Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

TRANSLANGUAGING IN BALANCED LITERACY: A CASE STUDY OF EARLY ELEMENTARY CLASSROOMS Heni Suryani; Dyah Lyesmaya; Barkah Barkah
Prima Magistra: Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol. 6 No. 3 (2025): Volume 6 Number 3 (July 2025)
Publisher : Program Studi PGSD Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/jpm.v6i3.5823

Abstract

This qualitative case study investigates how translanguaging can be purposefully integrated within a balanced literacy framework in early primary classrooms in multilingual Indonesia. Conducted at a private elementary school in Sukabumi (Grades 1–3) where most students speak Sundanese at home and Indonesian at school, the study triangulates classroom observations (mini-lessons in phonics/phonology, dialogic read-alouds, shared/guided reading, independent reading), semi-structured interviews, and instructional artifacts (lesson plans, phonics progressions, running records, anecdotal notes). Findings show that when translanguaging is designed with clear micro-instructional goals—especially for cross-language phoneme contrasts, pre-teaching academic vocabulary, and brief think-alouds—teachers maintain and even strengthen the “balance” between explicit foundational skills (phonemic awareness, phonics, decoding, fluency, vocabulary) and meaning-making practices. Specifically, short, targeted use of the home language followed by immediate re-anchoring to Indonesian, supported by multimodal scaffolds (articulatory gestures, bilingual anchor charts, word cards), was associated with improved grapheme–phoneme accuracy, higher self-correction rates, and increased proportions of inference-based responses referenced to the text. Effects varied by learner profiles and text genre: emergent readers dominant in Sundanese benefited most in phonics and decoding, while bilingual or Indonesian-dominant students showed gains in vocabulary precision and inferencing, particularly with informational texts. The study proposes practical design rules—limit dose (1–2 sentences), re-anchoring to target language, and assessment-informed decisions—to minimize over-translation and align translanguaging with phonics and comprehension goals. The contribution is both conceptual (an operational model for integrating translanguaging into balanced literacy) and practical (observable indicators and routines aligned with the Indonesian curriculum). Limitations include a single-site scope and short duration; future work should examine longitudinal effects, varied home languages, and optimized “dosage” through small-scale design experiments.
Pembelajaran Bahasa Sunda Berbasis Role Playing sebagai Upaya Pengembangan Literasi Budaya Siswa di Sekolah Dasar: Sebuah Studi Kasus Astri Fitriyani; Dyah Lyesmaya
ANTHOR: Education and Learning Journal Vol 5 No 3 (2026): Anthor 2026
Publisher : Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/anthor.v5i3.659

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran role playing dalam pembelajaran Bahasa Sunda sebagai upaya pengembangan literasi budaya siswa. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 1 Nagrak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum penerapan role playing, pembelajaran cenderung berpusat pada guru dan kurang melibatkan siswa secara aktif. Setelah diterapkan, terjadi peningkatan keaktifan, partisipasi, dan interaksi siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, metode ini mampu membantu siswa memahami dan mulai menerapkan nilai-nilai budaya Sunda seperti silih asih, silih asah, silih asuh, dan someah hade ka semah. Namun, kemampuan siswa dalam penggunaan Bahasa Sunda yang baik dan benar, terutama dalam aspek undak usuk basa, masih perlu ditingkatkan. Dengan demikian, role playing efektif dalam mendukung pengembangan literasi budaya siswa, meskipun memerlukan pembiasaan dan pendampingan berkelanjutan. Berdasarkan temuan penelitian ini, guru sekolah dasar di Jawa Barat direkomendasikan untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang mengintegrasikan budaya lokal sebagai sumber belajar, sehingga dapat memperkuat literasi budaya siswa sekaligus menumbuhkan identitas kearifan lokal sejak dini.
Analisis Keterampilan Berbicara dalam Model Pembelajaran Jigsaw pada Siswa Kelas V Revalina Putri Nur’afni; Dyah Lyesmaya
ANTHOR: Education and Learning Journal Vol 5 No 3 (2026): Anthor 2026
Publisher : Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/anthor.v5i3.660

