cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Indonesian History
ISSN : 22526633     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Journal of Indonesia History merupakan jurnal yang memuat artikel hasil penelitian atau artikel konseptual tentang pendekatan kajian sejarah dan sejarah Indonesia. Jurnal ini diterbitkan oleh Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNNES dan dikelola oleh Tim Jurnal Jurusan Sejarah FIS-UNNES. Jurnal ini terbit 2 kali setiap tahunnya pada bulan Juli dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 278 Documents
PERKEMBANGAN MASYARAKAT PENGRAJIN BATIK TULIS SALEM KABUPATEN BREBES TAHUN 1960-2002 Iskandar, Rudi
Journal of Indonesian History Vol 3 No 1 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batik is a craft that has high artistic value and has become part of the culture of Indonesia, especial-ly Java community. Javanese women made their skills in batik for a living, so in the past, batik work is womens work. Issues to be studied are (1) how the history of batik Salem? (2) how the de-velopment community batik Salem in 1960-2002? (3) how the impact on the community batik Sa-lem District of Salem, Brebes ?. These results indicate that the hand batik craft Salem is inherited from generation to generation. Batik Salem initiated by an officer of Pekalongan daughter is Mrs. Sartumi who came to Salem in the 1900s, then married a young man from the District of Salem, Mr Masutarso, and they settled in Salem Bentarsari and precisely in the village to teach batik the local community. Of the incident batik began to appear in the District of Salem. In addition to giv-ing effect to the social conditions, the existence of batik Salem also gave a considerable impact on the economic conditions of the surrounding community. The direct impact the existence of batik Salem is creating jobs for the people of Salem District of Salem District of the community so that the economy is getting better. Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indo-nesia khususnya masyarakat Jawa. Perempuan-perempuan Jawa menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga dimasa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan perempuan. Permasalahan yang akan dikaji adalah (1) bagaimana sejarah batik tulis Salem? (2) bagaimana perkembangan masyarakat batik tulis Salem tahun 1960-2002? (3) bagaiman dampak batik tulis Salem terhadap masyarakat Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes?. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa batik tulis tangan Salem merupakan kerajinan yang diwariskan secara turun temurun. Batik tulis Salem dirintis oleh seorang putri pejabat dari Pekalongan yaitu Ibu Sartumi yang datang ke Salem pada tahun 1900-an, kemudian menikah dengan pemuda yang berasal dari Kecamatan Salem yaitu Bapak Masutarso, lalu menetap mereka di Salem tepatnya di Desa Bentarsari dan mengajarkan batik tulis kepada masyarakat setempat. Dari kejadian tersebut batik tulis mulai muncul di Kecamatan Salem. Selain memberikan pengaruh terhadap kondisi so-sial, keberadaan batik tulis Salem juga memberi dampak yang cukup besar terhadap kondisi ekonomi masyarakat sekitar. Dampak langsung yang ditimbulkan adanya batik tulis Salem adalah membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Kecamatan Salem sehingga perekonomian masyarakat Kecamatan Salem semakin membaik.
REVITALISASI BANGUNAN CAGAR BUDAYA KABUPATEN KUDUS TAHUN 2005-2010 Nugroho, Adi
Journal of Indonesian History Vol 3 No 1 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of the research thesis: (1). To find out the publics attention to the views and heritage buildings in the Holy. (2). To determine the condition of heritage buildings that have been and are yet revitalized .. The benefits that can be obtained in this study are: to provide more knowledge about the revitalization of the heritage buildings, to provide an understanding of the public about the preservation of heritage buildings budaya.Hasil this study shows most of the buildings have been revitalized, although there are still buildings that has not been revitalized and there are still some heritage buildings damaged in very small amounts. Holy communities aware of the im-portance of preservation of cultural heritage buildings. Forms and parisipasi attention of the people living around the BCB in the form of places of worship is usually indicated by participation in the jazz tradition / rituals, perform prayers together in a place of worship (in the same belief), do work wll any particular month. In communities where tourism is generally livelihood as traders, they usually form perhatianya clean up the garbage that comes from merchandise, and for merchants who do not usually pay taxes for the cost of cleaning, and the people who live around the BCB private or individual forms usually perhatianya indicated by the admonition at the jail who often scribble wall even damage the building. Tujuan dari penelitian skripsi yaitu (1). Untuk mengetahui pandangan dan perhatian masyarakat terhadap bangunan cagar budaya di Kudus. (2). Untuk mengetahui kondisi bangunan cagar bu-daya yang sudah dan yang belum direvitalisasi.. Manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini yaitu: untuk memberikan pengetahuan lebih tentang revitalisasi pada bangunan cagar budaya, un-tuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat mengenai pelestarian bangunan cagar bu-daya.Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar bangunan sudah mengalami revitalisasi, meskipun masih ada bangunan yang belum direvitalisasi dan masih ada beberapa bangunan cagar budaya mengalami kerusakan dalam jumlah yang sedikit. Masyarakat Kudus sadar akan pent-ingnya pelestarian bangunan cagar budaya. Bentuk perhatian dan parisipasi pada masyarakat yang tinggal di sekitar BCB yang berupa tempat peribadatan biasanya ditunjukan dengan keikutsertaan dalam meramaikan tradisi/ritual yang ada, melakukan sembahyang bersama-sama di tempat iba-dah tersebut (dalam keyakinan yang sama), melakukan kerja bhakti setiap bulan tertentu. Pada masyarakat sekitar tempat pariwisata umumnya bermata pencaharian sebagai pedagang, bentuk perhatianya biasanya mereka membersihkan sampah yang berasal dari dagangannya, dan bagi pedagang yang tidak melakukannya biasanya membayar pajak untuk biaya kebersihan, dan pada masyarakat yang bermukim di sekitar BCB milik swasta maupun perseorangan bentuk perhatianya biasanya ditunjukkan dengan peneguran pada orang jail yang sering mencoret-coret dinding bahkan merusak bangunan tersebut.
