cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 28, No 3 (2016): Desember" : 22 Documents clear
Persentase maloklusi angle kelas II divisi 1 pada anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulutPercentage of angle class II division 1 malocclusion in children with mouth breathing habits Sharina Yuanisa; Isnaniah Malik; Risti Saptarini Primarti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.699 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18701

Abstract

Pendahuluan: Maloklusi merupakan keadaan patologi oral dengan prevalensi tertinggi urutan ketiga setelah karies gigi dan penyakit periodontal.1 Keadaan maloklusi seringkali mempengaruhi kesehatan jaringan periodontal dan menyebabkan peningkatan prevalensi karies gigi dan permasalahan sendi temporomandibular. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persentase maloklusi Angle kelas II divisi 1 pada anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulut. Metode: Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif. Populasi penelitian adalah murid sekolah dasar di Kota Bandung. Populasi target yang dijadikan sampel adalah murid usia 9-12 tahun yang bersekolah di SDN Sekelimus 1, SDN Sekeloa 1, SDN Sukasenang dan SDN Cipaganti 4. Populasi terjangkau yang dijadikan sampel adalah murid sekolah dasar kelas 3 sampai 6. Pemilihan Sekolah Dasar diambil dengan teknik two stage cluster random sampling. Hasil: Sebanyak 463 sampel anak yang diteliti, mayoritas anak tidak memiliki kebiasaan bernafas melalui mulut (88,6%), dan selebihnya sebanyak 11,4% memiliki kebiasaan bernafas dengan mulut. semua sampel memiliki kebiasaan bernafas melalui mulut, persentase klasifikasi maloklusi tertinggi adalah Kelas I (49,1%), dan selanjutnya secara berurutan adalah Kelas II Divisi 1 (35,8%), Kelas III (9,4%) dan persentasi klasifikasi maloklusi terendah adalah Kelas II Divisi 2 (5,7%). Simpulan: Persentase maloklusi Angle kelas II divisi 1 pada anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulut yaitu sebesar 35,8% atau sebanyak 19 anak dari 53 anak dengan kebiasaan bernafas melalui mulut.Kata kunci: Maloklusi, kebiasaan buruk, kebiasaan bernafas melalui mulut. ABSTRACTIntroduction: Malocclusion is a condition of oral pathology with the highest prevalence of third order after dental caries and periodontal disease. The state of malocclusion often affects the health of periodontal tissues and causes an increase in the prevalence of dental caries and temporomandibular joint problems. The aim of the study was to determine the percentage of Angle class II division 1 malocclusion in children with mouth breathing habits. Methods: The type of research used in this study is descriptive. The study population was elementary school students in the city of Bandung. The target population sampled were students aged 9-12 years who attended SDN Sekelimus 1, SDN Sekeloa 1, SDN Sukasenang and SDN Cipaganti 4. Affordable populations sampled were elementary school students in grades 3 to 6. The selection of elementary schools was taken with techniques two stage cluster random sampling. Results: A total of 463 samples of children studied, the majority of children did not have mouth breathing habits (88.6%), and the remaining 11.4% had mouth breathing habits. all samples had a habit of breathing through the mouth, the highest percentage of malocclusion classification was Class I (49.1%), and then sequentially was Class II Division 1 (35.8%), Class III (9.4%) and percentage classification of malocclusion the lowest was Class II Division 2 (5.7%) Conclusion: Percentage of Angle class II division 1 malocclusion in children with mouth breathing habits was 35.8% or as many as 19 children from 53 children with mouth breathing habits.Keywords: Malocclusion, bad habits, mouth breathing habits.
Manajemen instalasi forensik di rumah sakit Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai acuan pembentukan instalasi forensik kedokteran gigiManagement of forensic installations at Indonesian National Police Hospital as a reference for the establishment of forensic odontology installation at the Oral Hospital Firstady Widyarnan Munandar; Fahmi Oscandar; Yuti Malinda; Murnisari Dardjan
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 28, No 3 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.328 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v28i3.18669

Abstract

Pendahuluan: Instalasi forensik seharusnya terdapat bukan hanya di rumah sakit umum, tetapi juga di Rumah Sakit Gigi dan Mulut untuk menindaklanjuti kasus yang membutuhkan ilmu forensik kedokteran gigi. Tujuan penelitian adalah mempelajari gambaran unsur manajemen instalasi forensik di Rumah Sakit Kepolisian Pusat Sukanto, Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih serta Laboratorium dan Klinik Odontologi Kepolisian sebagai acuan pembentukan Instalasi Forensik Kedokteran Gigi. Metode: Penelitian ini lakukan secara deskriptif dengan metode observasi. Lokasi penelitian di Rumah Sakit Kepolisian Pusat Sukanto, Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih, Laboratorium dan Klinik Odontologi Kepolisian. Hasil: Dari hasil penelitian menunjukan Instalasi Forensik Rumah Sakit Kepolisian Pusat Tingkat I Sukanto, Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih serta Laboratorium dan Klinik Odontologi Kepolisian memiliki banyak kesamaan dari aspek unsur manajemen. Simpulan: Manajemen Instalasi Forensik yaitu Rumah Sakit Kepolisian Pusat Sukanto, Instalasi Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih serta Instalasi Forensik Odontologi Laboratorium memiliki banyak kesamaan dari segi unsur manajemen dan dapat menjadi acuan untuk pembentukan unsur manajemen instalasi forensik kedokteran gigi.Kata kunci: Unsur manajemen, instalasi forensik, instalasi forensik kedokteran gigi. ABSTRACTIntroduction: Forensic installations should be available not only in public hospitals, but also at the Dental and Oral Hospital to follow up on cases that require dental forensic science. The purpose of the study was to study the description of elements of forensic installation management at the Sukanto Hospital, Central Police, Bhayangkara Sartika Asih Hospital and the Police Odontology Laboratory and Clinic as a reference for the establishment of a Dentistry Forensic Installation. Methods: This research is done descriptively by observation method. Research locations at Sukanto Hospital, Central Police Department, Bhayangkara Sartika Asih Hospital, Police Odontology Laboratory and Clinic. Results: From the results of the study showed the Forensic Installation of the Central Police Hospital Sukanto, Bhayangkara Sartika Asih Hospital and the Police Odontology Laboratory and Clinic have a lot in common with aspects of management. Conclusion: Management of forensic Installations, Sukanto Hospital Central Police Hospital, Bhayangkara Sartika Asih Hospital Forensic Installation police have many similarities in terms of management elements and can be used as a reference for the management of dentistry forensic installations.Keywords: Management elements, forensic installation, odontology forensic installation.

Page 3 of 3 | Total Record : 22