Konflik digital di media sosial semakin kompleks dan sulit dikendalikan, terutama ketika melibatkan perbedaan identitas budaya serta mekanisme algoritma yang mempercepat eskalasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola eskalasi konflik digital antara komunitas SEAblings dan KNetz, mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu konflik, serta menilai strategi penyelesaian yang digunakan dalam perspektif manajemen konflik dan Sustainable Development Goal (SDG) 16, berfokus pada perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dipadukan dengan netnografi. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipatif dan dokumentasi digital pada platform X (Twitter), TikTok, Instagram, dan Telegram selama periode puncak eskalasi konflik, yaitu tanggal 9 hingga 11 Februari 2026. Sumber data meliputi unggahan, komentar, dan tangkapan layar yang dianalisis menggunakan analisis tematik dari Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik SEAblings vs KNetz mengalami eskalasi dalam tiga fase cepat: fase pemicu, fase penyebaran viral, serta fase polarisasi dan aksi kolektif. Faktor-faktor yang memicu konflik meliputi identitas kelompok yang kuat, anonimitas di media sosial, algoritma platform yang memprioritaskan konten provokatif, serta keterbatasan mediasi lintas batas. Strategi resolusi yang muncul sangat terbatas dan didominasi oleh gaya kompetisi, sementara upaya rekonsiliasi seperti permintaan maaf tenggelam oleh banjir konten konflik. Dari perspektif SDG 16, konflik ini melanggar prinsip perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh karena menghasilkan kekerasan verbal tanpa sanksi, ketidakadilan prosedural, serta kegagalan platform digital dalam mencegah eskalasi. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pengembangan mekanisme mediasi lintas platform dan lintas negara, serta reformasi algoritma yang mendorong rekonsiliasi agar target SDG 16 dapat tercapai di era digital.