PENGARUH KEBERADAAN RUMAH SAKIT LEPRA PLANTUNGAN KENDAL TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKATNYA 1958-1964 Wachid, Hasan
Journal of Indonesian History Vol 1 No 2 (2012): Journal of Indonesian History
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

LAWEYAN DALAM PERIODE KRISIS EKONOMI HINGGA MENJADI KAWASAN WISATA SENTRA INDUSTRI BATIK TAHUN 1998-2004 Majah, Ibnu
Journal of Indonesian History Vol 3 No 2 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laweyan is an unique, specific and historic area of ​​industrial centers of batik. In these developments, Laweyan has experienced the various dynamics of peoples lives. Laweyan entered a difficult period due to the economic crisis in 1997. After that, at the beginning of the Reformation era Laweyan condition gradually recovering. The results of the research showed that in post-crisis of economic in 1997 Laweyan conditions was undergone various changes. The economic conditions improved gradually returned, with the growth of new types of businesses in Laweyan. Laweyan society also become more open, after previously known as a closed society. In addition, Laweyan also began returning to preserve cultural traditions after almost gone. The conditions was more grow after the formation Laweyan as a tourist area in 2004. The establishment of that is start from the concerns of employers and community leaders in Laweyan against Laweyan potention. Then formed a forum with tasked to managing Laweyan as a tourism area. Post-declarations of Kampoeng Batik Laweyan on October 24th 2004, the forum also officially as Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) or Kampoeng Batik Laweyan Development Forum.  
SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT BADUY PASCA TERBENTUKNYA PROPINSI BANTEN TAHUN 2000 Bintari, Risna
Journal of Indonesian History Vol 1 No 1 (2012): Journal of Indonesian History
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DAMPAK KERUSUHAN MEI 1998 TERHADAP PENGU-SAHA ETNIS TIONGHOA DI PETUKANGAN JAKARTA TAHUN 1998-2003 Hutahaean, Juliandry
Journal of Indonesian History Vol 3 No 1 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riots insecurity situation which is often the case in big cities such as the capital Jakarta. One is the May 1998 riots in Jakarta, unrest coinciding with the anti-Chinese issue also occurs in the area of Petukangan Jakarta, many Chinese businessmen in this place. he purpose of this study was to de-termine the impact of the May 1998 riots against Chinese Entrepreneurs in Petukangan Year 1998-2003. The method in this study is based on historical research methods, namely (1) heuristics, (2) a source of criticism, (3) interpretation, and (4) historiography. Techniques to get the source, re-searchers do with observation, interviews, documentation, literature, and study documents. The results of this research is May 1998 riot is a riot that occurs spontaneously, but there is the element of intent and arranged systematically and simultaneously with the issue of anti-Chinese hatred. In the riot of ethnic Chinese businessmen in the area Petukangan also had an immediate impact as a result of looting and destruction, but they prefer to survive and continue to trade in the area Petukangan even developed until now. Kerusuhan adalah situasi ketidakamanan yang sering terjadi di kota-kota besar seperti di ibu kota Jakarta. Salah satunya adalah kerusuhan Mei 1998 yang terjadi di Jakarta, kerusuhan yang bersamaan dengan isu anti Tionghoa ini juga terjadi di daerah Petukangan Jakarta, banyak pengusaha Tionghoa di tempat ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak kerusuhan Mei 1998 terhadap Pengusaha Tionghoa di Petukangan Tahun 1998-2003. Metode da-lam penelitian ini berdasarkan metode penelitian sejarah, yaitu(1) heuristik, (2) kritik sumber, (3) interpretasi, dan (4) historiografi. Teknik mendapatkan sumber, peneliti lakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi, studi pustaka, dan studi dokumen. Hasil penelitian ini yaitu kerusuhan Mei 1998 adalah kerusuhan yang terjadi secara spontanitas namun ada unsur kesengajaan dan ter-susun secara sistematis dan bersamaan dengan isu kebencian anti Tionghoa. Dalam kerusuhan tersebut pengusaha etnis Tionghoa di daerah Petukangan juga mengalami dampak langsung akibat penjarahan dan pengrusakan, namun mereka lebih memilih bertahan dan tetap berdagang di dae-rah Petukangan bahkan berkembang sampai dengan saat ini.
