Diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak balita di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi yang berpotensi fatal apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Penanganan yang efektif di tingkat rumah tangga menjadi aspek penting dalam pencegahan komplikasi. Salah satu pendekatan yang umum dilakukan masyarakat adalah swamedikasi, yaitu upaya pengobatan sendiri tanpa resep dokter, yang dilakukan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya. Pengetahuan ibu sebagai pengasuh utama balita memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan swamedikasi, karena ketepatan pemilihan obat, dosis, frekuensi pemberian, serta pengenalan tanda bahaya sangat bergantung pada pemahaman mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu tentang swamedikasi diare pada balita, menilai keberhasilan penanganan diare, serta menganalisis hubungan antara keduanya. Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional pada 47 ibu yang memiliki anak balita pernah mengalami diare, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen berupa kuesioner tertutup telah teruji validitas (0,926) dan reliabilitas (0,813), dengan analisis data univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu memiliki pengetahuan cukup (85,6%) dan keberhasilan penanganan diare tergolong tinggi (31,9%). Uji Chi-Square menghasilkan p-value 0,000 yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan ibu tentang swamedikasi dan keberhasilan penanganan diare pada balita. Oleh karena itu, diperlukan edukasi lanjutan agar ibu dapat melakukan penanganan awal diare secara tepat.