Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Corruption In The Colonial Period: Social Criticism Of The Indigenous Elite In Max Havelaar (1976) Raja Guk Guk, Justin; Purba, Defitri; Mutiara, Layla; Wahyuni, Hidayah; Hasanah, Nur; Sarida, Sarida; Lita Purba, Angel
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Pendidikan Vol 13 No 1 (2026): JURNAL SEUNEUBOK LADA (In Progress)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jsnbl.v13i1.14085

Abstract

This study discusses corruption during the colonial period as portrayed in the film Max Havelaar (1976), focusing on social criticism toward the role of indigenous elites. The aim of this research is to explain how the film presents corruption as part of the colonial power system involving cooperation between colonial authorities and local elites. This study uses a qualitative method through a literature review and film analysis. The analysis applies Stuart Hall’s Representation Theory, Antonio Gramsci’s social criticism theory, and Homi K. Bhabha’s postcolonial theory. The findings show that corruption in the film is not only carried out by colonial rulers but also involves indigenous elites who act as intermediaries of power. This research contributes to understanding the historical roots of corruption through film as a medium of social criticism and historical reflection.
Toxic Masculinity dalam Konstruksi Sosial: Dekonstruksi Emosi Laki-Laki dalam Perspektif Gender Guk, Justin Raja Guk; Purba, Defitri; Mutiara, Layla
Journal of Gender Equality and Social Inclusion (gesi) Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Pusat Studi GESI - UWP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38156/gesi.v5i1.213

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi toxic masculinity dalam membentuk pemahaman dan ekspresi emosi laki-laki, serta mengkaji proses dekonstruksi emosi tersebut dalam perspektif gender. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi literatur sistematis. Data diperoleh melalui teknik purposive sampling dari berbagai sumber sekunder berupa jurnal ilmiah, buku akademik, dan laporan penelitian yang relevan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Analisis data dilakukan menggunakan thematic analysis melalui tahapan reduksi data, pengelompokan tema, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toxic masculinity merupakan konstruksi sosial yang terbentuk melalui proses sosialisasi dan budaya patriarki yang menekankan dominasi, kontrol, serta penekanan emosi pada laki-laki. Konstruksi ini berdampak pada pembatasan ekspresi emosional, tekanan psikologis, serta munculnya berbagai masalah kesehatan mental. Selain itu, ditemukan adanya proses dekonstruksi emosi laki-laki yang menunjukkan bahwa maskulinitas bersifat dinamis dan dapat dinegosiasikan. Perspektif gender menegaskan bahwa ekspresi emosi bukan merupakan kodrat biologis, melainkan hasil konstruksi sosial yang dapat dikritisi. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam kajian gender dengan menempatkan maskulinitas sebagai pengalaman emosional yang kompleks dan dinamis, serta memberikan implikasi praktis dalam menciptakan ruang sosial yang lebih inklusif bagi laki-laki dalam mengekspresikan emosi tanpa stigma.