Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Relevansi Pendekatan Mazhab dalam Hukum Islam Kontemporer: Tinjauan Literatur Wildan Fikri Ansyah; Hilma Aisya; Novilda Fitriningrum; Ummi Habibah; Siyono
ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora Vol. 4 No. 1 (2026): ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora
Publisher : LP3M INSTITUT KH YAZID KARIMULLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59246/aladalah.v4i1.1745

Abstract

This article examines the relevance of the madhhab approach in shaping contemporary Islamic law through a comprehensive literature review. Rapid developments in modern social, economic, and technological contexts require more adaptive legal methodologies, while the classical madhhabs remain essential for providing structured usul al-fiqh principles and methodological foundations. This study aims to evaluate the extent to which madhhabs still function as a methodological basis, how they interact with modern forms of ijtihad, and how contemporary scholars integrate classical heritage with present-day demands. Using a descriptive–thematic literature review method, data were collected from accredited journals, scholarly books, and contemporary fatwas. The findings indicate that the madhhab tradition remains relevant when interpreted dynamically and aligned with the objectives of Islamic law (maqāṣid al-sharī‘ah). Madhhabs continue to serve as analytical frameworks that can be combined with modern ijtihad, collective reasoning, and interdisciplinary approaches to address emerging issues such as digital finance, bioethics, and technological advancements. However, the study also identifies inherent historical limitations within the madhhab system, which necessitate methodological renewal to maintain practical relevance in contemporary legal challenges. Overall, the article highlights the importance of harmonizing classical tradition with contextual approaches as a foundation for developing modern Islamic legal epistemology.
Studi Perbandingan Hukum Menjamak dan Mengqashar Salat Menurut Mazhab Syafi’i dan Hanafi Pada Era Modernitas Fanny Azhar; Sasqia Azhar; Irdafadhilatul Ummah; Muhammad Al Fatih; Siyono
Journal of Islamic Education and Law Vol. 1 No. 4 (2025): Journal of Islamic Education and Law
Publisher : Yayasan Nanggroe Aceh Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66155/5z2sza91

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta membandingkan ketentuan hukum menjamak dan mengqashar salat menurut Mazhab Syafi‘i dan Hanafi, serta melihat relevansinya pada konteks perjalanan dan mobilitas modern. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitik terhadap sumber-sumber fikih klasik maupun kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua mazhab sepakat bahwa jama’ dan qashar merupakan rukhsah yang diberikan syariat guna meringankan musafir dalam menjalankan salat. Namun, terdapat perbedaan dalam implementasinya, seperti batas minimal jarak safar, ketentuan niat, kebolehan menjamak salat, serta batas waktu maksimal bermukim. Dalam konteks modernitas, mobilitas yang semakin tinggi akibat perkembangan teknologi transportasi menjadikan rukhsah jama’ dan qashar sangat relevan untuk menjaga pelaksanaan ibadah tanpa menimbulkan kesulitan berlebihan. Penelitian ini menegaskan pentingnya pemahaman komprehensif terhadap perbedaan pendapat mazhab agar umat Islam dapat menerapkan rukhsah sesuai kondisi perjalanan yang dihadapi pada era modern.
Perbandingan Mazhab Tentang Bacaan Basmalah Dalam Shalat Dan Relevansinya Bagi Praktik Ibadah Di Indonesia Novita Dwi Setyowati; M. Azzam Bachtiar; Tazkiyatul Afidah; Siyono
Journal of Islamic Education and Law Vol. 1 No. 4 (2025): Journal of Islamic Education and Law
Publisher : Yayasan Nanggroe Aceh Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66155/wjacp306

Abstract

Penelitian ini mengkaji perbedaan pandangan empat mazhab fiqh yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali mengenai status dan cara pembacaan basmalah dalam shalat, yang hingga kini masih menjadi bagian dari diskursus klasik dalam praktik ibadah umat Islam. Persoalan ini memiliki implikasi teologis dan yuridis karena berkaitan dengan pemahaman terhadap struktur Surah Al-Fatihah, keabsahan bacaan shalat, serta perbedaan metode istinbāṭ hukum di antara mazhab. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan landasan dalil, pendekatan metodologis, dan faktor historis yang melatarbelakangi perbedaan pendapat tersebut, serta menelaah relevansinya dalam praktik keagamaan di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan menelaah sumber-sumber fiqh klasik, kitab syarah, dan literatur kontemporer. Analisis dilakukan secara deskriptif-komparatif untuk memetakan argumentasi dan titik temu antarmazhab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pandangan tentang basmalah berakar pada variasi qirā’āt, perbedaan riwayat hadis, dan penafsiran terhadap mushaf Utsmani. Mazhab Syafi’i memandang basmalah sebagai bagian dari Surah Al-Fatihah sehingga wajib dibaca dalam shalat, sedangkan mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali tidak memasukkannya sebagai ayat surah, meskipun mengakui basmalah sebagai ayat pemisah antar-surat. Perbedaan ini bersifat ijtihadiyyah dan tidak menafikan keabsahan praktik masing-masing mazhab. Dalam konteks Indonesia, keragaman praktik tersebut berjalan secara harmonis dan mencerminkan moderasi beragama.
Perbandingan Pendapat Mazhab Syafi’i Dengan Madzhab Maliki Dalam Praktik Ibadah Masyarakat Muslim Di Indonesia Syaifudin Ahyar muhamad; Tahiyatul Firda; Nasrul Hidayanto; Anita Safitri; Siyono
Journal of Islamic Education and Law Vol. 2 No. 2 (2026): Journal of Islamic Education and Law
Publisher : Yayasan Nanggroe Aceh Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66155/sv9q6408

Abstract

Indonesia, as the country with the largest Muslim population in the world, possesses a dynamic and diverse religious tradition. Historically, the Shāfiʿī school of law has been the dominant reference for Muslim religious practices in Indonesia through the role of Shāfiʿī scholars and Islamic educational institutions such as pesantren. However, the development of information technology and globalization has expanded access to cross-madhhab literature, including the Mālikī school, which offers more contextual legal approaches in certain aspects of worship. This condition has led to variations in religious practices and, at the same time, potential confusion among Muslim communities. This study aims to analyze the historical background and methodological characteristics of the Shāfiʿī and Mālikī schools of law and to compare their similarities and differences in worship practices relevant to contemporary Indonesian Muslims. This research employs a library research method with a qualitative descriptive-analytical approach. Data were collected from primary sources in the form of classical fiqh texts of both schools and secondary sources such as books and scholarly articles. Data analysis was conducted through data selection, presentation, and conclusion drawing, supported by source triangulation to ensure validity. The findings indicate that differences in worship practices between the Shāfiʿī and Mālikī schools stem primarily from variations in their uṣūl al-fiqh methodologies, particularly in the use of textual evidence, the practice of the people of Madinah, and considerations of public interest (maṣlaḥah). These differences are not contradictory but reflect the richness and flexibility of Islamic jurisprudence. This study underscores the importance of comparative fiqh literacy in fostering religious moderation and mutual respect within Indonesia’s plural Muslim society.