PERKEMBANGAN MUSEUM SITUS SANGIRAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP ILMU PENGETAHUAN TAHUN 1974-2004 Ernifiati, Emmy
Journal of Indonesian History Vol 1 No 2 (2012): Journal of Indonesian History
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERKEMBANGAN PERKERETAAPIAN PADA MASA KOLONIAL DI SEMARANG TAHUN 1867-1901 Ratnawati, Yusi
Journal of Indonesian History Vol 3 No 2 (2014): Journal of Indonesian History
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semarang chosen as the initial construction of railroads because the city has an important role for government Kolonila Netherlands. In addition to administration as the city of Semarang also serve as a center of trade, especially sugar at that time became the main commodity. The development of railways in Semarang very rapidly even to say Semarang is a center for the development of railways. There are at least six stations in the city of Semarang is Kemijen station, station Jurnatan, Jomblang station, Pendikran stations, stations and station Tawang Poncol. Based on the research that has been done can be obtained information that (1) the history of railways in Indonesia began with the construction of a rail network that connects between Semarang-Vorstenlanden under the supervision of NISM. Construction of the railroad network continues to spread throughout the islands of Java and outside Java. Implementation of development carried out by the SS and SSS which is owned by the Government. (2) The development of transport, railways in Semarang started with the construction of a railway between Semarang (Kemijen) and responsibilities. In 1900 the railway industry in Hyderabad is increasing with the presence of several private companies that build roads tram. (3) The role perkretaapian in Semarang accelerate the mobility of people in the city of Semarang. This is because the increase in plantation crops and agriculture encourages the Government of the Netherlands East Indies add ground transportation that can penetrate into the interior regions of Central Java at a cost that is cheaper, faster to transport the plantation and agriculture in a large capacity so the government built a railroad.  
TATA KOTA DAN PEREKONOMIAN BATANG TAHUN 1986-1998 Afikah, Zuni
Journal of Indonesian History Vol 1 No 1 (2012): Journal of Indonesian History
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejarah Undang-Undang Perkawinan Atas Pendapat Hingga Pertentangan dari Masyarakat dan Dewan Perwakilan Rakyat Tahun 1973-1974 Rifai, Ahmad; Sodiq, Ibnu; Muntholib, Abdul
Journal of Indonesian History Vol 4 No 1 (2015): JIH
Publisher : Journal of Indonesian History

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses terbentuknya UU Perkawinan No 1 Tahun 1974 berawal dari inisiatif pemerintah sendiri untuk membahasnya dilingkup DPR setelah sekian lama berbagai masukan silih berganti dari organisasi wanita untuk secepatnya dibuat UU perkawinan yang baru, proses tersebut memakan waktu hingga 7 bulan yaitu dari pemerintah menyerahkan hasil RUU perkawinan yang dibuat oleh DPRGR hingga sampai semua fraksi menyetujui pasal demi pasal yaitu dari 77 pasal menjadi 66 pasal. Namun banyak pertentangan antar fraksi yang terjadi saat akan disahkanya RUU perkawinan tersebut, dari fraksi Persatuan berpandangan bahwa RUU tersebut banyak yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan ini juga didukung oleh sebagian masyarakat dan organisasi Islam untuk merevisi pasal-pasal tersebut. Fraksi lainya justru berpandangan lain seperti dari fraksi Karya yang menggangap RUU tersebut sudah pas untuk dijadikan UU Perkawinan karena sudah banyak menyoroti kaum perempuan untuk urusan berumah tangga, hal ini juga didukung oleh pemerintah dan fraksi ABRI, sedangkan fraksi PDI bersikap netral dan hanya menyoroti masalah poligami dan monogaminya saja. Setelah disahkan pada 2 Januari 1974 oleh pemerintah dampak yang terjadi adalah wanita memiliki hak dalam urusan berumah tangga terutama dalam hal poligami, perceraian dan poligami pun menjadi berkurang serta biaya untuk membayar pensiunan PNS yang poligami menjadi dapat ditekan, namun dari hal itu dampak lain juga bermunculan seperti banyaknya perkawinan sirri serta semakin banyaknya masalah sosial akibat dari susahnya poligami.

Page 4 of 28 | Total Record : 278