cover
Contact Name
Resmi Bestari Muin
Contact Email
resmi.bestari@mercubuana.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
resmi.bestari@mercubuana.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Rekayasa Sipil
ISSN : 22527699     EISSN : 25985051     DOI : -
Program Studi Teknik Sipil Universitas Mercu Buana. Jurnal ini terbit pertama kali pada bulan Februari 2012. Naskah dalam jurnal ini berupa hasil penelitian, inovasi – inovasi baru, makalah teknik (makalah lengkap), diskusi (berdasarkan makalah yang terbit sebelumnya) dalam bidang Teknik Sipil. Untuk mengirimkan atau mengupload naskah dapat menghubungi email: rekayasa.sipilumb@mercubuana.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2017)" : 6 Documents clear
ANALISIS FAKTOR CHANGE ORDER PADA PROYEK PEKERJAAN BANGUNAN AIR Dikdik Moh. NS
Rekayasa Sipil Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Change Order hampir dipastikan terjadi dalam proyek konstruksi, agar proyek dapat terselesaikan dengan tujuan memenuhi keinginan dan harapan pengguna jasa, tetapi bila terlalu banyak terjadi Change Order pada proyek konstruksi akan merugikan. Apalagi pada konstruksi bangunan air tingkat Change Order cukup sering hal tersebut harus diminimalisasi dengan diidentifikasi apa yang menjadi penyebab terjadinya Change Order. Pada penelitiaan ini dilakukan penelusuran apa yang menjadi faktor penyebab Change Order proyek bangunan air dengan studi kasus proyek-proyek pemerintah Daerah di Wilayah Kabupaten Kuningan. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan analisi Deskriptif. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan lima faktor yang paling dominan terjadinya Change Oeder adalah (1) Masalah kontraktor, (2) Kondisi fisik lapangan, (3) Perubahan ruang lingkup, (4) Masalah konsultan pengawas/pengawas internal dan (5) Kesalahan atau kelalaian dalam desain, (6) Masalah di lokasi proyek, (7) Kebijakan pemilik proyek, (8) Kendala keamanan dan keselamatan, (9) Masalah pembiayaan proyek dan apabila dilihat dari unsur pemangku kepentingan Change Order lebih banyak disebabkan oleh penyedia jasa.
ANALISIS SIFAT FISIK DAN MEKANIK BATA BETON DI YOGYAKARTA Hakas Prayuda; Hanif Nursyahid; Fadillawaty Saleh
Rekayasa Sipil Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bata beton di Indonesia merupakan bahan material yang sudah lama dikenal dan banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Bata beton terdiri dari dua jenis yaitu bata beton berlubang dan bata beton pejal. Di Indonesia khususnya wilayah Yogyakarta banyak sekali pabrik-pabrik pembuat bata beton, akan tetapi pada proses pembuatannya sering dijumpai masalah yaitu bata beton yang dibuat tidak diketahui memenuhi standar dan tidak. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil 10 sampel dari 10 lokasi tempat diempat kabupaten di wilayah Yogyakarta. Pemeriksaan awal di lapangan meliputi pemeriksaan komposisi material yang digunakan, jenis material dan metode pembuatan. Pemeriksaan ke dua dilakukan meliputi pengujian sifat fisik yaitu menganalisa dimensi/ukuran, tekstur/bentuk, dan sifat mekanik yaitu pengujian densitas, penyerapan, kadar air, berat jenis dan Initial Rate of Suction (IRS), kuat tekan dan modulus elastisitas.