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Model Pembelajaran Jigsaw dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V pada pelajaran Bahasa Indonesia. Metode Jigsaw mendorong siswa untuk berkolaborasi dalam kelompok kecil, saling mengajarkan materi, dan bertanggung jawab atas pemahaman mereka sendiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian terdiri dari 36 siswa kelas V dan seorang guru kelas. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Jigsaw secara signifikan meningkatkan partisipasi dan keterampilan berbicara siswa. Siswa menunjukkan sikap positif terhadap metode pembelajaran ini dan merasa lebih percaya diri dalam mengemukakan pendapat. Selain itu, siswa menjadi lebih aktif dalam diskusi kelompok, mampu menjelaskan materi kepada teman sebaya, serta bersedia mengajukan dan menjawab pertanyaan selama proses pembelajaran. Meskipun terdapat berbagai tantangan, terutama bagi siswa yang kurang percaya diri, dukungan guru memegang peranan penting dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut dengan memberikan motivasi dan bimbingan sepanjang kegiatan berlangsung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model Jigsaw merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa dan dapat diterapkan dalam konteks pembelajaran lainnya. Diharapkan temuan penelitian ini dapat berkontribusi pada pengembangan metode pengajaran di sekolah dasar, khususnya dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa.
Pengembangan Modul Ajar Seni Lukis Berbasis Project Based Learning untuk Mengasah Keterampilan Menggambar Siswa Kelas V Sekolah Dasar Layla Nurhasanah; Dyah Lyesmaya
ANTHOR: Education and Learning Journal Vol 5 No 3 (2026): Anthor 2026
Publisher : Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/anthor.v5i3.678

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul ajar seni lukis berbasis Project-Based Learning (PjBL) untuk mengasah keterampilan menggambar siswa kelas V sekolah dasar. PjBL merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses merancang, merencanakan, melaksanakan, dan menghasilkan suatu karya. Penerapan model pembelajaran berbasis proyek dinilai mampu meningkatkan keaktifan dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran. Berdasarkan penelitian sebelumnya, penerapan PjBL terbukti efektif dalam menciptakan suasana belajar yang kreatif dan partisipatif. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi lima tahapan, yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Melalui tahapan tersebut, modul ajar dikembangkan dan diujicobakan untuk mengetahui kelayakan serta efektivitasnya dalam meningkatkan keterampilan menggambar siswa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan bahan ajar yang inovatif dan menyenangkan, serta menjadi referensi bagi pendidik dalam memilih model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran yang tepat dapat mendukung pengembangan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran.
Strategi Contextual Teaching and Learning Guru dalam Menumbuhkan Minat Baca Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Amanda Amanda; Dyah Lyesmaya
ANTHOR: Education and Learning Journal Vol 5 No 3 (2026): Anthor 2026
Publisher : Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/anthor.v5i3.702

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya minat baca siswa kelas IV di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Sukabumi, yang disebabkan oleh kurangnya variasi strategi pembelajaran guru dalam kegiatan membaca. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan dan menganalisis penerapan strategi Contextual Teaching and Learning (CTL) guru dalam menumbuhkan minat baca siswa kelas IV Sekolah Dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif dengan subjek 10 siswa dan guru kelas IV. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan guru telah menerapkan komponen CTL, terutama konstruktivisme dan modeling, namun reflection dan inquiry belum optimal. Aspek ketertarikan, perhatian, dan motivasi membaca siswa cukup baik, sementara kemauan dan kebiasaan membaca mandiri masih rendah. Terdapat keterkaitan positif antara penerapan CTL dan minat baca siswa, khususnya melalui komponen learning community dan konstruktivisme. Disarankan agar guru meningkatkan konsistensi penerapan seluruh komponen CTL dan sekolah mengembangkan program literasi yang melibatkan orang tua.