The discourse on early childhood independence in Christian religious education is dominated by secular developmental psychology rooted in Enlightenment autonomy. This assumption is problematic because it negates human nature as beings living coram Deo and reduces children’s imitative dynamics to mere adaptive-behavioristic conduct. This article aims to theologically reconstruct the mimesis-habituation dynamic as a theological pedagogy of the family in shaping independent character in early childhood. The research employs a qualitative-theological-construc-tive approach, drawing on Osmer’s four tasks of practical theology. Findings show that children’s imitation of parents is not merely a behavioristic process but participation in imitatio Christi transmitted through household practices; habituation forms theological habitus directing affection; the family as ecclesia domestica is the primary pedagogical locus; and true independence emerges from internalized theonomic imitation. This article contributes a new theological framework for early childhood character formation in Indonesia’s digital era. Abstrak Diskursus kemandirian anak usia dini dalam Pendidikan Agama Kristen didominasi oleh paradigma psikologi perkembangan sekuler yang berakar pada konsep autonomy ala Pencerahan. Asumsi ini problematik karena menegasikan hakikat manusia sebagai makhluk yang hidup coram Deo serta mereduksi dinamika peniruan anak sebagai sekadar perilaku adaptif-behavioristik. Artikel ini bertujuan merekonstruksi secara teologis dinamika mimesis-pembiasaan sebagai pedagogi teologis keluarga dalam membentuk karakter kemandirian anak usia dini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-teologis-konstruktif dengan kerangka empat tugas teologi praktis Osmer. Temuan menunjukkan bahwa peniruan anak terhadap orang tua bukanlah proses behavioristik semata, melainkan partisipasi dalam imitatio Christi yang diwariskan lewat praktik rumah tangga; pembiasaan adalah pembentukan habitus teologis yang mengarahkan afeksi; keluarga sebagai ecclesia domestica merupakan lokus utama pedagogis; dan kemandirian sejati lahir dari proses peniruan-teonom yang terinternalisasi. Artikel ini berkontribusi menawarkan kerangka teologis baru bagi pembentukan karakter anak usia dini di era digital Indonesia.