vol 2 No 1 (2013): July 2013
Publisher : Departement of Psychology, Faculty of Education, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mencari dan mengetahui manajemen waktu dengan self regulated learning pada mahasiswa Universitas Negeri Semarang yang menyusun skripsi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Penelitian ini dilaksanakan di Kampus UNNES Jurusan Psikologi dan BK. Subjek penelitian berjumlah 62 mahasiswa. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sample. Self regulated learning diukur dengan skala Self regulated learning. Skala Self regulated learning mempunyai nilai reliabilitas sebesar 0,954. Skala Self regulated learning mempunyai 40 item valid. Sedangkan manajemen waktu diukur dengan skala manajemen waktu. Skala manajemen waktu mempunyai nilai reliabilitas sebesar 0,932. Skala manajemen waktu mempunyai 34 item valid. Uji korelasi menggunakan teknik korelasi product moment yang dikerjakan menggunakan bantuan program SPSS 17.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara manajemen waktu dengan self regulated learning. Korelasi antara manajemen waktu dengan self regulated learning diperoleh koefisien r = 0,925 dengan signifikansi atau p = 0,000. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara manajemen waktu dengan self regulated learning pada mahasiswa Universitas Negeri Semarang yang menyusun skripsi.   This study aimed to explore and determine the relationship between time management self regulated learning. This research is a quantitative correlation. This research was conducted on the campus of Semarang State University majoring in psychology and guidance counseling. Subjects numbered 62 college student. The sampling technique used was purposive sample. Self regulated learning is measured on a scale of self regulated learning. Self regulated learning scales have reliability coefficient of 0.954. Self regulated learning scale consists of 40 items that are valid. While time management as measured by the scale of time management. Scale time management has a reliability coefficient of 0.932. Time management scale consists of 34 items that are valid. Test correlation product moment correlation techniques were done using SPSS 17.0 for windows. The results showed that there is a positive relationship between time management self regulated learning. The correlation between social intelligence assertive behavior obtained coefficient r = 0.925 with a significance or p = 0.000. It shows that there is a significant positive relationship between time management self regulated learning on student writing his thesis at Semarang State University.
HUBUNGAN KESIAPAN BELAJAR DENGAN OPTIMISME MENGERJAKAN UJIAN
Educational Psychology Journal Vol 2 No 1 (2013): July 2013
Publisher : Departement of Psychology, Faculty of Education, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini di latarbelakangi oleh fenomena mengenai kurangnya rasa optimisme yang dimiliki oleh siswa ketika mengerjakan ujian di SMA Negeri 3 Pekalongan. Penyebabnya antara lain kurangnya persiapan-persiapan dalam belajar yang dimiliki oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Kesiapan dalam belajar dengan optimisme siswa dalam mengerjakan ujian. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Subjek pada penelitian ini berjumlah 105 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan dalam belajar dengan optimisme siswa dalam mengerjakan ujian saling mempengaruhi dimana semakin tinggi kesiapan dalam belajar semakin tinggi pula optimisme siswa dalam mengerjakan ujian begitu juga sebaliknya semakin rendah kesiapan dalam belajar semakin rendah pula optimisme siswa dalam mengerjakan ujian.   Background of this study is about the phenomenom of less optimistic that the students have when they do their test in SMA Negeri 3 pekalongan. The cause is less preparation in studying. This study is to know the relation of well preparation in studying and the optimistic when the students do their test. This is a correlation quantitive research. Subject of this study is 105 students. Sample.technique that is used is cluster sampling. The result of the study showed that the preparation in studying and students' optimistic in doing the test are involving which the more preparation in studying the students did, the more students' optimistic will be seen. In the other hand, the less preparation that students did, the less students'  optimistic will be seen.