TINJAUAN GEOTEKNIK TERHADAP ANALISA USULAN PEKUATAN LERENG (RUAS JALAN JATIMALANG – KARANGGEDE BTS JATENG, STA 2+250 ) Fendi Hary Yanto; Supriharini Krislinawati
Rekayasa Sipil Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Longsoran di wilayah Kabupaten Pacitan umumnya terjadi pada daerah berbukit. Penambahan kapasitas jalan di Provinsi Jawa Timur pada umumnya dan Kabupaten Pacitan khususnya, adalah untuk memperlancar arus mobilisasi masyarakat dan bukan untuk mengurangi kemantapan stabilitas lereng. Faktor curah hujan yang tinggi menyebabkan banyak lereng mengalami longsor, disamping oleh faktor geologi, morpologi dan hidrologi. Longsor terjadi karena menurunnya kemantapan lereng, degradasi tanah atau batuan dan kondisi hutan yang sebagian sudah rusak. Dalam paper ini dibahas tinjauna geoteknik terhdap usulan perkuatan pada ruas jalan kabupaten yaitu ruas jalan Jatimalang – Karanggede – Batas Jawa Tengah Kabupaten Pacitan Sta. 2 +250. Penelitian kemantapan stabilitas lereng ini menggunakan metode analisis kuantitatif. Penelitian dilakukan dengan mengevaluasi stabilitas lereng atas dan bawah eksisting pada Sta.2+250, dan membuat desain rencana penanganan untuk lereng atas dengan struktur trap atau terasiring dengan kemiringan lereng 40o, 45o, 50odan60o. dan Soil Nailing. Sedangkan untuk lereng bawah dengan dinding penahan tanah gravitasi. Analisis awal stabilitas lereng dengan software GeoSlope 2007 Stabilitas lereng atas dengan struktur trap atau terasiring, tanpa ada perkuatan tambahan tidak meningkatkan angka fakor aman lereng, sehingga analisis dilanjutkan dengan perkuatan soil nailing Berdasarkan analisa dengan perkuatan soil nailing, yang menggunakan nail bar sesuai dengan standar ASTM A615, dengan daya dukung tarik 420 MPa (60 ksi atau Grade 60) atau 525 MPa (75ksi atau Grade 75) panjang nail bar 12 m. Ukuran variasi diameternya 25, 29, dan 32. Sehingga dengan memperbesar diameter nail akan meningkatkan stabilitas lereng. Untuk stabilitas lereng bagian bawah dibangun dinding penahan tanah tipe gravitasi dengan variasi dimensi.
MODEL ADOPSI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI Diki Heryadi
Rekayasa Sipil Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk meningkatkan kinerja organisasi, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) diadopsi ke dalam Manajemen Proyek Konstruksi (MPK) oleh Organisasi Penyedia Jasa Konstruksi (OPJK) dalam bentuk Sistem Informasi Manajemen Proyek Konstruksi (SIM-PK). Namun, adopsi tersebut dinilai lambat, meskipun ada cukup banyak penelitian mengenai manfaat potensial SIM-PK yang dapat diperoleh OPJK. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai proses adopsi SIM-PK dinilai akan dapat memudahkan OPJK dalam mengambil manfaat potensial TIK di dalam MPK mereka, sehingga tujuan peningkatan kinerja organisasi dapat tercapai. Tulisan ini meninjau model adopsi SIM-PK yang dilakukan OPJK ke dalam proses bisnis MPK mereka. Tinjauan dilakukan menggunakan pendekatan ICT-enabled organization transformation dari sejumlah jurnal baru-baru ini. Model adopsi digambarkan dalam bentuk diagram alur dan analisis terhadap temuan jurnal dilakukan secara deskripsi untuk menjelaskan bagaimana OPJK mengadopsi SIM-PK ke dalam MPK mereka. Selain itu, dilakukan diskusi mengenai beberapa kondisi adopsi yang mungkin dialami OPJK. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa proses adopsi SIM-PK merupakan serangkaian tahap-tahap yang perlu dilakukan OPJK. Ada sejumlah pihak pemangku kepentingan di dalam dan di sekitar OPJK yang berperan penting pada setiap tahap proses adopsi SIM-PK ke dalam proses bisnis MPK mereka. Selain itu, ada sejumlah inersia organisasi yang perlu diantisipasi OPJK agar proses adopsi dapat menuju kepada peningkatan kinerja organisasi.
