This study discusses Birrul walidain which means being devoted to both parents, not just as a courtesy, but as the main moral foundation and the highest obligation after monotheism, according to the view of Mufassir often quoted that devotion does not mean "blind obedience" if the parents' orders are contrary to religious principles or beyond the reach of the child's physical and financial abilities. Humility (janahadz-dzulli) is a mental attitude, does not mean being a "slave" without limits to the ability of birrul walidain to be devoted to parents in terms of finance, called sandwich generation when in the midst of financial responsibility, the purpose of this study is to examine how the concept of birrul walidain and how this sandwich generation phenomenon is widely discussed in social media. In this study using qualitative methods and using a library approach (Library Research) namely by collecting data from several sources namely theses, articles, journals, books or youtube as a method to analyze the sandwich generation. The findings and results of this study demonstrate that birrul walidain (devotion to parents) is a form of devotion to parents, one of which is providing for parents who are no longer able to earn a living. The sandwich generation is someone who is stuck between the obligation to provide for parents and their extended family/children. Balancing birrul walidain (devotion to parents) amidst financial pressures as a sandwich generation is indeed not easy. In the view of Nusantara exegetes, this obligation is very noble, but it must also be carried out with wisdom, justice, and proportionality, without oppressing oneself or the nuclear family. And maintaining financial literacy to enable us to meet the needs of our parents, household, and children. Penelitian ini membahas tentang Birrul walidain yang dimana makna berbakti kepada kedua orang tua, bukan sekadar sebagai sopan santun, melainkan sebagai fondasi moral utama dan kewajiban tertinggi setelah tauhid, menurut pandangan Mufassir sering mengutip bahwa bakti tidak berarti "ketaatan buta" jika perintah orang tua bertentangan dengan prinsip agama atau di luar jangkauan kemampuan fisik dan finansial anak. Rendah hati (janahadz-dzulli) adalah sikap mental, bukan berarti menjadi "budak" tanpa batas kemampuan birrul walidain berbakti kepada orang tua dari segi finansial, disebut sandwich generation ketika berada di tengah-tengah tanggung jawab secara finansial, permasalahan dalam artikel ini adalah tentang bagaimana fenomena sandwich generation ini dalam Kehidupan apakah berdampak negatif atau berupa bakti anak terhadap orangtua, Serta tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji tentang bagaimana konsep birrul walidain. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan menggunakan pendekatan kepustakaan ( Library Research ) yaitu dengan mengumpulkan data dari beberapa sumber yaitu tesis, artikel, jurnal, buku ataupun youtube sebagai metode untuk menganalisi sandwich generation. Temuan dan hasil dalam penelitian ini birrul walidain adalah berbakti kepada orangtua salah satunya yaitu dengan memberi nafkah kepada orangtua yang sudah tidak mampu lagi mencari nafkah. Untuk sandwich generation adalah seseorang yang berada diantara kewajiban menafkahi orangtua, keluarga kecil/anak-anak kita berada diantara keduanya, Menyeimbangkan birrul walidain (berbakti kepada orang tua) di tengah tekanan finansial sebagai generasi sandwich memang bukan hal mudah. Dalam pandangan mufassir Nusantara, kewajiban ini sangat mulia, tetapi juga harus dijalankan dengan hikmah (kebijaksanaan), keadilan, dan proporsionalitas, tanpa menzalimi diri sendiri atau keluarga inti. dan menjaga literasi finansial untuk memungkinkan kita mencukupi kebutuhan orangtua dan rumah tangga kita dan anak-anak.