Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi fenomena diskoneksi antara ritualitas spiritual dan perilaku moral praktis dalam pendidikan menengah umum. Melalui eksplorasi model "Internalisasi Integratif," studi ini berupaya memecahkan masalah kekeringan makna dalam pendidikan karakter dengan menguji bagaimana paradigma profetik dapat diimplementasikan secara sistemik di sekolah negeri yang memiliki tekanan kompetisi akademik tinggi. Argumen utama penelitian ini adalah bahwa karakter profetik tidak dapat dibentuk secara parsial, melainkan membutuhkan ekosistem yang menyelaraskan antara habituasi batin dan aksi pedagogis di ruang kelas. Metode – Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui metode mini riset di SMPN 5 Yogyakarta. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif terhadap kegiatan keagamaan rutin, wawancara mendalam dengan praktisi Pendidikan Agama Islam (PAI), serta studi dokumentasi kurikulum sekolah. Analisis data dilakukan dengan model interaktif yang memfokuskan pada mekanisme integrasi antara pembiasaan spiritual pagi hari dengan strategi instruksional guru di dalam kelas. Hasil – Temuan penelitian menunjukkan bahwa model internalisasi integratif efektif dalam memanifestasikan pilar profetik Sidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah ke dalam perilaku nyata siswa. Aktivitas spiritual pagi hari (Sholat Dhuha dan tadarus) terbukti berfungsi sebagai katalisator mental yang melunakkan kekakuan emosional, sehingga memudahkan asimilasi nilai selama proses pembelajaran formal. Hasil riset mengonfirmasi bahwa manifestasi karakter muncul dalam bentuk peningkatan kejujuran akademik, tanggung jawab sosial, dan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan, membuktikan bahwa paradigma profetik dapat berkembang pesat di sekolah umum melalui keteladanan guru yang konsisten