Smoking behavior among adolescents remains a public health problem both globally and nationally. Adolescence is a developmental period that is vulnerable to environmental influences and psychological changes, thereby increasing the risk of smoking behavior and mental health disorders. This study aimed to analyze the relationship between smoking behavior with adolescent mental health in one Senior High School (SMA) in North Minahasa. This research employed an observational analytic design with a cross-sectional approach. The study population consisted of all eleventh-grade students, and a total sampling technique was applied, resulting in 207 respondents. Smoking behavior was measured using the standardized questionnaire from the Basic Health Research (Riset Kesehatan Dasar), while mental health was assessed using the Self Reporting Questionnaire (SRQ-20). Data analysis was conducted using the Chi-Square test. The results showed that 62.3% of respondents were non-smokers, while 37.7% were smokers. A total of 53.6% of respondents experienced emotional mental health problems. The Chi-Square test yielded a p-value of 0.736 (p > 0.05), indicating that there was no significant relationship between smoking behavior and adolescent mental health. In conclusion, although the proportion of mental health problems was relatively high, smoking behavior was not significantly associated with mental health among the study sample. Further research using a longitudinal design and controlling for potential confounding variables is recommended to better understand the comprehensive relationship between these two variables. Perilaku merokok pada remaja masih menjadi masalah kesehatan masyarakat baik secara global maupun nasional. Masa remaja merupakan periode perkembangan yang rentan terhadap pengaruh lingkungan dan perubahan psikologis, sehingga berpotensi meningkatkan risiko perilaku merokok dan gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku merokok dengan kesehatan mental remaja di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Minahasa Utara. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI dengan teknik total sampling, sehingga diperoleh 207 responden. Perilaku merokok diukur menggunakan kuesioner baku Riset Kesehatan Dasar, sedangkan kesehatan mental diukur menggunakan Self Reporting Questionnaire (SRQ-20). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62,3% responden tidak merokok dan 37,7% merokok. Sebanyak 53,6% responden mengalami gangguan kesehatan mental emosional. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,736 (p > 0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok dan kesehatan mental remaja. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun proporsi gangguan kesehatan mental cukup tinggi, perilaku merokok tidak berhubungan secara signifikan dengan kesehatan mental pada sampel penelitian ini. Disarankan penelitian lanjutan dengan desain longitudinal dan kontrol variabel perancu untuk memahami hubungan yang lebih komprehensif antara kedua variabel tersebut.