Latar belakang.Indonesia adalah salah satu negara endemik dengue. Pada tahun 2022, jumlah kasus dengue di Indonesia sebanyak 143.000 dengan insiden 52/100.000 penduduk, dan fatality rate 0,9%. Proporsi kasus anak sebesar 49%, sementara proporsi kematian anak mencapai 70%. Manifestasi klinis dengue sangat dipengaruhi oleh respons inflamasi sistemik, seperti rasio neutrofil-limfosit (RNL) dan indeks imun inflamasi sistemik (IIS). Nilai RNL dan IIS pada fase demam dapat digunakan untuk memprediksi dengue berat pada anak.Tujuan. Untuk mengetahui apakah RNL dan IIS dapat digunakan sebagai prediktor dengue berat pada anak.Metode. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan kohort retrospektif. Populasi penelitian adalah anak usia 1-18 tahun dengan demam dengue sejak Januari 2019 sampai Juni 2024 di RS Sardjito, Yogyakarta. Profil hematologi diambil pada demam hari ke-2 hingga ke-4. Data RNL dan IIS lalu dianalisis menggunakan kurva receiver operating characteristic (ROC) dan ditentukan titik potong dengan Youden Index, kemudian dilakukan analisis multivariat.Hasil. Didapatkan 530 pasien demam dengue dalam periode penelitian dan hanya 97 pasien yang memenuhi kriteria inklusi maupun eksklusi. Tidak ada perbedaan secara statistik untuk karakteristik jenis kelamin, obesitas, dan status infeksi sekunder pada luaran dengue berat dan dengue tidak berat. Nilai IIS <73.050,89 (p<0,05; RO 6,95; IK95% 1,97 – 24,61), usia 1-5 tahun (p<0,05; RO 5,56; IK95% 1,59 – 19,32), dan usia 6-10 tahun (p<0,05; RO 4,58; IK95% 1,54 – 13,61) merupakan prediktor dengue berat, sementara RNL (p<0,17; RO 0,40; IK 95% 0,11 – 1,48) tidak dapat dijadikan prediktor.Kesimpulan. Nilai IIS ?73.050,89, usia 1-5 tahun, dan usia 6-10 tahun merupakan prediktor kejadian demam berdarah (dengue) berat pada anak.