KOMPARASI KECUKUPAN INFRASTRUKTUR DI KORIDOR JAWA Peter F Kaming; Ferianto Raharjo
Rekayasa Sipil Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menilai kecukupan infrastruktur koridor Jawa. Penelitian ini melibatkan lebih dari 179 insinyur sipil yang bekerja di berbagai latar belakang profesi sebagai peserta dan merilis nilai baru untuk berbagai infrastruktur di Koridor Jawa, termasuk jalan-jalan regional dan jembatan, transit, kereta api, sistem air bersih, energi, pariwisata, bendungan dan irigasi, dan fasilitas penting lainnya. Penelitian ini mengadopsi pada ASCE dan infrastruktur Australia metodologi rapor. Propinsi yang dipilih dalam penelitian ini adalah: Banten, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Teridentifikasi dari studi ini peringkat rata-rata infrastruktur koridor Jawa adalah "D+". Peringkat D+ berarti bahwa infrastruktur dalam sistem atau jaringan kurang memadai; itu menunjukkan tanda-tanda kerusakan atau berfungsi namun tidak terlayaninya kebutuhan pengguna dan memerlukan perhatian khusus sesuai dengan kebutuhan infrastruktur jangka panjang. Beberapa elemen menunjukkan kekurangan yang signifikan dalam kondisi dan fungsi, dengan meningkatnya kerentanan terhadap risiko. Studi ini memberikan banyak informasi tentang dampak infrastruktur yang tidak memadai, dan juga berfokus pada cara-cara pemerintah propinsi di koridor Jawa dapat mulai menangani ini kekurangan kritis.
FUNGSI-FUNGSI KELEMBAGAAN UTAMA DALAM PEMBENTUKAN UNIT PENGELOLA IRIGASI MODERN DI INDONESIA: SEBUAH REKOMENDASI UNTUK PENERAPAN KEBIJAKAN Bangkit A Wiryawan; Gitta Anggraini; Astari Febriani Setiawan
Rekayasa Sipil Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembentukan unit pengelola irigasi di Indonesia merupakan amanat yang tertera dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. Kebutuhan ini didasari pada masih lemahnya upaya pengelolaan jaringan irigasi. Dari 3,3 juta hektar luas jaringan, sebanyak 52% berada dalam kondisi buruk pada tahun 2014. Untuk itu pembentukan unit irigasi yang dibawahi oleh seorang manajer merupakan langkah yang dianggap tepat untuk meningkatkan kondisi jaringan. Penelitian ini mencoba menemukenali faktor-faktor utama yang perlu ada dalam pembentukan sebuah kelembagaan pengelola irigasi modern (UPIM). Upaya tersebut dilakukan melalui audit pelaksanaan kegiatan operasi dan pemeliharaan irigasi di daerah irigasi kewenangan pusat, baik yang dilaksanakan melalui mekanisme swakelola maupun melalui tugas pembantuan. Hasil temuan lapangan kemudian dianalisa melalui metode SWOT, diikuti dengan penentuan faktor-faktor kunci keberhasilan pengelolaan. Terdapat lima temuan fungsi utama pengelolaan irigasi modern dari hasil penelitian ini yaitu; (1) pemrograman dan sistem informasi, (2) pengendalian operasi dan pemeliharaan, (3) pengamanan irigasi, (4) knowledge center dan pengembangan SDM, dan (5) fungsi penyuluhan dan tata guna air (PTGA). Adanya fungsi knowledge center dan PTGA merupakan inovasi manajemen yang menjadi keunggulan dalam penelitian ini. Seluruh fungsi tersebut kemudian disusun dalam sebuah struktur kelembagaan yang didasarkan pada tipologi masing-masing daerah irigasi. Untuk kelancaran penerapan UPIM, diperlukan dukungan berupa surat keputusan serta pedoman pelaksanaan yang dapat dipahami oleh seluruh stakeholder.

Page 1 of 1 | Total Record : 6