HUBUNGAN SELF REGULATED LEARNING DENGAN KECURANGAN AKADEMIK MAHASISWA
Educational Psychology Journal Vol 2 No 1 (2013): July 2013
Publisher : Departement of Psychology, Faculty of Education, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecurangan akademik semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kecurangan akademik akan memberikan dampak negatif bagi para pelakunya, baik secara moral, psikologis, dan sosial. Oleh karena itu, dibutuhkan pengaturan diri mahasiswa, dan manajemen waktu mahasiswa untuk menghadapi kesulitan dalam mencapai tujuan belajar supaya meminimalisir terjadinya kecurangan akademik pada mahasiswa, hal ini berkaitan dengan self regulated learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self regulated learning (X) dengan kecurangan akademik (Y) pada mahasiswa Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang angkatan tahun 2008 - 2011. Populasi dalam penelitian ini adalah 380 mahasiswa. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 110 mahasiswa, teknik sampling digunakan adalah teknik Probability Sampling berupa Simple Random Sampling, yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Data penelitian diambil menggunakan skala kecurangan akademik dan skala self regulated learning. Metode analisis data yang digunakan dengan korelasi Product Moment. Peneliti menyimpulkan hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan  negatif antara self regulated learning dengan kecurangan akademik tidak terbukti.   Academic cheating is increasing from year to year. Academic fraud will be a negative impact on the perpetrators, both morally, psychologically, and socially. Therefore, it takes a student self-regulation, and time management for students facing difficulties in achieving the learning objectives so as to minimize the occurrence of academic fraud on the students, this is related to self-regulated learning. This study aimed to determine the relationship between self-regulated learning (X) with academic cheating (Y) in the Faculty of Education Psychology student Semarang State University. This study is correlational. The population in this study were students of Psychology Faculty of Education Semarang State University class of 2008 - 2011. The population was 380 students. The number of samples in this study were 110 students, sampling techniques used are techniques such as Simple Random Sampling Probability Sampling, which is taking members of the sample population was randomly without regard to the existing strata in the population. The research data were taken using a scale of academic fraud and self-regulated learning scale. The method of data analysis used by the Product Moment Correlation. The researchers concluded that the results showed a negative relationship between self-regulated learning with academic cheating is not proven.
PENYESUAIAN SOSIAL PADA PENYANDANG TUNARUNGU DI SLB NEGERI SEMARANG
Educational Psychology Journal Vol 2 No 1 (2013): July 2013
Publisher : Departement of Psychology, Faculty of Education, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecacatan dalam pendengaran menyebabkan remaja tunarungu tidak mampu memahami suatu kejadian atau kebutuhan secara tepat. Remaja tunarungu berpangkal pada gangguan yang dialami dari kesulitannya menyampaikan pikiran, perasaan, emosi, gagasan, kebutuhan, dan kehendaknya pada orang lain, sehingga kebutuhan mereka tidak terpuaskan secara sempurna. Keterbatasan dalam pendengaran menyebabkan remaja tunarungu tidak mampu berkomunikasi dengan baik. Adanya gangguan komunikasi secara tidak langsung remaja tunarungu juga mengalami kesulitan dalam berinteraksi sehingga remaja tunarungu menjadi terisolasi atau merasa dikucilkan oleh lingkungan sosialnya karena sulit baginya untuk dapat menyesuaikan dirinya pada lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan mengetahui penyesuaian sosial khususnya remaja tunarungu. Subjek penelitian (N= 5) adalah murid SMALB di SLB Negeri Semarang. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara (terhwadap subjek, guru, 5 orang teman subjek dan 5 orang tua subjek) dan tes psikologi DAM (Draw A Man). Hasil penelitian yang dipaparkan secara deskriptif kualitatif menunjukan bahwa subjek pada penelitian ini cenderung memiliki rasa kurang percaya diri dan minder. Kurangnya rasa percaya diri, inilah yang memunculkan sikapnya di masyarakat. Hal ini menunjukan bahwa remaja tunarungu lebih senang berkumpul dengan komunitasnya yaitu sesama penyandang tunarungu sehingga penyesuaian sosial remaja tunarungu menjadi terhambat. Simpulan dari penelitian ini adalah rasa kurang percaya diri yang dimilikinya membuat remaja menjadi minder, sehingga penyesuaian sosial remaja menjadi terhambat.    Causes of hearing disability in adolescents with hearing impairment are not able to communicate well, this causes limitations in speaking experience problems in social adjustment. Although it may look, but they often misinterpret something. This study aims to determine the social adjustment of deaf adolescents in particular. Research subjects (N = 5) was a student at SLB Semarang State SMALB. Methods of data collection through observation, interviews (to subject, teacher, 5 friends elderly subjects and 5 subjects) and psychological tests DAM (Draw A Man). The results are presented in descriptive qualitative showed that five subjects in this study tended to have a sense of lack of confidence and low self-esteem. Lack of self-confidence and this is what led to his mindernya environment. This suggests that adolescents with hearing impairment prefer to hang out with the deaf community than the normal person in general so that deaf children's social adjustment, respectively. Conclusions from this research is a lack of confidence that has enabled children to be inferior, so the social adjustment of children being stunted or low.

Page 1 of 1 | Total Record : 10